Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 04 Mei 2008

Mangku tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali. Tidak! Hidup terlalu menyesakkan, hingga dia bersumpah lebih baik mati di daratan yang jauh. Tak pernah dia bayangkan jasadnya akan diantar ke kayangan bersama api ngaben yang meliuk. Suatu kematian terhormat yang buatnya adalah angan-angan yang jauh. Tetapi, dia yakin, mati sekadar diantar selantun doa tentulah mungkin. Dan, itu sudah jauh lebih mulia daripada kematian ayahnya.

Orang tua itu dibunuh karena menerima tanah cuma-cuma dari organisasi tani yang dituduh merampas tanah tuan tanah dan membagikannya kepada petani tak bertanah seperti dia. Huru-hara politik pun menggelegar. Bali berdarah. Hukum rimba direbut orang-orang yang dirasuki roh leak. Tuan tanah, yang menjadi korban landreform, melihat matahari baru menyingsing untuk merebut kembali tanah mereka.

Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni, tanpa doa, konon pula air mata.

Di tempat lain, dalam huru-hara paling bengis itu, anak-anak menyertai ayah mereka ke dalam lubang. Mangku mujur. Air mata kanak-kanaknya jadi juru selamat. Pemilik tanah membiarkannya menempati gubuk orangtuanya. Dia jadi pembantu di rumah tuan tanah itu.

Siang seterik ini, duduk beristirahat di lindung bayang sulur-sulur daun, Mangku menebar pandang ke daratan menghampar. Dia melihat bayang-bayang masa kecilnya, bermain di tegalan, sementara Ayah dan Ibunya menggarap lahan dengan gairah seorang petani sejati. Bayang-bayang itu kemudian mengabur jadi kenangan hitam yang ingin dia tanam dalam-dalam. Dia mimpi tentang hari tuanya di daratan yang jauh dan pulang ke kayangan dengan sebuah doa.

Meski tak selesai sekolah dasar, dia tahu ada daratan bernama Lampung, di mana orang Bali membangun hidup baru tanpa meninggalkan adat dan kebiasaan. Dia ingin mati di sana diiringi doa sederhana oleh orang Bali sejati.

Sejak lama dia kumpulkan keterangan tentang Sumatera, yang menjadi kembang impiannya, termasuk peta jalan raya yang lumayan lengkap. Peta itu dia peroleh dari seorang kernet bus jarak jauh. Dia juga menyimpan kliping berita dari koran bekas yang dia pulung di pasar. Tetapi, peta itulah yang menyita minatnya. Saban malam, menjelang tidur, dia membentangkannya di lantai, selebar-lebarnya. Seperti seekor semut dia menyusuri jalan darat yang menghubungkan tempat tinggalnya dengan Lampung. Menggunakan mistar, entah berapa kali sudah dia menarik garis lurus dari desanya ke Pelabuhan Bakauheuni. Seribu dua ratus kilometer! Ah…! Biasanya, dia lantas ditenggelamkan angan-angan penuh tanya, berapa lama jarak itu akan dia tempuh dengan merayap dari satu titik perhentian ke titik yang lain. Angan-angan yang biasanya berkesudahan dengan tidur yang lelap.

Sering pula dia bayangkan betapa gentar hatinya nanti di atas feri yang akan membawanya menyeberangi Selat Bali. Kemudian, seribu kilometer sesudah itu, dia akan menjelajah hamparan air yang memisahkan Sumatera dan Jawa. Dia gentar karena yang akan dia arungi anak samudra, bukan secercah air seluas kali di belakang rumah tuannya.

Tetapi, sebuah doa lebih dahsyat dari gelombang. Jarak daratan dan laut apalah artinya untuk tekad siap mati. Mangku berbulat hati berangkat berbekal tabungan bertahun-tahun: seekor anjing Kintamani jantan dan seekor kera. Jantan pula. Uang kontan ala kadarnya. Tas kulit imitasi berisi pakaian dan sarung. Dua caping kepala. Dua pasang sandal jepit.

Sebesar apa, setinggi mana pun menyundul langit, dalam kegelapan malam begini, Gunung Agung bukan apa-apa. Lereng, apa lagi puncaknya, tak tampak. Selepas berdoa bagi keselamatan dirinya dan kedua sahabatnya, perlahan Mangku menguakkan pintu. Dia persilakan anjing Kintamani melangkahi bendul lebih dulu. Sesudah itu, dia keluar menggendong kera, dengan tas jinjing di tangannya. Angin menyapu punggung mereka.

Begitulah pengembaraan itu dimulai, tanpa pamit kepada siapa pun. Ini bukan pelampiasan dendam terhadap tuan tanah yang telah merebut kembali tanah yang beberapa tahun dikuasai ayahnya. Buat Mangku, yang ingin mati terhormat, risi rasanya tinggal di rumah tuan tanah itu. Terasa seperti beribu mata yang terus mengawasi kalau-kalau dia membalas dendam atas kematian ayahnya. Badai perasaan itu lebih baik diakhiri dengan diam-diam, tanpa basa-basi, pikirnya.

Malam pekat dan dingin mengarak Mangku, anjing, dan keranya mengendap-endap meninggalkan desa.

Manakala kunang-kunang terakhir membungkamkan pancaran fosfor dari tubuhnya untuk menyambut terang tanah, Mangku dan teman sepengembaraan tiba di tepi jalan beraspal. Kilau lampu mobil membuat jantungnya berdentam. Itulah bus yang dia tunggu. Sedikit gugup, dia mengacungkan tangan. Bus mendekat, berhenti beberapa depa dari tempatnya berdiri.

Bali tempat dewa bersemayam. Apa pun yang keluar dari sini, berhak atas kayangan. Anjing Kintamani dan kera jantan itu melenggang saja masuk ke feri di Gilimanuk. Tak perlu dikarantina. Mereka suci seperti Hindu. Penyakit hewan hanya berjangkit di luar pulau. Juga penyakit manusia yang bernama kekejian!

Mangku pernah membaca laporan, hanya setelah masuknya tentara dari luar Bali, menjelang penutupan 1965, berjangkitlah pembantaian terhadap mereka yang begitu saja dituduh makar dan cuma pantas untuk dibunuh seketika, bagai binatang penyakitan, termasuk ayahnya.

Tiba di Banyuwangi, Mangku mencari pangkalan bahan bangunan. Dia beli sebatang dolken. Sulit mencari ember kaleng. Tetapi, akhirnya dia temukan kaleng bekas pada seorang pedagang loak. Kaleng itu dia lilit karet dan jadilah tambur. Sementara batang dolken dia takik tiap jarak sejengkal.

Dengan alat itu, bersama anjing dan kera, Mangku membentuk “topeng monyet”. Tapi, ini bukan rombongan sembarangan. Ini seniman dari kayangan. Maka rantai tak diperlukan. Kedua hewan itu dibiarkan menikmati kebebasan untuk bermain, melompat, menari, jumpalitan, menggonggong, dan mengaing. Si kera bergerak dan menari karena dia suka, bukan karena dipaksa. Juga anjing Kintamani itu, yang berlari-lari dengan anggun mengibas-ngibaskan bulu ekornya yang halus, berjingkat sambil melompat-lompat memanjat dolken. Gerakan itu semata ungkapan cinta mereka kepada tuannya. Selain menabuh tambur, Mangku ikut menari, mulutnya berdecak-decak, tangannya berkibar-kibar, bagai penari kecak.

Kalau rombongan ini tampil di alun-alun kota yang mereka lalui, penonton berjejal seperti kerupuk.

Pengembaraan Mangku bersama kedua hewan itu tak selalu menyenangkan. Menjelang Semarang, beberapa kali dia ditahan aparat. Mereka meminta surat jalan. Mangku tak punya. Dari perjalanan panjangnya inilah dia tahu bahwa kesalahan–yang dibuat-buat penguasa, termasuk polisi, banpol, babinsa, hansip, dan tentara–bisa ditebus dengan uang.

Di Pemalang, dekat pantai Widuri, dia merinding, juga tersenyum kecut. Ceritanya, ketika dia akan menggelar pertunjukan, adalah kru film Austria yang sedang mengambil gambar di semak-semak, tak jauh dari bibir pantai. Diyakini, di situ dikuburkan sejumlah guru, lurah, dan pamong lain yang dituduh komunis. Mangku tergoda bergabung dengan kerumunan manusia di semak-semak itu.

Di depan kamera, seorang saksi mata menceritakan bahwa suatu malam, akhir Oktober 1965, ketika dia berusia 13, dia dengar rentetan tembakan dari arah laut. Esok paginya, dia pergi ke pantai menemui teman-temannya. Kaget, di situ dia jumpai sekelompok orang dewasa sedang menyeret-nyeret mayat yang tergeletak dingin di pantai. Anak-anak tanggung yang mengerubung disuruh ikut menyeret mayat yang sudah tak berdarah, dan melemparkannya ke lubang.

Mangku merunduk, hatinya meraung.

Tampil pula saksi lain. Orang ini, berusia di atas 60, mengaku disekap di Nusakambangan, sebelum dipencilkan ke Pulau Buru.

“Mereka yang terbaring di sini,” kata orang itu, “adalah orang-orang yang sangat disegani, dihormati. Mereka guru, pamong terbaik di daerah ini.”

Saksi itu berkisah, sepulang dari Buru dia menganggur. Pekerjaan satu-satunya adalah togel. Untuk mendapat nomor jitu, berbagai cara ditempuh para penjudi. Meminta nomor di kuburan, mereka lakoni. Dia sendiri pernah meminta nomor di kuburan massal itu.

“Malam-malam, saya letakkan kertas polio putih bersih. Di atasnya saya baringkan pensil,” katanya bersungguh-sungguh. “Besok paginya, saya datang. Dua kali saya dapat nomor. Dua kali bandar jebol,” dia tersenyum simpul, kerumunan orang bergoyang. Sambungnya: “Saya yakin, roh Pak Machdum, guru paling jempolan, yang menuliskan nomor itu. Orang lain juga pernah mencoba, tapi tak dapat apa-apa, kecuali kertas putih tok. Sebab, roh Pak Machdum cuma mau kasi nomor kepada mereka yang seideologi…,” tukasnya.

Perasaan Mangku diaduk-aduk. Hatinya diiris-iris, juga terasa dikilik-kilik. Dia tunduk, menyembunyikan senyum getir. Ketika kata-kata saksi mata itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kru film terpingkal-pingkal.

Tegal dia temui baik-baik saja. Juga Indramayu, Krawang, dan Cikampek. Mangku tak mengira, Jakarta cuma sebuah bencana. Siang itu, ketika dia melintasi daerah Menteng, terdengar sirene meraung. Dari mobil kap, orang berpakaian seragam berlompatan mengejarnya. Seseorang, yang membawa tangguk, menyauk anjingnya, dan melemparkan hewan itu ke mobil.

“Anjing rabies, jangan macam-macam, lu, ya…!” terdengar teriakan dari dalam mobil yang meluncur kencang. Mangku termangu. Keranya menjerit-jerit, tak rela kawannya diperkosa. Hanya itu yang bisa diperbuat kera itu. Kota sebesar ini cuma berisi penjahat, pikir Mangku.

Beberapa hari kemudian, setelah lelah berlari-lari kecil, melompat, menari-nari dalam satu penampilan bersama keranya di satu persimpangan, Mangku ingin melihat-lihat rumah yang besar-besar dan mentereng di selatan kota. Kera yang melenggang di sampingnya mendadak menyentak-nyentak tangannya. Terdengar gonggongan anjing dari pekarangan rumah. Mangku kenal betul gonggongan itu. Dia menghampiri pagar.

“Kaukah itu Jonggi…!?” teriak Mangku. Dia lihat anjing Kintamaninya dituntun seseorang dengan rantai metal yang melilit lehernya. Anjing itu mendekati pagar, ingin mencium lutut Mangku. Yang memegang rantai menyentakkannya. Penjepit di rantai itu mencubit leher anjing itu. Jonggi terkaing.

“Mau apa kamu, ha…?!”

“Itu anjing saya.”

“Bohong! Mau maling lu! Awas ya, saya lapor…” orang itu ngacir.

Ditunggu berjam-jam, orang itu tak keluar juga. Dari arah dalam, Jonggi terus menggonggong. Mangku tahu betapa gelisahnya anjingnya itu. Lama-kelamaan gonggongan semakin menghilang, diredam rantai pencekik. Satpam datang mengusir Mangku. Anak Bali dan sahabatnya menyingkir. Hati mereka laksana dua serangkai, sama-sama terluka.

Jakarta cuma memberi bekal kekecewaan tak terbayar. Menumpang truk, Mangku menuju Merak. Dia ingat, dari kota pelabuhan ini, sekali lompat dia sudah akan menginjak daratan idaman. Tempat di mana dia ingin mati secara wajar, diiringi doa, tentu. Tidak seperti Ayahnya.

Di Merak, matahari menggigit melumatkan kulit. Mangku memutuskan istirahat di emper gudang. Duduk mencangkung, dia belai teman semata wayang. Luka hatinya, karena anjingnya yang dirampok dan diperkosa di Jakarta, belum sembuh. Namun, udara lembab bergaram dan deburan ombak agak menawarkan perasaannya.

Selagi dia menerawang, tiba-tiba seekor anjing menerjang dari bawah truk yang sedang parkir dan menyerang kera di sebelah Mangku. Kera itu menjerit, melompat, dan secepat kilat bergantung di kaso emper. Darah menetes dari pahanya. Selang beberapa detik, diiringi raung pertanda siap membunuh, segerombolan anjing menyerbu dan berkerumun sambil menggonggong kera terluka yang bertengger. Mangku lari ke lapangan, menggenggam pasir, dan melemparkannya ke gerombolan anjing tadi. Mereka berlarian menyingkir.

Malamnya, Mangku meratap tertahan-tahan isak tangis. Di hadapannya, sahabatnya terkapar di tikar. Kera itu kejang. Mulutnya berbuih.

Paginya, para pemancing menemukan bangkai anjing mengapung. Rupanya, anjing pembawa rabies, yang menyerang kera Mangku, mati, dan orang membuangnya ke laut.

Mangku takkan memperlakukan sahabatnya seperti itu. Dia membungkus jasad sahabatnya dengan hormat, membawanya menyeberangi selat. Sesampai di daratan Sumatera, Mangku membopong tubuh kaku kera itu menuju daratan yang agak tinggi, menatap selat.

Mangku tegak di atas lutut menghadap lubang. Berdoa beberapa saat, lantas dia menimbuni kuburan itu dengan tanah. Juga air mata. “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, kawan. Diiringi doa….”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme