Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pulang oleh Marliana Kuswanti

Posted on Sen, 04 Apr 2022

Jalan menuju rumah selalu terasa panjang. Seperti tak pernah ada setitik pun rindu yang tumbuh di benaknya. Mungkin karena rumah tak menjanjikan apa pun untuknya. Rumah asalnya tak seperti rumah teman-temannya yang selalu siap menyambut dan melepasnya dengan kehangatan. Dingin rumah keluarganya senantiasa menikam sampai ke tulang.

Namun yang sedingin itu pun masih mendingan dibandingkan suasana panasnya yang tak tertahankan jika sedang pecah pertengkaran. Saat Apin kecil, pertengkaran ayah dan ibunya telah menjadi makanan sehari-hari. Seharusnya, Apin terbiasa. Akan tetapi, mereka yang dengan gampangnya bilang begitu pasti tak pernah tumbuh di tengah pekaknya telinga oleh makian dan suara-suara pukulan atau gelas dan piring yang beterbangan ke segala arah.

Seandainya bisa, Apin juga ingin menjadi terbiasa sehingga pertengkaran semengerikan itu tak lagi terdengar seperti pertengkaran dua orang dewasa yang tentunya pernah berulang kali bercinta karena kalau tidak begitu tak mungkin ia dan kakak-kakaknya lahir. Sayangnya, pertengkaran kedua orangtua memang tidak pernah sama dengan hal-hal lain yang ada di dunia ini.

Apin ketakutan di setiap nada suara yang meninggi. Ia bisa menghabiskan malam dengan bergelung di kolong ranjang, merapat pada dinding. Seakan-akan bila dinding mampu memeluknya, ia bakal merasa sedikit lebih baik. Setiap pori di dinding itu barangkali akan menyerap rasa takutnya sampai habis dan besok pagi ia dapat keluar dari sana dengan wajah gembira selayaknya anak-anak.

Sayangnya, itu tidak pernah terjadi. Panasnya suasana rumah di malam pertengkaran selalu berlanjut dengan kebekuan pada keesokannya. Apin membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Jantungnya berdenyut kencang sampai terasa menyakitkan, khawatir sedikit saja suara yang ditimbulkannya akan kembali meledakkan pertengkaran kedua orang tuanya.

Namun, selepas usaha sekeras itu, tak ada apa-apa di ruang tengah yang menyambutnya. Apin bukan tidak tahu ke mana orang-orang. Ayahnya pasti telah pergi pagi sekali atau bahkan di tengah malam ketika Apin akhirnya menyerah pada tangan-tangan lelah yang membekapnya di kolong ranjang. Ibunya mungkin masih di kamar, tidak menangis tetapi juga tidak akan mau bicara baik pada Apin atau siapa pun. Persis seperti petapa.

Ketiga kakak Apin jelas lebih besar darinya. Kakak yang paling dekat saja umurnya terpaut empat tahun dari Apin. Kakak sulung sepuluh tahun lebih tua dan kakak tengah enam tahun selisihnya dari Apin. Di pagi yang sebeku ini, Apin tidak perlu mencari mereka. Tak akan ketemu bahkan bila Apin mampu memutar kepalanya sampai tampak olehnya tengkuk, punggung, dan pantatnya. Barangkali mereka bersembunyi di sana, kan?

Ketiganya dengan curang telah menyelinap ke luar begitu air dalam kuali hampir mendidih. Si sulung sudah punya pacar, gadis desa sebelah. Setelah berjalan-jalan bersamanya sampai mau tak mau memulangkannya atau dia bakal disembur orang tua si gadis, abangnya itu pasti tidur di sembarang tempat. Bisa di gubuk tengah sawah, musala, pos ronda, bahkan mungkin tengah jalan asal tak ada kendaraan lewat.

Kakak kedua perempuan. Dia punya sekelompok teman kental yang bakal siap memberinya tumpangan tidur secara bergantian. Jumlah temannya enam orang dan di sekolah mereka semua ditakuti. Jadi setiap pertengkaran meledak di rumah, kakak kedua Apin baru akan pulang tepat seminggu kemudian. Tanpa raut bersalah, malah siap pergi lagi jika dari depan pintu saja telah terdengar lagi teriakan-teriakan dan hantaman-hantaman pada dinding atau meja. Tak perlu pamit, toh tak akan ada yang mencarinya juga.

Kakak ketiga sebenarnya kasihan. Seperti Apin, dia pemalu dan lebih senang sendirian. Akan tetapi ketika rumah tak mampu menjadi tempat persembunyian yang nyaman untuknya, dengan terpaksa dia jadi harus berkelana tak tentu arah di dunia yang kurang ramah pada orang-orang sepertinya. Dia nyaris tak punya teman. Segelintir anak sebaya yang disebutnya teman pun seperti tidak menganggapnya benar-benar ada.

Oleh karena itu, keberaniannya untuk ikut menyelinap ke luar di malam-malam penuh pertengkaran adalah tindakan yang sangat berani. Dari semua kakaknya, hanya dialah yang Apin tak tahu pasti ke mana ia pergi dan menghabiskan malam. Biasanya, dia pulang lebih cepat dari yang lain.

Sama seperti ketika dia pergi, Apin juga tak tahu kapan dia kembali. Tahu-tahu saja Apin akan melihatnya ada di dapur atau halaman belakang, mengorek-ngorek tanah dengan patahan ranting untuk membangunkan cacing-cacing. Apakah kakaknya sedang mencari lubang persembunyian yang tepat untuk dirinya sendiri?

Tidak ada yang sempat atau ingin mengajak Apin menyelinap. Mungkin karena Apin dianggap terlalu kecil. Jika Apin ikut kakak sulungnya, sudah pasti kakak sulungnya jadi tak leluasa pacaran. Bila dia mengekor kakak perempuannya, sekelompok anak perempuan kadang bisa sangat kejam pada satu-satunya bocah lelaki di antara mereka. Apin tak mau menjadi bubur basi seminggu kemudian.

Sedang untuk berkata pada kakaknya yang jago membangunkan cacing, “Besok-besok ajak aku pergi bersamamu,” Apin tak yakin dia ingin pergi bersamanya. Bukan apa-apa, tapi dua orang berkarakter serupa tak akan cocok bersama-sama dalam waktu lama. Seumpama kakaknya pergi ke utara, Apin akan pergi ke selatan. Demikian pula sebaliknya. Sudah seharusnya seperti itu.

Sekarang Apin bukan lagi bocah laki-laki. Dia sudah menjadi pemuda dua puluh tiga tahun yang terus berusaha membuat lengan, dada, dan perutnya berotot. Kedua orang tuanya yang selalu saling lempar serapah juga telah tiada. Ayah Apin menjadi yang pertama pergi. Ayahnya cukup kaya tetapi entah mengapa ia diteriaki maling pada suatu hari. Mungkin karena ia meniru ulah ketiga anaknya yang suka menyelinap meninggalkan rumah.

Masalahnya, ayahnya menyelinap meninggalkan rumahnya sendiri untuk ganti menyelinap ke rumah seorang gadis. Usianya tak sampai satu setengah kali dari umur anak sulungnya sendiri dan barangkali ini bukan kali pertama terjadi. Apin melihat ayahnya pulang tidak dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motornya, melainkan diangkat kedua tangan dan kakinya seperti seekor babi buruan.

Wajahnya bengkak-bengkak dan ayahnya seperti muntah sirup merah yang iklannya selalu menyemarakkan televisi menjelang Ramadan. Napasnya tersengal-sengal. Kedua matanya sebesar bohlam putus filamen. Ayahnya tidak pernah membuka mata lagi sejak saat itu. Dia bertahan tak lebih dari setengah hari setelah dibaringkan di teras. Ayahnya tetap di sana sampai ibunya yang mengurung diri di kamar dan menolak bicara pada siapa pun terpaksa keluar.

Tentu setelah Apin mengetuk-ngetuk pintu kamar yang tak kunjung terbuka itu dan berkata, ”Bu, sepertinya Ayah sudah mati.”

Pintu kamar itu terbuka tiga jam kemudian, diiringi perintah ibunya, ”Sana ke warung, beli sabun dan bilang ayahmu harus segera dikuburkan atau baunya akan memenuhi hidung orang sekampung.”

Apin menerima uang yang diulurkan ibunya dan segera berlari sampai ia lupa mengenakan sandal. Tentu saja, sampai di warung ia hanya membeli sabun batang dan berkata, ”Sepertinya ayahku mati. Kami harus segera menguburkannya.”

Meski ingin, Apin tak sampai hati menambahkan, ” …. khawatir keburu bau bangkai.”

Tiga tahun lalu, ibunya akhirnya juga meninggal. Jelas belum terlalu tua, tetapi sepertinya ibunya juga sudah bosan hidup. Banyak orang mengira ia akan segera menikah lagi setelah ayah Apin meninggal dunia. Namun ternyata itu tak pernah terjadi.

Ibunya menghabiskan setiap waktu yang dimilikinya bersama Apin dan anak-anaknya yang lain dengan berkata, ”Ayah kalian bukan lelaki yang baik.”

Lagu lama itu terus diputar sampai hari ketika Apin pulang dan ibunya tak lagi dapat menyanyikannya. Bibirnya sudah miring ke kiri, suaranya nyaris tak bisa keluar, dan ketiga kakak Apin bergantian mengurusnya. Seminggu kemudian, ibunya berpulang.

Terhitung semenjak Apin datang sampai tenda duka di halaman dibongkar, ketiga kakaknya gonta-ganti berkata, ”Kenapa kau baru pulang sekarang?”

Oh, kalau saja ia memiliki alasan untuk pulang.

Tiga tahun telah berlalu. Seharusnya sekarang rumah itu tak lagi sedingin maupun sepanas dulu ketika pertengkaran antara kedua orang tuanya meledak. Akan tetapi nyatanya sama saja. Sekarang malah ketiga kakaknya berikut pasangan masing-masing yang berdebat panjang. Enam orang totalnya. Sungguh ngeri. Dari pagar saja, telinga Apin telah berdenging.

”Aku yang memandikannya dua kali dalam sehari!”

”Aku memasak pagi, siang, dan malam untuknya!”

”Cuma aku yang mau mengantarnya ke rumah sakit!”

”Aku mengorek sisa kotoran di duburnya sebelum dikuburkan!”

”Jangan lupa, aku yang menanggung semua ongkos pemakamannya!”

”Aku paling tua di antara kalian, jadi aku tahu yang terbaik!”

”Di mana-mana jatah warisan anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan!”

”Setan duit kau! Dari rahim siapa kau lahir kalau bukan rahim perempuan?”Apin urung membuka pagar dan memilih berjongkok di bawah pohon palem. Pujaan hatinya berjanji akan memberikan jawaban sekembalinya ia ke rantau. Semula rencananya tiga atau empat hari lagi, setelah ia dan ketiga kakaknya menandatangani dokumen-dokumen penjualan warisan. Namun jika besok pagi ada jadwal bus, kenapa tidak?

Apin yakin akan jawabannya sebab gadis itu tersipu saat mengatakannya. Satu-satunya yang terasa hangat malam itu hanyalah hatinya.

***Marliana Kuswanti tinggal di Surakarta. Dua novel terbarunya, Orang Ketiga (Elex Media, 2021) dan (Tak) Seindah Bunga Lili (Elex Media, 2021)

sumber : kompas.id, 04 Apr 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme