Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumah Itu, Rumah Opium oleh Indah Darmastuti

Posted on Ming, 22 Mei 2022

Aku sedang berada di depan gerbang rumah besar, mencari-cari tombol bel pintu ketika sebuah mobil berbelok dan lampunya menyorot persis pada gerbang di depanku. Spontan aku berbalik, tanganku melindungi mata dari silau lampu. Seorang lelaki muda turun dari jok kemudi. Ia kurus, tetapi terlihat kuat dan liat. Bergegas ia mendekat padaku.

—

Anda mencari siapa?” ia bertanya.

”Saya mencari pemilik rumah ini, Pak,” kataku sedikit membungkuk.

”Ada perlu apa?”

”Hanya berkunjung, Pak.”

”Maaf, rumah ini tidak menerima tamu tidak penting,” katanya kemudian kembali masuk mobil dan tak lama berselang gerbang dibuka dari dalam. Aku menepi. Tanpa hirau padaku mobil hilang di balik gerbang yang kembali tertutup. Senyap.

Aku meninggalkan rumah itu tanpa tergesa. Berjalan menyusur gang-gang yang nyaris kuhafal dan tahu siapa pemilik rumah-rumah berpintu kayu kukuh di wilayah ini. Hampir semua rumah itu pernah aku sambangi karena memang sedang disiapkan menjadi destinasi wisata bagi pencinta bangunan tua dan aku adalah salah satu konsultannya di bagian narasi sejarah.

Beberapa di antara rumah itu hanya dihuni pegawainya, orang-orang kepercayaan, tukang kebun, atau siapa pun yang hanya dikunjungi pemiliknya sekian bulan sekali. Dari semua pemilik rumah tua itu, ada yang kukenal cukup dekat, salah satunya rumah peninggalan Nio Am yang dibangun oleh beberapa generasi sebelumnya. Dia kawan dekat A ma –nenekku. Mereka sama-sama merintis usaha batik di Lasem ini. Memang kebanyakan warga peranakan di sini membuka usaha batik pada masa itu. Beberapa di antara mereka masih berlanjut. Selebihnya rumah-rumah pembatikan dibiarkan mangkrak seperti milik A ma-ku.

Usaha batik Nio Am dilanjutkan keturunannya hingga sekarang, tetapi usaha batik A ma terkapar. Bagi keturunan Nio Am, aku adalah anak yang mendurhakai impian keluarga. Berkali-kali mereka membujukku agar mau membangkitkan usaha batik dari kematian, tetapi aku menolak. Aku merasa tak punya bakat menjalankan produksi batik. Aku cukup senang usaha batik yang dijalankan keturunan Nio Am tetap mampu bersaing di zaman crypto dan bitcoin ini.

Aku lebih memilih mencari sebab mengapa di masa lalu beberapa penduduk kota kecilku ini keluarganya mudah diporak-porandakan. Hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan tekanan dari penguasa waktu itu karena kami China.

Aku ingin tahu apa sebab A kong –kakekku– sering dijemput orang lalu dikembalikan dalam keadaan linglung, aku ingin tahu apa sebab papaku sering ketakutan setelah membaca surat kabar, dan aku ingin tahu mengapa mama bunuh diri. Terlalu muda usiaku waktu itu untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam keluargaku, di sini di kota kecil ini.

Aku memutuskan pergi meninggalkan kota ini dan bertekad menjadi orang yang mengamati dari jauh. Karena membutuhkan jarak dan menjadi yang dilupakan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu.

Aku pindah sekolah lalu kuliah di beda-beda kota sambil terus mengamati kotaku, baik dari perkembangannya maupun sejarahnya. Termasuk sejarah keluargaku. Rupanya waktu itu A kong menjadi sapi perah penguasa.

Butuh waktu lebih dari tiga dekade untuk berani kembali menginjakkan kaki ke Lasem ini dan kedatanganku ke rumah tadi untuk meluruskan silsilah masalah. Aku tak berniat membalas dendam dan sepertinya aku tak mampu. Tidak mungkin aku bisa membuatnya bangkrut, tetapi setidaknya aku bisa membuat tidurnya terganggu hanya dengan mengembalikan ingatan-ingatannya.

Entahlah, apakah nanti aku bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan kejahatan yang mereka lakukan pada A kong dan A ma, pada papa dan mamaku, aku tak yakin. Meskipun sebenarnya aku sudah menganggap itu bagian dari sejarah persaingan bisnis dan adu panjang lidah untuk menjilat penguasa.

Rupanya zaman tak menggeser posisi rumah yang berusia dua ratus tahun itu. Tentu saja bukan hanya karena di pintu gerbangnya tertulis huruf China yang bermakna panjang umur dan makmur kaya raya, tetapi karena hingga sekarang penghuni rumah itu masih menempel pada penguasa.

Di abad lalu, di permukaan mereka menjadi abdi, tetapi di dalam rumah mereka menyimpan dan mengoperasikan bisnis opium di pasar dunia. Hanya keluarga A kong yang tahu bagaimana mereka mengurus dan mendistribusikan opium lewat jalur-jalur rahasia yang hanya bisa dipahami oleh orang yang tahu batas antara hidup dan mati, langit dan bumi.

Usaha batik mereka hanya tudung untuk menyembunyikan usaha yang lebih besar lagi di lorong-lorong dunia.

Sebenarnya keluarga A kong tak peduli soal itu, tetapi mereka takut pada bayangan sendiri sehingga mengarang-ngarang cerita bahwa A kong terlibat organisasi terlarang, mendanai pemberontakan yang tak bisa dibuktikan setelah menginterogasi A kong berjam-jam di banyak malam sehingga A kong kelelahan dan tertekan setelah mendekam beberapa malam di sel. Untuk menghindari penjemputan yang akan terus berulang itu, A kong memilih membayar, menyogok agar keluarganya tak diganggu.

Masalah tak juga berakhir meskipun keluarga besar membatasi sebanyak mungkin keluar rumah dan bertemu banyak orang. Masih juga dituduh melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dianggap membahayakan negara sehingga berimbas pada produksi batik yang ditekuni A ma.

Bahkan adik A kong sampai mengajak pakar bangunan untuk mengevaluasi bentuk rumah, arah pintu, dan ornamen-ornamen di dalam rumah, tidak ada yang keliru, semua sudah ditimbang dengan perhitungan matang agar selaras dengan alam. Mereka juga tak lalai ziarah ke rumah abu para leluhur.

Tekanan tak berhenti hingga A ma mati sengsara batin lalu menyusul A kong. Papa dan mama yang masih belum paham betul letak permasalahan terus-menerus digempur dan dijadikan mainan penguasa dengan alasan yang itu-itu juga. Akhirnya mama bunuh diri. Papa? Dijemput adik A kong dan dirawat di sana sementara aku menolak ikut, tetapi aku juga tak mau tinggal di rumah itu.

Kami meninggalkan rumah begitu saja dan menitipkan pada sepasang suami istri yang telah bekerja bertahun di keluarga kami dan adik A kong yang membereskan semuanya. Para tetangga dan teman-teman dekat papa tak ada yang berani menolong karena takut akan terseret pada persoalan sinting itu. Masuk akal dan kami tak menyalahkan mereka.

Kini rumahku mati suri. Hanya berisi kenangan, selebihnya sisa-sisa ketakutan. Ketika aku membuka pintunya, Pak Muh menyambutku. Di rumah peninggalan leluhurku ini, Pak Muh dan istrinya lebih paham seluk-beluk daripada aku si pemilik sah karena hanya namaku yang ada di surat sakti kepemilikan.

Aku duduk di beranda memandang jauh keluar pagar, menimbang apakah perlu aku menelepon si pemilik rumah besar itu kalau menolak kutemui. Mudah bagiku mencari nomor teleponnya. Dengan menunjukkan kartu himpunan sejarawan, aku mudah mencari akses.

Dengan bukti-bukti yang aku temukan, dengan data-data yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun, aku bisa berbalik memerasnya. Tetapi untuk apa? Aku tak butuh uang sebanyak yang ia butuhkan untuk menghidupi centeng-centeng pelat merah.

Aku tersenyum. Ingin rasanya mengirim godaan kecil untuk mengusiknya dan cukup aku katakan: ”Saya tahu berapa banyak Anda mengemplang pajak.” Aku tertawa membayangkan seperti apa reaksinya.

Tetapi pertemuan yang tak sengaja rupanya menjadi keberuntunganku. Tanggal 8 bulan 8 pukul delapan malam aku memenuhi undangan penandatanganan prasasti. Rumah kawan bermainku semasa kecil telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Aku melihatnya duduk di antara tamu-tamu penting, bahkan beberapa aku lihat ada orang partai di sana. Pengecut. Berada di antara mereka, ia seperti seorang yang ramah, hangat, dan baik bak malaikat, sementara saat di rumah ia berlaku seperti bos dengan kekuasaan tanpa batas.

Melalui kenalan anggota komunitas sejarah, aku berhasil mendekat padanya dan ia tersenyum ramah. Aku baku tatap dengan mata sipit itu. Jika papaku masih hidup, mungkin juga setua dia. Kepalanya separo botak nyaris sama licin dengan seluruh kulit wajahnya. Caranya berdiri dan posturnya mengingatkan aku pada artis wushu bangkotan.

Tampak ia tak mengenali aku dan itu wajar karena ia bertemu aku hanya beberapa kali ketika aku masih sangat kecil sebelum papaku pergi dari rumah. Kami sempat berbasa-basi dan seperti yang aku harapkan, kawanku meninggalkan kami berdua saja di sudut ruangan penuh makanan sajian. Ia sangat bersemangat berbicara tentang perlunya mempertahankan bangunan bersejarah, cukup dibenahi saja.

”Jangan mengubah apa pun karena itu akan merusak nilai historis,” katanya penuh semangat.

”Saya setuju. Termasuk, em… tentang.. eem… sekotak opium yang masih tersimpan,” kataku tenang. Dia terperanjat. Menatapku lekat. Lalu terkekeh.

”Ya… banyak orang yang tahu kalau rumah tempat tinggal kami dulunya pemilik bandar opium,” katanya tanpa curiga dengan pancinganku.

”Sampai sekarang,” potongku cepat.

”Ah, tentu tidak. Itu tak mungkin. Karena opium pasti sudah hancur setelah lebih dari setengah abad disimpan.”

”Saya membaca catatan terakhir pemilik rumah itu, yaitu ayah Anda, bahwa ia pernah menyembunyikan puluhan kilo opium di ruang rahasia rumahnya. Mungkin untuk cadangan atau stok. Karena memang usaha opium papa Anda luar biasa pesat waktu itu. Dan hebatnya, itu tidak tampak oleh penguasa karena papa Anda sudah mengalihkan perhatian atau lebih tepatnya mencarikan tumbal untuk bersenang-senang. Yaitu A kong saya,” lanjutku pelan, tetapi jelas. Benar dugaanku, aku tak mampu menahan diri. Memang terlalu cepat aku menyerangnya, tetapi apa boleh buat karena ini mungkin satu-satunya kesempatanku bertemu dengannya.

”Siapa Anda? Saya bisa laporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik.”

”Saya hanya bicara sejarah. Saya bisa menyodorkan data-data yang berhasil saya kumpulkan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tahu, mengapa dulu keluarga A kong, keluarga papa saya, selalu hidup dalam ketakutan. Itu bukan semata karena persaingan bisnis kain putihan dan batik. Tetapi papa Anda menyebarkan cerita-cerita bohong sehingga keluarga A kong menjadi korban pemerasan penguasa. Belum lagi soal 65 yang dituduhkan keluarga Anda kepada keluarga kami hingga membuat keluarga kami pergi meninggalkan tempat ini, bisnis keluarga yang susah payah dibangun dan terutama nama baik, hancur luluh lantak. Hanya karena A kong saya mengetahui papa Anda pengedar opium.”

”Kau?”

”Iya, saya cucu tunggalnya. Tetapi lupakanlah. Itu masa lalu. Kita kembali soal opium tadi. Mungkin cucu Anda mengetahui kalau di dalam rumah itu tersimpan opium, lalu menjualnya,” bisikku sambil mendekat padanya. Orang itu terperanjat, matanya menghunus tepat di jantungku.

”Apa maksudmu? Kalaupun barang itu masih ada, pasti sudah hancur.” Aku tersenyum sambil mengisap cangklong.

”Anda menuduh cucu saya penjual barang setan? Hati-hati Anda punya mulut.”

”Tahun ini tahun macan air. Saya rasa Anda tahu bahwa shio Anda termasuk salah satu shio ciong tahun ini.”

”Sekarang saya benar-benar bisa mengingat siapa Anda,” katanya sedikit bergetar. Aku tersenyum.

”Terima kasih sudah bisa mengingat saya.”

”Sekarang menjauhlah dari saya. Dan jangan bicara-bicara lagi,” perintahnya.

”Tentu. Karena saya sudah mengatakan apa yang ingin saya katakan sejak lama. Dan yang terakhir, saya ingin memberi tahu Anda bahwa cucu Anda telah melanjutkan bisnis leluhurnya: mengedarkan opium.”

”Jangan berbicara dusta! Sudah tak ada opium di rumah kami.” Aku balas memandangnya lalu mengelebat wajah papa, wajah mama, lalu A kong dan A ma.

”Keluarga besar Anda selalu terlibat bisnis berbahaya sejak dari leluhur,” tandasku.

”Anda harus menunjukkan bukti kalau cucu saya penjual barang setan itu!” dia berkilah.

”Tentu saja.”

”Di mana?” desaknya.

”Di metaverse.”

”Daerah mana itu?” dia bertanya agak kaget atau bingung, entahlah tak terlalu jelas batasnya.

”Anda tak akan pernah tahu, Anda tak akan pernah pergi ke sana,” balasku tersenyum, lalu pergi meninggalkannya. Ada bongkah terlepas dari dalam dada. Yah! Pertarungan sesungguhnya ada di zaman ini. Bukan pada zaman papa dan mama mengelola pabrik batik, bisik hatiku. (*)

—

Indah Darmastuti : Tinggal di Solo. Menulis prosa dan cerita anak. Buku terakhirnya kumpulan cerita pendek Pengukur Bobot Dosa (Marjin Kiri, 2021). Pendiri Difalitera –sastra suara untuk difabel netra– dan merintis Teras Baca, komunitas baca yang beranggota difabel netra.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 22 Mei 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme