Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Marni! Oh, Marni! oleh Palti R Tamba

Posted on Ming, 09 Sep 2007

Sebuah truk berhenti jauh di depan sana. Truk dengan atap terpal. Semula Nawar, mengira truk itu hendak berhenti di halte, karena itu ia terjaga. Ia mencurigai cara perhentian kendaraan itu. Maka ia pun bersiap-siap melarikan diri.

Namun Nawar terlambat kabur. Tak terduga olehnya, dua lelaki berseragam sudah berada di sebelahnya. Mereka memegang tangannya kuat-kuat. Mereka menggiringnya.

”Hayo Cepat!” bentak salah seorang sambil menghentakkan lengan Nawar.

Nawar menatap mereka dengan rasa takut. Meskipun tidak jelas benar terlihat olehnya. Seorang di kiri dan seorang lagi di kanannya. Ia tak tahu hendak berkata apa.

”Apa yang kau lihat, goblok!” Yang di kiri mementung kepalanya.

Nawar meringis. Kedua tangannya meregang. Dalam hati ia berdoa semoga mereka lengah, sehingga ia bisa melarikan diri. Ya, untuk menyembunyikan diri entah di mana saja. Meskipun sebenarnya, ia tak mengenal daerah ini.

”Kau kira ada hakmu untuk mengenali kami, hah…?”

Nawar menatap lelaki di kanannya. Lelaki itu melihat lurus ke depan. Namun, lelaki di sebelah kiri mementung kepalanya lagi.

”Apa, heh?… Kau pikir kau ini siapa…?” tantangnya. ”Barangkali dia pikir dia dapat menuntut kita, Pak Kadim. Dasar anak gelandangan…!”

Anak gelandangan? Nawar membatin. Aku anak gelandangan?…

”Ayo, cepat! Kami bisa dipecat kalau sampai tamu-tamu negara sempat melihat orang-orang seperti kau!… Dan, aku tak sabar lagi untuk menemani Marni, Pak Kadim…!”

”Tapi, Pak Bobi! Giliran kau menyetir sekarang…!”

”Begitu…?”

”Ya, pembagian tugas tetap berjalan, kawan. Jangan ketika kita mendapat kembang kau lupa. Ha, ha… Sekarang aku yang menemani Marni, Pak Bobi…!”

Pak Kadim memasangkan borgol di kedua pergelangan tangan Nawar. Lalu lelaki berseragam itu menarik remaja kencur itu ke dalam truk.

Pak Kadim menyenteri muka Nawar, lalu muka setiap orang dalam truk. Namun ketika sinar senter menerpa muka seorang lelaki tua, ia menyuruhnya mendekat. Lelaki berseragam itu membuka satu borgol di pergelangan Nawar, lalu memasangkannya ke pergelangan tangan si tua itu. Ia pun turun dengan tenang tanpa berkata apa-apa. Ia cuma bersiul.

Truk pun melaju. Dalam truk, ada enam lelaki. Tiga di antaranya anak-anak, tapi ada lebih banyak perempuan. Anak-anak, remaja dan perempuan dewasa.

Nawar sebisanya melihati muka mereka. Samar-samar. Marni, di mana kau berada? Kaukah yang mereka percakapkan? Bisik hatinya.

”Kau mencari siapa, Nak…?” tanya lelaki tua—teman satu borgolan, pelan.

”Marni….” Remaja kencur itu mengangguk. Angin malam mencubit-cubit kulit.

Truk tiba-tiba direm, orang-orang yang berdiri ada yang terjerembab. Dua perempuan terjatuh bagai batang tebu ditebas golok tajam. Si lelaki tua terkekeh-kekeh. Kedua perempuan itu secara spontan melontarkan sumpah serapah berkali-kali kepada dua lelaki berseragam di jok depan.

”Kau mencari siapa, Nak…?” Si lelaki tua kembali menanya Nawar.

”Marni, Pak, eh, Kek..,”

”Marni yang mana…?”

Nawar menghela nafas, meragu. Marni yang mana?… Ada berpuluh-puluh Marni di kota ini… Atau mungkin ada beratus-ratus Marni di kota ini?… Kota apakah ini sehingga mengumpulkan berpuluh-puluh, beratus-ratus orang bernama Marni?…

Si lelaki tua menatap Nawar dekat-dekat. Si lelaki tua lainnya dan istrinya mendekatinya. Sementara yang lainnya larut dalam diam, seolah bisu, buta dan tuli.

”Tak usah takut, Nak…,” kata lelaki tua itu. ”Kita ini dibawa ke rumah penampungan. Biasalah…. Dikasih—apa istilahnya?—pengarahan…. Dipulangkan…. Ya…. Beberapa hari berikutnya, kita datang lagi….”

Si lelaki tua beristri mendekatkan muka ke muka Nawar. ”Sepertinya aku pernah bertemu kau…. Dari tadi aku mengingat-ingat… sejak mukamu disenteri petugas itu…!”

”Bapak… eh, Kakek pernah bertemu saya…?” tanya Nawar.

”Ii-iya. Di tanah lapang!… Aku tak tahu nama tempat itu, tapi…. Waktu itu, di tempat itu ada orang bermain bola kaki…. Aku dan istriku ada di situ…!”

Waktu itu? Nawar menggigit bibir. Ia tak mengingatnya.

”Aku membawa kantong plastik hitam besar. Kami diberi orang nasi kotak berisi ayam goreng. Kami mengajak kau makan. Tapi kau menolak…. Iya kan…?”

Sungguh. Nawar tak pernah melihat pasangan orangtua ini sebelumnya. Namun, ia pun tak jelas ingat sejak kapan di kota ini…. Dua hari lalukah? Seminggu lalukan?… Oh! Ia bahkan merasa sudah berbulan-bulan meninggalkan kampung di Brebes sana.

”Kenapa? Belum ingat…?” kata si lelaki tua beristri. ”Tidak apa-apa….”

”Ti-dak pernah, Pak, eh Kek….”

Truk melalui jalan yang terang benderang. Di kiri dan kanan jalan gedung-gedung perbelanjaan bermandikan cahaya lampu. Terang benderang, seperti pada siang hari. Nawar bersama si lelaki tua dan beberapa orang lainnya bergeser ke tepi bak truk untuk melihat ke luar: gedung-gedung, bermacam-macam billboard, mobil-mobil dan orang-orang yang berjalan kaki. Ada bapak dan ibu menggandeng dua anaknya menyeberang jalan di sebelah sana. Ada anak-anak kecil mengamen di jalan sebelah sini ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Namun, anak-anak itu berlarian sesaat melihat truk itu.

Kemudian truk itu berbelok ke kiri. Kira-kira sejauh satu kilometer, berbelok ke kanan lagi. Memasuki jalan yang sepi. Ada tiang-tiang lampu jalan, tapi lampunya tak menyala. Dan truk pun berhenti. Dan beberapa menit kemudian Nawar mendengar suara-suara perempuan. Terdengar pula besi palang truk dilepas.

”Aku tak mau, Pak…”

”Akan dibawa kemana kami, Pak..?”

Nawar melihat empat perempuan dipaksa naik ke truk. Bau parfum mereka yang khas seperti menyambut penciuman Nawar. Setelah mereka naik, si lelaki berseragam itu memasang borgol di tangan mereka. Bagai domba yang dibawa ke pembantaian, perempuan-perempuan itu tak melawan.

Lelaki berseragam itu turun, lalu memasang besi palang truk. Dan truk melaju lagi. Keempat perempuan itu saling berpegangan.

”Marni yang mana yang kau maksud, Nak? Aku bisa memberitahumu…?” suara si lelaki tua, lagi.

”Ya, mungkin aku kenal juga…” tambah lelaki tua beristri, melihat istrinya.

”Kami…,” ralat istrinya seraya mencubit lengannya.

”Ya, ya. ka-mi….”

Nawar mendekatkan muka ke sisi lelaki tua dan perempuan tua itu. ”Kakak saya…. Dimana dia kini, Kek? Saya mau ber….”

”Kakak kau, Nak…?” tanya ketiga orang tua itu, bersamaan.

”Ya…,”

Lelaki tua itu menggeleng. Lelaki tua beristri menggeleng, diikuti istrinya.

”Aku ini Marni…!” terdengar tiba-tiba.

Nawar, si lelaki tua, lelaki tua beristri dan istrinya dan orang-orang lainnya melihat seorang perempuan mendekat dengan mendekapkan tangan ke dadanya. Samar-samar.

”Tapi, aku Marni dari Kemakmuran…!” katanya dengan suara berat.

”Dari Jalan Kemakmuran, Sayang!” ralat temannya dengan suara berat juga.

”Ya, ya, Sayang….”

Bencong? Nawar sering menonton bencong di tv, entah dalam acara lawak ataupun sinetron. Dan sekarang, ada di hadapannya. Mereka persis perempuan. Tapi suara yang berat itu jelas milik lelaki!….

”Kau ini perempuan apa laki-laki?” tanya lelaki tua itu.

”Ai, ai, kota lontong!…. Sudah truk larinya tak karuan, ditanya macam-macam lagi, ya, Sayang,” ujar seorang dari bencong itu. Dia memeluk temannya karena hampir terjerembab. Lalu kedua bencong itu berpegangan ke tepi bak truk. Berlompatan sumpah serapah dari mulut mereka.

Si lelaki tua mengajak Nawar duduk. Nawar menaruh matanya ke langit sana. Namun kemudian, setelah menaikkan kedua lututnya dan menaruh kepalanya di situ, Nawar memejamkan mata. Lambat-laun, Nawar merasa ada air mata yang keluar dari sudut-sudut kelopak matanya.

Seingat Nawar, seturun dari bus, ia dan Marni ke luar terminal. Marni mengirim SMS ke majikannya yang perempuan. Di luar terminal itu, mereka menunggu sang majikan yang akan datang menjemput. Tapi kemudian seorang lelaki mendekati Marni. Marni bercakap-cakap girang dengan lelaki itu. Marni memperkenalkan pacarnya itu kepada Nawar sebagai sopir yang khusus mengantar jemput anak-anak majikan mereka ke dan dari sekolah, serta ke mana pun. Ya, Marni pernah cerita pada Nawar tentang lelaki itu yang mengirim SMS menanyakan kepulangannya. Lalu, lelaki itu mengajak Marni dan Nawar masuk mobil. ”Supaya kita jangan kemalaman tiba di rumah,” kata lelaki itu.

Seingat Nawar, Marni sempat menanyakan mobil yang dikemudikan lelaki itu. Karena mobil itu bukan mobil yang biasa dikemudikan lelaki itu. ”Mobil sedang di bengkel,” demikian jawab si lelaki.

Mereka pun meninggalkan terminal. Di tengah jalan agak sepi, mobil berhenti, dan naik dua lelaki lagi. Nawar mendengar Marni menanyakan sang pacar tentang dua lelaki yang baru naik itu. ”Teman. Mereka numpang karena searah,” jawab lelaki itu.

Kira-kira lima menit berlalu, mobil itu mengambil jalan ke pinggir dan dengan kecepatan lambat. Marni yang duduk di jok depan diajak si pacar bercakap-cakap terus. Nawar yang semula duduk di sebelah dalam di jok tengah, disuruh pindah oleh dua lelaki yang duduk bersamanya itu ke pintu kiri. Kemudian seorang dari mereka membuka pintu pelan-pelan. ”Aku kegerahan,” katanya. Dan semakin lebar. Dan tiba-tiba, dua lelaki itu mendorong Nawar keluar.

Seingat Nawar, ia menjerit-jerit minta tolong, tapi ia pun tak berhasil mengenali mobil yang mereka tumpangi itu.

Nawar terbayang bagaimana Marni membujuknya agar ikut ke kota besar ini selepas lebaran. Majikan Marni telah menyetujui Nawar dibawa serta. Mendengar cerita Marni tentang kebaikan majikannya, sebenarnya Nawar merasa biasa saja. Walaupun tak bisa ia pungkiri ada keinginan terpendam untuk melihat kota besar ini. Karena selama ini, ia hanya melihat lewat siaran tv milik tetangga. Bapak membujuk, Nawar bergeming. Namun ijin ibu-lah yang membuat Nawar luluh. Ibu yang berjanji akan menggembalakan tiga ekor kambingnya itu. Bapak yang akan menggantikan Ibu bila Ibu mendapat kerja upahan. Bapak akan membagi waktunya untuk menarik becak dan menggembalakan ternak itu.

”Sampai lebaran tahun depan tak lama, Nak. Asal rajin dan tekun, kau akan pulang bawa uang. Bisa buat biaya adikmu Agus menyambung SD nya dan biaya Tini masuk SD. Kalau kau rindu kami, kan ada kakakmu…. Bila matahari di ufuk barat, ingatlah bahwa Ibu atau Bapakmu sedang membawa kambingmu ke kandang….!” kata ibu malam itu….

Cikarang Selatan, Juni 2006

Palti R Tamba (9 September 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme