Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki yang Membunuh Gorila oleh Karisma Fahmi Y.

Posted on Sel, 24 Jan 2023

Ia bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa tangan dan kausnya berlumur darah. Sebagian sudah mengering dan membuat kaus putihnya kaku. Darah siapa ini?. Sebagian bercak darah mengenai selimut dan seprai. Ia melepas kaus putihnya dan mencuci tangan di keran. Harusnya ia mengusap wajah dengan air untuk menyegarkan diri. Namun itu tak dilakukannya. Demam semalam masih menyisakan keringat dingin di tubuhnya.

Ia memanggil Bi Inah, pembantu yang mengurusnya selama ini. Orang tuanya meninggal lima belas tahun lalu. Sebuah kecelakaan beruntun merenggut orang tua dan dua adiknya. Saat itu ia berada di luar kota, baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Kehilangan yang begitu tiba-tiba itu membuatnya terguncang. Ia memutuskan untuk pulang dan tinggal di rumah itu bersama Bi Inah. Bi Inah bekerja di rumahnya sejak ia masih SD. Ia tak punya anak maupun keluarga lain. Bi Inah sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Meski geraknya sudah semakin lamban, namun perempuan tua itu masih kuat membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuknya.

Ia masih bertanya-tanya mengapa aroma anyir darah masih tercium di udara meski ia sudah mencuci tangannya dengan sabun. Ia kembali memanggil Bi Inah. Bi Inah tak menyahut. Mungkin ia sedang membeli sayur, pikirnya. Beberapa waktu ini pendengaran dan penglihatan Bi Inah mulai berkurang. Sering ia tak mendengar panggilannya meskipun mereka berada di jarak dekat.

Ia duduk di kursi makan. Bi Inah biasanya sudah membuatkan kopi untuknya di meja. Namun pagi itu tak ada kopi atau makanan apapun di meja. Ia membuka koran kemarin yang tergeletak di meja sambil mengingat-ingat kejadian semalam. Semalam ia pulang kantor dalam keadaan demam tinggi. Cuaca memang sedang tak menentu. Perubahan cuaca bisa terjadi sewaktu-waktu. Matahari sangat terik di siang hari, tapi lantai dan air yang mengalir dari keran terasa sangat dingin layaknya air es. Ia minum obat flu dan menyerahkan diri untuk tidur lebih awal. Hanya tidur yang membebaskannya dari demam dan kepala yang berputar-putar.

Ia merapatkan selimut hingga ke dada. Sesekali ia membuka mulut untuk bernapas, hidungnya pun buntu dan tenggorokannya kering. Ia ingin segera memejamkan mata. Namun dilihatnya seekor laba-laba raksasa di langit kamar. Benar-benar raksasa, karena besarnya melebihi antena parabola. Laba-laba yang tenang dengan kaki dan sungut panjang seperti di film-film. Ia acuh saja. Tubuhnya lemas seolah tak punya tenaga. Serangga itu berayun-ayun, lalu meluncur ke arahnya. Ia terjingkat dari tempat tidur dengan jantung yang berdegup kencang.

Ia salah, yang dilihatnya bukan laba-laba, melainkan gorila. Rumbai yang semula terlihat seperti kaki laba-laba ternyata adalah rumbai bulu-bulu gorila. Dari mana datangnya gorila ini? Ia berpikir keras. Rumah ini berada di tengah kota. Hutan terdekat tujuh mil ke selatan, kebun binatang tiga mil ke arah tenggara. Tak ada kelompok sirkus yang berkunjung di kota ini. Lalu dari mana datangnya primata purba ini?

Gorila itu mengerang, mengingatkannya pada ekspresi wajah bosnya yang brengsek. Mulutnya terus mendengus, mengingatkannya pada peristiwa siang tadi di kantor. Lelaki gemuk itu berteriak keras padanya di hadapan semua karyawan. Apa saja kerjamu? Tumpukan kertas ini kau sebut sebagai laporan? Suaranya menggaung ke seluruh ruangan. Ia membayangkan dinding-dinding akan runtuh karena suaranya. Tapi tidak. Harga dirinyalah yang seketika runtuh. Dalam hati ia hanya bisa merutuk. Tak hanya itu, lelaki itu mengoceh tentang kinerjanya di hadapan semua orang di kantor.

Gorila itu tampak tak bersahabat. Wajah berbulunya menyeringai seolah memiliki rencana menghabisinya. Seketika ia bergidik ngeri, seolah berada di film Jumanji yang sudah ratusan kali tayang di televisi.

Ia mencoba mengingat benda-benda di sekitarnya. Benda yang bisa digunakannya untuk melawan gorila itu. Di atas meja ada pisau lipat. Ia mengupas mangga sebelum tidur karena buah itu mengandung banyak vitamin C yang bagus untuk meredakan flu. Kulit dan biji buah mangga masih berserakan di atas meja. Biasanya Bi Inah yang membereskannya. Mungkin aroma mangga itu yang mengundang primata ini, pikirnya.

Ia masih mengingat-ingat benda-benda yang ada di sekitar jangkauannya. Ia menggeleng, tak mungkin bertarung melawan primata raksasa itu dengan pisau lipat. Ia teringat peristiwa beberapa bulan lalu saat ia duduk di taman untuk melepas lelah sepulang kantor. Seekor monyet kecil merebut donat yang dimakannya. Ia terlonjak kaget dan berteriak-teriak seperti orang kesurupan, menggegerkan orang-orang yang sedang pacaran, sementara munyuk itu melonjak kegirangan. Ia segera pergi dan tak mau berurusan lagi dengan monyet itu. Hingga beberapa waktu ia menghindari taman dan lebih memilih duduk di kafe untuk melepas penatnya.

Ia menggeleng. Tak mungkin mengalahkan gorila dengan pisau lipat, sementara teringat munyuk kecil itu saja ia sudah gentar. Ia masih mengingat-ingat benda-benda di sekitarnya yang bisa digunakannya sebagai senjata. Lalu ia ingat gulungan plastik sampul buku di pojok ruangan. Ia memiliki banyak buku dan dengan telaten menyampulinya sebelum membaca. Gulungan plastik itu satu-satunya benda yang bisa diharapkan untuk menghadapi primata besar itu. Namun kembali ia menggeleng. Benda itu terlalu berat, dan binatang itu sangat kuat. Bisa jadi aku celaka saat menggunakannya untuk menyerang. Gulungan plastik itu memiliki diameter yang besar. Cukup merepotan menggunakannya.

Ia terus berpikir dan mengingat benda-benda di sekitarnya. Kamus, album foto, gunting kecil, penggeret solasi. Ia mulai menyebutkan satu persatu benda-benda di dekatnya. Ia mulai putus asa. Tak ada benda yang bisa dijadikannya senjata.

Ia menyerah. Seharusnya ia memiliki satu senjata api. Senjata yang bisa digunakan untuk saat-saat seperti ini. Lalu ia teringat tombak dan senapan yang tergantung di dinding ruang tamu. Ia pernah bertanya pada kakek untuk apa memajang senjata itu di sana. Ada senapan dan tombak yang dipajang di dinding ruang tamu.

Kakek tersenyum lebar memamerkan gigi tembakaunya. Kakek memang suka mengisap tembakau. Tak seperti rokok-rokok keluaran pabrik, rokok tembakau yang digulung kakek mempunyai aroma yang khas. Kesukaannya merokok itu membuat giginya sewarna tembakau yang diisapnya. Untuk berjaga-jaga dari apa saja yang menyerang tiba-tiba, kata Kakek. Ia tak mengerti. Ujung tombak yang runcing dan berkilat itu membuatnya ngeri membayangkan tubuh-tubuh yang ditembus senjata itu. Dan meskipun senapan itu tak lagi terisi peluru, ia sering membayangkan tubuh-tubuh yang ditembus peluru. Entah sejak kapan ia tak menyukai bayangan itu. Bayangan kisah perang ataupun tragedi pembunuhan membuatnya bergidik ngeri. Sekali lagi kakek terkekeh. Justru harusnya kita merasa nyaman, karena tak ada yang berani mengusik kita.

Ia tetap menggeleng tak mengerti, dan memahami bahwa kakek memasang senjata itu di sana hanya karena alasan nostalgia. Kakek seorang pejuang. Ia mengikuti perjuangan merebut Merah Putih di bawah komando Jenderal Sudirman. Dua senjata itu menjadi saksi masa-masa perjuangannya. Kakek meninggal di usia delapan puluh, saat itu ia masih kelas dua SMA. Hingga kakek dikuburkan, kekhawatiran kakek tak pernah terjadi. Atau mungkin juga kakek benar, tak ada maling atau sejenisnya yang berani mengusik mereka karena tahu bahwa senjata itu masih tersimpan apik di sana. Ia tak tahu. Sampai saat ini tombak dan senapan itu masih dipajang di dinding ruang tamu. Mungkin memang sedikit berdebu dan berkarat karena waktu, namun keberadaan dua benda itu sebagai senjata di rumah ini masih sama. Kini ia tahu mengapa setiap orang harus memiliki senjata. Ia baru menyadari kakeknya benar, pentingnya memiliki senjata di rumah untuk menjaga dari hal-hal yang tidak terduga seperti saat ini.

Ia terus menatap gerak-gerik gorila itu. Kepalanya berat dan pandangannya mulai berputar-putar. Gorila itu mendengus, cuping hidungnya mengendus-endus udara. Ia berpikir keras cara untuk bergerak cepat, meski tubuhnya terlalu lemah untuk melakukannya. Tak mungkin menggunakan tombak maupun senapan untuk melawan gorila itu. Tombak dan senapan di ruang tamu terlalu jauh dari jangkauan. Gorila itu akan menyerangnya sedetik setelah ia turun dari tempat tidur. Kepalanya semakin pening. Ia menyerah dan memutuskan akan menggunakan gulungan plastik sampul di pojok kamar kalau monyet besar itu menyerang. Belum sempat meraih gulungan plastik, gorila itu sudah mengambil pisau lipat di atas meja. Gorila itu melihat ke arahnya layaknya kelinci percobaan. Entah kekuatan dari mana, ia bangkit dan merebut pisau lipat dari tangan kera raksasa itu. Ia mengayunkan pisau lipat itu ke sembarang arah, melindungi diri.

Gorila itu terus menghindar dari tikaman yang dilayangkannya. Ia kembali mengayunkan pisau lipat, menyerang timbunan lemak di perutnya. Gorila itu berlari keluar kamar. Entah keberanian dari mana, ia mengejar dan menangkap gorila itu tanpa ampun, menarik bulu-bulu panjangnya dan berusaha menikamnya. Ia menikam tubuh gorila itu dengan pisau lipat sambil membayangkan menikam tubuh besar bosnya yang brengsek di kantor. Akhirnya gorila itu rubuh. Ia terengah-engah. Gorila itu tak lagi bergerak. Ia meninggalkan gorila itu di ruang tengah dan membiarkannya tetap di sana.

Kepalanya berat berputar namun perasaannya berangsur lega. Ia berjalan kembali ke kamar, menuju dipan dengan tubuh terhuyung. Angin masih bertiup kencang di luar. Tangannya berlumuran darah. Ia membayangkan air keran yang dingin dan mengurungkan niat mencuci tangan dan tubuhnya. Dirapatkannya selimut hingga menutup kepala. Di sanalah gorila dan bayangan bosnya menghilang.

Pagi itu ia bangun dengan kepala lebih ringan meski masih ada hawa dan keringat dingin di sebagian tubuhnya. Ia sudah mengganti kaus dan mencuci tangannya, namun aroma anyir darah masih mengikutinya. Ia duduk di meja ruang makan. Angin masih bertiup dari jendela, meniupkan anyir darah ke seluruh ruangan. Lelaki itu kembali memanggil-manggil Bi Inah, dan memintanya membawakan secangkir kopi seperti biasanya.

Agustus 2022

****

Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Aktif mengajar di SD Takmirul Islam Inovatif Surakarta. Esai, cerpen, dan puisi-puisinya pernah dimuat di harian Kompas, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Majalah Sastra Horison, Koran Tempo, harian Media Indonesia. Buku kumpulan cerpennya adalah Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian diterbitkan oleh Penerbit Basabasi, dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

sumber : kompas.id, 24 Jan 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme