Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Aku dan Seekor Anjing Menjatuhkan Orde Baru oleh Dadang Ari Murtono

Posted on Kam, 26 Mei 2022

Untuk ulang tahunku yang ke-30, kawan-kawan membeli sepuluh botol arak beras merk Guci yang keras luar biasa.

“Untuk dirimu sendiri,” kata mereka, “Kau boleh mengambil dua botol. Sisanya kami minum bersama.”

Mereka menuang arak dalam gelas-gelas besar, alih-alih sloki-sloki kecil seperti biasa. Dan sebelum dua jam berlalu, kami bergelimpangan seperti para serdadu yang tewas di medan perang.

Aku terbangun menjelang Magrib dengan kepala pengar luar biasa dan perut lapar. Aku tidak menemukan satu pun kawanku dan aku menggeliat bangun sambil menggerutu dengan gusar. Setidaknya, mereka seharusnya bisa membangunkanku sebelum pergi. Kami minum di batu ceper besar di tepi Kali Baya. Dan siapa yang bisa menjamin tidak akan ada ular yang melilit jika salah satu di antara kami ditinggalkan begitu saja?

Dengan terseok-seok, aku berjalan pulang.

Dan pada waktu itulah, aku melihat si anjing. Kecil dan lapar. Menengok ke arahku dengan ekor bergoyang kencang.

Aku dan si anjing berjalan ke warung rica-rica Pak Pri. Letaknya tidak begitu jauh dari batu ceper tempat aku tertidur dan ditinggalkan oleh kawan-kawanku.

Sebelum itu, dari goyangan ekornya, aku tahu si anjing ingin berteman denganku – atau setidaknya, ia menyukaiku; atau kalau tidak, ia tidak merasa terancam atas kehadiranku. Aku mengulurkan tangan dan ia mendekat, sedikit menyalak, lalu menjilat. Lantas aku mengelus kepalanya yang ditumbuhi bulu tipis dan kasar dan berwarna coklat. Seekor kutu tampak berusaha berlari tergesa ketika tanganku mengusap kepala si anjing.

Agaknya, si anjing berusia satu tahun atau tak jauh-jauh dari itu. Ia adalah anjing jantan jenis mongrel, dan jelas ia tidak bertuan. Ia tidak mengenakan kalung atau tanda pengenal lainnya. Dari sedikit scabies di punggungnya, aku tahu ia tidak terawat.

“Aku berulang tahun hari ini,” kataku kepada Pak Pri. “Yang ketiga puluh.”

Pak Pri menguap. “Luar biasa,” katanya, “Tiga puluh tahun dan menganggur. Seperti kebanyakan pemuda sini.”

Pak Pri selalu bertingkah menyebalkan. Namun, sesungguhnya ia orang yang baik. Ia mempunyai sebuah buku tulis Sinar Dunia yang bagus kertasnya berisi daftar orang-orang yang berhutang di warungnya. Namaku masuk di daftar itu. Dan meski ia selalu mengomel, namun ia tidak pernah keberatan menambah deretan angka di samping namaku dalam daftar tersebut.

Di sudut warung, beberapa orang berkumpul menonton tivi.

“Aku berulang tahun yang ketiga puluh,” kataku lagi, “Dan aku lapar.”

“Dan karena kau berulang tahun, aku akan memberimu sepiring rica-rica,” kata Pak Pri. “Namun kali ini kau harus membayar. Karena kau berulang tahun yang ketiga puluh dan kau lapar.”

Aku mengeluh. Menepuk-nepuk kantongku. Dan menggeleng.

“Aku tidak punya uang,” kataku, “Tapi aku sedang berulang tahun.”

Pak Pri menggeleng. “Selalu seperti itu,” katanya, “Kau seharusnya pergi ke suatu tempat dan mencari pekerjaan. Sama seperti yang dilakukan orang normal.”

“Aku punya pekerjaan,” kataku. “Aku tidak menganggur.”

“Nak,” kata Pak Pri, “nongkrong di pinggir jalan, mabuk-mabukan, dan memalak orang lewat tidak bisa dikatakan pekerjaan.”

Aku mendengus kesal. Pengar di kepalaku bertambah. Dan rasanya, alkohol dalam darahku naik lagi. Aku tidak tahu jika hal seperti itu bisa terjadi.

“Aku membawa anjing,” kataku kemudian.

“Aku berjualan rica-rica biawak, Nak,” kata Pak Pri, “bukan rica-rica anjing.”

Sekalipun begitu, ia menyuruhku duduk, memberiku segelas arak dan sepiring rica-rica yang sangat pedas. “Hanya karena kau berulang tahun hari ini,” katanya lagi.

Si anjing duduk di samping kaki kursi yang aku tempati. Ia mendengus dan menjulur-julurkan lidah menatapku.

“Ngomong-ngomong,” kata Pak Pri. “Anjingmu lapar.”

“Dia bukan anjingku,” kataku. “Kami bertemu di jalan tadi dan ia mengikutiku.”

Aku melemparkan sekerat tulang biawak dari mulutku. Dan si anjing segera mengunyahnya.

“Kau tahu,” kata Pak Pri, “orang-orang itu mau pergi ke Jakarta.” Ia menunjuk sejumlah orang yang tengah asyik menonton tivi.

“Cari uang mudah di sana,” katanya lagi. “Kalau kau mau, kau bisa bergabung bersama mereka.”

“Kata siapa cari uang mudah di Jakarta?” kataku. “Omong kosong. Aku punya kenalan yang pergi ke Jakarta dan jadi sinting ketika pulang. Pulang jalan kaki – hampir dua bulan lamanya sebelum ia sampai di rumah dengan betis bengkak dan tumit pecah. Sinting dan tambah melarat.”

“Reformasi, Nak,” kata Pak Pri, “reformasi. Kau tahu apa artinya?”

Aku menggeleng. Menyesap tulang-tulang kecil biawak. Lantas melemparkannya ke si anjing.

“Artinya adalah demonstrasi dan ada orang-orang yang membayarmu untuk itu,” kata Pak Pri. “Artinya adalah kau bisa mengambil semua barang di toko-toko. Uang-uang yang ada di sana. Banyak lah. Namun itu di Jakarta, bukan di sini.”

“Kedengarannya mudah,” kataku. “Dan jika itu mudah, pasti semua orang sudah berada di sana sekarang, maksudku, di Jakarta.”

“Semua orang akan ada di sana,” kata Pak Pri. “Semua orang, khususnya para pengangguran bengal sepertimu. Dan itu akan terus berlangsung sampai Soeharto turun, sampai Orde Baru jatuh.”

Aku menenggak segelas arak yang diberikan Pak Pri. Semua dalam satu kali tegukan besar. Dan segera, sisa-sisa alkohol di tubuhku bangkit, bersatu dengan segelas arak, dan segera membikin kepalaku berdenyar.

Semua orang, khususnya para pengangguran bengal sepertimu. Dan itu akan terus berlangsung sampai Soeharto turun, sampai Orde Baru jatuh.

“Apa susahnya menjatuhkan Soeharto dan Orde Baru sih?” kataku. Dan aku tak menduga bila suara itu cukup kencang sehingga orang-orang yang menonton tivi menoleh ke arahku. Salah satu dari mereka berteriak agar aku tidak ngomong sembarangan.

“Tahu apa kau?” serunya.

Pak Pri menepuk-nepuk tanganku dengan cemas. “Jangan bikin keributan,” katanya. “Mereka belum dapat bagian. Mereka tidak ingin Orde Baru jatuh sebelum mereka pergi ke Jakarta dan turut serta mengambil-ngambil barang dari sembarang toko yang ada di sana. Reformasi. Mereka tak ingin Orde baru tumbang sebelum mereka jadi bagian reformasi.”

“Aku tahu cara menjatuhkan Soeharto. Dan bila itu berarti Orde Baru juga jatuh, maka itu juga berarti aku tahu cara menjatuhkan Orde Baru.”

Orang-orang itu tertawa. Si anjing menggonggong. Penyiar berita di tivi menyampaikan kabar demonstrasi yang meluas dan sebuah mall yang dibakar dan gambar-gambar spanduk bertuliskan reformasi memenuhi layar.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan hampir terjatuh karena kepala yang berputar. Gila, aku benar-benar mabuk.

Aku menggapai foto presiden di dinding warung.

“Nih,” kataku membanting foto itu. “Ini Soeharto. Dan aku menjatuhkannya.”

Aku menginjak-injak foto itu. Dan si anjing memburu ke arahku, lantas kencing di atas foto itu.

Pak Pri menyeretku keluar. “Sekarang kau pergi sebelum kau membikin onar seperti biasanya,” katanya, “dan bawa juga anjingmu itu.”

“Aku menjatuhkan Soeharto,” kataku, “Aku dan anjing ini menjatuhkan Orde Baru, tanpa kami perlu pergi ke Jakarta dan merampok toko-toko – hanya sedikit menambah hutang kepadamu dan merusak potret buruk itu.”

Ketika aku sampai rumah, aku tak lagi ingat di mana si anjing dan di mana kami berpisah dan ke mana kira-kira ia pergi. Aku segera membanting diriku di tempat tidur dan terlelap hingga keesokan harinya.

Malamnya, aku melihat Soeharto di tivi membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai presiden. Dan aku teringat bagaimana aku dan si anjing menjatuhkan Soeharto dan Orde Baru di warung Pak Pri.

Siapa bisa menduga jika justru kami yang melakukan hal itu – dan apa yang terjadi di Jakarta, hanyalah imbas dari apa yang kami kerjakan?

***

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019.

sumber : kompas.id, 26 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme