Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : “Gift” oleh Tesalonika Taroreh

Posted on Sab, 18 Mar 2023

Pria tua dan miskin itu adalah ayahku. Kami hidup tinggal berdua, sejak ibu memutuskan untuk meninggalkan aku dan ayah ketika aku berumur 5 tahun karena tidak sanggup hidup miskin. Ia yang tidak tahan berkelahi setiap hari dengan ayah karena uang memilih mencari kehidupan baru di luar sana. Aku tidak tahu mengapa ayah membiarkan ibu pergi begitu saja, tanpa berusaha untuk mencari pekerjaan yang tetap guna memperbaiki keadaan ekonomi kami.Aku tidak menyukainya, karena dia orang yang gagal dan bodoh sehingga kehidupan kami tak sekaya temanku yang lain. Ayah bekerja serabutan setiap harinya, dan ia harus bekerja lebih keras dari pada semua ayah temanku. Di pagi hari, ia menjual koran dari rumah ke rumah, siang hari ia akan menyebar selebaran-selebaran yang bahkan akupun tak tahu apa isi selebaran itu. Kulihat ia menawari selebaran itu kepada semua orang yang lewat di persimpangan jalan. Beberapa orang mau mengambilnya, tetapi banyak juga mengacuhkan uluran tangan ayah. Pernah sekali aku melihat seorang pria mengambil selebaran itu, meremasnya lalu melemparkan kembali kepada ayah. Ayah hanya tersenyum kepada pria itu tanpa berniat untuk memarahinya bahkan memukulnya. Aku bingung mengapa ada orang seperti ayah di dunia ini. Sore hari ia akan berubah menjadi seorang badut. Ia akan berlatih melucu selama 30 menit di depan cermin. Setiap kali melihatnya berlatih di depan cermin aku selalu tertawa. Ia memang benar-benar lucu. Tetapi, aku tidak tahu ia tampil menjadi badut di mana, aku tidak pernah ikut pergi bersamanya. Walaupun ia selalu mengajak aku pergi, aku menolak dan memilih untuk tinggal di rumah. Ketika malam tiba, barulah aku bisa menikmati waktu yang ada bersamanya. Terkadang ia juga harus menjadi kuli yang membantu memasukkan barang-barang setiap orang yang belanja ke angkot.Malam itu, kami berdua sedang berbincang-bincang mengenai sekolahku hari itu. Aku bercerita dengan semangat yang membara, tetapi ia malah sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa mau melihat diriku bercerita. Kulihat ia sedang menulis sesuatu di secarik kertas berwarna pink. Aku mengambil kertas itu lalu membacanya “Engkau akan menjadi ORANG YANG BERGUNA! Percayalah!”. Aku tersenyum, lalu memandangnya dan mengatakan dalam hatiku bahwa aku pasti akan menjadi seperti itu kelak.“Hei, itu bukan untukmu,” katanya padaku lalu mengambil potongan kertas itu.Api semangat yang tadinya membara seketika padam setelah mendengar perkataannya itu. Perasaanku hancur, mengapa itu bukan untukku? Tanyaku pada dirinya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaanku.Dengan kesal aku masuk ke kamar dan memilih untuk tidak berbicara lagi dengannya. Mengapa ia menyemangati orang lain untuk menjadi orang yang berguna ketimbang aku sendiri sebagai anaknya. Kututup pintu kamar sekeras mungkin agar ia sadar bahwa aku ini anaknya bukan orang lain di luar sana. Dan seharusnya kertas itu ia berikan padaku. “Ah sudahlah, biarkan saja dia. Toh juga aku tidak menyukainya. Ia ayah yang gagal” kataku sembari melemparkan bantalku ke langit-langkit kamar yang hanya berjarak 1,5 meter di atasku. Aku berpikir dengan pintu yang tertutup keras membuat hatinya tergerak dan ia akan datang menghampiriku lalu memberikan kertas penyemangat itu padaku. Tapi nyatanya, ia tidak juga datang.Esok paginya, aku sudah siap untuk ke sekolah. Kulihat ia masih tertidur pulas di sofa ruang tamu dengan buku di tangannya. Kuambil buku itu dan melemparkannya pada meja. Mendengar bunyi buku yang kulempar pada meja, seketika ia langsung bangun.“Kita terlambat untuk ke sekolah,” kataku dengan nada sedikit kesal.Ia meminta maaf, lalu dengan buru-buru ia bersiap untuk mengantarku. Saat di sekolah, guru menyuruh kami menuliskan siapa yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup kami. Semua temanku menjadikan ayah atau ibu mereka menjadi sumber insipirasi. Aku memilih untuk tidak menuliskan nama siapa-siapa pada bukuku sebagai sumber insipirasiku. Aku tidak pernah menjadikan ayah sebagai sumber inspirasiku dalam menjalani hidup. Ia bodoh dan miskin. Aku tidak menyukainya karena hal itu. Di sekolah, aku termasuk anak yang cerdas. Itu membuatku percaya diri bahwa aku akan menjadi orang yang berguna dan kaya nantinya.Selepas ia bekerja, ia akan menghitung uang yang ia hasilkan dalam sehari. Kami berdua akan duduk di meja makan, ia menghitung uang dan aku belajar.“Ini uang sakumu, dan aku sudah melebihkannya sedikit,” katanya sembari memberikan uang padakuDengan tersenyum aku menerima uang itu. Tapi, seketika ia langsung mengeluarkan celengan dan menyuruhku untuk memasukkan uang itu dalam celengan. Aku sedikit kesal, bagaimana tidak, baru saja aku mendapatkan uang lebih dan sekarang aku diminta untuk menyimpannya dalam celengan. Hari itu, aku berniat untuk tidak menyimpan seperser pun uangku untuk ditabung, tetapi ia mengambilnya dari tanganku lalu memasukannya. Karena kesal, aku berani bertanya mengapa kami tidak pernah kaya. Dengan senyuman, ia menjawab bahwa “menjadi kaya bukan tentang berapa banyak yang kamu punya, namun berapa banyak yang kamu beri. Saat kamu memberi, kamu akan merasa lebih bahagia.”Tetapi menurutku, memberi itu bukan menjadikan aku bahagia, tetapi itulah yang membuat kami tidak pernah kaya. Aku tidak pernah bahagia ketika memberi, mengapa harus memberi kalau mereka bisa mencarinya sendiri. Terkadang aku tidak mengerti alur hidup ini.Sejak saat itu, kuputuskan untuk belajar sekeras mungkin, agar kelak aku akan menjadi orang yang sukses dan memiliki banyak uang. Aku tidak ingin hidupku di masa depan sama seperti ayahku. Ketika aku duduk di bangku SMA, aku memutuskan untuk mendaftarkan diriku di berbagai universitas yang menawarkan beasiswa. Aku bertekad untuk mencari kehidupanku sendiri daripada mengandalkan seorang ayah yang tidak berguna sama sekali.

Di SMA aku belajar sebaik mungkin. Tak ada hal lain yang kulakukan selain belajar. Setelah ujian akhir selesai, aku mendapat panggilan dari sekolah. Kepala sekolah memberikanku amplop putih yang bertanda UCLA. Kuambil amplop itu dan segera keluar dari ruangan kepala sekolah.Kubuka amplop itu dan membacanya. Isi amplop itu membuat jantungku berdetak kencang. Kupercaya amplop itu akan menjadikanku orang yang sukses. Aku diterima untuk berkuliah di Universitas of California, Los Angeles dengan beasiswa 100 persen. Dengan perasaan bangga aku melangkahkan kakiku menuju rumah. Aku mendapatkan ayah sedang duduk di kursi depan rumah sembari minum kopi. Kutunjukkan surat itu padanya. Dengan air mata kebangaan ia berdiri lalu memelukku erat-erat. Hari keberangkatanku ke LA sudah tiba, di bandara ia tak henti-hentinya tersenyum dan mengatakan bahwa ia bangga padaku. Sebelum waktu boarding tiba, ia memberiku sejumlah uang untuk membeli keperluanku di LA nanti. Aku menolak uang itu karena memang aku tidak butuh uang darinya. Biarkan saja uang itu ia pakai untuk hidupnya sendiri.Beberapa tahun sudah berlalu sejak aku tiba di tempat ini. Sejak saat itu aku belum pernah kembali ke Indonesia. Sewaktu Ayah meninggal aku pun memilih untuk tidak kembali ke Indonesia karena aku sibuk dengan pekerjaanku. Aku lebih memilih pekerjaanku daripada ayahku karena melalui pekerjaanku aku bisa kaya. Aku tidak menyukainya sebagai ayahku. Setelah memiliki uang yang banyak, aku memilih untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di sana.Sampai di Indonesia, aku langsung menuju rumahku. Sampai di rumah, ternyata tidak banyak yang berubah. Aku masuk ke kamar ayah, kulihat sekeliling dan menemukan koper merah yang rasanya asing di atas lemari. Kuambil koper itu, dan membukanya. Koper itu berisi surat-surat dari Chest Community yang mengucapkan terima kasih karena telah berdonasi untuk anak-anak di sana. Dan anehnya, semua surat itu tertera namaku sebagai orang yang berdonasi. Aku bingung lalu menelepon tempat itu dan memutuskan untuk pergi melihat ke tempat tersebut. Sampai aku di sana, aku disambut dengan penuh kehangatan oleh mereka. Aku mengatakan bahwa aku mendapat surat yang menuliskan bahwa aku telah berdonasi ke tempat ini, tetapi nyatanya aku tidak pernah menyumbangkan apapun pada tempat ini. “Itu semua ayahmu yang melakukannya, ia memberi harapan bagi anak-anak di tempat ini. Semua itu dilakukannya atas namamu, tetapi ia ingin kamu tidak mengetahuinya.” Kata salah satu pegawai di tempat itu.

Aku bertemu dengan pemimpin tempat itu, dan pemimpin tempat itu mengatakan bahwa ayahku melakukan banyak hal untuk tempat ini, ia memberi senyuman bagi anak-anak di tempat ini. Ia tidak hidup mementingkan dirinya sendiri. ia selalu berusaha untuk membantu orang lain. Ia menyimpan semua kesedihan dan kesakitan dalam dirinya sendiri.Aku menerima penghargaan yang bahkan tidak kulakukan sekalipun dalam hidupku. Setelah mendengar semua penjelasan dari pemimpin yayasan itu, seketika hatiku hancur, dan penyesalan yang kuyakin tidak akan pernah berakhir muncul dalam diriku. Mengapa selama ini aku tidak mengetahuinya. Kataku menyalahkan diri sendiri.Dengan air mata aku kembali ke rumah dan mengambil foto ayah. Aku menangis tersedu-sedu menyesali perbuatanku selama ini kepadanya.Pada hari ulang tahun ayah, kubuka kembali koper coklat yang berisi pakaian badut ayah dan memakainya. Aku datang ke yayasan di mana ayah selalu ada di sana dan berusaha menghibur anak-anak yang ada di tempat itu. Aku tahu ia pasti mengharapkan hal itu padaku. Saat itu aku baru menyadari, bahwa memberi memang sejatinya akan membuat kita bahagia.

***Tesalonika Imelda Taroreh, pribadi berzodiak Taurus yang menyukai travelling dan membaca. Alumnus Universitas Pelita Harapan, Pendidikan Bahasa Indonesia, di Tangerang, Banten.

sumber : kompas.id, 18 Mar 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme