Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Apa Kata Kuncinya? oleh Eko Triono

Posted on Sab, 02 Jan 2021

”Mereka satu rumah, tapi ada penghuni lain dalam rumah itu yang tidak mereka kenali, yang lebih sering berbicara dengan anaknya,” kata teman Marzuki, pada Sabtu sore, ”dan itu bukan jin, bukan iblis.”

Menjelang malam, wajah Marzuki merah padam.

”Berikan!” Marzuki memaksa, ”Kamu pikir siapa yang memberi kamu makan selama ini? Yang membelikan kuota?”

Anaknya membantah dalam posisi rebahan, ”Akan kuberikan kalau ayah juga memberikan kata kunci HP ayah! Itu namanya adil.”

”Adil? Tahu apa kamu soal adil, hah?!”

”Tahu! Di Youtube banyak yang bahas keadilan bagi anak-anak. Orangtua tidak boleh seenaknya. Masuk kamar anaknya, harus mengetuk dulu!”

___

Sabtu sore tadi, di deretan kios pasar, Marzuki mendapat cerita yang bikin dadanya gusar.

Temannya berkata bahwa anaknya Jumadi, si juragan travel, tertangkap polisi karena tuduhan teror, punya senjata api, dan bergaul dengan orang asing.

Jumadi satu tempat tinggal dengan anaknya. Mereka satu rumah, tapi ada penghuni lain dalam rumah itu yang tidak mereka kenali, yang lebih sering berbicara dengan anaknya. Penghuni itu bukan jin, bukan pula iblis. Namun, orang asing dalam telepon pintar.

”Orang tuanya tidak tahu?” Pemilik kios batik penasaran.

”Dilindungi kata kunci. Kita enggak bisa sembarangan buka dan pencet HP orang lain, kan? Memangnya remot TV!”

Temannya berkata bahwa sekarang banyak anak tiba-tiba hilang ikut orang asing atau nonton macam-macam. Marzuki berkeras anaknya tidak demikian karena telepon pintarnya dipakai buat belajar daring.

___

Sesampainya di rumah, rasa khawatir dalam diri Marzuki tidak bisa ditutupi. Dia bertengkar dengan anaknya.

Dia meminta kata kunci, malah diminta balik. Dia jadi curiga sama sikap anaknya. Keributan berhenti ketika istrinya menengahi. Istrinya meminta bicarakan baik-baik. Jangan saat lelah. Bicarakan nanti setelah makan malam. Jangan pula menuduh anak sendiri tanpa bukti.

Marzuki, dengan gaya bicara yang masih kuasa penuh atas arah rumah tangganya, menyatakan setuju membahasnya setelah makan malam.

Dalam hati Marzuki sebenarnya tersimpan rasa takut apabila dia juga dimintai kata kunci telepon pintarnya. Dia menyesal tadi tergesa-gesa. Untung anaknya nolak. Mau jadi apa jika ternyata anaknya setuju, lalu dia sendiri harus terbuka sebagai tanda keadilan.

Pertengkaran seperti apa yang bakalan terjadi jika istrinya tahu apa yang dia sembunyikan. Mengerikan kalau sampai ketahuan dengan siapa akhir-akhir ini dia sering saling berkirim pesan teks, suara, gambar, dan video mesra.

Dia sekarang punya waktu untuk diam-diam memberesi isi telepon pintarnya.

Dia berkata masih dengan suara seolah emosi, ”Aku mandi duluan!”

Dalam saku celana pendeknya, dia membawa gawai ke kamar mandi. Dia menutup pintu dan seperti diburu batas waktu orderan jahitan, tangannya cekatan. Dia mengirim pesan kepada selingkuhannya agar tidak menghubungi malam Minggu ini. Dia memblokir nomor kontaknya.

Dia membersihkan pesan-pesan genit dengan perempuan lain, tetapi lupa memblokir satu nomor. Dia menghapusi folder yang berisi aibnya sendiri dan aib-aib selingkuhannya yang sering diberi order gratisan. Dia mengganti kunci pola gambar dan kunci pola kata.

___

Di hari-hari sebelumnya, saat suaminya mandi lama, istrinya akan protes, tetapi sekarang dia malah berharap lebih lama.

Dia sadar. Ini kesempatan merapikan telepon genggamnya. Apa jadinya jika nanti suami dan anaknya memberikan kata kunci masing-masing dan dia sendiri menolak?

Kalau dia berikan seperti adanya, rahasianya bisa terbongkar. Meski di dalam dirinya, katakanlah, sudah tak ada lagi cinta pada suaminya, tetapi dia tetap mencintai rumah tangga ini, terutama anaknya.

Di dapur, sembari masak dengan lambat-lambat, dia menghapusi komunikasinya dengan sejumlah instruktur senam pria. Dia meminta teman tapi mesranya jangan menghubungi dulu malam Minggu ini. Dia mengganti kata kuncinya.

Dia bekerja di pusat kebugaran. Tiap hari pula melihat lelaki-lelaki berotot yang menggairahkan, yang berbanding terbalik dengan otot dan bentuk perut suaminya yang kebanyakan duduk dan menjahit pakaian.

Dalam hati Marzuki sebenarnya tersimpan rasa takut apabila dia juga dimintai kata kunci telepon pintarnya. Dia menyesal tadi tergesa-gesa. Untung anaknya nolak. Mau jadi apa jika ternyata anaknya setuju, lalu dia sendiri harus terbuka sebagai tanda keadilan.

Dia tahu dia salah saat suaminya meminta tidur besama, dia sering memejamkan mata. Dia membayangkan lelaki lain yang kekar berkeringat di atas tubuhnya.

Tidak kurang-kurang dia meminta suaminya menjadi seperti apa yang dia inginkan, tapi suaminya malah menuntut balik agar dia pun seperti yang suaminya inginkan. Daripada ribut, pikirnya, lebih baik semuanya berjalan seperti biasa.

Dia menghibur diri dengan ngobrol bareng sesama instruktur, apalagi yang lelaki, yang satu bidang, yang mau mendengarkan ocehannya, dan yang membuat perasaannya terbawa seperti gadis remaja yang lama mendambakan cinta dan nafsu membara.

Sekarang, demi menunjukkan bahwa semuanya memang baik-baik saja, meski hati berdusta, dia tetap bersuara dengan keras dan meyakinkan, ”Ayo, sayang-sayangku, siap-siap makan malam!”

___

Suami dan anaknya mendengar panggilan makan malam, yang pura-pura sudah siap itu, namun keduanya pura-pura tidak dengar.

Di kamar tidur, anaknya pura-pura masih ngambek karena dimarahi. Padahal, di sisi bantal putih, dia sedang menghapusi pesan-pesan dari ceweknya di sekolah.

Dia sedang berniat menghapusi galeri yang berisi foto-foto pacarnya, dalam berbagai pose dan kenakalannya, sebelum dia memiliki gagasan cemerlang.

Dia yakin tidak akan ketahuan orangtuanya yang ketinggalan zaman. Dia memindahkan foto ke layanan penyimpanan awan. Dia meminta foto itu susah payah, bahkan sering harus membelikan es krim, dan kadang mengancam ceweknya dengan kata putus. Dia mengabari agar pacarnya tidak menghubungi malam Minggu ini.

Dia mengganti galeri fotonya dengan kutipan-kutipan motivasi, doa-doa religius, yang dia baru saja unduh dari internet dengan tergesa.

Sekarang, pesan-pesan yang tersisa tinggal dari grup sekolah, pelajaran, kelas, dan kelompok remaja dari cabang karang taruna kompleks perumahan. Walaupun grup itu tidak seramai di grup game online.

Dia menghapusi jejak pencariannya di Youtube dan internet. Dia rajin menonton di sana. Terutama acara lucu dan artis kaya. Dia sering kesal dilahirkan dari keluarga melarat dan memalukan sebagai anak tukang jahit dan staf kebugaran. Dia tidak bisa pamer apa-apa di media sosial.

Ditambah sekarang, dia merasa ayahnya benar-benar sialan. Dia harus memberikan privasinya sebagai anak? Ini salah, pikirnya. Harusnya ayahnya melihat dari siaran Youtube tentang hak-hak anak.

Tidak banyak waktu, kini tiba saatnya dia mengganti kunci pola gambar dan kunci pola kata dengan yang lain.

___

Selesai makan malam, yang meski banyak senyum dan pujian palsu atas rasa masakan yang biasa saja, segalanya dimulai.

Marzuki mengambil sikap seolah contoh sempurna dari kepala keluarga yang bertanggung jawab atas arah kebaikan anak dan istrinya, dunia dan akhirat. Dia terlihat tenang, salih, dan meyakinkan saat mengeluarkan gadget-nya.

”Silakan, periksa punya ayah. Tidak ada yang ayah sembunyikan. Ayah tidak malu seandainya kalian menemukan ada catatan utang ayah untuk membiayai usaha jahitan atau cicilan rumah ini.”

Kata-kata suaminya sesaat membuat hati istrinya tersentuh. Istrinya pun mengeluarkan gadget-nya.

Anaknya, yang kini mulai merasakan betapa kedua orangtuanya sangat baik. Tidak selayaknya dia bandingkan dengan artis Youtube kaya. Dia ikut mengeluarkan telepon pintarnya.

___

”Apa kata kuncinya?” Tanya Marzuki pada anaknya.

Anaknya menggambar kunci pola gambar, yang membentuk hati. Marzuki agak kaget lihat pola itu, karena dia curiga ini kelakuan remaja jatuh cinta. Namun, dia terharu saat anaknya menyebutkan kata kunci.

”Rajin soleh berbakti,” kata anaknya memberi tahu, ”kecil semua hurufnya. Tanpa spasi.”

Ketika membuka isinya, Marzuki semakin merasa malu telah sempat curiga pada anaknya sore tadi.

Dia melihat dengan nyata gambar-gambar di HP anaknya adalah gambar-gambar kutipan motivasi hidup, semangat untuk sukses di masa depan, tips pelajar-pelajar terbaik, dan nasihat-nasihat untuk berbakti pada orangtua. Grup pesannya juga grup-grup yang bermanfaat dan berpendidikan.

___

Istrinya saat mulai membuka telepon genggam Marzuki. Dia ingat, pada awal-awal keluarga ini hanya memiliki HP satu, semua boleh membuka, bahkan nomor satu dipakai oleh semua anggota keluarga, tidak ada rahasia. Namun, saat masing-masing memiliki, tiap HP terkunci bagi yang lainnya.

Sekarang, saat dia membuka kembali HP kenangan yang sudah tua, yang tetap dipakai, retak kacanya, tidak sensitif layarnya, dan membuat dia merasa bersalah telah merendahkan suaminya yang hidup sesederhana ini.

Suami yang ketinggalan zaman, yang penampilan dan mutu gadget-nya tidak seperti orang-orang di gym. Semua dilakukan hanya demi berhemat membayar cicilan rumah.

Bahkan, pola gambarnya hanya persegi biasa seperti anak kecil.

”Apa kata kuncinya?” tanya istrinya.

”Sayang anak sayang istri 123,” kata Marzuki menyebutkan, ”kecil semua. Digabung.”

Istrinya terenyuh saat mengetik. Matanya mulai membasah, gemetar. Ketika dilihat isinya hanya seputar bisnis jahitan. Grupnya bapak-bapak. Kalau ada video yang disimpan, hanya hiburan video lucu, potongan ceramah tentang akhirat, dan kata-kata mutiara tentang ridha pada takdir.

___

”Apa kata kuncinya?” tanya Marzuki saat berbalik memeriksa gadget-abu-abu metalik mewah milik istrinya.

”Setia syukur cinta 87,” kata istrinya, ”kecil semua, enggak pakai spasi.”

”87?”

”Tanggal dan bulan lahirmu,” jawab istrinya malu-malu.

Marzuki tersipu.

Anaknya bercie-cie.

Kebahagiaan di keluarga itu masih bertahan, sebelum tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak diinginkan.

(2021)

____

Eko Triono, lahir di Cilacap, 1989, Kumpulan cerpennya, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (2016) menjadi pemenang penghargaan sastra Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (2017). Kumpulan cerpen eksperimennya, Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2017). Kumpulan cerpen lucunya, Republik Rakyat Lucu (2018), termasuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2019.

Angga Aditya Atmadilaga, lahir di Bandung, 26 September 1987. Sejak SMU sudah tertarik pada seni grafis sehingga meneruskan pendidikan di Jurusan Seni Grafis FSRD ITB. Tidak hanya mendalami teknik konvensional, ia juga mencoba beragam kemungkinan perluasan teknik dan media dalam seni grafis. Sejak 2010, Angga menjadi asisten dosen dan asisten akademik di Studio Seni Grafis ITB.

sumber : harian Kompas edisi 02 Januari 2022 di halaman 12 dengan judul “Apa Kata Kuncinya? “.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme