Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebuah Rencana Hujan oleh Sungging Raga

Posted on Ming, 25 Okt 2009

 

SebuahRencanaHujan

Hujan turun begitu lebat. Nalea belum bisa pulang. Ia berteduh di sebuah pos ronda tua, sepatunya sudah basah lebih dulu akibat berlarian di jalan tadi, ia membuka sepatunya lalu meletakkannya di bawah sebuah meja yang ada di situ. Bajunya juga basah, rambutnya, pipinya, sampai bulu alisnya yang meneteskan air. Gadis kecil itu sebenarnya tidak menangis, ia mencoba tenang di situ, berlindung dari guyuran air yang justru semakin tak terbendung.

Ibu cari Nalea tidak ya?” Gadis kelas empat SD itu kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. Hujan masih turun sangat deras, seperti puluhan kubik air yang lama tersimpan di perut awan, sepertinya semua hujan sengaja jatuh tak jauh dari pos ronda tempat gadis kecil itu berteduh. Suara air yang membentur atap terdengar begitu keras, begitu ribut, belum lagi angin yang sesekali menghempas cukup kencang, mengayunkan pepohonan di sekitarnya, merontokkan dedaunan, mengayunkan bulir air ke kanan dan kiri hingga hujan pun tampak miring jatuhnya.

Nalea mengingat-ingat kembali ucapan ibunya, ”Nanti kalau di sekolah hujan, Nalea jangan pulang dulu, ya. Tunggu ibu datang untuk menjemput.” Kemudian ia merenungi dirinya sendiri, mengapa ia tak mendengarkan nasihat sang ibu.

”Lama sekali hujannya. Tidak reda-reda.” Gadis kecil itu bergumam sambil menatap langit, dibukanya tas sekolah itu, beberapa bagian bukunya sudah basah kuyup, ia melihat sebuah buku yang membuatnya murung, ”Ini buku pinjam dari Mia juga ikut basah,” ucapnya. Ia lihat sampul buku yang kecoklatan sudah robek di pinggirnya, ia lalu memindahkan buku itu dan menyelipkannya di tengah-tengah, di antara buku-buku lain yang sebenarnya juga sudah basah.

Langit masih dihiasi mendung pekat, ada percik air yang berhasil menembus pos ronda tempat gadis kecil itu berteduh, seharusnya ia ada di pelukan ibunya sekarang, seperti anak-anak lainnya yang ketakutan ketika hujan turun begitu kejam, apalagi jika suara petir menggelegar, seperti hendak membolak-balikkan langit, seperti ingin menelan siapa pun yang berada di bawahnya.

Namun Nalea berusaha untuk tenang, ia kini duduk di bawah meja, sesekali menutup telinganya karena kebisingan suara air yang diselingi gemuruh kilat. Merasa hujan masih akan lama, ia kini justru mengeluarkan semua buku dan menghamparkannya di bawah meja tua yang lembab, ia berharap buku itu bisa kering dan tulisannya tidak luntur, ia takut dimarahi ibunya, ia takut dimarahi temannya yang meminjamkan buku. Tetapi dalam ketakutannya ia tidak menangis. Ia mencoba untuk menenangkan diri, meski tidak bisa karena suara air yang disertai angin itu membuatnya sering terkejut.

”Harusnya tadi menunggu ibu di sekolah. Tidak pulang sendiri. Harusnya Nalea tadi ingat nasihat ibu.”

Rupanya ia mulai menyesal. Gadis sekecil itu sudah mengerti arti sebuah penyesalan. Hujan telah membuatnya belajar dengan salah satu perasaan hidup. Ia merasa bersalah kepada ibunya, tadi ia tak sabar menunggu lebih lama, apalagi ketika rintik air mulai jatuh dari langit dan ia tak melihat tanda-tanda bahwa ibunya segera datang, ia justru terus berlari meninggalkan sekolah, padahal ia tahu rumahnya masih jauh.

”Ibu pasti sibuk tadi. Tidak bisa cepat menjemput. Coba Nalea mau menunggu di sekolah, mungkin ibu sekarang sudah sampai sambil bawa payung.” Ia ungkapkan penyesalannya itu dengan kata-kata yang entah ditujukan kepada siapa. Sementara itu air sudah meluap dari sungai, jembatan yang sebenarnya tak jauh dari pos ronda itu kini tak terlihat lagi, air sudah menguasai permukaannya. Nalea mulai ketakutan.

Di rumah. Seorang wanita mulai panik, anak semata wayangnya belum pulang juga. Sudah tiga kali ia bolak-balik sekolah, tetapi hasilnya nihil, tak ada siapa-siapa di sekolah ataupun sepanjang jalan antara rumah dan sekolah. Wanita itu terduduk lesu di teras rumah. Hujan deras mengaburkan pandangannya, ia membayangkan anaknya akan muncul dari kejauhan, berlari-lari kecil, dalam keadaan yang basah kuyup. Namun, tak ada siapa-siapa di balik rerimbunan hujan di depan rumah itu. Hanya derasnya air yang tak mampu lagi dibendung oleh saluran-saluran air.

”Hujan sekarang benar-benar deras. Bagaimana ini, Pak?” Tanya wanita itu kepada suaminya. Namun laki-laki di sebelahnya itu hanya diam. Keduanya tampak lesu, seperti kehilangan harapan, tiba-tiba mereka tak bisa melakukan apa-apa untuk mengetahui keadaan anak mereka.

”Mungkin Nalea mampir ke rumah temannya. Mungkin ia berteduh di sana.” Ucap suaminya untuk menenangkan wanita itu. Tetapi, begitulah perasaan seorang ibu yang lembut, yang sangat peka seperti helai rambut. Ia merasa Nalea sedang membutuhkannya, meski ia tak tahu di mana anak gadisnya kini berada.

”Semoga saja, Pak. Semoga Nalea tidak apa-apa. Belum pernah rasanya hujan deras seperti ini.” Suara wanita itu mendadak terhenti karena suara gemuruh dari langit.

Gadis kecil itu masih duduk di bawah meja, suara petir kini semakin sering terdengar, langit yang kelabu sesekali menampakkan warna terang yang kemudian diiringi gemuruh. Dada Nalea berdegup kencang, sesekali ia memejamkan mata, sesekali ia menutup telinganya. Namun, ia juga sekilas melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada yang orang yang dikenalnya, siapa tahu ibunya muncul, atau setidaknya seseorang yang bisa menolong untuk mengantarkannya sampai ke rumah, namun ia kecewa, tak satu pun orang lewat, semuanya sepi, seperti desa yang mati. Semua orang pasti berada di rumah masing-masing karena hujan turun begitu deras. Nalea benar-benar sendirian sekarang. Ia sempat memangil-manggil seseorang atau sesuatu, namun suaranya kalah dengan suara hujan yang seolah tak henti-hentinya menggerutu.

”Nalea pulangnya gimana?” Ia bergumam lagi, dilihatnya sepatu yang sudah basah, buku-buku yang sudah basah, seragamnya juga, ia mengambil jepit rambut dari kepalanya, bibirnya kini sedikit gemetar, wajah gadis kecil itu mendadak pucat, mungkin ia tak kuat menahan dingin yang diembuskan angin bersama bulir-bulir air. Ia melihat air mengalir di bibir jalan yang tak terlihat lagi batu-batuannya.

”Kenapa hujannya belum berhenti ya, Pak?” Wanita itu kembali bertanya kepada suaminya. Keduanya masih berada di teras rumah, melihat air yang tak henti-hentinya jatuh dari langit, berharap ada sedikit waktu untuk menembus pekatnya panah-panah air yang tajam itu.

”Lebih baik kita cari saja.”

”Tetapi, payungnya cuma satu, Pak. Itu pun angin begitu kencang, dan kita juga tidak tahu harus mencari ke mana.”

”Apa ibu tidak hafal jalan yang biasa dilalui Nalea kalau pulang sendirian?”

Wanita itu tiba-tiba menunduk, seperti memikirkan sesuatu, mungkin Nalea pergi ke supermarket sebentar, bersama kawan-kawannya, Nalea biasa menghabiskan uang sakunya di situ, ramai-ramai menyerbu supermarket untuk sekadar membeli jajan bungkusan. Mungkin juga Nalea memang mampir ke rumah teman-temannya—sebagaimana yang diucapkan suaminya tadi—tetapi siapa yang didatangi Nalea? Berpuluh-puluh detik berpikir, yang hadir justru beribu-ribu pertanyaan dan kemungkinan yang memberatkan hatinya.

”Biar aku yang cari.” Suaminya berkata. Rupanya laki-laki itu sudah menggenggam satu-satunya payung di tangannya. Ia tak sabar menunggu istrinya berpikir.

”Jangan, Pak. Aku saja. Aku coba cari ke jalan yang kuingat pernah dilewati Nalea. Bapak di rumah saja, ya. Berdoa. Hujannya semakin deras, Pak.”

Laki-laki itu diam sejenak, hening sesaat, lantas menyerahkan payung kepada istrinya. ”Hati-hati, Bu. Hujan deras begini air meluber di mana-mana.”

Meski tampak berat, wanita itu kini mulai beranjak, membuka payung, lalu melangkah ke pekarangan yang sedikit direndam air beberapa sentimeter. Dengan sandal jepit wanita itu mulai menyibak derasnya hujan, suara gemeretak air jatuh dan memantul-mantul di atas payung, tetapi tetap saja sebagian pakaian wanita itu basah karena payung yang tidak begitu lebar. Kecipak air terdengar karena pijakannya di tanah berlumpur, namun wanita itu tidak peduli, ia tetap berjalan, mencoba untuk menembus pelukan hujan.

Tak ada tanda-tanda hujan akan segera berhenti, kini jalanan kampung yang berbatu itu pun sempurna dikelilingi genangan air. Jika satu jam hujan tetap tidak reda, mungkin jalanan tidak akan terlihat, mungkin akan seperti laut atau danau.

Nalea duduk di atas meja, entah mengapa ia tak lagi bersembunyi di kolong meja sambil menutup telinganya, ia mulai berani melihat semuanya. Suara petir kini tak mengganggunya, ia mulai terbiasa, meski wajahnya yang semakin pucat, ia menggigil, bibirnya gemetar, giginya gemeletuk, ia duduk sambil memeluk tasnya yang basah. Ia mencoba untuk berdoa, ia coba mengingat-ingat doa yang biasa diajarkan ibunya.

”Nanti Nalea mau minta maaf sama ibu. Lain kali Nalea mau menunggu kalau ibu datang terlambat.”

Gadis kecil itu mengusap wajahnya. Ia mencoba untuk tersenyum, mencoba menghibur dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya dipikirkan hujan? Sudah dua jam lebih ia turun mengguyur bumi, apakah hujan juga melihat seorang gadis kecil yang berteduh kedinginan di pos ronda itu? Apakah hujan turun karena sengaja untuk menakut-nakutinya? Padahal gadis itu hanya tidak sabar menunggu ibunya sepulang sekolah, lalu hujan mendahuluinya sebelum ia sampai ke rumah, hujan tak hanya membuat tubuh gadis kecil itu basah kuyup, tetapi juga sepatunya yang memijak genangan air dan kotor oleh lumpur, buku-buku dalam tasnya juga basah, apakah hujan mengerti gadis kecil itu kini takut dimarahi ibunya?

Hujan turun disertai angin, airnya jatuh ke selokan yang telah penuh, alirannya begitu deras, hujan turun membentur badan jalan yang berbatu, hujan turun menggelincirkan sampah-sampah dari tempat penampungannya, hujan menggugurkan rantig-ranting kering, hujan sangat menakutkan bagi gadis kecil yang sedang berteduh di pos ronda. Gadis kecil itu benar-benar melihat semuanya, ia menjadi saksi ketika hujan perlahan mulai membuat jembatan di kejauhan itu tak terlihat, air yang meluap dan meluber ke jalan, siapa pun yang melihat pasti merasa takut, air semakin meninggi meski perlahan-lahan, langit pekat seperti sudah sore, padahal ini masih siang hari, awan bergumul di atas sana, menurunkan air sambil membenturkan dirinya satu sama lain hingga menimbulkan suara kilat yang membuat terkejut penduduk bumi.

Sudah tiga jam berlalu, jalan raya desa kini lebih terlihat seperti laut, beberapa ranting pohon gugur dan mengalir. Angin berputar-putar di langit, mengempaskan air ke sana-kemari. Ibu Nalea sudah berencana untuk menyisir jalanan antara rumah dan sekolah sekali lagi, Nalea juga berencana cepat pulang selepas hujan reda meski masih takut dimarahi. Tetapi, hujan telah lebih dulu menjalankan rencananya, jika ibu dan anak itu dapat bertemu lagi setelah ini, keduanya tentu akan lebih saling menyayangi.

(Selokan Mataram, 2009)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme