Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kembang Dewaretna oleh Yanusa Nugroho

Posted on Ming, 17 Feb 2008

”Mas, ayo, sudah setengah delapan, lho…,” suara itu terdengar lembut meskipun ada nada khawatir ketika mengucapkan ajakan itu.

Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya.

Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya.

”Sampean sakit?” tanya perempuan itu.

Si lelaki menjawab dengan gelengan kecil. Tak lama kemudian dia membuang rokoknya, bangkit dan berjalan masuk.

Di dalam ruangan sempit itu bau bedak menusuk hidung. Celoteh di sana-sini menebar. ”Lho, Prabu Danaraja kok masih pakai sarung…,” mungkin itu suara Kemit yang malam itu sudah siap dengan kostum Bilung.

Perempuan yang tadi memanggil si lelaki, dan mengikuti langkahnya tepat di belakangnya, memberi isyarat kepada orang yang nyeletuk tadi agar ’jangan mengganggu’. Beberapa pasang mata yang sempat menyaksikan ’kode’ itu bertanya-tanya dalam hati. Kemudian ada bisik-bisik dalam bisu. Ada gerak-gerik tanya jawab lewat tatapan mata.

Di luar panggung, Yu Marni sudah nembang. Gamelan sudah berbunyi, dan satu dua penonton sudah duduk manis di kursi masing-masing; tentu saja dengan sebungkus kacang rebus atau rokok yang mengepul di antara jari. Kang Siman, si pengendang dengan nikmatnya ’ciblon’ riang membangkitkan semangat. Penonton mengalir dan memilih kursi-kursi yang masih kosong.

Laki-laki itu kini sudah selesai memoles wajahnya. Sejenak ditatapnya wajah di cermin itu. Dada, lengan hingga leher, menguning oleh lulur, menutupi beberapa bercak panu yang mengembang di sekitar tengkuk. Dia tinggal mengenakan mahkota.

Seharusnya, malam ini aku Rahwana, bukan Danapati, begitu pikirnya. Ada gerakan melumat di gerahamnya. Apakah karena dia lebih tinggi besar, kemudian terpilih menjadi Rahwana?

Laki-laki itu seperti mengutuki malam.

Tanpa disadarinya, Rahwana sudah berdiri di sampingnya.

”Mas?”

Teguran itu membuat Danaraja terkejut. Matanya menatap, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang di depan matanya adalah sosok yang nyata.

”Mas? Masih mumet?” tegur Rahwana dan itu membuat Danaraja yakin bahwa dirinya tidak bermimpi. Benar, beberapa hari ini sakit kepalanya serasa meremukkan tengkorak. Kemarin malam, dia bahkan tak mampu membuka kelopak matanya. Setiap denyut jantung, seperti dentuman mesin pemasang tiang-tiang pancang gedung.

Sesaat kemudian Danaraja tersenyum. Tampak pahit di mata Rahwana.

”Kalau sampean mau, masih ada waktu….”

Apa maksudnya? Tukar peran? Ah, bukankah kau kini raja yang berkuasa? Bagaimana mungkin kau mau bertukar peran dengan orang yang bakal mati?

”Sudah. Kita jalani saja peran kita masing-masing…,” ucapnya mencoba meredam gejolak batinnya.

”Jujur saja, saya kurang pas dengan peran ini…,” tambah Rahwana sambil meraih bangku kecil, kemudian duduk di samping Danaraja.

”Biar nanti penonton yang menilai….”

”Biasanya, kan, Mas Kadi, penonton menunggu Rahwana yang itu, bukan yang ini,” ujar Rahwana sambil menatap bayangan di cermin. Meski remang-remang, kedua orang itu bisa menyaksikan dua wajah hampa memantul di cermin retak yang sudah entah berapa lama menemani mereka.

”Bener, lho, Mas, kalau sampean mau, saya masih bisa jadi Danaraja.”

”Dik, ini sudah talu. Adegan pertama, kan bukan wilayah Lokapala, tetapi justru Ngalengka. Kamu harus kiprahan di adegan awal dan ini tinggal beberapa menit lagi.

Sudah. Kita jalani apa yang sudah jadi bagian masing-masing.”

Rahwana menghela napas. Danaraja mengenakan mahkotanya, sedikit mematut diri, lalu beranjak pergi.

Gending bertalu-talu, mengiringi gerak tari para raksasa kerajaan Alengka. Namun semuanya seperti jauh terbawa angin kemarau, di telinga Mas Kadi. Dia di halaman belakang panggung, yang hanya satu meter dari bibir kali mampet. Mata Mas Kadi menatap langit hitam berbintang. Bau busuk kali mampet menusuk hidungnya.

Haruskah dia menyalahkan Ki Purwo, dalang dan pemilik rombongan Wayang Wong ”Ngudi Budhaya” yang kini sekarat, setelah hampir 30 tahun mendenyutkan kesenian? Tidak. Orang tua itu sudah seperti bapak baginya, juga bagi hampir 100 orang anggota rombongan itu. Tentu Ki Purwo punya pertimbangan. Tetapi mengapa, pertimbangan yang selama ini bisa diterimanya, kali ini begitu menyakitkan? Mungkinkah sebetulnya dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain?

Mas Kadi mengeluarkan sebatang keretek. Dua puluh lima tahun dia menjadi Rahwana, jika itu mengambil pakem Ramayana, atau Baladewa, jika mereka mementaskan pakem Mahabarata. Dua peran yang sangat dikuasainya dengan baik.

Dan malam ini adalah malam pertama dia tak berperan sebagai Rahwana. Lakon Kembang Dewaretna, yang disajikan malam ini, menuntutnya berperan sebagai Prabu Danaraja, yang akan berperang melawan Rahwana dan mati di tangannya. Rohnya diangkat ke suralaya dan mendapat tugas khusus sebagai penjaga Kembang Dewaretna; bunga bagi kelangsungan hidup para kera di dunia.

Mas Kadi menghela napas. Mengapa dia harus mau ’kalah’ dalam hidupnya malam ini. Bukankah pembunuhan atas Wisrawa lantaran pertapa tua itu (yang adalah ayahnya sendiri) menikmati ranumnya Dewi Sukesi—dara yang seharusnya menjadi istri Danaraja? Sebagai raja besar, Danaraja ’kalah’ oleh kehebatan ayahnya sendiri. Mengapa dia tak berani melamar Sukesi dengan kekuatannya sendiri? Mengapa dia masih meminta bantuan ayahnya yang renta? Ketika Rahwana lahir dari rahim Sukesi dan menuntut balas atas kematian ayahnya, Danaraja harus berperang melawan Rahwana dan …ah, petaka seperti sudah dirangkaikan kepadanya.

Selalu kalah. Tetapi kapankah dirinya pernah menang dalam hidup ini?

Mungkin ada, mungkin ada….

Rahwana merangsek kerajaan Lokapala. Pasukannya menggempur habis kerajaan besar itu. Raksasa Alengka melawan raksasa Lokapala. Kematian di kedua pihak tak terhitung. Giman jadi raksasa pikun, ketika perang lupa, mana musuh mana kawan. Penonton terbahak, bahkan ada yang terkentut-kentut. Penonton tak peduli apakah Giman sedang berperan atau benar-benar lupa. Yang disajikan menuntut gelak tawa, itu saja.

Danaraja terpaku di belakang pengerek layar. Disaksikannya Begawan Wisnungkara, seorang pertapa raksasa dari Lokapala, mati ditebas pedang Rahwana. Wisnungkara, raksasa hitam, kerabat Batara Wisnu yang membimbing bangsa Asura dalam hal kemanusiaan, telah mati. Kemanusiaan telah mati. Apakah Danaraja membiarkan keadaan ini?

Kerajaan Lokapala diselimuti kabut. Gesekan rebab mengalunkan tlutur membalur suasana hati Danaraja. Penonton terdiam. Mereka seakan menyaksikan sosok manusia menghadapi sakaratul maut, yang sesaat lagi akan merenggut nyawa.

”Danaraja, kakakku, tentu kau tahu kedatanganku?”

”Rahwana, apakah kau pikir aku akan menyerahkan begitu saja nyawaku kepadamu?”

”Lokapala hancur. Buka matamu, Danaraja.”

”Pandang aku baik-baik, Rahwana. Danaraja adalah raja besar, bahkan jauh sebelum kau dilahirkan. Ingatlah, kau dilahirkan oleh keserakahan dan nafsu manusia ….” Mas Kadi tersengal-sengal, kepalanya mendenyut. Danaraja tak boleh mati. Rahwana harus mati. Tak boleh ada orang lain yang menggantikan Rahwana.

”Akulah raja besar itu, Rahwana. Kau hanyalah anak dari seorang perempuan yang gampang telanjang di hadapan laki-laki. Kau adalah anak yang tak seharusnya lahir. Kau….”

Rahwana terbengong-bengong. Penonton gelisah. Ki Purwo tercekat, dan belum lagi dia memukul kotak sebagai tanda dimulainya iringan sampak, Danaraja sudah menyerang Rahwana. Penabuh gamelan sesaat bingung, namun segera membunyikan gamelan tanpa komando sang dalang.

Seharusnya, perang tanding itu diiringi Kembang Kapas; sebuah gending mencekam dan terasa pedih. Karena bukankah mereka adalah saudara seayah? Tetapi semua menjadi lain. Tak ada yang mampu mengubah apa yang begitu saja terjadi di panggung. Tak ada yang bisa mengulangi adegan di panggung yang sedang berlangsung. Maka, bahkan sang dalang sendiri tak tahu ke mana alur cerita berjalan.

Danaraja berhasil merebut pedang Rahwana dan bahkan nyaris menikamkannya ke tubuh raja Alengka itu. Rahwana berkelit dan melompat ke dalam. Layar turun. Gamelan bertalu-talu.

Layar dibuka buru-buru, para dewa berkumpul. Seharusnya mereka membicarakan sukma Danaraja yang akan diberi tugas menjaga Kembang Dewaretna. Akan tetapi, mereka bingung, karena yang berlari melintas dengan tiba-tiba tanpa iringan gamelan adalah Rahwana. Lebih terkejut lagi, karena mereka menyaksikan Danaraja mengejar dengan pedang terhunus.

”Akan kau sembunyikan di mana dia? Dia harus mati di tanganku. Akulah yang paling berkuasa saat ini!”

Narada bingung, bisik-bisik kepada Batara Guru bahwa itu adalah dialog yang seharusnya diucapkan Rahwana, bukan Danaraja.

Namun penonton bersorak girang, bersuit-suit menandakan senang. Danaraja menjadi Rahwana. Mereka mendapatkan tokoh idola mereka muncul sebagai Rahwana yang berpakaian Danaraja. Siapa peduli Mas Kadi adalah Rahwana sejati meski dia mengenakan pakaian Danaraja.

”Aku Danaraja, tak menghendaki Rahwana. Dia harus mati di tanganku. Yang Mulia Batara Guru, aku ingin mendengar sabdamu,” tantang Danaraja.

Penonton terdiam. Semua beku, tak terkecuali Batara Guru.

”Kalian hanya diam ketika menyaksikan kelaliman merajalela. Kalian bersembunyi di balik nasib lakon manusia, sementara kalian menuntut kepatuhan manusia. Aku Danaraja. Aku Danapati, menuntut kalian untuk turun takhta.”

Penonton bersorak, seakan baru menyadari telah menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari.

Sunyi sekali malam ini. Hanya bau busuk kali mampet di belakang panggung, menebar mengisi kelengangan malam. Mas Kadi masih duduk, dengan pakaian Danaraja namun tanpa mahkota, dengan sebatang keretek di tangannya. Dia tak bisa lagi merasakan apa-apa. Dia menjadi Danaraja yang Rahwana dan memenangi peperangan. Dia sendiri tak tahu mengapa keinginannya menjadi Rahwana, yang tadi meluap-luap, ketika di hadapan ’para dewa’ berubah menjadi sesuatu yang tak dia kehendaki. Entah mengapa dia hanya merasakan kesunyian kian menganga. Inikah perasaan menang yang selama ini diimpikannya? Tepuk tangan dan kepuasan penonton memang sempat membuatnya terlambung, namun setelah itu hanya kesunyian yang setia menemaninya.

Mungkin saat ini dia sudah menjelma menjadi penjaga Kembang Dewaretna, kuntum bunga yang menjaga kehidupan para kera. Mungkinkah ini lakon yang harus dilakoninya?

Pinang, 982

Yanusa Nugroho (17 Februari 2008)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme