Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ada Tanda di Lehermu oleh Meutia Swarna Maharani

Posted on Ming, 13 Feb 2022

Sedikit banyak Ipi berharap Banu akan muncul di depan rumahnya dengan setelan hitam-hitam, seperti gambaran orang pintar yang sering dilihatnya di teve. Mungkin juga Ipi membayangkan akan melihat Banu dengan mata bercelak legam, atau bibir yang pecah-pecah diolesi bekas larutan arang. Namun yang didapatinya kini agak membuat kening mengernyit kecewa.

Tidak ada hitam yang diinginkan Ipi di luar sana, melainkan hanya langit malam yang menggantung kelam. Banu berdiri di hadapannya, memakai kemeja biru dongker dan celana jin. Ransel ditenteng di pundak, bersisian dengan rambut sebahunya yang tergerai dan sesekali bergerak kecil tertiup.

Ipi merasa asing. Ia sentuh syal krem yang melilit lehernya tanpa maksud apa pun. Kepalanya celingak-celinguk sebentar–memastikan tak ada orang lain yang datang selain Banu, sebelum mundur perlahan dan berkata, ”Masuklah.”

Banu menyambut perkataan Ipi dengan langkah kakinya yang tergesa memasuki rumah. Ipi mengendus pelan, berusaha menghirup aroma Banu yang kalau-kalau saja menguarkan khas kembang tujuh rupa. Namun yang ditangkap hidungnya hanya wangi murah dari biang parfum yang menyengat.

”Mau minum apa?” Tanya Ipi sembari menutup pintu di belakangnya.

Banu tahu itu pertanyaan basa-basi, sebab dilihatnya sudah tersedia cangkir di atas meja ruang tamu. ”Aku sudah suruh para pembantuku pulang ke tempat masing-masing untuk malam ini. Aku cuma bisa buatkan kopi. Tak apa, kan? Silakan minum dan silakan duduk.”

Banu duduk dan menyesap kopinya. Pahit menjalar ke seluruh permukaan lidah. Sekali lagi Banu ingin meminumnya sebelum berhenti karena Ipi berujar, ”Ternyata dukun betulan suka kopi pahit.”

Banu menunduk, memandangi ubin di bawah kakinya.

”Suamiku tak pulang. Malam ini jatah istri mudanya. Ia mungkin akan pulang ke sini seminggu lagi.”

Semua orang tahu, Lail si juragan kelapa sawit itu telah meminang istri keempatnya sebulan lalu. Seorang gadis berusia sembilan belas yang berasal dari daerah paling pinggir kota. Ayah si gadis tentulah pekerja rendahan di salah satu bagian kebun kelapa sawit milik Lail. Tak jauh beda nasib gadis muda itu dengan perempuan yang kini duduk tenang di hadapan Banu.

Asam sisa pahit kopi membekas di indra perasa Banu. Ia mencecap lidahnya sendiri sembari memandangi kopi, dan tentu saja Ipi yang membayangi di sana.

”Kau tahu kau bisa mati kalau melakukan ini, kan?” Tanya Banu sambil menyibak rambutnya sendiri ke belakang, membuat Ipi dapat melihat lehernya yang sawo matang dengan jelas. Amat bersih di sana. Ipi membuang pandangan, menggenggam erat-erat syalnya.

Bagi Ipi, ia sudah sering mati. Hari pernikahannya dengan Lail adalah kematiannya yang pertama. Ipi adalah si istri ketiga yang ditancapkan pisau bergerigi tepat di ulu hati oleh kedua istri pertama Lail, saat para pendahulunya itu memeluknya di atas pelaminan dan mendoakan segala yang baik-baik untuk pernikahannya.

Lail gemar menggandengnya ke mana saja ia butuh sesuatu untuk dipamerkan. Lail pernah berkata, Ipi adalah istrinya yang terbaik. Itu adalah kematian kedua bagi Ipi, sebab ia tahu ia pantas mendapatkan yang lebih baik. Ia ingin dibanggakan karena ia satu-satunya, bukan yang terbaik di antara tiga.

Apa boleh buat, ayah Ipi cuma pemetik di kebun kelapa sawit milik Lail. Ipi si sulunglah satu-satunya harapan untuk menyejahterakan keluarga. “Aku pasti juga memenuhi kehidupan keluarga istriku.” Janji Lail yang semerbak vanili masih terngiang di telinga Ipi saat lelaki dengan kepala penuh uban itu datang melamar kepada ayahnya. Tercium begitu manis lagi terasa getir.

Hampa, Ipi membuka sendiri syal yang melilit lehernya. Ada gurat kemerahan memeluk lehernya dengan jelas. Banu yang hampir menyeruput kopinya kembali terhenti.

”Si renta keparat itu mencekikku minggu lalu. Bekasnya tak hilang sampai sekarang. Kalau risikonya cuma mati, aku tidak takut lagi.”

Banu memandang nanar tanpa lepas dari leher Ipi.

”Ia mulai main tangan beberapa bulan setelah pernikahan, karena aku tak kunjung hamil. Seperti kurang dengan lima anak dari dua istrinya yang lain, ia pergi mencari gadis baru untuk dihamili setelah mengataiku mandul.” Terus berbicara, Ipi dapat merakan jemari kakinya bergetar menahan amarah. ”Aku baru tahu aku mengandung dua minggu lalu, tapi aku sudah yakin tak menginginkan bayi ini lagi.”

Perut Banu rasanya bergejolak. Ia tahu ke mana Ipi akan mengarah. Memang, untuk itulah sekarang ia di sini.

”Padahal kau bisa saja pergi ke tukang aborsi.”

Ipi terkekeh sumbang. ”Jika saja seluruh tukang aborsi di sini tak pernah mengaborsi janin hasil hubungan gelap Lail, maka sudah kulakukan sejak awal. Aku memilihmu karena kau berbeda, Banu. Kau kuyang [1]!”

Banu menunduk, terus menatap ubin. ”Ibuku akan kecewa jika tahu aku kemari. Aku sudah berjanji tak akan mengikuti jejak ayahku.”

Ayahnya mati ketika Banu masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Warga sekampung merangsek masuk ke rumah mereka saat ayah Banu ketahuan berpraktik sebagai dukun kuyang agar dapat menghidupi keluarga. Ibunya meraung pilu sembari menutup mata Banu kecil saat tubuh ayahnya ditancapkan pisau beramai-ramai juga disayat dengan benda tajam apa saja hingga tak lagi bernyawa.

Sejak kematian sang ayah, tak ada yang mau dekat-dekat Banu. Para guru memastikan nilai akhirnya selalu bagus karena segan, dan anak-anak sepantarannya bahkan tak berani meledeknya sebagai anak kuyang. Hanya Ipi yang suatu hari di masa remaja mereka beringsut mendekati Banu yang duduk sendirian di kelas pada jam istirahat dan bertanya padanya, ”Kata ibuku, dan juga kata semua orang, kau tak punya teman sebab kau juga kuyang seperti ayahmu?” Tak ada gentar dari nada Ipi bertanya.

Memang, ayahnya pernah mengajarinya sedikit–bahkan sempat membuat kepala Banu melayang di usia yang teramat muda. Namun, Banu hanya bergeming tak menjawab.

Ia memandang Ipi tenang, begitu pula Ipi yang membalasnya dengan sorot penasaran. Hanya perlu beberapa detik sampai Ipi terperangah sebentar, lalu mengedikkan bahu dan berbalik meninggalkan Banu kembali seorang diri. Tanpa tergesa, seolah ia terlalu berani berhadapan dengan seorang kuyang.

Banu, ini aku, Ipi. Aku hamil, jangan beritahu siapa-siapa. Kau bisa jadi kuyang besok malam? Aku bayar berapa pun.

Sebuah pesan singkat yang diterimanya kemarin membuat Banu tak dapat tidur sepanjang malam. Tidak perlu ada tanya dari mana Ipi mendapat nomornya. Ipi bisa melakukan hampir apa saja dengan statusnya sebagai istri juragan. Bagi Banu yang harus bekerja serabutan hingga keluar kota agar sejarah keluarganya tak diusik, embel-embel dibayar berapa pun ia mau sangatlah menggiurkan. Tak ada yang mau berurusan dengan anak dari kuyang, kecuali jika jasa mereka dibutuhkan. Situasi Ipi sekarang adalah sebuah misal.

Maka di sinilah Banu sekarang. Lingkar kemerahan di leher Ipi tak membuatnya mantap, tapi tetap ia buka ransel yang ditentengnya sedari tadi. Dikeluarkannya selembar kain hitam dari dalam sana. Jika sudah bersedia datang kemari, Banu tahu secara tidak langsung ia sudah menyetujui permintaan Ipi.

Kedua sudut bibir Ipi tertarik kecil walau tak dapat dikatakan sebagai senyuman. Akhirnya, hitam yang sedari tadi diinginkannya hadir juga.

Duduk bersila di balik pintu, tutupi tubuhmu dengan kain hitam, baca mantra. Banu merapal urutan ritualnya dalam hati. Ia gugup. Terakhir ia melepas kepalanya sudah lama sekali, sekadar iseng uji coba kemampuan.

”Kau sudah siapkan bayaranku?” Banu bertanya hanya untuk menekan jantungnya agar tak meloncat keluar.

”Sebentar.” Ipi bangkit dan berjalan memasuki ruangan lain. Saat kembali, ia sudah menggenggam amplop coklat tebal dan Banu sudah duduk bersila di balik pintu.

”Berapa?”

”Kau bisa hitung nanti saat kerjaanmu tuntas. Kalau dirasa kurang, kau boleh minta lagi.”

Banu mengangguk. Tangannya sibuk menyelimuti diri sendiri dengan kain hitam yang dibawanya. Saat ia sudah yakin Ipi tak dapat melihat sosoknya di balik kain hitam, sekali lagi ia bertanya, ”Kau yakin? Kau betulan bisa mati.” Sebab aku sudah lama tak melepas kepala. Cukup dalam hati saja, Banu tak ingin kehilangan pelanggan.

”Aku sudah bilang, aku tak takut lagi kalau cuma mati. Cepat lakukan.”

Hening. Ipi tak dapat melihat atau mendengar apa-apa dari gundukan kain hitam dengan Banu di dalamnya. Tak nyaman mulai menempel di benaknya saat gundukan itu bergerak lamban, mulai melayang ke atas.

”Aku yang kuyang, tapi malah kau yang punya tanda di lehermu.”

Ipi hanya bisa mendengar suara Banu sebelum akhirnya kain itu tersingkap dan pandangannya buyar dimakan gelap.

”Uang sebanyak itu di atas meja dapat dari mana, Banu?”

”Kerja,” jawab Banu tanpa repot-repot mengubah posisinya yang berbaring di atas dipan membelakangi ibunya.

”Kerja apa?”

Banu tak menjawab pertanyaan satu itu.

”Pagi buta aku dengar suara pagar dibuka paksa. Kau habis dari mana? Kerja apa?”

Beberapa pertanyaan lagi dan Banu masih enggan menjawabnya. Dibiarkannya sang ibu tetap berdiri di depan pintu kamarnya menanti jawaban.

”Satu kampung ribut sejak pagi, Banu. Ipi, istri ketiga Juragan Lail, ditemukan mati di ruang tamu rumahnya pagi ini oleh pembantunya. Semua orang bilang ia sedang hamil muda, sebab pembantunya bersumpah banyak lebam dan darah tercecer di selangkangannya. Jadi jawab aku, kau kerja apa semalaman?”

Diam yang cukup menyiksa, dan Banu tetap bertahan tanpa suara.

”Banu, mataku yang sudah tak awas ini bahkan masih bisa melihat tanda di lehermu itu.”

Banu masih memilih tak bersuara walau hatinya merutuk. Sial betul. Percuma ternyata berusaha menggerai rambutnya untuk menutupi tanda di lehernya.

Suara ibunya bergetar saat kemudian berkata, ”Aku ambil uang itu. Aku mau ke luar kota sebentar, membayar utang beras. Jangan kau berani keluar rumah sampai tanda di lehermu hilang. Kau bisa disayat-sayat anak buah Lail jika ia tahu apa yang kau lakukan pada Ipi.” Setelahnya, Banu dapat mendengar pintu kamarnya ditutup dengan bantingan dan suara langkah kaki ibunya yang menyeret di luar sana.

Banjarbaru, Nov-Des 2021

Meutia Swarna Maharani atau yang kerap disapa Ara, lahir pada 6 September 2001 di Jakarta, tetapi tumbuh besar di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sekarang menjalani perkuliahan di program studi Indonesia, Universitas Indonesia.

Made Wiradanalahir di Denpasar, 27 Oktober 1968. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sejak tahun 1989 telah aktif dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri. Meraih sejumlah penghargaan di antaranya: Penghargaan oleh Indonesia Ambasador at Belguim (2006); Gold medal Art Asia Biennale Hongkong 2017.

sumber : harian Kompas edisi 13 Februari 2022 di halaman 9 dengan judul ” Ada Tanda di Lehermu”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme