Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ompung dan Si Pematung oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 05 Okt 2008

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya.

Dirinya, yang diabadikan dalam batu berwarna perak itu, akan kelihatan seperti hidup, melayangkan tatapan abadi mensyukuri lembah, memuliakan teluk, dan seakan-akan tak pernah berhenti memuja pulau yang membentang di mulut teluk, nun di sana. Pulau yang tercipta untuk menjinakkan gempuran obak Samudra Hindia. Setinggi apa pun. Hatta sedahsyat tsunami. Karena itulah, kota kecil yang menyusu di teluk itu akan abadi. Dia hanya akan lebur kalau seluruh daratan sudah binasa.

Sehari dalam seminggu, dia menapaki kaki bukit, berdiri dengan kaki terpacak kuat-kuat di atas lahan di mana tubuhnya suatu ketika akan diabadikan. Dia bayangkan dirinya yang sudah jadi batu, dengan mata yang tiada kenal lelah, menatap jauh untuk memastikan kaki langit masih menjadi penyekat samudra, pulau masih berjaga-jaga, gelombang yang membantai pantai masih berdebur, dan kota di bawah sana tetaplah sebuah pusat kehidupan yang merangsang dan heroik, walau kecil.

”Amang oi, Amang,” Emak, aduhai Emak oi.., desis suaranya bertarung dengan angin yang menggerbang-gerbangkan janggutnya. ”Sudah kutatap New York dari Twin Towers. Telah kulihat deretan gunung disaput es yang tak pernah cair dari penginapan tertinggi di Paro, Bhutan. Tapi, yang di bawah hidungku ini… Ah… tiada taranya. Alangkah elok pemandangan dari sini,” Ompung yang berdiri dengan kokoh di atas lututnya, di pucuk bukit kematiannya itu, berkusip meyakinkan bukan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Perlahan dia menarik napas, tetapi dalam. Bersama tarikan napas itu dia menelan keinginannya yang terakhir. Hatinya begitu menggumpal. Seakan-akan minggu depan dia sudah akan mati. Karena itu, dengan jalan apa pun dia ingin patungnya sudah diletakkan persis di mana dia berdiri sekarang, dengan mata nanap menikmati panorama alam leluhurnya. Di dalam khayalnya, dia bayangkan, kalau dia sudah menemukan ajal, rohnya akan bersemayam di tubuh si patung. Dengan begitu, mata dan hatinya takkan lekang-lekang dari hamparan daratan di bawah, kota kecil di mana dia lahir, teluk dan ombak tempatnya bercengkerama di masa kecil, juga pulau yang jadi juru selamat.

Bukan karena matahari sudah sepenggalah, makanya sekarang, dengan gontai dia menyeret langkah menuruni bukit itu. Ada yang mengganjal di hatinya. ”Rosa…,” dia menumpahkan setumpuk kekecewaan pada yang punya nama. ”Kusembah kau, kerjakanlah patungku itu. Tolonglah. Ini permintaanku yang terakhir. Tunjukkanlah bahwa kau memang mencintai aku, Amangmu ini. Aku mau melihat patung buatanmu itu sebelum aku mati. Anakku manis, mengapa tak kau kerjakan juga…?” Bujukan itu dia ulangi, dan ulangi lagi, pada setiap langkah kakinya mengikuti anak tangga menuruni pinggang bukit.

Kerasnya batu yang dia pijak, lebih keras lagi hati anaknya itu. Pada pertemuan terakhir, di meja makan, Rosa tetap menolak mengerjakan patung sang ayah. ”Papi tidak adil padaku. Jauh-jauh aku disekolahkan. Apa yang kudapat dari sekolah, dari pengalamanku, juga penghayatanku, hanya disia-siakan.”

Orang baik-baik barangkali menganggap kata-kata itu sebagai pemberontakan anak terhadap ayah. Jangan begitu. Lihatlah tadi, bukankah Rosa berdiri dan mengecup pipi ayahnya sebelum menyatakan penolakan. Bibir sang ayah sedikit menyungging dibuat kecupan itu. Rupanya, dia menikmati cinta anak perempuannya itu yang singgah dengan hangat di pipinya. Sehangat air teluk.

”Tidak memaksa, Rosa. Jangan begitu kau. Jangan salah sangka,” pojok bibirnya merekah. ”Aku hanya ingin yang kau kerjakan tak ada yang salah. Begitu melihat patung itu, ’kan kau juga yang akan dipuji orang nanti.”

”Aku tak bisa mengerti, dan tak bisa menerima cara Papi memahami penghargaan orang pada Papi. Bagaimana aku membuat patung itu, bagaimana hasilnya, begitulah aku menghargai Papi. Itu bukan karya Papi. Tapi, begitulah ungkapanku memuji hidup Papi,” Rosa merapat ke pangkuan ayahnya. ”Pujian tak pernah salah, Pi,” mmmh… sekuntum kecupan didaratkan Rosa lagi di pipi ayahnya.

”Maksudku jangan sampai ada raut muka yang keliru. Jangan sampai ada jurai helai janggutku yang dikacaukan angin. ’Kan kau tahu apa arti sebuah garis pada sebuah patung. Sekecil apa pun dia bisa memberikan gambaran buruk pada sifat seseorang.”

Rosa bangkit mengambil asbak seraya menenteng sebatang rokok di antara jarinya. Jari yang sama sekali tidak romantis, kehalusannya habis dikikis semen, baja antikarat, perunggu, atau serat gelas. Saat anaknya membelakanginya itulah Ompung, seperti seekor induk ayam melihat cacing, dengan ligat mengais tissue di mana terlukis potret sang ayah dalam guratan spidol.

Duduk kembali di kursinya, Rosa sedikit pun tidak menunjukkan gelagat kehilangan kertas di mana dia tadi menarik-narik garis dengan cepat untuk membentuk wajah ayahnya. Dia tahu kertas itu pasti sudah disembunyikan ayahnya. Dijepitnya di antara dua pahanya untuk kemudian nanti dia simpan serapi-rapinya di sebuah brankas di dalam kamar tidurnya. Itu adalah tissue kedua puluh tujuh berisi sketsa sang ayah. Cerita maminya, tengah malam, tissue-tissue itu diterawang si ayah helai demi helai sampai dia tertidur lelap dibuatnya.

Ompung seperti mau mencebur ke dalam hati anaknya itu, dia tatap matanya, dan ungkapnya: ”Puluhan sketsa yang sudah kau buat mengenai diriku, tak satu pun yang meleset. Ketekunan, bukan keberanian, itulah aku. Aku melihat itu dalam semua sketsamu. Janggutku hanya diwakili dua garis tipis, tapi justru garis itulah yang memperkuat kepribadianku. Dan, sekalipun tidak ada tarikan garis yang tegas, tahi lalat di daguku terasa selalu hadir,” dia berhenti, mendehem. ”Tapi, itu cuma sketsa. Patung ’kan lain lagi soalnya. Apalah salahnya, kalau kau mulai mengerjakannya sekarang. Aku yang punya badan. Aku yang tahu. Berilah aku kesempatan bersaksi atas diriku sendiri.”

Rosa diam seribu bahasa, membiarkan rokok terus menganggur, tetapi berasap di antara dua jarinya. Dia sudah tak mau mengulang, dan mengulang lagi alasannya menolak keinginan sang ayah untuk memberikan otoritas kebenaran pada karyanya. Buat dia penghargaan adalah haknya, dengan cara bagaimanapun. Tidak diperlukan pembenaran atau koreksi.

Berulang kali ayahnya meminta supaya patung yang dia kerjakan, sebelum dinyatakan selesai, ditilik dulu olehnya. Tapi, Rosa menampik. Kalau hati anak perempuan itu adalah hati seorang pelaut yang mudah terbakar, maka Rosa akan menutup perdebatan dengan ayahnya itu dengan hentakan, ”Sip babam!” Tutup mulutmu! Tapi, itu tak mungkin dia lakukan. Itu sama saja dengan memenggal air. Mana mungkin memutuskan hubungan lantaran perbedaan pandangan. Apalagi ayah sendiri.

Sebutkanlah apa yang tidak dilakukan orangtua itu dalam membesarkan anak perempuannya itu. Sama seperti kesembilan saudaranya, Rosa juga disekolahkan ke Eropa. Sebagai anak paling bungsu, dia diberikan kesempatan menyaksikan mural realis Siqueiros, termasuk lukisan termasyhur ”Kematian dan pemakaman Cain,” yang menggambarkan prosesi kematian petarung yang mendebarkan itu. Juga belajar seni rupa beberapa tahun di Meksiko.

Setelah perjalanan terakhir ke puncak bukit hari ini. Setelah membujuk Rosa selama tiga tahun dan gagal. Setelah sketsa di atas tissue yang kedua puluh tujuh itu, si pematung tetap tak terbengkokkan, tibalah saatnya Ompung menempuh jalannya sendiri. Dia temui istrinya.

”Sudah ribuan kali kubujuk si Rosa, dia tetap tak sudi memulai pengerjaan patungku. Aku dapat akal. Tapi, jangan kau bocorkan, da! Kau bantulah aku. Ini permintaanku yang penghabisan.” Istrinya bingung. Apa yang bisa dia lakukan? Enam puluh enam tahun menyertai Ompung, dia tak pernah mengecewakan suaminya itu.

”Berbohong untuk kebaikan. Untukku. Patungku….”

”Bah, berbohong…. Kapan kau pernah mengajari aku berbohong?”

”Ini permintaanku yang terakhir. Kusembah kau, tolonglah.”

Keesokan harinya, manakala matahari belum marak di kaki langit, Ompung, menggunakan perahu layarnya sendiri bertolak ke pulau. Ditemani pembantu yang bekerja dengannya sejak puluhan tahun yang silam. Pembantu itu diperintahkannya pulang dan hanya boleh kembali kalau diminta.

Kota kecil di mulut teluk itu menggigil. Pada hari kedua menghilangnya Ompung, keluarga yang ditinggalkan benar-benar gempar kehilangan induk. Seluruh pojok kota diselidiki, bukit- bukit dipanjati mencari orangtua yang hilang. Kesetiaan istri Ompung tiada duanya walaupun dia harus menanggungkan penderitaan yang tak pernah dia junjung, yaitu berdusta. Kepada siapa pun yang datang bertanya, sepandai paropera tilhang, dia tetap mengatakan tak tahu.

”Bah, manalah kutahu itu. Dia suamiku. Lebih enam puluh tahun. Akulah yang paling sedih dari semua yang ada di sini,” katanya meyakinkan anak-anaknya yang datang dari berbagai kota besar dari semua penjuru angin.

Pada hari kesembilan menghilangnya Ompung, rapat keluarga memutuskan supaya semua naik ke pemakaman di atas bukit, membuka pintu gerbangnya. Siapa tahu Ompung sudah membujur kaku di dalam. Seluruh anggota keluarga dan penduduk kota menyemut menaiki bukit. Pintu gerbang yang terbuat dari batu dikuakkan. Pembaringan jenazah yang ditatah dari pualam tetap kosong. Nama lengkap Ompung diserukan bertalu-talu. Yang menjawab cuma sipongang.

Hari kesebelas, datanglah Rosa membawa mukjizat. ”Apa pun yang terjadi pada Papi, aku harus memenuhi permintaannya. Permintaan penghabisan. Sekaranglah saatnya. Sekarang! Aku minta maaf untuk sikapku terhadapnya selama ini. Patung yang sejak bertahun-tahun dia minta supaya kukerjakan sebenarnya sudah kutatah. Sudah jadi. Aku timbun di bukit pasir, kusembunyikan di pulau. Besok aku ke sana, dan akan membawanya kemari. Langsung saja kita tempatkan di pemakaman Papi,” katanya membuat mulut semua yang hadir nan sedarah terdiam tetapi menganga. Istri Ompung tak terkecuali. Tetapi, dengan sigap, diam-diam dia perintahkan pembantu setianya menjemput Ompung ke pulau, saat itu juga.

Tengah malam, dengan kelihaian seorang bekas pejuang, Ompung menyelinap ke dalam kamar tidurnya. Di situ, dia ciumi istrinya habis-habisan. Tak pernah dia berterima kasih serupa itu, sampai-sampai istrinya gelagapan. Dia malah ingin mencium lututnya, menyembahnya pula.

Sebelum matahari merangkak sepenggalah, dari arah pulau sebuah perahu layar menghunjamkan haluannya ke arah pantai. Tiga perahu lebih besar menguak ombak mengiringi dari belakang. Rosa, dengan mata yang tak lepas dari lunas, duduk di haluan. Di lunas itu, di atas hamparan kain putih, terduduklah patung Ompung. Sementara di pantai berjibun sanak saudara dan penduduk kota yang menanti. Kota kecil itu menggigil. Namun, tak ada tangis. Yang ada adalah hasrat ingin tahu bagaimana nian rupa Ompung dalam batu yang ditatah anaknya sendiri, si Rosa, sang pembangkang.

Begitu menginjakkan kaki di pantai, patung langsung di letakkan di atas keranda panjang, terbuka menengadah ke langit. Ada sepuluh orang yang maju mengusung patung yang terduduk di atas keranda itu. Prosesi mengingsut. Menyemut manusia mengikuti patung itu menuju bukit. Kota kecil di mulut teluk itu menggigil. Tak terdengar tangis, yang mengapung cuma gumam ingin tahu di mana gerangan Ompung yang sudah dijadikan batu itu. Berpakaian serba hitam, Rosa, si pematung, berjalan paling depan, dada paling membusung, melangkah seperti ujung tombak menguakkan jalan untuk gelombang manusia di belakangnya.

Juga tak ada air mata yang titik ketika patung Ompung didudukkan di penampangnya, selangkah dari pintu kuburannya. Dan, persis seperti kehendak yang punya badan, mata patung itu nanap memandang ke lereng, ke kota di bawah, dan ke ombak di teluk yang tiada henti menghempaskan diri. Terdengar gumam yang berpindah dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Pucuk bukit menggigil tak bisa menjawab di manakah Ompung gerangan. Tak dinyana, tak disangka, di pinggang bukit tiba-tiba tampak sosok laki-laki berpakaian serba putih, menapak perlahan.

”Oi… siapa itu?” mengaum suara di pucuk bukit.

Sosok berpakaian putih itu tidak peduli.

Istri Ompung mendekati bahu Rosa, menempelkan bibirnya di kuping anak bungsunya. ”Papimu!”

Disaksikan ribuan pasang mata, Rosa, menuruni tangga, menjemput ayahnya. Diulurkannya jarinya. Yang dia terima adalah penolakan. ”Tak usah, aku kuat. Aku mau lihat seperti apa aku kau buat.”

Ompung mengelilingi patung dirinya. Tiga kali menurut arah jarum jam. Tiga kali dari arah berlawanan. Lama dia menyimak lambaian janggutnya. Tersentak dia melihat bayangan tahi lalatnya di balik janggut yang tipis. Tanda lahir itu ada tapi seperti tiada, serupa perempuan pujaan yang menyembunyikan arnal emas di dalam sanggulnya.

Lebih merapat, Ompung nyaris menyenggol bahu si patung. Dia melayangkan pandang ke arah mana patungnya mengarahkan mata. ”Amang oi… Amang, indahnya laut kau lihat dari sini,” pujanya di kuping patung.

”Papi, yang mana yang salah?” Rosa menghampiri, menekan.

Tak ada jawaban untuk si pematung, kecuali tubuh ayahnya yang mendekat. Di pelupuk mata orangtua itu tersekat air. Ompung memeluk anaknya, mencium ubun-ubunnya berkali-kali, hingga air matanya tetes di situ. Ribuan mata, angin, dan ranting menyaksikan syahdunya pelukan itu. Membangkitkan cemburu.

”Bah, mengapa aku tidak?” protes istri Ompung. ”Padahal aku sudah berbohong.” Ribuan mata, angin, ranting, dan lembah menunggu Ompung merentangkan kedua tangan dan mendekapkannya erat-erat pada tubuh istrinya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme