Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kisah yang Disimpan Keheningan… oleh Yanusa Nugroho

Posted on Ming, 20 Nov 2022

Perkenalkan, sebut saja aku keheningan –mungkin lebih mudah bagimu untuk menandai dan mengakui kehadiranku di sini. Aku ada di mana saja dan kapan saja. Dan apa yang akan kupaparkan ini adalah sepenggal peristiwa yang tertangkap lalu kusimpan untuk suatu kali

(dan sekarang inilah saat itu) kukisahkan kepadamu. Ini kisah si pemburu yang tak tahu bahwa sebentar lagi dia akan mati. Tapi, siapakah yang tahu saat kematiannya akan tiba? Bahkan aku…

Jadi, begini petikan kisah yang kusimpan itu…

JADI, di dalam diriku ini juga ada roh?”

”Ya.”

”Kau juga?”

”Ya.”

”Kau menderita?”

”Apa maksudmu?”

”Kalau kau menderita karena merasa terperangkap, akan kubantu kau bebas…” candaku, dan Kadu terbahak-bahak.

”Aku tidak mengerti, Kadu. Ucapanmu terlalu sulit dipahami pemburu sepertiku ini.”

”Aku mengerti mengapa kau tak bisa mencerna semua yang kujelaskan karena memang tidak semua manusia paham.”

”Jadi, untuk apa itu semua kalau tidak bisa dipahami semua orang?”

”Itu sebabnya kita semua wajib belajar. Wajib mengetahui. Wajib memahami. Dengan berbagai cara, sampai kapan pun.”

”Betapa melelahkannya hidupmu, Kadu.”

”Mengapa?”

”Sampai setua ini pun kau masih harus belajar. Kapan kau mulai hidup?”

Kadu hanya tergelak-gelak. Manusia yang satu ini seakan tak punya kemarahan sama sekali.

”Dasar pemburu bodoh. Siapa tahu, kau dulu adalah seorang pangeran.”

”Ah, apa pula itu?”

”Tak pernahkah dalam hidupmu, kau mendapatkan pencerahan tentang roh yang dilahirkan kembali?”

”Kadu, yang kutahu, saat ini kepalaku sakit sekali mendengar kata-katamu yang aneh ini.”

”Hahahahaha… Atau jangan-jangan kau dulu seekor katak hahahahaha…”

”Bicaramu mirip orang gila, Kadu. Mari, kita makan ayam hutan ini. Ini lebih nyata. Gurih.”

 

Seusai pembicaraan itu, si pemburu itu –entah bagaimana– berhasil melarikan diri dari penjara, meninggalkan Kadu, meninggalkan segala hukuman yang sama sekali bukan atas nama kesalahannya.

 

Gelap. Kabut pekat turun. Angin mati. Langit tak berbintang sama sekali. Aku di sini. Sendiri, hanya berdua dengan napasku, satu-satunya hal yang bisa kupercaya bahwa diriku masih ada. Sepi. Bahkan derik serangga malam pun tak ada. Bisu. Semua beku. Apa yang tengah terjadi?

Mengapa tiba-tiba semua seperti ini? Aku seperti buta dan telingaku hanya menangkap suara napasku sendiri. Inikah kematian yang sering dibacakan orang-orang di rumah-rumah suci itu. Dulu aku pernah mencuri dengar –karena aku tak akan diperbolehkan duduk bersama anak-anak dari kasta yang lebih tinggi. Kastaku, entah apa namanya ini, membuatku tak mungkin mengetahui ajaran lontar.

Ya, dalam pendengaranku yang menurutku luar biasa tajam itu, aku mendapatkan gambaran bagaimana kematian itu datang kepada kita. Rasanya, tak berbeda jauh dari apa yang sedang kualami saat ini. Tidak. Kurasa aku belum mati, dan ini bukanlah saatnya.

Aku percaya pada keyakinanku sendiri bahwa napasku masih bagus dan hanya karena kepanikanku saja pikiranku mengembara ke berbagai hal. Tidak, aku tak mau mati. Aku harus mencari pohon karena di permukaan tanah, dalam keadaan tak bisa melihat atau mendengar ini, aku bisa menjadi makanan harimau.

***

Oh, mengapa malam mendadak pekat seperti ini? Mataku seperti tertutupi lumpur. Ah, tidak… aku terlalu membesar-besarkannya. Aku masih bisa melihat batang dan daun-daun ini meskipun harus kulihat dari jarak kurang dari sejengkal. Ya, aku tidak buta, hanya saja malam ini memang terlalu keparat pekatnya.

Kurasa dahan ini cukup tinggi. Ah, benarlah. Aku bisa duduk dengan nyaman di sini, dan hei… bukankah itu permukaan telaga? Telaga? Hahaha berarti di sinilah sebaiknya aku mengincar hewan-hewan yang akan minum. Ah, mataku tak mampu menembus gelapnya malam ini. Semua hanya bayang-bayang sangat samar-samar. Kukutuki malam yang menjebakku. Kukutuki malam yang menggelapi mataku. Kukutuki malam yang membuatku harus jauh dari anak-istriku. Kukutuki malam yang keparat ini.

Aku harus berjaga semalaman, sampai paling tidak terang tanah esok hari. Aku tak mau tertidur dan jatuh menjadi mangsa harimau. Aku pemburu dan bukan makanan hewan buruanku.

***

Kupetik daun. Kucium. Ah, aromanya mirip daun maja. Apakah ini memang pohon maja? Apa peduliku? Aku ingat, ketika kecil dulu, aku sering diajak bapakku ke pelabuhan.

Di pelabuhan aku mengenal benda-benda aneh, megah, besar, dan mampu mengangkut barang dan manusia. Kata bapak, itulah yang disebut kapal.

”Mana rodanya?” tanyaku.

”Kapal ini bergerak di atas air. Mengapung. Jadi tak beroda.”

”Bagaimana jalannya?”

”Bila tak ada angin, kapal ini digerakkan oleh dayung. Kaulihat, Anakku, yang di sana itu…”

Aku melihat benda panjang dengan ujung pipih melonjong. Itulah dayung.

”Itu? Kecil sekali?”

”Hahaha… ya, jika dayung yang itu untuk perahu, bukan untuk kapal. Dayung kapal lebih besar.”

”Kalau ada angin?”

”Maka kapal ini akan membentangkan layarnya.”

”Layar?”

”Itu, yang digulung di tiang-tiang besar dan tinggi itu… Angin akan meniupnya dan kapal akan berlayar.”

Entah apa saja yang keluar dari bibir bapakku saat itu, aku tak ingat lagi. Yang kuingat adalah diriku menaiki kapal dan berlayar ke negeri-negeri jauh. Kulihat kesibukan di pelabuhan. Orang-orang, termasuk bapakku, memunggah barang ke kapal. Turun berderet-deret. Naik berderet-deret dengan pundak memanggul barang. Seperti semut beriring. Angin laut menyibak-nyibak rambutku. Udara kebebasan yang luar biasa kurasakan saat itu.

Kulemparkan sehelai daun ke telaga.

Kapalku berlayar mengikuti tujuan yang ditetapkan sang nakhoda. Barang-barang dikirimkan ke negeri-negeri jauh di seberang sana.

Sehelai lagi daun melayang ke telaga, mengalir perlahan entah ke mana.

Ah, perjalanan yang luar biasa. Kata bapakku, yang kuingat, di laut banyak ikan besar. Ada yang bisa berlompatan, mengiringi kapal-kapal.

Aku tersenyum mengenang itu, lalu kulemparkan lagi sehelai daun maja. Dalam pekat malam aku seakan bisa melihat helai daun itu melayang, kemudian setelah mencapai permukaan air, mengambang dan bergerak perlahan, entah mengapa.

”Sejauh-jauh kapal berlayar, dia harus merapat di pelabuhan,” ujar kakekku. Di malam penguburan bapak saat itu, aku sempat menceritakan kembali betapa gembiranya aku diajak bapak ke pelabuhan. Kakek paham benar betapa dekatnya aku dengan bapakku.

”Untuk apakah merapat kalau akhirnya pergi lagi?”

”Demikianlah perjalanan hidup, Cucuku. Kau hanya bisa mengatakan pergi kalau kau berangkat dari suatu tempat. Dan kau bisa mengatakan pulang kalau kau menuju sesuatu yang kautinggali…”

Ya, tapi saat ini aku tak bisa pulang. Kulemparkan sehelai daun dan kuharap aku bisa segera pulang.

Mataku memberat. Kuraih beberapa helai daun. Kepada setiap daun aku bertanya tentang apa saja yang telah disaksikannya selama berada di sini. Tetapi kebisuannya yang luar biasa ini memang menjengkelkan. Kulemparkan dia ke air dan biarlah hanyut seperti nasib yang lainnya.

Ya, mungkin juga seperti nasibku kini. Kubiarkan hanyut entah sampai ke mana.

Aku terjebak dalam malam aneh.

Mungkin inilah saatnya alam memintaku untuk duduk diam dan merenungkan diri. Mungkin memang inilah saatnya alam memintaku melakukan sesuatu karena selama ini aku hanya memintanya membantuku?

Mungkin memang inilah saatnya aku tidak boleh mempertanyakan apa-apa. Aku harus diam. Aku harus tuli. Aku harus buta. Agar semua kelemahanku ini mampu memberikan ruang luas bagi hati kecilku yang selama ini terkungkung berbagai kemarahanku.

Barangkali memang inilah saatnya. Barangkali memang malam sedang berbicara padaku.

Kulemparkan daun ke air. Dan aku mencoba tak berpikir apa-apa. Kuserahkan semuanya entah kepada siapa. Aku hanya merasakan diriku seorang bayi merah yang bahkan hanya bisa menangis dan meminta untuk dikasihi dan dicintai. Tak lebih dan tak kurang.

Perlahan-lahan rasa lapar ini menghilang. Rasa dingin ini melenyap. Rasa takut pun sirna. Kurasakan diriku pun lenyap. Kurasakan diriku adalah helai-helai daun yang melayang, menyentuh permukaan air, dan menyerahkan diri sepenuhnya pada aliran air akan dibawa ke mana. Tak peduli apakah akan sampai pada suatu tempat, atau bahkan tenggelam ke dasar sana. Tak ada keinginanku untuk melawan. Kukosongkan diriku. Tak ada lagi kemauan, tak ada lagi keinginan, tak ada lagi aku.

Begitulah. Hanya beberapa waktu kemudian aku menangkap warna tangisan dan kesedihan yang mendalam dari istri dan lima anak si pemburu itu. Sampai kini kukisahkan, tak bisa kupahami, apakah malam itu sebenarnya dia sudah berpamitan kepada dunia ini? Aku tak tahu, dan aku juga bukan tabib yang bisa menyatakan penyakit yang merenggut nyawanya. Haruskah sakit itu penyebab mati? Haruskah tua penyebab mati? Semua misteri dan aku –keheningan– tak punya jawaban. (*)

—

YANUSA NUGROHO : Penulis kelahiran Surabaya, Jawa Timur. Karya-karyanya antara lain Bulan Bugil Bulat (1989), Cerita di Daun Tal (1992), Segulung Cerita Tua (2002), Di Batas Angin (2003), Manyura (2004), Boma (2005), dan Setubuh Seribu Mawar (2013). Peraih Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa untuk Boma.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 20 November 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme