Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Infini oleh J Angin

Posted on Ming, 19 Apr 2009

Inilah Senin pertamaku benar-benar hidup sebagai pensiunan. Memang resmi bulan lalu aku gantung dasi, tetapi biasanya masih ada telepon berulang kali menanyakan ini-itu dari para mantan bawahan, atasan, dan penggantiku. Hari ini mereka sudah berhenti menghubungi. Ganjil rasanya; empat puluh tahun lebih, awal minggu selalu jadi hari tersibuk. Kukira memang sekarang masanya semua sungguh berlalu. Diam berebahan di pembaringan. Sendirian.

Di luar sudah gelap. Belum saatnya tidur, aku tidak mengantuk. Bangkit lagi sedikit limbung, entah berapa lama terpekur; bingung hendak melakukan apa. Akhirnya aku turun dari kasur, memakai sandal jepit, dan berjalan ke jendela. Pemutar audioku memainkan pita lagu lama, sekarang ini Smoke Gets In Your Eyes versi The Platters. Sudah mengayun suaranya, maklum kaset tua. Hampir selesai. Akan segera berganti ke tembang berikutnya.

”Gantilah dengan cakram padat, Yah. Jauh lebih jernih.” Anak pertamaku pernah komentar.

”Ini kubeli semasa muda dulu, Nak. Ada kenangan di dalamnya,” jawabku.

”Nanti akan kubelikan untuk Ayah. Sekaligus dengan pemutar digitalnya,” katanya sambil tertawa waktu itu, bertahun lalu.

Aku tersenyum. Ingin meneleponnya, tetapi entah nanti malah mengganggu atau tidak. Lagi pula jam begini setahuku biasanya dia belum pulang. Maklum, awal minggu.

”Ayah kok baru pulang?” tanyanya waktu seusia dengan cucuku—putranya sekarang.

”Tugas menumpuk, Nak,” jawabku waktu itu. Aku lupa saat itu tersenyum atau tidak. ”Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

Kalau kucoba telepon ke rumah, yang akan menerima mungkin menantuku. Bisa saja bertanya apa kabar, apa kabar anaknya; tetapi sungguh aku bukan orang yang senang basa-basi. Selain menyapa, aku tak tahu apa lagi yang ingin kubicarakan dengan mereka. Dengan anakku? Apa yang hendak kubicarakan? Cerita tentang hari ini? Tentang musik yang sedang kudengar dan kenapa aku jadi ingat dia? Tiba-tiba saja aku jadi terdengar seperti ibunya. Maka, kubatalkan niatku.

”Coba cari kegiatan apalah begitu?” Itu komentar istriku dulu tiap melihat aku begini. ”Jangan diam-diam saja….”

Lalu, aku berlalu ke rak buku. Seperti sekarang.

Kini sudah tak ada yang baru di sana. Kubuang waktu dengan membacai judul di deretan punggung-punggungnya, baru sadar ternyata sudah lama sekali aku tidak punya bacaan. Surat kabar kian hari kian tipis, tidak ada lagi yang menarik untuk disimak—itu juga aku sudah tak berlangganan lagi; mulai bulan ini. Bisa saja kutarik, kubuka, dan kupaksa ulang membaca salah satunya, tetapi aku tak tega. Tak tega kepada diriku sendiri. Akhirnya kurelakan. Lemari ini sudah tak bisa jadi penyelamat lagi.

Kulirik pesawat televisi yang teronggok diam di muka ranjang. Sejak benda itu dibeli, aku tidak pernah menyentuhnya.

”Apa saja kegiatanmu sepanjang hari? Nonton?” Sering kusindir ”mantan” istriku tiap kutemukan dia duduk terpaku di depan sini saat aku pulang kantor. Aku masih ingat betul, ia tak pernah menjawab. Beberapa kali istriku bahkan tidak menoleh seakan tak mendengar suaraku sama sekali. Masih ingat waktu-waktu seperti itu aku sangat marah. Bisa saja kutarik dan kusakiti dia. Tetapi, aku tak pernah sampai hati. Pada tahun-tahun terakhir, benda inilah yang sudah menyelingkuhi dia. Mungkin harusnya kubesituakan saja si satu mata tersebut, biar tak teringat lagi hari-hari dulu. Tetapi, entah kenapa belum juga aku lakukan. Di lemari pakaian, baju-baju lawas istriku sudah bersih terdonasikan pada fakir miskin, tetapi benda satu ini masih saja kubiarkan. Hingga hari ini masih kutatap layar gelas itu dengan pandangan benci. Aku bersumpah tidak akan menyentuhnya. Tidak juga malam ini, seberapa pun sepi.

”Ke mana televisinya, Yah?” Mungkin aku takut anakku yang kedua akan bertanya seperti itu saat berkunjung lebaran tahun depan.

Semasa kecilnya dulu, ia paling senang menonton di sini.

”Kamu sudah kerjakan PR belum?” Sering kutegur dia tiap kutemukan dirinya saat aku pulang kerja.

”Sudah dong, Yah,” jawabnya santai. Kadang tanpa menoleh sama sekali.

Mungkin karena itu juga foto pernikahanku masih kutinggalkan tergantung di dinding kamar ini. Kutatap gambarnya yang bisu. Di situ kami terlihat sangat muda. Sangat bahagia. Puluhan tahun lalu.

Sekali lagi aku tersenyum sendiri. Kali ini timbul keinginan menelepon anak bungsuku. Tetapi, untuk kedua kali kuingatkan diriku: Apa yang hendak dibicarakan? Belum lagi jika ternyata pembantu mereka atau menantuku yang nanti mengangkat; biaya telepon tidak murah. Kuingatkan diriku, mulai bulan ini harus ekstra hemat; mulai bulan ini aku bergantung hidup hanya pada simpanan yang jumlahnya tak seberapa.

Kupandang meja tulis yang ada di samping pintu, kukerling lacinya yang teratas; di mana buku tabunganku tersimpan rapi. Sudah hampir setahun tak kukeluarkan dari sana. Terus terang saja: aku takut melihat angkanya.

Puluhan tahun berkarier mencari keuntungan perusahaan, setahun terakhir aku baru ingat tak pernah mengkalkulasi keuangan sendiri. Ini bukan lagi permainan yang sama dengan yang kumasuki dahulu.

Saat mulai berkarier, tak pernah kubayangkan harga-harga akan setinggi sekarang. Sewaktu anak-anak masih kecil, harga obat dan ongkos rumah sakit rasanya selalu bisa kutanggung. Jika uang tak cukup, aku masih dapat berutang pada kantor. Tetapi, entah kenapa, saat aku menua dan istriku sakit-sakitan, semua jadi tak terjangkau lagi. Tak pernah kuduga satu dekade lalu program pensiun tiba-tiba lenyap. Andai aku masuk sepuluh tahun lebih awal, mungkin semua akan berbeda. Satu hal yang tak bisa kubanggakan, aku pensiun dengan sisa utang biaya pengobatan istriku akhirnya dihapus. Ingin kujual rumah ini untuk melunasi, tetapi atasanku mencegah. Ia tahu aku tak punya apa-apa lagi. Hanya itu penghargaan terakhir yang bisa diberikan perusahaan atas pengabdianku.

Setahun terakhir, baru kupikirkan: siapa yang akan menanggung sisa hidupku nanti?

Hingga hari ini, aku belum pernah minta bantuan anak-anak. Semoga tidak akan perlu. Tetapi, bagaimana andai aku seperti ibu mereka dulu? Mengobati sesuatu yang ternyata tak bisa disembuhkan?

Aku tak pernah menyalahkan ibu mereka. Tak ada yang mau sakit. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan. Manusia sakit bukan karena Tuhan.

Namun, apa yang harus kulakukan bila saja suatu hari nanti nasibku serupa? Siapa yang harus berutang untuk semua biayanya? Apakah anak-anakku juga harus merelakan simpanan mereka habis untuk melawan yang ternyata tak bisa dikalahkan?

Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku selalu berharap agar keluargaku dilimpahi kesejahteraan. Tetapi, bila ternyata mereka punya takdir berbeda, apa itu juga yang akan didoakan anak-anakku nanti? Berpuluh tahun mendatang?

Saat mereka mulai bekerja, tak pernah kubayangkan gaji pegawai akan seperti sekarang. Pada masaku dulu, semua cukup. Untuk makan kenyang tiga kali sehari, beli pakaian, sekolah anak, mengoleksi kaset musik dan buku favorit, kredit kendaraan, hingga akhirnya bisa membiayai rumah mungil ini. Ibu mereka cukup tinggal di rumah, tetapi kini anak-anakku dan pasangannya harus bersama cari nafkah hingga jauh malam; seperti halnya yang selama ini aku lakukan.

Dan bila ditanya oleh anak-anak mereka: kenapa baru pulang? Jawaban mereka pasti juga akan sama: ”Tugas menumpuk, Nak….”

Lantas, apa yang akan terjadi kepada putra-putriku puluhan tahun mendatang, pada hari Senin yang sama seperti hari ini untukku? Merenung seperti aku juga?

Lalu setelahnya tiba giliran anak-anak mereka? Cucu-cucuku?

Ini bukan jalan yang sama seperti yang kubayangkan akan mereka lalui saat mereka mulai bersekolah dulu.

Bagaimana bila puluhan tahun nanti harga dan biaya menjadi ratusan atau ribuan kali lipat dari sekarang? Dan bagaimana, jika pada masa depan, perusahaan tempat mereka bekerja sudah tak mau menghapus utang dan tagihan kesehatan saat pensiun nanti? Siapa yang akan menanggung itu semua?

Cucu-cucuku…?

Saat itu aku teringat kedua orangtuaku dulu.

Sampai di situ, aku tak kuat lagi. Kepalaku terasa sakit. Terhuyung aku kembali duduk di tepian kasur, memejamkan mata, mengurut kening yang seperti mau meletus. Untuk ketiga kalinya malam ini, timbul hasrat untuk menelepon anak-anakku. Ingin sekali kuutarakan semua yang terlintas di pikiranku barusan. Ingin sekali aku berteriak: selamatkan dirimu! Selamatkan anak-cucumu!

Tetapi, lantas aku jadi bertanya: siapa yang akan menyelamatkan aku pada sisa hidupku ini…?

Dan akhirnya, untuk kali ketiga pula, harus kuurungkan niatku….

Aku limbung. Kutarik napas-napas panjang, berusaha meredakan hantaman badai di dalam tengkorakku. Kulepaskan kedua sandal, dan berbaring menelentang, masih dengan mata terpejam erat.

Kembali terdengar alunan lembut suara Tony Williams: ”…Yet today my love has flown away…. I am without my love….”

Rupanya kaset C60-ku sudah berputar ke lagu semula. Apakah sudah selama itu…? Rasanya seperti baru sekejap saja…? Rupanya waktu telah berlalu tanpa terasa; hilang begitu saja entah ke mana….

”Coba cari kegiatan apalah begitu? Jangan diam-diam saja….” Terngiang kembali suara istriku.

Aku terdiam, rebah di pembaringan. Sendirian. Di luar semakin gelap, tetapi walau masih belum bisa membuka mata, aku belum mengantuk; belum saatnya tidur. Inilah hari pertamaku hidup benar-benar sebagai pensiunan. Apakah esok akan berbeda?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme