Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dubuque oleh Sori Siregar

Posted on Ming, 24 Feb 2008

Di Bandara Cedar Rapids ia tenggelam dalam kebingungan. Ke mana? Jadi bekerja sebagai asisten manajer makanan siap saji restoran Roy Rogers di Des Moines atau membantu radio pendidikan di Dubuque? Mengapa tidak pulang saja ke Tanah Air dan mencoba mengadu nasib di sana?

Agel masih memiliki banyak waktu untuk mengambil keputusan karena tiket pesawat terbang belum dimilikinya. Namun, keputusan itu yang sukar diambil. Ia ingin pulang dengan alasan sederhana, home sick. Tetapi, sebagai permanent resident yang telah dua belas tahun di negeri ini, keinginannya untuk pulang hanya dengan alasan home sick adalah keinginan yang kekanak-kanakan, karena status sebagai permanent resident-nya bukanlah status yang diperoleh dengan mudah. Sayang, apabila status itu dilepas begitu saja.

Membujang selama tiga tahun setelah bercerai dengan istrinya, Shelley, yang membawa kedua anaknya, telah membuat Agel kehilangan arah yang dituju. Ia berhenti sebagai supervisor di toko pakaian JC Penney tempatnya bekerja selama lima tahun. Kemudian ia berkeliling ke beberapa kota untuk membuang kekecewaan yang terus melilitnya. Perceraian itu sangat berat baginya.

Akhirnya, ia kembali ke Iowa City tempatnya bermukim sebelum berkeliling ke beberapa kota itu. Hanya satu minggu ia betah di sana, kota kecil yang pernah menjadi tempat tinggalnya selama sepuluh tahun. Ia memutuskan pindah ke kota lain di negara bagian itu. Lalu, mengapa ia ke Bandara Cedar Rapids. Bukankah untuk pergi ke Des Moines atau Dubuque ia dapat menggunakan jalan darat? Lalu, benarkah masih tersedia lowongan di radio pendidikan di Dubuque atau posisi asisten manajer di Roy Rogers?

Agel tidak mengetahuinya dengan pasti. Ini yang membuatnya didera rasa bingung di Bandara Cedar Rapids. Akhirnya, keputusan itu diambilnya setelah dua jam terombang-ambing. Ia harus pulang ke Jakarta.

”Sebenarnya aku terkejut sekali mendengar kau bercerai dengan Shelley setelah enam tahun menikah,” Mangasa menyadarkan Agel dari lamunannya. Mangasa memang menyesal karena dialah yang memperkenalkan Agel dengan Shelley, teman kuliahnya. Ketika hubungan kedua makhluk Tuhan tersebut semakin erat, Mangasa juga mendorong mereka untuk mengabadikan hubungan erat itu dalam ikatan perkawinan.

Ketika Mangasa kembali ke Tanah Air, Agel masih harus kuliah satu tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikannya. Satu tahun setelah pendidikannya selesai, pada saat Agel menikahi Shelley, Mangasa tidak berada di dekat mereka.

”Tak ada yang perlu disesali, Mangasa,” ujar Agel tenang dengan suara datar.

Hawa sejuk menusuk mereka yang duduk di atas tumpukan papan di depan Stasiun Sasaksaat itu. Ratusan orang di sekitar mereka dengan tenang menunggu kedatangan bus yang akan mengangkut mereka ke stasiun berikutnya. Karena deretan gerbong kereta api dari Jakarta anjlok antara Sasaksaat dan stasiun berikutnya, kereta api yang baru mereka tumpangi tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akan kembali ke Bandung.

Untuk mengangkut penumpang yang menunggu di Stasiun Sasaksaat menuju stasiun berikutnya, perusahaan kereta api menyediakan beberapa bus. Itulah yang mereka tunggu. Tiga puluh menit telah berlalu dan bus yang ditunggu belum juga muncul.

”Aku juga sangat menyesal memintamu pulang, karena pulang itu sendiri tidak ada manfaatnya bagimu. Semula aku mengharapkan kau dapat memuaskan rasa rindumu akan kampung halaman di samping melupakan perceraian yang tidak pernah kau inginkan itu.”

Agel menarik napas. Suara Mangasa terdengar aneh di telinganya. Suara itu seakan datang dari jauh, dari suatu tempat yang tidak dikenalnya. Lalu, mengapa kata-kata Mangasa itu didengarnya di Sasaksaat, sebuah kota atau desa kecil yang terletak antara Bandung dan Jakarta. Mengapa ia menyatakan penyesalannya di Sasaksaat, bukan di Jakarta atau Bandung? Lalu mengapa Mangasa mengatakan begitu, setelah satu bulan Agel berada di kampung halaman, bukan ketika mereka pertama kali bertemu setelah beberapa tahun berpisah?

Ah, di mana pun ia boleh mengungkapkan penyesalannya itu. Bahkan, sebenarnya ia tidak perlu mengemukakan penyesalannya, hanya karena dia yang memperkenalkanku dengan Shelley. Agel menggumamkan itu kepada dirinya sendiri. Karena itu pula Agel tidak ingin jika Mangasa terus dibebani dengan perasaan berdosa yang sebenarnya bukan miliknya itu. Itulah sebabnya Agel mencoba mengalihkan pembicaraan.

”Setelah Obama menang di kaukus Iowa, apakah kau pikir jalannya akan mulus menuju Gedung Putih?” Agel bertanya kepada Mangasa.

”Wah, aku tidak tahu. Berita surat kabar tentang pemilu presiden Amerika itu jarang aku baca. Kita harus melihat dulu apakah Obama akan terus memperoleh nilai baik di negara-negara bagian lain.”

”Aku tidak yakin ia dapat begitu saja masuk ke Gedung Putih. Ia berkulit hitam. Masalah warna kulit ini tidak dapat disepelekan karena ini salah satu faktor penentu.”

”Masih belum berubah pendapatmu tentang warna kulit ini, Agel?”

”Belum. Semakin lama aku di sana semakin kuat keyakinanku akan hal itu. Obama akhirnya akan menjadi pecundang. Orang kulit hitam jangan berharap terlalu banyak dalam pemilu kali ini.”

”Kau yakin?”

”Tiga ratus persen.”

Pembicaraan tentang pemilu presiden Amerika berhenti setelah kalimat itu. Mangasa mengembalikan Agel ke benua berempat musim itu.

”Seandainya kau harus memilih, ke mana pilihan kau jatuhkan. Menjadi asisten manajer di Roy Rogers atau menjadi pengantar acara di radio pendidikan di Dubuque?”

”Keputusan tentang itu yang sangat sukar kuambil. Mungkin aku memilih Roy Rogers, mungkin radio pendidikan atau mungkin pula tidak kedua-duanya.”

Setelah itu Agel memberi isyarat agar Mangasa jangan bertanya dulu karena telepon selulernya berdering. Ia mengambil telepon seluler itu dari saku celananya, melangkah menjauhi Mangasa dan memulai pembicaraan dengan seseorang di ujung sana. Pembicaraan berlangsung serius lebih kurang sepuluh menit. Setelah selesai bertelepon, Agel tidak langsung kembali ke tempatnya semula, walaupun Mangasa masih tetap berada di sana.

Agel lebih dulu berjalan pelan-pelan di antara para penumpang yang sedang menunggu bus, sambil sesekali memandang ke arah perbukitan di sekitar mereka. Ketika Agel menghampiri Mangasa, wajahnya kelihatan cerah. Bersamaan dengan itu, lima buah bus datang beriringan. Semua penumpang kereta api naik ke atas bus dengan tenang, tidak berebutan, karena kelima bus tersebut dapat menampung semua penumpang tanpa harus duduk berdesakan.

Mangasa membaca e-mail tersebut dengan tenang. ”Dalam penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Cedar Rapids, aku benar-benar tidak dapat tidur sepicing pun. Aku ingin segera tiba di Dubuque dan memeluk kedua anakku, setelah tiga tahun tidak pernah bertemu dengan mereka. Selama ini kontakku dengan Shelley terputus dan aku tidak tahu di mana mereka. Tetapi, setelah Shelley meneleponku di Sasaksaat itu, barulah aku tahu di mana mereka.”

Mangasa tidak percaya pada yang tertulis di depan matanya. Ia mengulangi kalimat terakhir yang baru dibacanya. Tidak salah lagi, Agel menyebut Sasaksaat. ”Memang aku keterlaluan. Seharusnya aku bercerita kepadamu bahwa yang meneleponku di Sasaksaat itu adalah Shelley, bekas istriku. Begitu ia tiba di Jakarta, ia segera menghubungi adikku dan menanyakan nomor telepon selulerku, kemudian mengontakku just to say hello. Ia juga ingin bertemu denganku di Jakarta.”

Agel akhirnya memang bertemu dengan bekas istrinya itu. Shelley yang bekerja di sebuah Savings and Loan Association di Dubuque kebetulan bertugas dua bulan di Jakarta. Ia meninggalkan Michael dan Ciko di Dubuque bersama nenek dan kakek mereka. Semula Shelley berupaya menelepon Agel sebelum meninggalkan Dubuque. Kontak tidak terjadi karena Agel telah mengubah nomor telepon selulernya. Bahkan, Shelley sebenarnya tidak tahu bahwa Agel sedang berada di Jakarta.

Pertemuan di Jakarta itu berlangsung seperti pertemuan dua teman lama. Shelley menanyakan kabar Agel, begitu pula sebaliknya. Shelley bercerita tentang anak-anak mereka yang telah berusia 6 dan 5 tahun. Kedua anak itu bandel, lucu, dan sehat. Mendengar itu Agel mengemukakan hasratnya untuk bertemu dengan Michael dan Ciko.

”Kapan kau pulang?” tanya Shelley

”Minggu depan,” sahut Agel.

Shelley memberikan alamat kedua orangtuanya di Dubuque dan ia berjanji akan menelepon kedua orangtuanya tentang rencana kedatangan Agel itu. Semua ini dikisahkan Agel dalam surat elektroniknya kepada Mangasa.

”Betapa menyenangkan, Mangasa. Setelah tiga tahun kehilangan kontak akhirnya aku menemukan kembali Shelley dan kedua anakkku. Michael yang ketika kutinggalkan berusia 3 tahun dan Ciko 2 tahun segera memelukku ketika bekas ibu mertuaku menjelaskan siapa aku. Kedua bekas mertuaku juga menyambutku dengan hangat sekali. Shelley benar, kedua anakku sejak lama menanyakan keberadaanku dan sejak lama pula Shelley berusaha mencari alamatku.”

Sampai pada kalimat tersebut Mangasa tersenyum. Ia turut berbahagia mendengar kisah yang dirangkum Agel dalam kalimat- kalimatnya itu.

”Semula, dengan isyarat yang diberikan Shelley ini, aku berharap kami akan bersatu kembali untuk untuk menempuh kehidupan yang baru. Tetapi harapanku itu sirna ketika kedua bekas mertuaku mengatakan, Shelley akan menikah dengan Burt Tennison, orang paling kaya di Dubuque yang juga pemilik stasiun radio pendidikan yang dulu membuka lowongan untukku. Aku bahagia bertemu dengan kedua anakku dan kedua bekas mertuaku, tetapi aku sangat kecewa dengan kabar yang mereka sampaikan.”

Mangasa berhenti membaca surat itu. Ia juga kecewa dan bersimpati kepada Agel. Apalagi ia tahu, perceraian Agel dan Shelley terjadi karena dipicu oleh hal yang sangat sepele. Agel ingin memberikan nama Mangasa, namaku, kepada anaknya yang pertama yang kini bernama Michael itu. Shelley merasa tersindir dan prasangka muncul. Ia merasa Agel mencurigai hubungannya denganku sebagai hubungan yang lebih jauh daripada sekadar hubungan biasa sesama teman kuliah.

Agel berusaha meyakinkan Shelley bahwa ia sama sekali tidak mencurigai hubungan kami, apalagi aku adalah sahabatnya tempatnya berutang nyawa. Ia berkali-kali menjelaskan kepada Shelley bahwa aku telah menyelamatkan nyawanya ketika ia terbawa arus di Sungai Asahan di Sumatera, ketika sebagai pelajar SMA kami melakukan ekspedisi ke sana.

Agel memberikan nama Mangasa kepada anaknya semata-mata karena persahabatan kami yang tulus. Namun, Shelley tidak dapat menerima penjelasan itu dan perceraian akhirnya tak terelakkan. Karena itu Mangasa tidak dapat memahami mengapa ketika Shelley di Jakarta ia menelepon Agel dan ingin sekali bertemu dengan bekas suaminya itu. Mungkin, akhirnya ia sadar dan merasa menyesal.

”Mangasa, aku benar-benar telah memutuskan tidak akan bermukim di Dubuque. Aku akan pulang ke kampung halaman. Tapi bukan ke Jakarta atau Bandung. Mungkin ke sebuah kota atau desa kecil seperti Sasaksaat. Aku tidak tahu mengapa aku mengambil keputusan seperti itu.”

Kalimat-kalimat dalam surat elektronik tersebut berakhir di sana.

Jakarta, 30 Januari 2008

Sori Siregar 24 Februari 2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme