Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ikan Terbang Kufah oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 07 Nov 2010

Kau tak tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti, Zaenab, dan ikan-ikan terbang itu menghilang bukan?

Kufah tidak percaya pada akhirnya orang-orang kota benar-benar akan menghancurkan makam Syeh Muso yang menjulur di ujung tanjung yang dikepung oleh hutan bakau dan cericit ribuan bangau. Mereka akan membangun resor di kampung penuh ikan terbang itu.

Kufah keberatan bukan karena nisan Syeh Muso sering menguarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, tetapi jika sewaktu-waktu tanjung itu turut dilenyapkan, ia tidak akan bisa berlama-lama memandang bulan sambil mengecipakkan kaki di kebeningan air laut yang jika pasang tiba, kerap mengempaskan segala benda tak terduga.

Kadang-kadang, kau tahu, saat bermain bersama perempuan-perempuan kencur lain, Kufah melihat perahu-perahu kecil merapat dan memuntahkan beberapa laki-laki—yang mereka sangka malaikat bersayap merah—berkerumun di makam Syeh Muso. Para lelaki itu mendesiskan suara-suara serupa cericit kelelawar, serupa doa-doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Kiai Siti—ayah Kufah—saat amuk laut menjilat-jilat beranda rumah, pohon-pohon bakau tenggelam, dan kegelapan menyuruk-nyuruk ke masjid kuno yang fondasinya telah terkubur oleh air asin.

Juga bersama Zaenab—perempuan penunggu makam, tiga puluh tahunan, yang seluruh tubuhnya bersisik dan hendak mengelupas itu—pada suatu malam dia merasa bertemu dengan sepasang malaikat berlampion putih agak redup yang tersesat di makam.

”Mengapa mereka ke sini?” tanya Kufah.

”Karena mereka menziarahi makam Syeh Muso, Kufah. Kau tahu, menziarahi makam Sang Junjungan sama dengan menziarahi raudah di Negeri Penuh Kemuliaan.”

Kufah tak paham desisan Zaenab. Meskipun demikian, ia tetap memandang segala peristiwa yang terjadi di makam tanpa berkedip sesaat pun. Ia takjub ketika di kedua bahu laki-laki dan perempuan dengan wajah bercahaya yang selalu bergandeng tangan itu, tampak tato sayap dengan warna pelangi yang menyilaukan. Yang lebih mengejutkan mereka menundukkan kepala kepada Zaenab, perempuan yang justru diusir dari kampung hanya karena seluruh tubuhnya bersisik, suka bicara sendiri, dan lidahnya bercabang.

Beberapa kali Kufah juga melihat sebuah perahu merapat dan pria tinggi bersorban berjalan-jalan tergesa-gesa ke masjid. Pada saat-saat seperti itu, Kiai Siti bersama lima lelaki dewasa penghuni daratan yang tenggelam akibat abrasi tersebut akan mendengarkan apa pun yang diucapkan oleh makhluk bermata merah menyala yang senantiasa menuding-nuding dan mengacungkan jari ke langit itu.

Kufah suka sekali mengintip dan mendengarkan secara serampangan khotbah tamu berjenggot yang lebih dikenal sebagai Panglima Langit Abu Jenar tersebut. Hanya, karena dalam bayangan Kufah, Abu Jenar tampak sebagai raksasa yang bengis dan rakus serta bersiap melahap apa pun, ia selalu meninggalkan rumah ketika Kiai Siti dan hantu bermulut penuh lendir itu bercakap tentang perjuangan akbar dan hutan bakau yang bakal digusur. Ia juga tidak suka pada Abu Jenar karena sang Panglima Langit selalu memandang dengan mata nakal setiap bersitatap dengan dirinya. Ia makin benci ketika mendengar gunjingan Abu Jenar hendak menjadikan dia sebagai istri keempat.

Akan tetapi, entah karena apa malam ini Kufah ingin mendengarkan apa pun yang diucapkan oleh Abu Jenar. Tak mudah mencuri dengar dari jarak yang agak jauh. Nyaris tidak ada kata-kata penting yang menyusup ke telinga. Kufah hanya seperti mendengar dengung lebah, kemudian berganti dengan cericit bangau, debur ombak, dan sesekali petir ketika Abu Jenar mengacung-acungkan tangan. Kufah pun kemudian berjingkat-jingkat lebih mendekat.

Kini suara-suara yang semula terasa aneh di telinga mulai bisa didengar. Hanya didengar… belum bisa dimaknai oleh Kufah yang masih sebelas tahunan.

”Tidak ada cara lain… kita ledakkan sendiri saja makam Syeh Muso ketimbang dihancurkan oleh mereka…,” kata Abu Jenar berapi-api.

Wajah Kiai Siti menegang. Meskipun demikian, Kufah tidak tahu mengapa ayahnya tidak berani menolak ajakan untuk menggusur makan kakek buyutnya itu.

”Jika perlu masjid dan kampung ini kita bakar. Jika mereka menghalang-halangi, kita harus bersiap mati!”

Seperti pada hari-hari sebelumnya, tidak ada yang berani melawan Abu Jenar. Karena itu, dalam benak Kufah yang belum bisa menggapai nalar, itu berarti perintah Abu Jenar akan dituruti. Makam Syeh Muso akan diledakkan. Api akan melahap kampung dan penduduk hangus percuma.

”Dan aku kira, malam ini adalah saat paling tepat untuk meledakkan makam itu. Bersiaplah kalian melaksanakan perjuangan besar ini!” cerocos Abu Jenar lagi, menjijikkan.

Sambil membayangkan api yang bakal melahap makam, Kufah teringat pada ikan-ikan yang berkecipakan di sekitar makam. Dia tak ingin melihat ikan-ikannya kepanasan.

Karena itulah dengan berjingkat-jingkat ia mencari juru selamat ikan. Dia mencari Zaenab. Zaenab pasti tak akan memperbolehkan makam Syeh Muso dibakar, diledakkan, atau dihancurkan oleh siapa pun. Dan kalau makam terselematkan, terselamatkan pula ikan-ikan kesayangan.

***

Laut pasang saat itu. Beranda tenggelam. Karena itu, tidak ada cara lain, Kufah harus menggunakan sampan kecil untuk sampai ke makam Syeh Muso yang sepanjang waktu tidak pernah terkubur amuk laut itu. Dan benar, Zaenab berada di keheningan makam. Perempuan itu sedang tafakur di makam sambil bertasbih. Kufah seperti melihat malaikat yang diasingkan dari surga tengah menangis sesenggukan. Ia melihat di kedua bahu perempuan yang tersingkir dari kampung itu, sayap hijau berkilauan menguncup dan mengembang seirama zikir seirama napas Kiai Siti seusai sembahyang.

Hmm, inilah sang pelindung makam, inilah yang akan melindungi ikanku, inilah yang akan melindungi tempat bermainku bersama teman-teman, pikir Kufah.

Tak lama kemudian Kufah menepi. Dengan tergopoh-gopoh ia menuju ke cungkup dan segera tafakur di hadapan makam Syeh Muso. Ia ingin memohon pada Allah lebih dulu agar makam keramat ini tidak diledakkan oleh Panglima Langit dan penduduk kampung. Ia ingin mengatakan kepada Zaenab agar segera meninggalkan makam dan mengungsi ke kampung sebelah.

”Ada apa kau ke sini malam-malam, Kufah?” Zaenab mendesis dan menggerak-gerakkan lidahnya yang bercabang.

”Panglima Langit akan meledakkan makam…. Aku mau menyelamatkan ikanku. Aku ingin ia tetap beterbangan di seputar makam. Sebenarnya aku ingin ikan itu mengaji pada Syeh Muso, tetapi Syeh Muso akan dibakar,” Kufah mendengus pelan, ”Tinggalkan tempat ini…”

Di luar dugaan Kufah, wajah Zaenab tak berubah sama sekali. Ia tetap tafakur dan merasa tak bakal terjadi apa-apa.

”Siapa pun tak akan berani meledakkan makam turunan raja, Kufah. Kau tahu, sekalipun orang luar menganggap Syeh Muso sebagai komunis yang menyamar jadi kiai terkemuka, ia tetap saja putra Raja Pemangku Bumi Ketiga yang memiliki istri dari keturunan Raden Fatah,” Zaenab mulai berkisah tanpa berpikir apakah Kufah tahu segala yang ia ceritakan.

Kufah memang tak tahu siapa Raja Pemangku Bumi Ketiga dan Raden Fatah. Ia hanya tahu jika makam diledakkan atau dibakar, kisah-kisah menakjubkan tentang Syeh Muso yang membangun kampung dalam semalam juga akan hilang. Dan yang lebih penting, ia tak ingin ikan piaraannya kepanasan dan Zaenab hangus terbakar.

”Kita hanya butuh hujan. Kita harus memohon Allah agar memberikan sihir hujan!” Zaenab mendesis lagi.

”Hujan? Untuk apa?” tanya Kufah tak mengerti maksud Zaenab.

”Bukankah hanya hujan yang bisa menghapus api?” Zaenab memberi jawaban, ”Tetapi tak mungkin akan muncul hujan pada saat bulan purnama, Kufah.”

”Aku bisa memanggil hujan!” teriak Kufah sambil membentangkan tangan seperti orang tersalib.

Lalu Kufah berjingkat-jingkat ke pusat tanjung. Ia bersujud menirukan Kiai Siti saat memohon hujan. Tetapi tidak setiap keajaiban datang sesuai keinginan Kufah. Hujan tak segera turun. Hujan tak segera datang.

***

Tanpa sepengetahuan Kufah, Kiai Siti bertanya kepada Abu Jenar mengapa Panglima Langit ngotot meledakkan sendiri makam Syeh Muso. Rupa-rupanya Kiai Siti mulai mengendus bau busuk pengkhianatan. Ia khawatir jangan-jangan Abu Jenar justru merupakan suruhan orang kota yang dikendalikan untuk segera menghancurkan kampung.

”Kalau mereka yang meledakkan, kita menjadi manusia-manusia yang kalah,” kata Abu Jenar, ”Sudahlah… aku sudah meletakkan bom di makam. Kita tinggal meledakkan dari sini, maka perjuangan akbar kita selesai.”

”Jangan! Jangan Tuan ledakkan dulu makam keramat itu. Izinkan aku menyelamatkan buku-buku penting di sana. Ketahuilah semua riwayat kampung dan silsilah keturunan Syeh Muso kami simpan di cungkup itu. Jika makam itu Tuan ledakkan sekarang, kami tak akan punya kenangan apa pun,” Kiai Siti mencoba mengulur waktu.

Apakah ia benar-benar ingin menyelamatkan buku? Entahlah yang jelas kini pandangan matanya menjelah ke berbagai sudut. Ia mencari istrinya. Ada. Ia mencari Kufah. Tak ada.

”Kufah pasti sedang berada di makam itu,” pikir Kiai Siti.

Karena itu tanpa memedulikan siapa pun, Kiai Siti meninggalkan masjid. Ia terjun ke laut. Ia berenang menuju ke tanjung, ke makam Syeh Muso. Ia tak ingin melihat tubuh Kufah terbakar atau tercerai-berai akibat ledakan bom Abu Jenar.

Tetapi terlambat. Di luar dugaan Abu Jenar dan penduduk lain, ternyata Kufah menemukan bom yang disembunyikan di sebalik nisan di bagian yang tidak diketahui oleh Zaenab.

”Mainan siapa ini?” tanya Kufah sambil menimang-nimang bom.

”Mainan? Itu bukan mainan, Kufah. Itu…,” Zaenab curiga pada benda yang juga tidak pernah ia lihat sepanjang hidup itu.

”Itu… apa?”

”Buanglah! Lemparkan ke laut!”

Tak ada jawaban. Lalu terdengar ledakan. Lalu terdengar sorak-sorai. Lalu tubuh Kufah menyala, memburaikan api yang menyerupai kibasan sayap-sayap malaikat menjilat-jilat apa pun yang diam dan berkelebat di makam.

Kini kau tak tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti, dan Zaenab, dan ikan-ikan terbang itu menghilang bukan?

Semarang, 15 September 2010

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme