Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bleki oleh A. A Hafidz

Posted on Kam, 01 Jun 2023

Kira-kira bulan Januari si Bleki hilang. Mungkin seperti masalah kucing lain. Si Bleki yang baru berumur setahun itu sudah baligh. Sudah saatnya musim kawin. Cara mengeongnya mengeluarkan suara lebih keras dan berat. Sudah sering menjilati kelaminnya sendiri. Pulang pun sebatas mengisi perut agar mempunyai tenaga untuk merayu kucing betina yang belum pernah saya lihat. Mungkin sedang mencari kucing betina tetangga yang jauh dari rumah.

Barangkali orang di rumah terlalu sayang. Si Bleki tidak pula dimasukkan ke kandang. Toh, kalau ada hanya kandang ayam. Pernah sekali si Bleki sakit perut karena keracunan rumput yang disemprot obat, akhirnya ia mencret. Sudah pasti tahi kucing kalau di dalam rumah baunya sulit hilang karena orang di rumah terlalu sayang pada si Bleki ya, mau tak mau, saya bersihkan. Sebenarnya saya juga sangat benci kalau kucing buang tahi sembarangan tetapi karena ia sakit, tidak perlu juga saya marah. Adik saya juga pintar merawat si Bleki, sudah dibelikan obat khusus kucing, lagi pula si Bleki kucing mandiri kalau buang tahi selalu di luar rumah. Meski buang tahi di rumah tetangga yang kosong. Si Bleki selalu buang tahi di bawah pohon rambutan.

Sejak hari pertama si Bleki tidak pulang, adik selalu cemas. Ia selalu tidak bisa diam, ia mondar-mandir, ke teras rumah, samping rumah, dan belakang rumah. Ia menangis, saya yang melihat justru semakin sedih dan ikut cemas dengannya. Saya melamun berjam-jam semenjak hilangnya si Bleki. Adik juga ikut-ikutan tidak nafsu makan. Ketika jam makan siang ia selalu mengayuh sepedanya mengelilingi lingkungan RT.

”Gimana, Si Bleki ketemu?”

Ia jawab, ”Tidak, Kak.” lantas ia masuk, mengunci kamar, dan tangisnya bisa saya dengar saat menguping lewat kamarnya. Sebetulnya semenjak masalah perkucingan dengan Virga dan Michael. Saya menjadi benci dengan kucing, tetapi ini si kucing Bleki, yang dari kecil dirawat dan mandiri. Bukan kucing kampung berbulu putih milik teman saya yang kabur dari kamar kosnya lalu memaksa saya bertemu Virga dan Michael. Kucing berbulu putih yang manja karena didikan pemiliknya sudah membuat saya sangat tidak suka dengan para pecinta hewan berbulu lembut itu. Kepada mereka Michael dan Virga penganut paham kasih sayang perkucingan. Saya sangat membenci kalian karena sebuah kesalahpahaman. Tetapi ini si Bleki, kucing yang sudah hilang beberapa hari ini.

Saya berinisiatif untuk mengirimkan surat kecil secara diam-diam kepada adik. jangankan berbohong. Apa pun dapat dilakukan hanya demi adik yang manis, kecil, dan imut yang selalu menghibur saat lelah demi melihat senyumnya lagi. Lagi pula adik saya penderita autism spectrum disorder (ASD).

Setiap pukul lima pagi, saya diam-diam menaruh potongan kertas kecil yang diselipkan ke bawah kolong pintu kamarnya.

”Selamat Pagi, Icha!, tidak usah bersedih, aku Bleki, kucingmu tersayang. Aku sedang berlayar ke negeri seberang, aku baik-baik saja, aku akan mengirimi surat tiga hari sekali, surat ini akan kamu temui di bawah kolong pintu kamarmu, aku titipkan surat pada burung pipit, kamu tahu, kan? Lubang di atas jendela? Di situlah kertas ini akan masuk, jangan khawatir Icha, aku akan selalu mengabarimu dari jauh, aku sedang berpetualang mencari pengalaman hidup dan jodoh, salam hangat. si Bleki.”

Akhirnya adikku bisa tersenyum. Ia sudah mau bersekolah, makan tepat waktu, dan belajar. Setiap pergantian hari ia selalu menunggu surat dari si Bleki. Sekarang harapan dan semangat hidupnya sangat bergairah, ia sudah mau bermain dengan teman-teman sebaya. Sekarang justru masalah baru hadir. Adikku menunggu surat palsu yang saya buat, sampai lupa tidur, bangun pagi sedikit sulit, dan beberapa PR lupa ia kerjakan. Ustazah dari TK Marsudi sampai berkunjung ke rumah dan melaporkan hasil belajar Icha pada Ibu. Setidaknya besok tepat hari ketiga dan si Bleki harus mengabari Icha.

Sekali lagi saya harus berbohong pada adik. Malamnya saya menulis surat berpura-pura jika surat itu dari Si Bleki. Saya menambahkan cap telapak kucing agar adik percaya jika suratnya dari kucing tersayang, Bleki. Setelah subuh, saya meletakkan surat dengan kertas kecil tersebut ke bawah kolong pintu kamar Icha. Icha bangun, saya mengintipnya dari kamar tidur. Sengaja membuka pintu sedikit kamarku agar melihat Icha membaca surat. Ia seperti terburu-buru ke kamar mandi, tanpa sadar mengetahui keberadaan surat.

”Icha, kertas apa itu?” aku menunjuk kertas. Sementara langkah Icha sudah melewati surat di mana tergeletak masih pada posisinya. Ia kembali untuk mengambilnya.

”Yeay, surat dari Si Bleki.” Icha tersenyum lalu membukanya. Ia tak kunjung kembali. Dalam bayangku, mungkin ia membaca surat dari si Bleki sambil buang hajat.

”Icha sekarang aku sudah mempunyai pasangan, kami sudah menikah. Sebenarnya aku ingin mengundangmu, tetapi si Burung Pipit sedang sibuk mengantarkan surat. Jadi, baru sekarang aku mengabarimu, maaf ya Icha yang manis, manusia paling baik selalu memberiku ikan pindang ketika aku lapar. Ingin aku perkenalkan padamu Whitney jika kelak aku pulang, Icha. Ia kucing betina yang cantik, dan anggun, bulunya lebih halus dari punyaku, ia sekarang sedang bunting, Icha. Barangkali kamu mau merawat anak kami kelak. Pasti hasil kawin kami mempunyai keturunan yang bagus, kamu pasti suka. Oh, iya Icha, kami berencana ingin berlibur ke pulau Aoshima, di Jepang, di sana banyak koloni kucing, kelak aku ingin mengajakmu, menikmati angin pantai yang berembus melewati kulit, serta ombak biru yang jarang kau temui di pantai di negaramu. Aku berjanji akan mengabarimu, jika sampai di pulau Aoshima, mungkin seminggu lagi. Salam hangat, si Bleki.”

Icha lantas menunjukkan surat itu padaku. Seolah cerita-cerita itu nyata. Saya mengiyakan saja. Justru dalam hati, saya sungguh harus mencari solusi supaya cerita-cerita buatanku tidak mengecewakan adik tersayang.

**

”Kamu ngapain, pagi-pagi begini sudah jalan kaki, mau ke mana?” Pak Ndut menyapaku.

”Saya ingin cari kucing, Pak. Sebulan ini kucing saya hilang. Si Icha menangis hampir setiap hari.”

”Kalau mau, Bapak ada kucing bunting. Sepertinya sudah akan melahirkan, saya repot kalau kucing itu melahirkan anaknya. Anak saya, Bella, sudah diterima kerja di luar kota. Di rumah tidak ada yang bisa merawat kucing.”

”Beneran, nih, Pak Ndut? Saya mau daripada saya harus cari kucing kampung di tempat sampah dan di pasar, sulit sekali.

”Bawa saja, silahkan. Justru saya berterima kasih jika ada yang mau merawatnya.”

Setelah itu, saya dengan penuh kegembiraan membawa kucing bunting tersebut, berjalan agak terburu-buru, dan menaruhnya di kamar. Setidaknya menyembunyikannya dari Icha dan menyusun siasat menunggu beberapa hari lagi. Mencari saat yang tepat untuk mengarang surat dan mengaku bahwa kucing itu adalah si Whitney. Pasangan Si Bleki yang pulang. Tuhan saya sungguh berterima kasih. Kebetulan kucing pemberian Pak Ndut juga berambut putih, cocok dengan Si Whitney.

Saat Icha pulang, saya selalu menutup pintu kamar supaya ia tidak tahu keberadaan Whitney. Kucing aneh yang tidak mengeluarkan suara mengeong sama sekali. Sepertinya kucing ini mempunyai masalah di bagian tenggorokannya. Mungkin bawaan dari lahir.

”Kak, saya cium bau tahi kucing, Si Bleki di sini, ya?” Icha sudah mulai curiga menjelang besok surat Si Bleki datang.

”Tidak, perasaan kamu aja. Tidak. Aku tidak mencium bau apa pun. Kamu ya? Belum cebok?”

”Icha, ayo cepat, sini, Ibu tunggu kamu di depan TV, jangan sampai telat berangkat sekolah.” Ibu memanggilnya.

”Baik, Bu.”

Beruntung kecurigaan Icha berhenti sampai sana, hampir ia membuka pintu kamarku. Saya segera membuang tahi kucing, menggantinya dengan pasir yang baru. Saya menulis kembali, untuk terakhir kali sebagai si Bleki.

”Icha, maafkan aku. Kucing yang paling kamu sayang Si Bleki. Perjalanan pulangku sangat sulit, ini sudah sampai batasku, kematianku sudah di depan mata. Ikan-ikan besar mengepungku bersama Whitney. Kami berlayar pulang, tetapi badai menghancurkan kami, Icha. Tolong, jaga Whitney dan anak-anakku, serta ucapan terimakasihku pada burung pipit.”

Lalu saya menaruh si Whitney itu di dalam besek yang dasarnya saya lapisi kain dan meletakkannya di dalam kamar Icha, sambil menunggu ia pulang.

***

Achmad Al Hafidz, lahir 14 Oktober 1999. Bermukim di Pati. Bukunya yang telah terbit Manusia Lampu Kota. Karyanya dimuat dibeberapa media cetak dan digital.

sumber : kompas.id, 01 Jun 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme