Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wanita Berpedang Samurai oleh GM Sudarta

Posted on Ming, 27 Jul 2008

Perempuan itu berjalan mendekatiku sambil tangan kirinya menggenggam pangkal sarung pedang, sedang tangan kanannya mencengkeram tangkai pedang, siap menghunusnya.

Pedang yang bersarung kulit itu paling tidak sudah selama 60 tahun tergantung di dinding ruang tamu persis di atas sofa. Seingatku semenjak usiaku lima tahun sudah kulihat terpampang di situ. Bentuknya yang ramping memanjang, dengan hiasan logam keemasan di tangkainya, membuatku terkagum-kagum membayangkan betapa gagahnya orang yang menyandangnya. Almarhum ayah pernah bercerita, pedang itu hadiah dari Seigo-san, seorang serdadu Jepang sahabat ayah di zaman pendudukan Dai Nippon. Mereka bersahabat mungkin karena mempunyai kegemaran sama, yakni minum-minum sampai mabuk dan wanita.

“Sewaktu Jepang kalah perang, dia ditarik kembali ke negerinya,” cerita ayah. “Sebelum pergi kami menyanyikan Kimigayo bersama-sama sambil menangis. Kemudian dia menyerahkan pedang sebagai kenangan dengan harapan bisa bertemu lagi. Paling tidak ketemu di akhirat nanti.”

“Rawatlah dan hargailah pedang itu dengan baik sebagaimana kau mencintai istrimu kelak. Pedang samurai adalah lambang dari kesetiaan dan harga diri. Jadikanlah hidupmu seperti seorang samurai. Sebagaimana keris, pedang samurai dengan mata pedang yang sangat tajam yang ditempa dari wesi aji, kemudian dilapisi baja di punggungnya sehingga lentur tak mudah patah, adalah lambang ketegaran hidup yang tidak gampang patah dan berwawasan tajam,” pesan ayah menjelang kepergian untuk selamanya.

Setiap kali kubersihkan pedang dan kubasuh dengan minyak cendana, seperti yang kulakukan untuk koleksi keris-kerisku. Kekagumanku tak pernah habis menikmati keindahan bilahnya setiap kuhunus. Di depan cermin aku suka berdiri bak samurai menggenggam tangkainya dengan kedua tangan dan membayangkan diriku seperti Musashi.

Itu semua rupanya memberikan getaran-getaran benang halus yang menghubungkan hatiku sehingga jatuh cinta kepada Jepang. Dari usia sekolah hingga sekarang aku sangat menyukai gambar-gambar alam Jepang juga lukisan-lukisan ukiyoe karya Utamaro atau Hirosige. Juga nyanyian tradisionil Jepang, Shina No Yoru, hingga lagu-lagu Kenji Sawada. Semua film karya Kurosawa saya lalap habis. Begitu juga film serial Zatoichi.

Rupanya pedang itu telah merasuk dalam jiwa ragaku. Mungkin bisa dibilang aku kesurupan pedang, sehingga bagaikan Musashi yang dalam perjalanan hidupnya selalu mencari tantangan. Dan kemudian sang penantang yang datang kepadaku adalah senyuman dari perempuan itu yang badannya semampai, matanya sedikit sipit dan sayu, rambutnya panjang tergerai, kutemukan dia di sebuah diskotek paling liar di Jakarta.

“Kita para lelaki itu biasanya, kalau sedang jatuh cinta, jarak antara otak dan ‘senjata’-nya sangat berjauhan, sehingga apa pun akan dilakukannya tanpa pakai otak,” ujar sahabatku memberi peringatan ketika aku nampak tergila-gila pada si mata sayu.

“Dimulai dengan mengirim bunga, hadiah-hadiah, harta, sampai sedia menjadi budaknya, bahkan sampai nyawa pun diserahkan,” tambahnya. Ah, enggak percaya pikirku. Masa iya, sampai sebegitu jauhnya, kan aku seorang samurai.

Dan jadilah kemudian sebuah kisah cinta bagaikan opera sabun sinetron di televisi kita. Memang dimulai dengan sekuntum bunga mawar. Kemudian bukan hanya bunga saja, melainkan masa depan hidup aku serahkan kepadanya. Meskipun bibir tipisnya suka bicara setajam pedang samurai, dan dia datangnya lewat tajamnya sinar laser lampu-lampu diskotek, serta tajamnya perbedaan usia kami berdua, aku malah semakin mencintainya. Apalagi setelah anak lelaki tampan telah dia lahirkan, melengkapi kebanggaanku sebagai seorang samurai yang habis menang berlaga.

Musim gugur di Kyoto ditandai dengan mulainya daun momiji yang hijau berubah menguning yang nantinya akan berubah merah meronai kota indah itu. Kota yang pernah dihadiri Musashi ini, yang telah lama kuimpikan, akhirnya kenyataan telah datang dengan tugasku di negeri matahari terbit ini. Daun momiji yang berakhir dengan menghitam layu di akhir tahun, telah memberikan kerinduan gaib dalam jiwaku.

Bermula dari ketika kuhabiskan waktu sore sepulang dari jalan-jalan ke Ginkakuji, dengan menyusuri jalan setapak Tetsugaku no Michi yang dalam buku petunjuk wisata disebut philosophy pathway, jalan untuk merenung sambil menyusuri sungai di sampingnya. Sementara pohon momiji rindang menaungi sepanjang jalan dengan daunnya masih menghijau.

Di seberang kanan jalan sebuah restoran kecil meniupkan bahu semerbak, mengundang selera saya. Noren di atas pintu masuk bertuliskan yakitori.

“Irashaimase…,” suara halus dari seorang wanita beryukata muncul dari balik noren dengan sikap ojigi, ketika langkahku sampai di depan kedai. Budaya Jepang yang santun ini membuatku tak bisa menolak undangannya. Kuambil kursi dekat jendela yang menghadap rimbunnya daun momiji.

“Dozo…,” ucapnya sambil menyerahkan daftar menu dengan sedikit senyum tersungging.

“Yakitori to biru ni shimasu,” jawabku.

Kuperhatikan langkah-langkah halusnya setelah dia berbalik ke dapur. Yukata dengan obi di punggung serta leher baju bagian belakang agak turun ke bawah ditambah sanggul yang agak ke atas, telah membuatku terkesima. Di mataku terlihat tengkuknya putih bagai salju dengan bulu-bulu halus kebiruan. Benar juga kata sementara teman, bahwa keindahan wanita Solo adalah pada pinggang ramping dan pinggulnya, sedang wanita Jepang pada tengkuknya!

Sambil menunggu datangnya pesananku, kubuka buku Ai No Kawaki karya Mishima Yuko yang kupinjam dari koleksi buku Murai shensei.

“Omatashe-shimashita…,” ucapnya minta maaf karena telah menunggu agak lama sambil meletakkan sepiring yakitori, segelas bir dan secawan kecil oshiko yang di atasnya ditaruh sehelai daun momiji hijau.

“Its okey, domo,” jawabku sekenanya.

Kuambil sehelai daun momiji dari cawan acar itu dan kuselipkan ke buku Mishima dengan hati-hati sebagai pembatas buku. Dia perhatikan apa yang aku kerjakan sambil tersenyum. Senyumannya itu… ah!!

Dan senyuman itulah yang kemudian memberiku perasaan aneh mulai melilitku. Mungkin kecantikan asli wanita Jepang paruh baya ini sebagaimana digambarkan dalam lukisan Ukiyoe Utamaro dengan mata sipit, hidung mancung dan kulit putih, serta namanya yang indah dan enak didengar. Harumi memaksaku untuk kerap mengunjungi restoran itu, supaya bisa menemuinya setiap sore, menjelang dia pulang kerja. Sepertinya ada kegelisahan penuh rahasia di antara kami berdua. Apalagi bagiku, kalau teringat si mata sayu di rumah yang beberapa tahun terakhir ini suka uring-uringan tidak jelas juntrungannya.

Tanpa kami sadari setahun telah berjalan dengan sendirinya, dan aku kerap pula mengantarkannya, dengan kereta subway menuju stasiun terdekat dengan tempat tinggalnya, meskipun apartemenku berlawanan arah. Di kereta, kami lebih banyak berbicara dalam diam. Hanya saling memandang dengan tersenyum. Rupanya dia sadar benar akan keterbatasanku dengan bahasa negerinya. Di peron stasiun pemberhentiannya kami berpisah. Dia ucapkan sayonara sambil menyerahkan setangkai kecil daun momiji tiga helai yang masih hijau, yang dia ambil dari tas jinjingnya, dan kemudian menaiki tangga keluar. Aku pun melanjutkan langkah mencari peron sebaliknya.

Getaran-getaran aneh yang selalu menyelinap dalam jalan bersama ini, sepertinya sangat kami nikmati, hampir setiap hari. Sehingga daun momiji yang aku terima dan kemudian menjadi pembatas bukuku ini, telah menjadi catatan mesra selama musim gugur. Dari warna hijau, lalu kuning, merah, hingga coklat dan daun kering menghitam tanda musim gugur usai.

Dua musim gugur telah berlalu. Selama itu telah banyak aku dengarkan cerita tentang dirinya sendiri. Rupanya juga tak jauh berbeda denganku. Insan yang menjalani hidup ini dengan perasaan tak jelas arahnya. Perjalananku ke negeri sakura ini sebenarnyalah bagai terhempas ke dunia yang dihimpit sepi, tak bertujuan, karena hanya menyerah pada keadaan. Begitu juga dia. Kesehariannya adalah rutinitas yang baginya bukan lagi kodrat, melainkan nasib. Nasib seorang perempuan yang dijauhkan dari impiannya sebagai ibu dan istri. Anak sudah menikah, jauh dari rasa peduli kepada ibunya. Suami pulang kerja tengah malam dengan bau alkohol, seperti biasanya kaum pekerja di Jepang yang menghabiskan waktu pulangnya dengan minum-minum sesama koleganya. Bahkan harus rela berbesar hati apabila sang suami pulang mabuk, dipapah seorang wanita lain.

Pagi hingga malam terjerat kesendirian, setelah menyiapkan makan pagi sang suami, kemudian membereskan rumah, belanja, masak, dan akhirnya hanya ditemani acara televisi yang sangat membosankan. Dan akhirnya terhempas pula di restoran ini untuk bisa berjumpa dengan orang lain.

Tiga tahun lebih, aku telah merasa benar-benar bagai samurai sehebat Mushasi. Kami menikmati hari-hari indah ini dengan penuh kerahasiaan yang kami simpan berdua. Menjelang akhir tugasku, kujumpai dia dengan kabut di wajahnya. Matanya agak lebam dan pipi kirinya nampak memar meskipun disaput dengan bedak tebal. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa aku tak usah bertanya. Hampir dua bulan aku tak bisa menemuinya sesudah itu. Bahkan sehari sebelum kepulanganku, tak kujumpai dia di restoran itu. Mama-san, pemilik kedai yang biasa dipanggil, mengatakan bahwa Harumi sudah tidak bekerja di situ lagi.

Hampir tiap bulan aku terima suratnya, berhuruf kanji yang kurang aku mengerti. Hanya tempelan daun momiji dari warna hijau hingga merah yang aku ketahui maknanya. Lewat penantian yang panjang, setelah puluhan kali suratku tak terbalas, barulah setahun kemudian kuterima surat tanpa tulisan dengan tempelan daun momiji hitam yang sudah kering kerontang.

Perempuan itu semakin mendekat. Pedangnya mulai terhunus. Mata sayunya lenyap. Berubah menjadi tajam berkilat, mulutnya mengatup rapat. “Ada apa yang…?” tanyaku terkesima. Ujung pedangnya telah menyentuh dadaku. “Tidak usah tanya! Ceraikan aku sekarang atau kubunuh kau!” jawabnya sambil menekan ujung pedangnya semakin keras. “Ada apa yang?” tanyaku lagi.

“Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi di Jepang? Tua bangka gak tahu diri!” Ujung pedangnya mulai menembus bajuku. Ah aku pikir bukan itu alasannya. Apa yang kurasakan belakangan ini adalah seperti yang telah diperingatkan teman-teman. Penyebabnya adalah setelah akal sehatku hilang, setelah apa yang kupunya kuserahkan atas nama dia, rumah, tanah, mobil, bahkan asuransi jiwaku, tak ada alasan lagi baginya untuk tidak membuka topengnya.

“Tidak mungkin aku menceraikan kau dong yang,” ujarku setenang mungkin. “Bagaimana dengan nasib anak kita nanti…?”

“Anak kita?! Bukan!! Yang pasti anak itu bukan anak kamu! Dia anak diskotek!” ujarnya sambil mengangkat pedangnya.

Sebelum pedangnya menebas leherku, aku sudah keburu hancur berkeping-keping!

Kyoto, 2008

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme