Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cerita dari Rantau oleh Anton Septian

Posted on Ming, 06 Apr 2008

Begitu pantai Batavia nampak di pelupuk mata, Henze tak beranjak lagi dari tempatnya berdiri. Dari geladak, ia bisa melihat beberapa kapal melepas sauh di pelabuhan. Ia ingin lekas-lekas menjejakkan kaki di pantai, minum bir dan mengisi perutnya dengan makanan lezat. Sudah sejak berbulan-bulan lalu ia kehilangan selera dengan masakan juru masak kapal.

Delapan bulan lalu seorang utusan VOC dari kantor pusat Amsterdam datang ke Sachsen dan meminta para penambang bekerja untuk VOC di Sumatera Barat. Henze bersama ketujuh belas kawannya diminta mencari emas di sana. Meski emas adalah penyebab dirinya terlibat dalam pelayaran itu, tapi itu bukan satu-satunya alasan kenapa dirinya mau pergi ke Hindia.

Telah lama ia memendam hasrat untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri paras Si Cantik Hindia, sebagaimana dikabarkan pula oleh para pelaut dan orang-orang di Tanjung Harapan, Ceylon, dan bandar-bandar lain sewaktu mereka singgah, “Het paradijs op aarde.” Secuil firdaus yang jatuh ke dunia.

Kini Huis Te Velsen sudah merapat di Batavia. Henze dan rombongannya harus mengganti kapal di sini. Kapal itu akan segera berangkat ke Ternate untuk mencari cengkeh dan pala.

Di meja kerjanya, Tuan van Goens sedang termenung, memikirkan siasat untuk menumpas Banten. Kas telah menipis oleh perang, mustahil memenangkan pertempuran tanpa keluar biaya. Meski sudah delapan tahun kompeni memonopoli peredaran opium, tapi perang demi perang tetap saja menguras pundi-pundi mereka. Kini Banten yang tak pernah ikhlas melepaskan Sunda Kelapa, mencoba membikin kapal-kapal besar yang dilengkapi baterijj, barisan meriam, untuk menandingi kapal-kapal VOC. Untung saja, pikirnya menghibur diri, Mataram bukan lagi ancaman. Juga Trunajaya. Lelaki itu telah tewas di tangan para pembesar Mataram. Kini ancaman satu-satunya yang paling dekat tinggal Banten.

Seorang opsir tiba-tiba mengetuk pintu. “Tuan Gubernur, para penambang telah tiba di pelabuhan,” katanya setelah memberi tabik. Mata Tuan van Goens sekonyong berbinar. Kerutan-kerutan di dahinya yang membikin dirinya tampak lebih tua, tiba-tiba hilang. Sejak ia tahu bahwa emas adalah jalan keluar dari masalahnya, ia meminta para penambang dari Sachsen untuk mencari emas di Hindia. Kedatangan mereka memberi angin untuk mengobarkan perang dengan Sultan Ageng.

Seperti kebiasaannya ketika bertemu orang baru di Batavia, Heinrich Schumann selalu bercerita panjang lebar, membangga-banggakan keberaniannya bertualang di Hindia selama belasan tahun. Kepada Henze dan kawan-kawan, ia mengaku berasal dari Duesseldorf. Kehidupan yang sulit memaksanya mengadu nasib di Hindia, bertempur di banyak medan bersama Mayor Isaac de Saint-Martin, lelaki Perancis penggemar lukisan yang tersohor piawai menyusun siasat. Tapi sebuah sabetan parang saat pertempuran di Ternate membikin kaki kirinya invalid seumur hidup. Kompeni tak mau lagi memakainya. Setahun lalu, dengan meminjam uang dari rentenir ia membikin restoran Rhine.

Henze dan kelima kawannya makan dengan lahap. Schumann senang melihat piring tetamu licin. Menu restoran ini tak terlampau mewah, tapi masakannya cocok di lidah tetamu.

“Adakah perempuan Eropa di kapal kalian?” tanya Schumann dengan bahasa Jermannya yang sudah kaku.

“Istri atasan kami, Nyonya Olitzsch,” sahut seorang penambang.

“Sial!”

“Kau bisa mengambilnya jadi istri setelah Olitzsch mati,” kata yang lain. “Lelaki itu sedang menunggu ajal di klinik.”

Sudah lama ia mendambakan seorang istri Eropa. Perempuan Eropa yang tinggal di Batavia terlampau sedikit. Setiap kali mereka turun dari kapal, para lelaki Eropa yang kesepian selalu berebut menyunting mereka.

“Dari semua lelaki di Hindia, Tuan Gubernurlah yang paling beruntung,” kata Schumann kemudian. “Meski ada istri, ia bisa dengan mudah mendapatkan perempuan lain.”

Perawakannya tegap, hanya berbalut kain putih di antara selangkangannya. Rambutnya yang panjang tersembunyi di balik destar yang melilit kepalanya. Seandainya tubuhnya dibalut pakaian yang lebih layak, orang-orang tak akan mengiranya seorang budak. Para mevrouw memuja wajah tampannya. Nyonya-nyonya gembrot yang mulai tidak diacuhkan para suami itu akan mengelilinginya seumpama mereka ada bertamu ke rumah Tuan Mossel. Nyonya Matje, istri Tuan Mossel, ada merasa cemburu. Juga jengkel. Tetamu lebih asyik mengagumi budaknya yang gagah ketimbang kalung mutiara yang melingkar di lehernya. Bila sudah demikian, nyonya rumah itu akan cemberut dan marah-marah tidak jelas.

Siang ini Wiraguna, nama budak itu, disuruh memijatnya di beranda. Nyonya Belanda itu duduk di kursi malas dengan hati masih dongkol atas kejadian sore kemarin. Wiraguna mestinya ada di sampingnya sepanjang sore itu atau, paling tidak, mengumpet di dapur. Tapi budak itu malah melayani tetamu yang minta ini-itu dan sesekali meraba wajah dan dadanya. Ia dihukum memijat betis sebab menyiksanya dengan hukuman yang lebih berat lagi sesungguhnya menghukum hati Nyonya Matje sendiri. “Andai Pieter tak menemukan anak malang itu dahulu…,” katanya dalam hati.

Ia terkenang saat Wiraguna pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu. Bocah itu seumuran Cornelis, anak lelakinya, yang meninggal sebelas tahun lalu oleh malaria. Nyonya Matje sendiri yang memberinya nama Wiraguna, untuk mengenang seorang pangeran Jawa yang pernah menyelamatkan nyawanya dari sergapan harimau saat ia dan suaminya mengunjungi daerah pedalaman Jawa. Suaminya menemukannya di Makassar, terselip di antara budak dewasa. Pieter pikir Wiraguna kecil cocok sebagai teman bermain Cornelis yang kesepian. Ia memang sering berpesiar ke pelabuhan-pelabuhan di Timur untuk berbisnis, meninggalkan Matje dan Cornelis di Batavia.

“Aku ingin jalan-jalan,” tiba-tiba Nyonya Matje buka mulut. Suaranya masih ketus. Sejak semalam ia memang mendiamkan budaknya. Bagi Wiraguna, kata-kata itu berarti perintah untuk mengantarnya berkeliling, termasuk ke pasar, memborong bahan makanan kesukaan Nyonya Matje.

Hari masih gelap saat A San membenahi sayur-mayur di keranjangnya. Sebentar lagi ia akan berangkat ke pasar untuk membuka lapak. Tinggal daging babi yang telah ia cincang di dalam berbungkus-bungkus daun pisang, yang belum ia masukkan ke keranjang. Hari ini ia membungkus daging lebih banyak. Seorang juragan daging memberinya jatah daging lebih banyak kemarin. Belakangan ini orang-orang di Batavia sedang menggemari sup babi. Seorang mevrouw beberapa hari lalu mengumpatnya dalam bahasa Belanda yang tak ia pahami sebab tak kebagian. Nyonya Belanda itu bersama budak laki-lakinya datang terlampau siang.

Usai berbenah, A San menghampiri istrinya yang juga sudah terjaga dan kini tengah meniup-niup pipa bambu untuk menyalakan tungku.

“Biar aku saja,” kata lelaki itu, melihat tungku belum mau menyala.

“Tak usah,” timpal istrinya. “Kau sudah membereskan dagangan. Biar aku yang menjerang air.”

A San tersenyum kecil melihat istrinya yang keras kepala. Perempuan itu sudah begitu sejak ia pertama kali mengenalnya di kampung dulu di Tiongkok. Ia jarang mau ditolong orang lain, bahkan oleh A San suaminya sendiri. Barangkali karena ia yatim piatu sejak kecil, sudah jadi kebiasaannya melakukan apa-apa sendiri. Tapi sesungguhnya ia berhati lembut. “Andai saja aku bisa memberinya seorang putra,” A San berkata dalam hati.

Henze tengah celingukan di depan sebuah rumah saat seorang lelaki bersuara berat menegurnya dari balik pagar. Ia rada menyesal karena tadi memilih jalan-jalan sendiri, meninggalkan kawan-kawannya di klinik. “Kau orang baru?” tegur lelaki itu. Henze tak lantas menjawab. Ia menoleh kanan-kiri, takut-takut teguran itu bukan buat dirinya. Tahu tak ada orang lain di dekatnya, ia lalu menunjuk ke arah dadanya sendiri.

“Aku?”

“Iya. Betul kau,” kata orang di balik pagar. “Kau orang baru? Kulihat kau seperti kebingungan.”

“Betul, Tuan. Baru seminggu aku tinggal di kota ini. Aku sedang mencari jalan pulang.” Henze mendekat ke arah pagar.

“Ah kau bukan orang Belanda. Logat Belandamu buruk sekali.”

“Aku orang Sachsen. Baru sebentar belajar bahasa Belanda.”

“Sachsen?”

Kemudian keduanya mengenalkan diri. Pieter Mossel, nama lelaki itu, pedagang budak yang cukup makmur di Batavia. Ia mengajak Henze untuk mampir. Tak biasanya ia mengajak orang asing mampir ke rumahnya. Kali ini tiba-tiba saja ia ingin mendengar kabar Eropa yang telah ditinggalkannya lebih dari dua puluh tahun silam.

“Jadi apa pendapatmu tentang kota ini? Tak terlampau buruk, bukan?” Mossel berkata setelah Henze menceritakan Eropa yang dilihatnya terakhir kali.

“Entahlah…. Sudah dua minggu kapal ke Sumatera belum datang. Belum ada kabar kapan kami berangkat.” Ia menundukkan wajah. Sejurus kemudian ia meneruskan, “Beberapa kawanku meringkuk di klinik. Mereka telah sakit sejak di kapal. Di sini, cuaca tropis malah memperburuk sakit mereka.”

“Hanya yang kuat yang bertahan,” Mossel menyela.

“Kudengar di sini juga sulit mencari perempuan.”

Mossel tak menjawab. Air muka lelaki itu berubah murung.

Seorang opsir datang terengah-engah masuk ke Rhine. Ia membuka topinya dan lekas memesan minuman. Pelayan restoran segera menghampirinya dengan membawa bir dalam gelas besar. Seperti orang kehausan, opsir berwajah pucat itu lantas menandaskan bir di gelasnya dalam dua tegukan. Ia lekas meminta minuman yang sama kepada si pelayan. Sang pemilik restoran yang mengintip dari sejarak segera menghampirinya.

“Opsir,” sapa Schumann, “siang-siang sudah minum. Gadis yang kau incar pasti jatuh ke pelukan lelaki lain.”

Opsir itu mendongak. Ia tertawa pelan sebelum menanggapi omongan Schumann.

“Bukan perempuanku, tapi istrinya Tuan Mossel.”

“Mossel? Pengusaha budak?”

“Ya,” jawab opsir itu. “Dan yang lebih memalukan, istrinya jatuh ke pelukan budak laki-lakinya.”

Schuman terbahak. Ia menarik kursi di hadapan opsir itu, lantas duduk di situ. “Sudah lama aku tak mendengar cerita menggelikan. Lantas bagaimana nasib Mossel?”

“Ia mati gantung diri.”

“Semoga Tuhan menerimanya di surga,” kata Schumann seraya membikin tanda salib.

“Perempuan adalah sumber bencana.”

Schumann tak menyahut. Ia tak begitu setuju dengan kata-kata lelaki muda di hadapannya.

“Kisah menggelikan ini menyeretku ke dalam masalah,” ujar opsir itu lagi. “Aku harus mencari di mana budak itu bersembunyi.”

“Bersembunyi?”

“Ia kabur dari pelukan janda Tuan Mossel dengan menggondol perhiasan dan uang tak sedikit. Kau tahu uang itu untuk apa? Untuk membebaskan para budak.”

“Lalu apa masalahnya?”

Opsir itu tak langsung menjawab. Ia meneguk bir yang baru saja diantarkan ke mejanya. Schumann mengernyitkan dahi.

“Ada kabar para budak akan membuat pemberontakan,” kata opsir itu meneruskan.

Di tengah samudra, sebuah kapal berbendera Belanda terapung-apung menuju Sumatera Barat. Berdiri di geladak seraya menatap hamparan air yang biru, Henze membiarkan angin laut menampar-nampar wajahnya. Seseorang akan melihat kepedihan pada matanya yang remang-remang.

Masih terngiang Schumann mengucapkan belasungkawanya delapan hari lalu. Henze datang ke Rhine mengabarkan kematian seorang penambang di klinik. Lebih dari enam minggu mereka singgah di Batavia dan mereka yang sakit, termasuk Olitzsch dan istrinya, berturut-turut tumbang ke liang kubur tanpa sempat memelototi bongkahan-bongkahan emas di Sumatera. Kini tersisa sembilan penambang, termasuk dirinya, yang akan mencari emas tanpa semangat.

“Semestinya kalian tak datang kemari. Tempat ini seperti neraka,” kata Schuman waktu itu.

Dari geladak, lamat-lamat Henze melihat daratan nun jauh di seberang lautan. Ia berharap itu tanah Eropa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme