Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Senja di Taman Ewood oleh Sungging Raga

Posted on Ming, 10 Mei 2009

SATU

Akan selalu ada wanita-wanita yang menangis kala menikmati senja di taman ini. Dan mereka tak butuh alasan untuk melakukannya, menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman Ewood, di sudut kota Blackburn. Waktu-waktu berjalan, malam, pagi, siang, sore, dan tentu saja, senja. Aku juga akan membagi cerita ini menjadi lima bagian sebagaimana waktu, karena di antara wanita-wanita yang menangis itu aku akan melihatmu, duduk bersandar di bangku tepi danau, dengan pakaian yang paling kusut dan mata yang paling sendu, menatap kosong pada titik cakrawala tempat terbenamnya matahari. Semua wanita di taman Ewood mengenalmu, wanita tanpa nama yang tak pernah absen menikmati jatuhnya matahari kemerah-merahan menuju pekat yang menyambar-nyambar, wanita yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan.

Kamu pasti datang dengan kemeja putih itu, ditambah syal merah muda melingkar di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa pada umumnya. Kamu datang jauh sebelum wanita-wanita itu hadir bersama pasangannya, lebih dulu menemani kicau burung dan kepak sayap kupu-kupu di hamparan bunga-bunga, terkadang kamu memetiknya, dan melemparkannya pada ikan-ikan yang mengiranya sebagai umpan, atau menemani sepasang angsa yang tak jemu mengelilingi danau, kamu pasti membayangkan kita seperti mereka, hidup bersama dengan bebas, menikmati ketenangan, menjadi bagian keindahan di mata setiap orang.

Aku masih ingat ketika membawamu ke taman Ewood untuk pertama kali. Jangan pernah lupakan bagaimana perkenalan kita, pertemuan di satu titik rapuh. Ketika itu kamu adalah wanita ahli kata-kata yang selalu merangkai cerita tentang senja. Sedangkan kualitas tulisanku berada tepat di garis kemiskinan sastra. Kita bertemu dalam ruang maya, menjalin cerita yang hampir membosankan jika dituliskan di majalah-majalah anak muda.

”Aku suka senja, apalagi jika melihat burung-burung terbang ke arah barat, seakan-akan rumah mereka adalah senja.”

”Tetapi, aku tidak begitu mengerti senja. Bagiku tak ada sekat antara sore dan malam, antara sisa-sisa cahaya siang dan datangnya potongan-potongan malam.”

”Apa kamu tidak pernah bermain di pantai ketika sore hari? Ketika kamu lihat langit menggaris merah dan beberapa perahu berlayar lurus hanya menyisakan layarnya yang berkibar. Seperti sangat dekat dengan garis dunia itu. Seakan bersandar pada cahaya senja.”

”Tidak, aku hanya tahu pantai yang panas, dan sore hari aku pulang untuk beristirahat.”

”Jadi, kamu tidak pernah melihat senja?”

”Aku bisa melihatnya dari foto-foto.”

”Foto-foto tidak hidup, semuanya diam, seperti dunia tanpa waktu.”

”Kalau begitu berikan aku video yang merekam senja.”

”Tidak. Aku tidak punya. Aku saja jarang menikmati senja yang utuh. Kadang setahun dua kali, kadang setahun sekali, bahkan sering tidak sama sekali.”

”Lalu, di mana kamu bisa melihat senja yang utuh?”

”Aku hanya melihatnya ketika pulang ke rumah orangtuaku di desa Yorkshire, di London Utara. Di sana ada bukit luas yang jarak pandangnya sampai ke pantai, dan ketika sore tidak akan ada yang menghalangi pemandangan terbenamnya matahari, termasuk senja itu.”

Kemudian segalanya hening.

”Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat di kota ini yang bisa melihat senja setiap hari.”

”Apa? Bukankah tadi kamu bilang tidak pernah melihat senja?”

”Aku berbohong.”

DUA

Senja memang barang langka di kota Blackburn. Gedung-gedung bertingkat dengan lampu merkuri telah mengalahkan sisa cahaya setelah tenggelamnya matahari. Belum lagi lampu kota menyinari jalanan di mana mobil-mobil berkejaran dengan waktu. Orang-orang di sini tak begitu peduli apakah matahari telah tenggelam atau bahkan terbit dari arah tenggelamnya. Becerita tentang senja hanya lelucon di kantin dan taman bermain anak-anak. Tetapi, tidak bagi kamu yang baru tinggal di kota ini. Sejak masuk ke University of Central Lancashire setahun yang lalu, kamu seperti kehilangan nyawa dalam tulisan-tulisanmu.

”Ke mana kita pergi?”

”Ya seperti janjiku. Melihat senja.”

”Jangan bercanda, di kota seperti ini mana ada tempat untuk melihat senja.”

”Kalau begitu biarkan aku bercanda, aku akan membawamu ke daerah Ewood, sedikit terpencil, tetapi aku pernah sampai ke sana sewaktu berkeliling kota Blackburn. Dan aku sampai di tempat itu menjelang terbenamnya matahari. Mungkin itu senja yang kamu maksud.”

Mobil melaju kencang, jalanan semakin sepi, hanya kompleks perumahan yang berdempetan. Setelah sekitar satu jam perjalanan meninggalkan hiruk-pikuk kota, kita sampai juga di taman Ewood, tepat menjelang malam. Aku sudah mengaturnya.

”Gila! Ini benar-benar senja!” Kau berteriak kegirangan, menatap langit merah sedikit keemasan itu seolah tak berkedip, sementara sekeliling taman hanya berupa rerumputan, pohon, bunga-bunga, dan danau, ”Tetapi, mengapa sepi sekali? Apa tidak ada yang tertarik dengan pemandangan senja?”

”Setiap orang lelap dalam kesibukannya, tidak ada waktu untuk datang dan melihat yang seperti ini.” aku menjawab. Memang, seperti tak ada kehidupan di taman Ewood kecuali sebuah rumah mungil di dekat jalan raya tempatku memarkir mobil, bisa jadi penghuni rumah itulah yang merawat taman ini. Seorang kakek dan ketiga cucunya yang kecil-kecil. Mereka tersenyum ketika kita melintasi pagar menuju taman.

Suasana menjelang malam yang sempurna, tetapi segala sesuatu yang terasa indah saat itu ternyata tidak berulang. Keesokan harinya kamu mengajakku pergi ke tempat yang sama—dan aku pun selalu memberikan waktuku untuk mengantarmu melihat fase pergeseran matahari itu—Alangkah terkejutnya kita melihat puluhan orang bertumpuk di taman tersebut.

”Mengapa tiba-tiba banyak orang?” tanyaku heran. Aku menduga, gara-gara kita menikmati senja kemarin, pemilik rumah itu lalu mengomersialkan taman yang dirawatnya, tetapi aku tidak melihat loket pembayaran di pintu masuk atau karcis parkir.

”Entahlah, padahal aku hanya memberitahu beberapa sahabatku di kampus bahwa ada senja di daerah Ewood.”

Dugaanku meleset. Rupanya kabar ini menyebar karena kamu, di antara puluhan orang itu aku memang sempat melihat beberapa gelintir kawan-kawanmu. Kalian bercakap-cakap, meninggalkanku untuk sementara.

”Bagus sekali ya! Ayo dipotret!”

”Direkam saja!”

Kebanyakan dari mereka hadir bersama kekasihnya, tetapi ada juga yang membawa anak-anak kecil, membiarkannya berlarian di jalanan penuh kerikil, mendekati sepasang angsa di danau, bermain air yang jernih dengan pantulan cahaya senja.

”Padahal aku ingin menunjukkan senja ini spesial hanya untukmu.” Aku sedikit berbisik ketika kamu sudah berada di dekatku.

”Aku juga tidak menyangka akan banyak orang datang ke sini. Tetapi, setidaknya ini bukti bahwa mereka masih mau untuk menikmati pemandangan senja. Ya, kan?”

Kamu menatapku dengan tersenyum, wajah putihmu yang teduh itu membuatku urung untuk kecewa. Walaupun sepertinya kamu membaca gurat kekecewaan di wajahku yang murung.

”Kalau begitu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, sekali lagi. Sesuatu yang spesial, dan aku yakin tak seorang pun bisa menirunya,” kamu berkata tiba-tiba.

”Apa itu?”

”Menjadi senja.”

TIGA

Bagaimana caranya menjadi senja. Apakah harus mengikuti burung-burung yang terbang ke arah terbenamnya matahari di titik cakrawala sambil memakai baju merah keemasan? Bagaimana caranya? Kalau saja aku bisa bertanya kepada penyair dan penulis cerita yang suka membawa obyek senja, mungkin mereka tahu, mungkin mereka pernah beberapa kali menjadi senja sehingga senja selalu hidup dalam tulisan mereka. Tetapi, itu tidak mungkin.

”Kamu yakin ingin aku menjadi senja?”

”Tentu, aku yakin kamu dapat melakukannya, dan mereka di taman itu tak akan bisa menirunya.”

Aku tertegun, otakku berputar keras. Tidak mungkin aku bertanya kepada kawan-kawan geniusku di kampus, pasti mereka semua menertawakanku. Pertanyaan paling konyol yang kembali keluar dari mulut seseorang yang sebenarnya tengah jatuh cinta pada taraf akut.

”Kalau berbuat untuk wanita yang realistislah, jangan sampai gila begitu.”

”Lihat saja, aku pasti bisa memenuhinya. Lihat saja.”

Pasti ada caranya, setidaknya, harus ada. Di dunia ini ketidakmungkinan sudah hampir punah, segala sesuatu bisa dilakukan walaupun hakikatnya semu dan jauh melenceng dari kenyataan. Dan benar, kan? Beberapa jam menyendiri dalam kamar, akhirnya kulihat sesuatu yang berkilat itu, sesuatu yang memantulkan cahaya putih dari sinar matahari yang tak terhalang gorden jendela. Ya! Aku mendapatkannya, akhirnya aku mendapatkan cara untuk memenuhi keinginanmu, keinginan yang tak seorang pun bisa menirunya.

”Besok aku adalah senja,” gumamku. Aku tersenyum puas.

EMPAT

Angin sore menerpa deretan pohon cemara, beberapa bangku masih tak berpenghuni, kamu datang jauh lebih awal. Belum ada siapa pun di taman Ewood. Hanya sepasang angsa itu tengah memainkan ekornya membentuk riak-riak kecil. Tetapi, ikan-ikan tak pernah takut dengan keduanya. Mereka seperti bersimbiosis mutualisme, saling menyiratkan kesempurnaan pemandangan taman Ewood. Beberapa daun kering jatuh ke pangkuanmu, sebagian jatuh ke rambutmu yang basah menjuntai melewati bahumu, terbalut kaus putih dengan syal merah muda.

”Datanglah nanti ke taman Ewood, aku akan menjadi senja.” Kamu membaca kembali pesan singkat yang kukirimkan pagi tadi. Lalu tersenyum. Kamu pasti bangga denganku.

”Bagaimana caranya?”

”Datang saja, nikmati cahaya merah setelah matahari terbenam, kamu harus yakin bahwa senja itu adalah aku.”

”Jadi, kamu tidak akan hadir menikmati senja bersamaku?”

”Tentu tidak. Bukankah yang menjadi senja adalah aku sendiri?”

”Bagaimana aku bisa tahu kalau itu kamu?”

”Aku akan membuat senja itu sedikit berbeda.”

Senja masih akan hadir sekitar satu jam lagi, beberapa pasangan telah tiba dan mencari tempatnya masing-masing, semakin banyak orang berdatangan, jauh lebih banyak dari sebelumnya, bahkan ada yang membawa kanvas untuk melukis senja. Mereka antusias sekali menunggu. Taman Ewood seperti menjadi tempat rekreasi dadakan, yang gratis. Dan tibalah saatnya, matahari perlahan membenamkan tubuhnya di pelukan cakrawala.

Cahaya senja itu muncul, membentang merah lebih pekat, tidak bercampur dengan warna kuning keemasan. Memenuhi garis langit. Orang-orang berdecak kagum.

”Hei, lihat, warnanya agak berbeda dari kemarin. Sepertinya lebih indah. Mungkin ini fenomena alam.”

”Cepat dipotret! Diabadikan!”

”Direkam saja sayangku. Mmmuach!” sepasang muda-mudi berciuman di depan senja yang spesial kuhadirkan untukmu. Sementara kulihat kamu terdiam dengan pemandangan senja itu, mungkin kamu sedang membandingkannya dengan senja yang kemarin atau senja yang biasa kamu lihat di desa Yorkshire.

”Aku sudah melihat senja. Senja yang benar-benar berbeda.” Kamu mengirimkan pesan singkat untukku. Senyummu mengambang, tidak ada yang tahu bahwa senja itu adalah aku kecuali kamu.

”Bagaimana caranya? Beritahu aku. Biar besok giliran aku yang menjadi senja untukmu.” Pesan singkat yang lain kamu kirimkan lagi.

Orang-orang masih menatap dengan kagumnya, mereka mengambil kamera dan memotret setiap sudut senja itu. Ada pula yang benar-benar merekamnya, meminta pasangan bergaya di sepanjang taman yang berlatar warna merah.

Senja itu semakin lengkap ketika burung-burung menuju ke arahnya, pemandangan yang nyaris sempurna, puluhan kamera mencipratkan cahaya, seperti suatu pertunjukan di atas panggung, orang-orang tak henti-hentinya melontarkan kalimat kekaguman, semakin ramai saja, seolah penduduk kota Blackburn semuanya tumpah di taman Ewood, hingga akhirnya beberapa dari mereka sadar, ada sekelompok burung hitam yang tak seharusnya ada di situ. Kamu melihat handphone, belum ada pesan balasan dariku.

LIMA

Wanita-wanita menjerit, sebagian memeluk pasangannya, sebagian lagi menutup matanya dan menangis, teriakan menggema di taman Ewood, ”Itu bukan senja! Itu darah!”

(Yogyakarta, 2009)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme