Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mugiyono oleh Gunawan Maryanto

Posted on Ming, 18 Okt 2009

 

Namanya Mugiyono. Biasa dipanggil Enek, mungkin penyimpangan bunyi dari Ono, aku tak tahu pasti. Sejak aku lahir ia telah dipanggil Enek. Badannya besar, selebar dan setinggi daun pintu. Tapi wajahnya seperti anak-anak. Juga kelakuannya. Aku sangat betah bermain dengannya. Kurasa demikian juga ia. Temannya semua adalah anak kecil sebayaku waktu itu. Padahal usianya tiga kali usia kami. Kakak-kakak kami adalah bekas teman-temannya. Dan beberapa tahun kemudian kami juga meninggalkannya. Lalu adik-adik kami yang menggantikan posisi kami. Ia tetap berada di sana. Ia tak ke mana-mana. Sebagaimana namanya, ia selalu ada. Di tempatnya semula.

Aku tak ingat benar bagaimana awal mula perkenalanku dengan Enek. Tahu-tahu kami sudah sering main bersama. Dan sebagai pemilik badan paling besar, tentu saja ia sangat membantu kami. Misalnya untuk memanjat pohon kelapa mencari kelapa muda, atau menyelamatkan kami dari arus sungai yang terlalu deras. Enek adalah dewa penolong kami. Tapi juga badut yang kerap jadi bahan olokan kami. Entah kenapa kami suka menggodanya. Mungkin karena diam-diam kami merasa lebih pintar. Atau karena ia terlalu gampang kami bodohi. Ya. Lama-lama ia menjadi seperti adik kami. Kami yang harus mengemongnya. Dan untuk itu kami merasa berhak mengisenginya. Tapi ia adalah adik yang setia. Seperti Sukrasana kepada Sumantri dalam kisah pewayangan. Meski si adik terus-menerus dilukai, ia tetap setia dan membantu kakaknya. Demikianlah meski kemudian harus terbunuh di tangan sang kakak. Enek adalah Sukrasana, raksasa yang baik hati, yang mengusung taman Sri Wedari bagi kami. Dan setelah itu kami akan membunuhnya. Meninggalkannya sendirian.

Dan inilah kisah pembunuhan tersebut:

Saat itu kami lagi demam teater. Hampir tiap malam di musim ujian pementasan, kami menontonnya di kampus seni yang terletak persis di sebelah kampung kami. Enek juga ikut bersama kami. Dan ketika musim ujian itu telah selesai, kami bersepakat mendirikan kelompok teater sendiri. Enek ikut bergabung di dalamnya. Dengan gagah berani, tepatnya: asal-asalan, kami berlatih dan memainkan naskah-naskah ciptaan kami sendiri. Hingga akhirnya kami mulai berpentas dari panggung ke panggung kampung. Enek juga bermain. Dan ia selalu kebagian jatah menjadi raksasa atau perampok yang dungu dan gampang kami kalahkan. Tapi ia sangat menyenangi perannya. Kedua orangtuanya juga sangat bahagia melihat Enek tampil di atas panggung. Kami juga senang, karena tak satu pun dari kami yang mau memainkan peran tersebut. Di atas panggung kami membunuhnya berulang-ulang.

Hampir dua tahun kami bersama, hingga kemudian masing-masing dari kami berpisah. Aku mulai sibuk dengan teater di SMP-ku. Beberapa teman lain juga telah tergabung dengan kelompok teater anak yang lebih besar namanya di luar kampung. Kami juga mulai merambah drama-drama anak di televisi. Enek mulai kami tinggalkan. Ia tetap berada di kampung kami. Tidak ke mana-mana. Di luar kampung kami, ia tidak diterima sebagai anak-anak, sehingga tidak bisa bergabung dengan salah satu di antara kami.

Tiap kali berkumpul, di emper masjid selepas magrib, kami selalu saling membanggakan aktivitas masing-masing. Bagaimana kami bermain dengan aktor-aktor dewasa yang tenar, bermain drama di TVRI atau bermain ketoprak bersama pelawak-pelawak idola kami. Dan Enek mendengarkan semua itu dengan setia. Ia tak tampak iri atau sedih. Ini sebenarnya membikin kami agak jengkel. Sebagaimana anak-anak kecil yang lain, tentu saja kami akan merasa bangga jika ada yang iri dengan keberhasilan kami. Enek malah tampak senang dengan perkembangan dan kemajuan kami. Sialan. Kami semakin menjadi-jadi memamerkan cerita kami. Menambah-nambahinya di sana-sini. Kami berusaha membuat Enek iri dengan apa yang kami dapatkan di luar sana. Tapi kami tak pernah berhasil.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan Enek, aku mengumpulkan teman-teman. Aku mengungkapkan rasa sebalku kepada Enek. Aku bilang kepada teman-teman bahwa tidak mungkin Enek tidak memiliki keinginan seperti kita. Ia hanya berpura-pura saja, kataku. Mereka, seperti dugaanku, juga memiliki perasaan yang kurang lebih sama. Dongkol alias nggondhuk dalam bahasa kami. Lalu kami bersepakat untuk mengerjainya. Kami ingin membuktikan bahwa diam-diam di dalam hatinya, Enek iri kepada kami.

Ide pertama datang dariku. Aku akan mengiriminya sebuah surat undangan untuk shooting di TVRI. Dengan meminjam mesin ketik Budi, aku menulis surat undangan itu. Agar meyakinkan kami juga membuat kop surat dan stempel palsu. Kop surat kami bikin sebagus mungkin, mengambil nama sebuah kelompok teater terkemuka di kota kami. Lalu kami fotokopi agar lebih meyakinkan. Stempel kami buat dari karet penghapus. Andri yang mengukirnya dengan pisau lipat. Bunyinya seperti ini:

Kepada Yth. Enek Mugiyono

Di tempat

Dengan ini kami mengundang Saudara untuk hadir dalam pengambilan gambar di TVRI Stasiun Yogyakarta. Kebetulan kami membutuhkan pemeran seperti Saudara. Sudah lama sebenarnya kami mencari alamat Saudara Enek. Kami sudah sering mendengar kiprah Saudara di panggung. Untuk itu kami mohon kehadiran Saudara di Studio 2 TVRI pada tanggal 19 Januari 1991 pukul 14.00 WIB. Mengenai peran dan naskah akan kita bicarakan langsung di sana.

Salam hormat kami

Teguh S

Kami masukkan surat tersebut ke dalam kotak pos. Kami berdebar menunggu tanggal yang telah ditentukan. Dan selama menunggu waktu pengambilan gambar palsu itu, tiap malam kami berkumpul di rumahnya. Kami ingin mendengar apa yang akan diceritakan Enek kepada kami mengenai surat undangan tersebut. Kami berharap Enek akan memamerkan undangan tersebut. Tapi selama seminggu menjelang tanggal tersebut, Enek tak bercerita apa-apa. Bahkan tak tampak perubahan sama sekali di raut wajahnya. Ia juga tak tampak menyembunyikan apa pun. Kami saling pandang dan tanya, jangan-jangan surat itu tak sampai ke tangannya. Mendekati tanggal 19 kami makin berdebar. Rencana kami bisa saja gagal.

Tanggal 19 Januari, siang hari selepas pulang sekolah kami berkumpul. Kami berencana mengikuti kepergian Enek jika memang dia menerima dan memenuhi undangan tersebut. Akhirnya pada jam setengah dua siang, Antok yang berjaga di dekat rumah Enek melaporkan bahwa Enek sudah bersiap dengan sepedanya. Dan tak lama kemudian kami melihat Enek mengayuh sepedanya meninggalkan kampung kami. Ia tampak tergesa-gesa dan gelisah. Ia seperti tak ingin kepergiannya diketahui oleh siapa pun. Setelah agak jauh, kami menguntitnya. Benar. Ia menuju arah studio TVRI. Kami terus menguntitnya dari kejauhan.

Sesampai di gerbang studio TVRI Enek menghentikan sepedanya. Ia mendatangi kantor satpam dan menanyakan sesuatu. Agak lama mereka bercakap. Mungkin Pak Satpam tidak mengerti apa yang tengah ditanyakan Enek. Lalu kami lihat Enek mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Itu surat undangan kami. Pak Satpam geleng-geleng kepala lalu tangannya menunjuk-nunjuk sebuah gedung. Enek segera melajukan sepedanya ke gedung yang tadi ditunjukkan oleh Pak Satpam. Kami mendekat lagi. Kami menyandarkan sepeda kami di seberang jalan. Lalu mengendap mendekati tembok untuk melihat apa yang terjadi pada Enek. Setelah memarkir sepedanya, Enek berjalan menuju pintu gedung. Enek melangkah terus. Tapi makin lama langkahnya makin lambat. Dan akhirnya berhenti di anak tangga depan pintu. Ia berdiri terpaku. Seperti ragu-ragu. Ayo! Ayo! Kami bersorak dalam hati berharap Enek segera melangkah masuk. Agak lama ia berdiri di sana. Tapi akhirnya Enek melangkah juga. Tidak menuju pintu, melainkan menuju ke samping gedung. Lalu berbelok, menghilang di balik gedung. Kami tak mampu melihatnya lagi. Kami tak tahu apa yang terjadi di sana.

Akhirnya kami memutuskan pulang karena sudah satu jam lebih Enek tak juga muncul. Sepedanya masih tetap terparkir di tempat semula. Kami pulang dengan hati yang tak tenang. Jangan-jangan, Enek malah beneran ikut shooting di dalam studio. Niatnya mengerjai malah kami sendiri yang kena. Sial. Kalau pun Enek cuma ngumpet di sana, setidaknya ia berhasil membuat kami berpanas-panasan mengawasinya.

Selepas magrib kami segera menuju ke rumahnya. Pengin tahu apakah ia sudah pulang. Juga bertanya dari mana ia sesiangan tadi. Tapi kata ibunya Enek belum pulang, sedang pentas di TVRI. Kami saling pandang. Selepas isya kami balik lagi ke rumahnya. Hasilnya sama saja. Enek tetap belum pulang. Kami pulang ke rumah masing-masing. Aku tak bisa segera tidur malam itu. Jangan-jangan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Enek. Dan semua itu adalah salahku.

Keesokan paginya, sambil berangkat ke sekolah, aku mampir ke rumah Enek. Aku panggil-panggil namanya. Tapi ibunya yang keluar. Enek belum bangun, katanya, semalam pulang tengah malam. Aku lega sekali. Tak penting lagi apa yang dilakukan Enek kemarin siang hingga tengah malam. Yang penting Enek pulang dengan selamat. Aku mengayuh sepeda ke sekolah dengan ringan.

Kami merasa tak enak karena telah mengerjainya. Tapi kami sama sekali tak menyesali perbuatan kami. Kami hanya harus berjalan melingkar kalau mau shalat di masjid supaya tidak melintasi rumah Enek dan bertemu dengannya. Tapi kami yakin keadaan ini tak akan berlangsung terlalu lama.

Seminggu kemudian keyakinan kami terbukti. Kami sudah kembali bercanda di rumah Enek. Seperti semula. Seperti Enek tak pernah mengayuh sepedanya di siang terik untuk memenuhi undangan bohong-bohongan. Kami kembali mengumbar cerita-cerita kami. Dan Enek, seperti biasa, mendengarkannya sambil manggut-manggut, menganggap cerita kami biasa saja, tidak terlalu istimewa. Sehingga kembali kami merasa perlu menyusun rencana untuk mengerjainya.

Rencana kedua datang dari Budi. Ia pernah mendengar sebuah akademi seni yang cukup nyentrik. Saking anehnya akademi ini sering jadi bahan olok-olokan di kalangan seniman. Namanya ATI. Singkatan dari Akademi Teater Indonesia. Didirikan oleh seorang seniman tua yang sekaligus menjadi rektor dan dosen tunggal di sana. Rumahnya yang sempit dan mirip kandang ayam diubah menjadi ruang kuliah. Dan, lucunya, para mahasiswa di sana boleh membayar uang kuliah dengan gula dan teh. Nah, kami akan memanas-manasi Enek untuk mendaftar menjadi mahasiswa di sana.

Di sebuah percakapan dengan Enek, Budi melontarkan idenya. Ia bilang bahwa bakat Enek sebagai aktor panggung bisa hilang jika ia tak rajin mengasahnya. Bakat sebesar yang dimiliki Enek sungguh sayang jika ditelantarkan di kampung begitu saja. Aku dan teman-teman lain juga mengimbuhinya. Kipasan kami makin lama makin kencang. Dan membuat hati Enek mau tak mau berdesir juga. Ia mulai terbawa. Kenangannya di panggung sewaktu bermain bersama kami mulai tumbuh lagi. Lebih besar dari yang seharusnya. Tepat di titik inilah, Budi memunculkan nama ATI. Di depan Enek kami mendandani ATI sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi sebuah akademi seni terkemuka yang menjadi rebutan banyak mahasiswa. Bentuknya memang aneh, Nek, tapi begitulah sekolah seni yang bener, kataku. Dosennya cuma satu. Itu menunjukkan bahwa beliau adalah dosen yang luar biasa, tambah Budi. Dan kamu boleh membayar uang kuliah dengan beras atau apa saja. Tidak ada sekolah lain yang seperti itu. Sangat nyeni, kataku. Enek bilang malam itu akan berpikir dulu. Kami tahu dia tertarik. Dan pasti akan mengikuti bujukan kami. Studio TVRI tempo hari telah membuktikannya.

Keesokan paginya Enek sudah memunculkan jawaban. Siangnya selepas sekolah, kami berjanji untuk mengantar Enek mendaftar di sana. Siapkan saja fotokopi ijazah SMA-mu, kata kami.

Tak perlu lagi kuceritakan apa yang terjadi siang itu. Yang jelas hari berikutnya Enek telah berstatus mahasiswa. Mugiyono, mahasiswa ATI semester pertama. Ia mengajak kami makan di angkringan di hari pertama kuliahnya. Kami makan dengan lahap sampai kenyang.

Beberapa bulan kemudian kami mendapat undangan dari Enek untuk menyaksikan pementasannya. Pentas dalam rangka dies natalis kampusnya. Disna talis, katanya dengan bangga. Kami sama sekali tak bertanya kepadanya, peran apa yang akan dimainkannya. Kami yakin, perannya tak akan banyak berubah dari yang sudah-sudah: keluar sekali langsung mati, atau, keluar lama tapi tak bicara apa-apa. Aku dan Budi bertaruh limaratus perak. Aku untuk pilihan pertama dan Budi yang kedua.

Dan Budilah yang memenangkan taruhan. Enek menjadi seorang pengawal raja. Berdiri diam memegang tombak di belakang sang Raja sepanjang pertunjukan. Aku memberikan uang saku selama seminggu itu dengan gemas. Karena Enek akhirnya mati di akhir pertunjukan. Tapi kan tidak keluar langsung mati, kata Budi. Sekali lagi Enek terbunuh di panggung pertunjukan.

Tapi sesungguhnya, Enek tak bisa terbunuh dalam ingatanku, sekeras apa pun aku berusaha. Ia terus hidup dan melanjutkan kisahnya. Sampai beberapa hari yang lalu kudengar kabar ia telah menikah. Aku lega. Setidaknya ada seseorang yang akan menemaninya, dan kelak memberinya teman-teman kecil, yang akan menghiburnya di saat ia mau tak mau menjadi tua.

Jogjakarta, 2009

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme