Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Peti Ayah dan Tiga Puluh Satu Tahun Setelah Itu oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 29 Mar 2009

Tiga puluh satu tahun silam, dari tahun kutulis cerita ini, aku memang ingat, tanpa sengaja, ayah menemukan sebuah peti besi seukuran kardus mi instan. Kala itu ayah menggali tanah di belakang rumah dengan hasrat menanam sebatang pohon pisang batu. Ketika galian telah sedalam betis ayah, kami mendengar bunyi berdentang keras ketika beliau mengayunkan cangkulnya. Dengan penuh heran ayah mengurik tanah berlubang itu dengan sebelah tangannya. Ayah merasakan sebuah benda keras. Di akhir cerita, ayah berhasil mengangkat peti dari tanah yang digalinya itu. Peti besi itu telah berkarat, termasuk gemboknya. Kalau tak salah, usiaku kala itu sebelas tahun. Aku menemani ayah menanam batang pisang batu itu.

Tapi ayah tak membolehkan aku melihat di saat beliau membukanya. Hanya beberapa kata yang terlontar dari mulut ayah, yang kuingat, ”Astaga. Tak salah. Benar-benar tak punya perasaan,” demikian kata ayah dengan muka merah dan pucat.

”Jangan kau beri tahukan penemuan ini pada ibumu. Berjanjilah kau buyung? Kau maukan?” kata ayah lagi.

”Tapi apa isinya, Ayah?”

”Tak bisa Ayah jelaskan. Berjanjilah. Berjanjilah!” Ayah mengguncang-guncang bahuku.

Dengan cemas, aku mengangguk.

”Iya. Iya,” jawabku gugup.

Ayah lalu menggendong peti itu jauh ke luar pekarangan kami. Sekejap tubuhnya lalu hilang di balik rimbun pohon-pohon.

Sebelum kutuntaskan isi cerita ini, baiklah, akan aku ceritakan dulu riwayat keluarga kami. Ibu meninggal lima tahun yang lalu akibat sakit di perutnya yang tak kunjung usai selama tiga hari. Sedangkan ayah meninggal dua minggu yang lalu dengan tenang di tempat tidurnya. Aku memiliki seorang kakak laki-laki, yang kelak menjadi masalah dalam cerita ini. Namanya Samsudin. Usianya terpaut empat tahun. Tapi sebenarnya, sebelum Samsudin, sebenarnya aku punya kakak perempuan. Namun sayang, di saat usianya baru sepuluh bulan, dia meninggal karena muntah-muntah. Setelah meninggal, ayah dan ibu baru tahu bahwa dia kena palasik. Ayah dan ibu lalu menyesali kematian kakak perempuanku itu sepanjang hari. Tapi yang sangat terpukul atas kematian kakak perempuanku itu adalah ayah.

Sampai beliau meninggal, ayah masih sering menyebut nama kakak perempuanku itu.

Aku pun menyesali kematian kakak perempuanku itu. Sebab, dalam adat kami, harta pusaka sebenarnya dicurahkan buat yang perempuan. Dan ayah mewarisi kami sawah dan ladang yang berjumlah sepuluh petak. Tapi, bukan, bukan sawah ayah sebenarnya. Sawah itu milik ibu yang diperolehnya dari pembagian harta dari pihak nenek. Ayah hanya menggarapnya karena tak punya pekerjaan lain.

Sebenarnya, tak pernah terlintas di ingatanku kembali akan peristiwa tiga puluh satu tahun yang lampau itu, yakni ketika ayah menemukan sebuah peti sebesar mi instan itu. Tapi, kakakku, Samsudin, satu minggu setelah kepergian ayah, mempertanyakan soal peti itu. Mulanya aku heran, bagaimana ia tahu?

Oh ya, sebelum kulanjutkan cerita ini, ada baiknya sedikit kujelaskan dulu perihal kakak laki-lakiku itu. Dia kakakku satu-satunya. Kata ayah, dia laki-laki pendosa. Sebab, sewaktu sekolah es-em-a, kerjanya suka menyabung ayam, main domino, serta suka pulang tengah malam. Dia tidak suka dinasihati. Setelah menikah, ia bekerja menjadi calo tiket bus angkutan kota. Sekarang anaknya sudah lima. Tetapi, kata ayah, bulan-bulan belakangan sebelum beliau meninggal, ia rajin minta uang pada ayah. Kata ayah lagi, yang membuat aku kaget, dan tak pernah kusangka, ia telah menjadi anggota caleg sebuah partai.

”Semakin hari aku mengkhawatirkan keadaannya. Aku takut, jika aku meninggal, akan dijualnya harta ini,” kata ayah.

”Berdoa sajalah, Yah. Mana tahu ia benar-benar dapat kursi di anggota dewan. Itukan juga membuat kita senang, dan otomatis hidupnya akan sejahtera.”

”Tapi setiap ia kemari. Kerjanya minta uang saja. Pusing kepala ayah dibuatnya. Katanya untuk upah poster fotonya biar bisa dipajang di sepanjang jalan. Buat kalender yang ada fotonya untuk dibagikan pada orang sekampung. Stiker. Dan entah apalagi. Aku heran, kenapa partai itu mau menjadikan ia anggota caleg. Apa tak ada orang lain.”

”Entahlah Yah. Aku tak mengerti soal itu. Aku bukan orang partai. Politik pun aku tak mengerti.”

”Ya, ya. Kau memang pantas jadi guru ngaji saja. Politik itu rumit. Ayah harap kau tak mengikuti jejak kakakmu itu. Anak celaka.”

Mungkin memang benar kata ayah bahwa politik itu memang rumit, seperti kakakku itu yang tiba-tiba saja seperti orang sakit. Betapa tidak, empat hari setelah kepergian ayah, tanpa minta persetujuan dariku, ia menjual lima petak sawah peninggalan orangtua kami.

”Mengapa Uda tak pernah minta persetujuan dariku,” tanyaku marah usai ia beritahu soal itu.

”Aku rasa itu tak perlu Pak Guru Ngaji,” jawabnya tersenyum seperti mengejek. ”Yang lima petak itu bagianku. Dan lima petak yang masih tersisa itu kini milikmu. Adil bukan?”

”Bukan soal itu. Ini masalah harta pusaka yang dijual.”

”Hei buyung,” katanya meninggi. ”Pasang otakmu. Itu lebih baik dijual. Pikirkan olehmu, apa kita punya saudara perempuan, he. Kalau tidak dijual, kelak jika kita berdua telah mati, siapa yang akan mewarisinya. Anak-anak kita? Ah, itu tak mungkin. Orang sesuku kita tentu akan marah. Kalau tidak dijual tentu anak etek atau cucunya yang nanti mengambilnya. Padahal, mereka kan sudah ada pembagian dari etek. Kau mengerti maksudku?”

Mendengar penjelasan kakakku tentang itu, aku tak bisa membalasnya. Kalau dipikir, memang begitulah jadinya. Harta pusaka akan menjadi petaka bila tak punya saudara perempuan di negeri Minang ini.

Dan seperti yang telah kujelaskan tadi, satu minggu setelah kepergian ayah, kakak laki-lakiku itu mendatangiku lagi. Ia menanyakan soal peti itu.

”Jadi, di mana peti itu. Kau harus membagi dua denganku. Aku tahu ayah teramat sayang padamu hingga tentang peti itu aku tak diberitahunya.”

”Peti? Peti apa,” tanyaku heran pada mulanya.

”Jangan kau berlagak tak tahu. Kau ingin menguasai sendiri ya. Kau jangan berdusta. Kau tahu sekarang aku butuh uang untuk kampanye. Aku ini anggota caleg. Aku butuh biaya besar.”

”Uda kan baru saja menjual tanah? Apa uang itu sudah habis.”

”Hei uang lima puluh juta itu mana cukup. Aku harus memberi uang untuk tim suksesku. Biaya sumbangan buat orang sekampung. Belum ini dan itu. Kuharap kau pahamlah.”

”Tapi, aku tak tahu soal peti itu.”

”Hei, apa kujual saja rumah peninggalan pusaka itu, ha. Biar habis semuanya. Biar peti itu buatmu dan rumah itu buatku.”

”Tunggu dulu,” kataku. ”Tolong Uda jelaskan, peti apa yang Uda maksud.”

”Kau ingat tiga puluh satu tahun yang lalu? Saat kau dan ayah menemukan sebuah peti sebesar kardus mi instan di belakang rumah?”

”Tiga puluh satu tahun yang lalu?”

Aku mengerutkan kening.

”Ya, ya. Aku mulai ingat. Dari mana Uda tahu?”

”Aku melihat ayah melarikan peti itu. Ia bersamamu kan?”

”Lalu, untuk apa Uda tanyakan tentang peti itu?”

”Jangan berlagak tak tahu. Tentu peti itu banyak emasnyakan?”

”Emas?”

”Ya. Bukankah orang tua-tua dulu suka menyimpan emasnya dalam peti?”

”Tapi aku tak tahu soal peti itu,” kataku.

Hari itu Uda Samsudin memarahiku. Ia terus berulang kali menanyakan soal peti itu di rumahku. Dan hari itu juga, setelah tiga puluh satu tahun lamanya, aku harus mengingat kembali peristiwa itu.

Dengan rasa penasaran, besok paginya aku mendatangi rumah kami. Rumah pusaka peninggalan ayah dan ibu. Aku penasaran tentang peti itu. Sungguh, aku tak tahu di mana ayah menyimpannya. Apakah ayah menanamnya kembali atau disimpannya di tempat lain? Aku memang tidak tahu pasti.

Sesampai di rumah, aku memeriksa tempat-tempat penyimpanan barang ayah. Dari almari, tempat penyimpanan foto serta barang-barang kesukaan ayah. Dari semua itu, aku tidak menemukan petunjuk tentang peti itu. Aku putus asa.

Tapi sewaktu aku memeriksa di bawah tempat tidur ayah, aku menemukan buku agenda. Usianya mungkin sudah bertahun-tahun. Kertasnya sudah agak menguning. Isinya pertama aku menemukan catatan tentang uang pengeluaran ayah. Uang beli semen, pasir, belanja pupuk. Dan, entah kali ke berapanya aku membolak-balik isi agenda itu, aku akhirnya menemukan petunjuk tentang peti itu. Begini isinya:

Sampai usiaku lima puluh tahun, aku masih sering meratapi kematian anak perempuanku itu. Aku sangat menyayanginya. Mungkin karena aku tak punya saudara perempuan. Aku telah menyiapkan barang-barang permainan buatnya, juga baju yang indah. Tapi, Tuhan mengambilnya. Aku lalu mengemasi barang-barang itu dalam sebuah peti. Biar barang itu akan abadi bersamanya. Tapi, istriku memang keterlaluan. Ia membuang peti itu entah di mana. Ia tidak memberitahuku di mana dibuangnya. Tapi suatu hari aku menemukannya, ia menguburnya di belakang rumah rupanya.

Aku terus membolak-balik isi buku agenda itu. Tapi aku tak menemukan kalimat lain tentang peti itu kecuali perihal tentang surat-surat uang masuk dan uang pengeluaran ayah.

Dengan tersenyum, aku lalu melipat buku agenda ayah itu. Aku berjanji, siang nanti aku akan menemui Uda Samsudin di rumah istrinya. Ya, aku akan memberikan agenda itu padanya. Biar ia tahu tak ada emas di dalamnya.

Padang 2009

Keterangan

1. etek: adik ibu
2. palasik: penyakit yang biasanya menyerang anak-anak yang diakibatkan oleh orang tertentu dengan cara mengisap darah anak-anak secara tidak langsung
3. caleg: calon anggota legislatif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme