Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Purnami oleh Ketut Sugiartha

Posted on Ming, 27 Feb 2022

Purnami masih duduk bergeming di teras rumah. Pikirannya berangsur jernih. Pipinya mulai kering, tak lagi dibanjiri air mata. Malam kian larut. Suara gonggongan anjing di kejauhan sesekali memecah keheningan. Juga suara jangkrik yang hilang muncul dari sudut halaman. Kembali dia ingatkan dirinya bahwa semua sudah selesai. Apa yang sudah terjadi biarlah sudah, dan apa yang akan terjadi terjadilah.

Ketut Sugiartha

Langit benderang menjelang tengah malam. Bulan penuh meredupkan kerlip bintang-bintang. Puncak purnama barusan berlalu. Saat yang masih dia yakini baik untuk mengukuhkan harapan untuk kepentingan apa saja karena energi purnama memang sangat kuat dan bisa memicu percepatan proses tercapainya cita-cita.

Sejak dia tahu itu dari seorang guru spiritual yang sering berbagi hal yang mencerahkan di kelompok WhatsApp, dia berusaha melakoni apa yang dia anggap baik dan penting bagi dirinya. Salah satunya melakukan meditasi materialisasi, memantapkan kehendak untuk mewujudkan apa yang menjadi impian hidupnya.

Sudah berulang kali dia lakoni itu pada saat purnama mencapai puncaknya. Memiliki suami yang setia dan mencintainya dengan tulus, itulah yang menjadi impian hidupnya. Tidak sampai setahun harapan itu semakin mendekati kenyataan, dan karenanya dia sangat percaya pada manfaatnya.

Kadek Karyana hadir dalam hidupnya. Dimulai dengan perkenalan yang tidak terduga terus dilanjutkan dengan keintiman yang berproses relatif cepat. Tanpa mengalami rintangan mereka kemudian melangkah lebih jauh, mengikat janji untuk segera menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Karena Purnami anak tunggal, Kadek Karyana bersedia nyeburin. Apabila kelak sudah sah menjadi suami, ia akan tinggal di rumah istrinya, menjadi ahli waris di situ yang dengan sendirinya berarti menjadi penerus trah keluarga istrinya.

Akan tetapi, tiga hari menjelang acara pernikahan, ia berubah pikiran. Ia mendadak mengatakan tidak jadi menikah tanpa alasan yang jelas. Tak pelak kegaduhan timbul, terutama di lingkungan keluarga Purnami. Acara pernikahan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tiba-tiba harus dibatalkan. Kedua orangtua Purnami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengelus dada, sementara Purnami hanya mampu menumpahkan kepedihan lewat air mata.

Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun kemudian terjadi. Purnami memutuskan tetap melangsungkan upacara pernikahan walau tanpa mempelai laki-laki. ”Upacara tidak usah dibatalkan,” katanya kepada kedua orangtuanya.

”Maksudmu?” Sawitri menatapnya tak percaya.

”Saya akan melakukannya sendirian.”

Sawitri menangis sambil memeluk anak semata wayangnya. Dia juga merasakan betapa sakit hatinya dikhianati dan dipermalukan seperti itu. Dia khawatir anaknya mulai tak waras karena tidak sanggup menahan guncangan jiwa yang demikian berat. Melangsungkan pernikahan sendirian adalah mustahil. Bagi kebanyakan orang pun itu dianggap keputusan gila. Namun, menurut sebagian kecil lainnya itu bukan hal yang aneh. Tidak ada ketentuan adat atau agama di lingkungannya yang menabukan hal itu. Bukankah pernah terjadi seorang perempuan menikah dengan sebatang keris?

Kendati masih menyimpan tanda tanya besar di benak, orangtua Purnami tidak punya pilihan kecuali setuju. Di samping karena pandita yang diundang untuk memimpin upacara merestui, biaya yang telah dikeluarkan pun tidak jadi sia- sia dan undangan yang sudah disebar juga tidak perlu dibatalkan.

Mereka diam-diam kagum kepada Purnami yang demikian tabah menghadapi cobaan hidup yang tidak setiap wanita pernah mengalaminya. Tadinya mereka khawatir jangan-jangan Purnami akan bunuh diri, tidak sanggup menanggung perasaan kecewa dan malu akibat penghinaan yang keterlaluan itu.

”Kawin tanpa suami jauh lebih baik daripada dia bunuh diri,” kata Sawitri kepada suaminya di malam yang sudah larut, sehari menjelang upacara pernikahan dilangsungkan.

”Ya,” jawab Arnawa. ”Saya belum pernah mengenal perempuan setabah anak kita.”

”Dia tidak rapuh seperti laki-laki yang mengecewakannya.”

”Ada baiknya dia tidak kawin dengan laki-laki seperti itu.”

”Ya, laki-laki yang tidak punya pendirian. Hanya karena ada yang mengata-ngatai diseret babi betina langsung ciut nyalinya.”

”Ia pasti takut sama ancaman ibunya.”

”Begitulah anak mama.”

Walaupun berita pernikahannya tanpa suami sempat viral di media sosial, Purnami tetap tegar. Dia berusaha tidak terpengaruh oleh kehebohan dunia maya yang tidak mengenal kemanusiaan yang adil dan beradab itu.

Semua sudah selesai. Itulah mantra ampuh yang membuatnya tidak rapuh sehingga bisa melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa, bekerja pada sebuah perusahaan properti asing yang beroperasi di kotanya. Dia tetap bersyukur dengan keadaannya sampai dia bisa bekerja di perusahaan itu.

Suatu hari dia agak terlambat ke luar untuk makan siang karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditunda penyelesaiannya. Dia biasa makan siang di salah satu rumah makan di seberang kantornya, cukup dengan berjalan kaki. Pikirnya rumah makan pasti sudah berangsur sepi. Para karyawan dari kantor-kantor di sekitarnya tentu sudah pada menyelesaikan acara makan siangnya dan kembali ke kantornya masing- masing karena saat itu sudah hampir pukul satu siang.

Dia bergegas menyeberang jalan lalu mendekati rumah makan. Langkahnya tiba-tiba tertahan ketika sampai di ambang pintu. Matanya menangkap seorang laki-laki sedang duduk di meja yang biasa dia pilih saat makan siang jika meja itu tidak sedang dipakai orang lain. Walaupun laki-laki itu sedang menunduk menekuni ponsel di tangannya, dia tahu betul siapa laki-laki itu. Laki-laki yang pernah suatu kali menemaninya makan siang di meja itu.

Purnami punya firasat bahwa laki-laki itu sedang menunggunya dan ingin bicara. Dengan ketenangan yang sudah terlatih dia teruskan langkahnya lalu duduk di hadapannya.

”Saya kira kamu tidak akan datang,” kata Kadek Karyana setelah mengangkat wajah. ”Saya sudah menunggu sejak tadi.”

”Untuk apa?” tanya Purnami datar.

”Saya menyesal dan merasa sangat bersalah.”

”Semua sudah selesai, tak ada yang perlu dibicarakan lagi.”

”Saya tahu, tapi setidaknya izinkan saya minta maaf.”

”Saya sudah memaafkanmu begitu mengambil keputusan menikah tanpa kamu.”

”Tapi, anak itu..,” telunjuk Kadek Karyana terarah ke perut Purnami.

”Kamu tidak punya hak apa pun atasnya.”

”Tapi….”

Kalimat Kadek Karyana terputus karena ada orang yang sedang mendekati meja mereka. Begitu Purnami berpaling didapatinya Akio sudah berdiri di belakangnya.

”Apakah saya mengganggu?” tanya laki-laki Jepang itu.

”Tidak,” Purnami tersenyum. ”Kenalkan ini teman saya.”

Akio mengulurkan tangan yang disambut dengan canggung oleh Kadek Karyana. Mendadak salah tingkah, laki-laki yang membatalkan pernikahan dengan Purnami itu langsung mohon diri. ”Maaf, saya harus pergi,” katanya sambil berdiri dan beranjak ke luar, membuat Akio bertanya-tanya dalam hati.

”Saya kira dia akan ikut makan dengan kita,” ucap Akio.

”Saya tidak mengundangnya,” tanggap Purnami. ”Katanya dia sudah di sini sejak tadi.”

”Sepertinya kamu sedang membicarakan hal penting dengannya.”

”Tidak. Kalau penting ia tak akan pergi begitu saja. Kamu tahu siapa dia?”

Akio menggeleng.

”Dialah laki-laki yang pernah saya ceritakan kepadamu tempo hari.”

”Oh! Laki-laki yang malang.”

”Kenapa?”

”Karena keberuntungannya sudah pindah ke saya.”

”Saya harap kamu tidak akan melakukan hal yang sama.”

”Tentu saja tidak.”

”Kamu pikir kawin nyeburin itu mudah?”

”Banyak yang bilang, jadi orang Bali itu rumit.”

”Ya.”

”Kalau memang rumit, mengapa banyak orang dari negara saya datang jauh-jauh ke Bali untuk dididik menjadi pandita? Saya harap kamu tidak meragukan keputusan yang sudah saya ambil.”

”Jadi..?”

”Jangankan nyeburin, jadi ketua adat pun saya siap.”

Purnami tersenyum sambil menatap dalam-dalam mata Akio. Sampai sejauh itu dia masih meyakini keampuhan laku yang dia tekuni pada setiap puncak purnama. Dia juga percaya, kedekatannya dengan Akio tak lama setelah dia gagal menikah dengan Kadek Karyana bukanlah kebetulan. Begitu juga dengan namanya sendiri, yang dia yakini bukan nama yang dipilih asal-asalan oleh orangtuanya hanya karena dia lahir pada malam purnama.

Ketut Sugiartha tinggal di Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen, dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan sejumlah buku fiksi meliputi kumpulan cerpen dan novel.

Michael Binuko Sri Herawan, lahir di Biak, 1987. Lulusan Program Magister Seni Rupa, Jalur Kekaryaan, FSRD- ITB, Bandung, ini sekarang tinggal di Bandung. Puluhan kali terlibat pameran bersama dan sekali pameran tunggal. Memperoleh beberapa penghargaan antara lain Young Artist Award ”Art|Jog|13” di Yogyakarta tahun 2013 dan Finalist ”4th Guanlan International Print Biennial-2013” di Guanlan, Shenzhen, China.

sumber : kompas.id, 27 Feb 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme