Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kabar Gembira oleh Yulizar Lubay

Posted on Ming, 14 Agu 2022

Saat Sarah hamil enam bulan, Ibrahim mimpi didatangi segumpal daging. Ibrahim menjerit saat benda merah keruh itu melayang-layang di depan mukanya. Dia menunduk dan melihat dadanya telah berlubang. ”Bagaimana mungkin tak ada darah?” katanya.

Ibrahim coba mengejar dan menangkapnya, tapi tak berhasil juga. Segumpal daging yang dikejar Ibrahim telah masuk ke perut istrinya.

Dengan perasaan linglung, Ibrahim terbangun. Lelaki kurus bertubuh jangkung dan berambut keriting itu tak berani menceritakan mimpinya pada siapa pun, termasuk pada istri, bahkan pada bayangannya sendiri.

Ibrahim, sehari-hari bekerja sebagai guru agama di SMA swasta di daerahnya, senang sekali dengan kisah-kisah para nabi. Dia sangat senang dengan dialog Nabi Musa dengan Tuhan. Dialog itu terus mengendon di kepalanya, meronggok di hatinya. Musa, dalam buku yang Ibrahim baca, pernah bertanya kepada Tuhan, ”Di mana aku bisa mencari-Mu?” Tuhan menjawab, ”Carilah Aku di antara orang-orang yang hancur hatinya.”

***

Anak kami lahir di usia kandungan 8 bulan. Beratnya 2 kilogram. Meski begitu, aku tetap merasa sempurna sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu baru bagi si bayi.

Bang Ibrahim memberinya nama Sabili. Artinya jalan dan pesona, katanya, setiap kali menjawab pertanyaan saudara dan tetangga yang menanyakan arti nama itu.

Di tengah larangan pemerintah untuk keluar rumah, di sela-sela mengajar dari rumah, Abang selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Bili. Dia bermain cilukba saat menjemur bayi kami di bawah matahari jam 8 pagi. Membacakan dongeng 25 nabi saban malam Jumat atau melantunkan selawat setiap kali selesai shalat. Tak cuma itu, pada Senin malam, Abang rajin mengisahkan tentang dua malaikat yang membelah dada Muhammad kemudian mengeluarkan segumpal daging dari sana. Segumpal daging yang dicuci dengan air suci kemudian dimasukkan ke dada Muhammad lagi.

”Ceritakanlah tentang kelinci atau buaya,” kataku.

”Pagi tadi Abang sudah melakukannya. Abang jadi kelinci dan buaya. Jadi kucing dan mobil tua. Abang ceritakan padanya tentang kisah-kisah lucu dan gembira.”

”Ceritakan lagi. Aku mau melihatnya.” Aku tertawa menggodanya.

”Besok saja. Khusus malam ini Abang mau cerita tentang Pembawa Kabar Gembira.”

”Ya, ya. Yang penting Abang bahagia.” Aku berkata tanpa melihatnya karena sedang menyusui Bili.

Bili, anakku, seperti terbuat dari campuran rasa bangga dan haru. Kelahirannya menjadi gairah bagi keluargaku yang semuanya perempuan: aku, ibu, dan empat adikku. Ismail, ayahku, sudah meninggal dan tak sempat menyaksikan anak-anaknya menikah. Dulu, sebelum meninggal, ayah sering bilang padaku ingin punya cucu laki-laki supaya bisa diajak shalat di masjid.

”Ini pengganti kakeknya, kebanggaan kita semua,” kata Abang, suatu malam, saat aku kembali mengenang keinginan ayah.

Aku mengangguk pelan, lantas tersenyum, dan perlahan tertawa geli karena melihat Bili ngompol dan membasahi kaus Bang Ibrahim. Abang menyusul tertawa sebelum meletakkan anak kami ke kasur, mengganti popok Bili, lalu mengganti kaus Abang sendiri.

Sebagian besar keluarga kami, demi alasan kesehatan, tak diizinkan menemui Bili. Mereka semua berjumpa dengan Bili lewat panggilan video. Zuryati, ibu Bang Ibrahim, selalu mencium layar ponsel sebelum mengakhiri panggilan.

Saat Bili berusia empat bulan, keluarga besar kami, terutama nenek Zuryati, terpaksa harus mengurangi kebiasaannya menciumi layar ponsel. Di usia itu, Bili jadi gampang kaget dan mudah menangis di malam hari.

Aku dan Bang Ibrahim cepat kesal setiap kali melihat Bili menolak diberi ASI. Kami heran, kenapa kami menjadi orang yang tidak sabar.

Maryam, ibuku, meminta aku tetap tenang. Dia menyuruhku membawa Bili ke rumah sakit daerah.

Kebanggaan Bang Ibrahim dan kebahagiaanku berangsur luntur ketika dokter mengatakan bahwa Bili mengalami anemia berat. Hemoglobinnya 6,4.

”Anak bapak-ibu harus transfusi.”

Bang Ibrahim berdiam diri.

”Baik, Dok.” Aku menjawab datar.

Dokter berkata lagi bahwa Bili harus dirawat inap. Kami berdua tak bisa menolak.

Bili keluar dari rumah sakit daerah pada hari kedua belas. Dia masih lincah dan suka tertawa, meskipun mulai sayu di bagian mata.

Nenek Maryam, yang semula tenang karena telah melahirkan 5 anak perempuan, mulai takut dan bimbang. ”Badan dan matanya makin kuning. Segera dibawa ke Jakarta saja.”

”Takut korona,” kataku.

”Yang penting ikuti protokol kesehatan. Aman,” kata ibuku yang sehari-hari bekerja sebagai dokter paru di sebuah rumah sakit daerah.

***

Sejak tiba di Jakarta dan susah payah mencari kontrakan, selain mencuci dan menjemur pakaian Sabili, Ibrahim seperti kehilangan waktu luang untuk membacakan dongeng lucu dan kisah-kisah para nabi. Dia lebih sibuk membereskan kontrakan dan tetek bengek administrasi rumah sakit. Selawat tetap dibaca selesai shalat, tapi tak dibacakan atau dinyanyikan lagi untuk Sabili.

Sementara itu Sarah, perempuan bertahi lalat sebesar biji selasih di ujung hidungnya yang sedikit mancung, lebih sering menangis diam-diam di kamar mandi saat Sabili tidur atau sedang digendong oleh Ibrahim.

***

Setelah menginap beberapa malam di kamar kontrakan, pada suatu pagi, kami pergi ke Rumah Sakit Nasional. Nama Bili dipanggil suster. Kami masuk ke ruang dokter. Seusai pemeriksaan yang cukup lama, dokter Kencana mengatakan bahwa Bili mengidap atresia bilier.

”Atresia bilier?” Abang mengulangi. Pertanyaan itu membentur maskernya sendiri.

”Iya, gangguan fungsi hati. Maaf, ini bukan kabar gembira untuk Bapak dan Ibu.”

”Penyebabnya, Dok?” kataku.

”Sulit menjawab pertanyaan ibu. Yang pasti ini adalah kondisi bawaan lahir, di mana saluran dari hati ke kantong empedu tidak terbentuk normal dan dengan cepat akan menyebabkan sirosis atau kerusakan hati. Limpa dan hati anak ibu sudah mulai rusak.”

Aku tak peduli dengan ucapan dokter. Kepalaku pusing. Pikiranku melantur. Aku mau Bili panjang umur.

”Golongan darah siapa yang sama dengan si bayi?”

”Suami saya, Dok,” kataku.

Bang Ibrahim berdehem.

”Bapak sering minum alkohol?”

”Dulu iya. Sekarang tidak. Sudah berhenti sembilan tahun lalu.” Abang terbatuk.

”Suka merokok?”

”Suka, Dok,” kataku.

Abang mencubit pahaku.

Dokter Kencana menggeleng. ”Sebagai calon pendonor hati, bapak harus berhenti merokok dan rajin olahraga.”

”Siap, Dok,” kata Bang Ibrahim dengan nada kurang yakin.

”Baik,” dokter Kencana bergantian menatap kami, ”Saya sudah hubungkan anak bapak-ibu ke poli Gastro Hepato. Ikuti semua langkah yang diminta dokter poli.”

”Iya, Dok. Terima kasih,” kataku.

”Kembali.”

Kami bertiga pamit keluar.

Selesai menebus obat di apotek, kami membawa Bili pulang ke kontrakan.

***

Selama Agustus sampai September, Sabili menjadi sangat rewel. Perutnya makin buncit dan bayangan hitam tampak jelas di bawah sepasang matanya. Hal itu terjadi pula di sepanjang Oktober, di mana Sabili harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Nasional karena demamnya tak pernah turun selama sebulan. Padahal jenis antibiotik yang diberikan sudah bermacam-macam. Tapi tetap saja si bocah belum dapat disembuhkan.

Di saat-saat seperti itu, Ibrahim justru sering duduk melamun di depan rumah sakit sambil membayangkan wajah ibunya. Dia ingat sering berkata kasar kepada Zuryati dan pernah mendorong perempuan itu hingga jatuh dan hampir saja menendangnya karena si ibu marah lantaran Ibrahim berani menjual rumah mereka. ”Maafkan saya, Bu,” kata Ibrahim saat tersadar bahwa dirinya sedang duduk melamun di depan rumah sakit itu. Permintaan maafnya membentur trotoar, kendaraan, dan akhirnya terbang keawan.

Ibrahim menghela napas, mungkin teringat lagi pada operasi cangkok hati yang biayanya sangat tinggi.

Suatu malam, di akhir Desember, tak jauh dari Rumah Sakit Nasional, tepat di dalam kamar kontrakan yang pengap dan sumpek, setelah menelepon Zuryati, Ibrahim berdoa kepada Tuhan. Dia minta agar dosa-dosa masa lalu kepada ibunya itu diampuni. Dia minta juga supaya Sabili dan anak-anak yang masih hidup diberikan umur panjang. Ibrahim memejam, wajah anak-anak yang setiap minggunya meninggal terbayang; 12 anak meninggal dalam rentang waktu tiga bulan. Meja operasi cangkok hati belum dibuka selama pandemi. Air mata Ibrahim tumpah tanpa bisa ditahan lagi.

Ibrahim tertidur dan terjatuh di alam mimpi. Dalam mimpi itu dia melihat lagi segumpal daging melayang-layang. Dia kembali mengejar dan ingin menangkapnya. Tapi si daging pandai menghindar, lantas melayang keluar lewat jendela kamar.

Sampai di suatu tempat, segumpal daging itu berhenti dan masuk ke dada Sabili. Ibrahim berjalan cepat mendekati anaknya. Tapi langkahnya terhenti karena tiba-tiba melihat sesosok makhluk datang dan merogoh dada Sabili. Makhluk bersayap cahaya purnama itu dengan cepat mengambil segumpal daging tadi lantas melesat terbang ke langit tinggi. Ibrahim menjerit-jerit tak terkendali. Dia berlari menghampiri Sabili.

Saat hendak memeluk tubuh anaknya di dalam mimpi, Ibrahim terbangun dengan keringat mengucur. Dia bangkit, lalu mengelap keringat di jidatnya yang berjerawat. ”Mimpi itu lagi,” katanya.

Setelah mencuci muka dan duduk di tepi ranjang, ponsel pintar Ibrahim yang diletakkan di kasur berbunyi. Dia meraih ponsel, lantas membuka pesan baru di ponsel itu.

Bili sudah sembuh, Bang. Ibrahim membaca pesan dari Sarah.

Wajah Zuryati terbayang lagi, demikian pula wajah Sabili dan anak-anak yang sedang mengantre operasi cangkok hati. Mungkin sekarang dia mengerti pada petanda mimpinya sendiri. Mungkin sekarang dia sadar apa maksud jawaban Tuhan saat ditanya oleh Musa: Carilah Aku di antara orang-orang yang hancur hatinya.

Ibrahim bergegas ke rumah sakit menemui Sarah.

Sarah duduk diam seolah kehilangan tulang belulang ketika Ibrahim tiba.

Sementara itu Sabili tertawa gembira saat Izrail membopongnya menuju pohon tuba yang konon banyak ditanam di dalam surga.

Lampung, 2021-2022

Yulizar Lubay, lahir di Lampung, 24 Juli 1986. Cerpennya yang berjudul Kisah Sinta dimuat di Kompas.Id. Cerpen lainnya, Ikan-Ikan dan Jalanan yang Berlubang, meraih juara ketiga dalam sayembara penulisan kreatif Mastera Malaysia, 7 Oktober 2021. Payung Dara adalah novela perdananya, terbitan Lampung Literature, 2018. Sehari-hari bergiat di Kober (Komunitas Berkat Yakin) Lampung sebagai aktor teater.

Isa Perkasa, lahir di Majalengka, 21 Juni 1964. Pada 1997 mengikuti residensi seniman di Tsuna, Jepang, lalu pada 1999 di Pacific Bridge Gallery, Oakland, California, AS. Sejak 1992 rajin ikut pameran, baik tunggal maupun gabungan. Isa dikenal rajin membentuk kelompok performance art. Mulai tahun 2019 menduduki jabatan Ketua Institut Drawing Bandung serta kurator pada Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung. Tahun 1989, karyanya masuk lima besar Philip Morris Indonesia Art Award di Jakarta. Lalu masuk lima besar dan Juror’s Choice Philip Morris Asia Art Award di Hanoi, Vietnam.

sumber : harian Kompas edisi 14 Agustus 2022 di halaman 10 dengan judul “Kabar Gembira”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme