Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lak-uk Kam oleh Gus tf Sakai

Posted on Ming, 23 Sep 2007

Dalam remang, dari jendela yang daunnya disentak diempas-empaskan badai, ia lihat semua: ombak yang menjulang, laut yang seakan terangkat—menganga bagai rahang, bergemulung menelan pantai. Suaranya gemuruh. Bergederam. Jadi inilah “lak-uk kam”, badai musim utara itu, yang menjadikan sebagian pulau porak-poranda, penuh genangan, dan membuat para penduduk pindah-sementara ke balik bukit pulau bagian selatan.

Senja. Lalu malam. Gelisahnya dihantam debar saat lampu suar tiba-tiba menyala. Dia masih ada? Ia julurkan kepala—dingin bagai mengiris muka!—melayangkan pandang ke puncak menara. Tak tampak apa-apa, kecuali lesat cahaya yang bagai terentang sedapat-dapatnya. Ia rasakan juga, saat matanya menyapu menyusur muka laut, lesat cahaya itu seolah ikut bergolak, berkecamuk, mengempas-empas menerpa-nerpa. Sesaat ia tertegun. Lalu, bagai gugup, mengembalikan pandang ke puncak menara.

Dia masih ada.

Ditariknya kepala. Ditutupnya jendela. Kecamuk di luar bagai tertahan, teredam. Tetapi kecamuk lain bergolak bangkit dari dalam dirinya.

Beberapa saat ia diam, tegak terpaku di balik jendela, kemudian bergerak melangkah ke bilik. Cahaya lampu semprong—kadang meredup kadang meletup—membuat bayang tubuhnya tampak aneh, bagai makhluk lain di dinding. Di kegelapan bilik, tangannya meraba-raba dipan, meraih senter dari samping bantal, kemudian kembali melangkah ke luar. Ia sudah akan menarik daun pintu ketika terpikir pada lampu semprong—berbahaya ditinggal hidup, berbalik, lalu meniup memadamkannya. Seketika gelap. Jarinya memencet. Cahaya senter menyorot.

Begitu pintu ia buka, gemuruh gederam kembali menghenyak telinga. Angin menampar, dingin mengiris itu, lalu ia terkejut menyadari air bergemilat berkecipak di bawah tangga. Air lautnya, dia benar, sampai ke sini. Percakapan itu, dialog pertama mereka, kembali terngiang. Betapa ia tak menyangka. Dalam kosong, sepi pantai, debur ombak lengang. Lelaki itu—entah sejak kapan—ada di belakangnya, mencangkung di batu karang.

Sunyi sekali ya?

Ia tak menyahut. Masih tercengang, merasa heran.

Akan amat beda bulan depan. Badai musim utara, sangat gila. Mereka menyebutnya lak-uk kam.

Ia akan menyahut, atau setidaknya bersuara, tapi urung. Kata itu, “mereka”. Mendadak ia sadar satu hal: si lelaki juga bukan penduduk pulau ini. Dan tiba-tiba ada rasa lega, rasa bahagia, dan—entah, seperti debar.

Mereka akan mengungsi. Kau akan libur, mmm, mungkin satu bulan. Air akan menggenangi sekolah, pondok-pondok mereka. Tentu juga rumah dinasmu.

Dan segera pula ia sadar: laki-laki ini tahu siapa dirinya. Dan pulau kecil terpencil ini tampaknya bukan tempat yang asing bagi si lelaki. Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu siapa dirinya sementara ia, telah hampir dua bulan di sini, belum pernah bertemu dengan si lelaki? Ingatannya dikejutkan oleh empasan—bukan lagi kecipak—air menerpa tangga. Dan tangga yang dibuat dari ruyung pohon kelapa itu terasa bergerak, bergeser, membuatnya serta-merta melompat, melangkah ke gundukan batu yang sehari-hari ia gunakan sebagai bangku.

Sorot senter, kecamuk lidah air—cahaya mengempas-empas itu, kembali mengantarkannya ke perasaan ganjil. Kembali ia bagai gugup. Tertegun-tegun. Cahaya mengempas menerpa-nerpa, seolah dari suatu tempat di masa lalu, menggeliat, bergolak bangkit meringkus benaknya.

Tetapi tentu, ia tak bisa melangkah tanpa menyorotkan senter. Maka setiap kali cahaya senter melesat menerpa kecamuk-kecipak lidah air, ia bagai terlambung ke waktu lain. Dan ia jadi gemetar, bahkan serasa berpeluh, saat menapak-meniti batu-batu sepanjang seratusan meter ke arah tanjung. Di kaki tanjung, setelah menaiki batu bercowak bagai berjenjang, ia akan sampai di jalan setapak bercecabang.

Ada tiga cabang turun di jalan setapak itu, salah satunya menuju sekolah. Ada dua cabang mendaki, satu mengarah ke balik bukit tempat para penduduk sejak kemarin berangsur-angsur mengungsi, sedang satunya lagi, setelah mendaki seratusan meter juga, akan berbelok, turun, lalu mendaki lagi menuju tanjung lain yang menjorok lebih jauh ke laut, tempat menara suar itu tegak menjulang. Menara suar? Ah, dia masih ada. Gelisah itu. Debar. Gemetarnya bertambah-tambah. Kenapa dia masih ada?

… Tapi kali ini aku takkan sempat melihat lak-uk kam.

Kenapa?

Minggu depan aku tak lagi di sini. Begitulah kami, penjaga mercusuar. Sekali tiga bulan dijemput, dipindahkan ke menara lain. Ke pulau lain.

Ke kesepian lain … ia membatin.

Ya, ke kesepian lain … si lelaki bagai mendengar kata hatinya. Salah tingkah, ia lemparkan pandang ke laut. Saat itu mereka berada di atas menara. Dan itu entah salah tingkah keberapa setelah sebelumnya juga terjadi di “tangga tikus” ke lantai 2. Mereka bersentuhan, dan reaksinya yang berlebihan saat menarik tubuh membuat si lelaki menoleh. Mereka sangat dekat. Sangat rapat. Dengus itu, napas si lelaki dan napasnya. Segera ia alihkan pandang. Mencari-cari. Dan matanya ia hentikan pada tulisan—seperti prasasti—di dinding: Onder De Regeering van ZM Willem III Koning Der Nederlanden, opgericht voor Draailicht Vierde Grootte 1886.

Oh, itu artinya ’Pada masa pemerintahan Yang Mulia Raja Belanda Willem III, menara suar keempat terbesar ini dibangun pada tahun 1886’.

Kau bisa bahasa Belanda?

Tentu tidak. Kami diberi tahu. Ada 20 menara suar dibangun Belanda sejak tahun 1868 hingga 1891. Dan menara ini salah satunya.

Dilepaskannya “o” panjang, berharap gugupnya ikut lepas dalam “o” itu. Tetapi ternyata tidak. Betapa sukar. Betapa debar. Mereka: dua orang asing, di pulau kecil asing terpencil yang penduduknya hanya 142 jiwa, betapa—

Tetapi entah, mungkin cuma dirinya yang merasa asing. Karena, bukankah lelaki itu sudah terbiasa. Sekali tiga bulan kapal Dinas Perhubungan akan datang menjemput si lelaki dari sebuah pulau terpencil entah di mana, untuk diantarkan ke pulau terpencil lain yang juga entah di mana. Begitulah penjaga mercusuar selalu dirotasi. Dan sering tanpa jadwal yang pasti. Bahkan kata si lelaki, ada menara suar yang sama sekali tak terletak di sebuah pulau, melainkan cuma di sebungkah karang.

Sebungkah karang?

Kalau laut sedang pasang, lantai 1-nya akan tenggelam. Aku hanya akan di atas menara, tak bisa ke mana-mana.

Oh… seperti dipenjara.

Ya, seperti penjara… dan ia ingat, waktu itu ia jadi malu. Ia bercerita betapa merasa asingnya ia. Telah lebih dua bulan, belum bisa melakukan apa-apa. Jangankan mengajar, ia malah harus belajar.

Harus belajar?

Bahasa mereka, aku belum mengerti. Ikan memang mereka sebut ikan, tetapi kupu-kupu mereka sebut kelembak. Kelapa mereka bilang nyio, dan kera mereka bilang ke-e. Untuk cepat belajar, aku harus punya foto atau gambar. Tapi, di tempat ini, bagaimana cara mendapatkan semua gambar?

Oh, memang sulit. Lima atau enam kali tugas di sini, aku hanya tahu: mereka tak biasa melafalkan r, dan a kadang mereka sebut e. Eh, bagaimana mereka memanggilmu?

Memanggil Pak Guru maksudmu?

Ya.

Pak Guk-o.

Dan lelaki itu tertawa. Ia senang tawa itu: nyaris tak bersuara, hanya guncang bungkah pundak, bibir yang tertarik lebar, dan garis melengkung dalam dari ujung bibir ke sudut mata, bagai dipahat sempurna. Ah.

Desah.

Gelisah.

Gemetarnya kian bertambah-tambah.

Menaiki batu bercowak, sampai di jalan setapak, debar itu menjelma jadi beduk, berdentum-dentum. Ada lima cabang di depannya, dan tiba-tiba, ya Tuhan, ia mengubahnya. Ia tak memilih cabang mendaki menuju ke balik bukit tempat para penduduk sejak kemarin berangsur-angsur mengungsi itu, melainkan cabang mendaki lainnya, yang setelah mendaki seratusan meter akan berbelok, turun, lalu mendaki lagi menuju tanjung lain yang menjorok lebih jauh ke laut, tempat si menara suar tegak menjulang.

Dalam gelap, dari 3-4 jenjang terakhir “tangga tikus” ke lantai 2, ia melihatnya. Lelaki itu tegak di tengah ruangan, tepat menghadap ke arahnya seperti hendak melangkah ke mulut pintu lantai 1—ataukah memang tengah sengaja menunggunya? Senter masih di tangannya, dan jarinya tak memencet, tetapi cahaya mengempas-empas itu bagai menerobos dari masa lalu. Seorang lelaki menindih. Seorang bocah ketakutan. Orang-orang berteriak, menggedor-gedor pintu atau entah apa, lalu cahaya senter menyorot menerpa-nerpa. Oh….

Ia telah di lantai 2. Jarak mereka dua depa.

“Kau masih di sini….”

“Mereka terlambat. Tak mungkin menempuh badai.”

Lelaki itu mendekat. Lalu semua menjadi lenguh.

Gemuruh.

Bergederam.

Lak-uk kam. ***

Gus tf Sakai (23 September 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme