Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Siasat Gemblung oleh A Djoyo Mulyono

Posted on Kam, 17 Agu 2023

Mang Daspan

Tidak tahu persisnya, bagaimana bisa Baridin anak dari seorang abdi dalem bijaksana itu mau melakoni elmu milik Gemblung yang jelas-jelas dirinya sendiri tidak mampu mengikuti jejak bapaknya. Tidak tahu pula bagaimana persisnya yang akan terjadi setelah semua kuceritakan padanya. Tapi selepas itu, seketika kulihat merah padam mukanya meninggalkanku dengan kasar mengatakan: ”Gemblung!”

Baridin

Sudah semestinya dari dulu aku tidak percaya dengan omong kosongmu. Aku menyatakan ini karena dapat kulihat mukamu yang seperti babon pengin kawin itu terus-terusan memaksaku agar melakoni tirakat untuk elmu yang kamu rogoh dari lepitan peci merahmu yang sering tersengat matahari itu. Dengan penuh rayuan dan dalih nenek moyang, lipatan kertas usang yang bertuliskan Jawa kuno itu kamu sodorkan padaku.

Maaf jika hal ini aku sampaikan dengan seolah-olah menyalahkanmu. Karena pada kenyataannya, pada malam Jumat, ketika aku tengah menjadi pemuda putus asa karena telah ditolak cinta Ratminah—perempuan montok anak Bapak Dam itu, kamu datang menemuiku sebagai seorang teman yang sepertinya tidak masalah jika aku menyebutnya dengan bajingan. Dalihmu sederhana, kamu menganggap jika seorang lelaki sakit hati karena perempuan dengan cara yang kejam itu harus dibalas dengan pelajaran yang setimpal. Seperti dibuat gila, agar kelak dirinya yang kemudian berbalik mengejarku.

Maka selepas kejadian itu, hidupku tak pernah tenang. Kamu hanya menambah beban panjang masa penderitaanku sebagai seorang perjaka tua yang sedang mendambakan bagaimana rasanya bersanding dengan seorang perempuan dan kawin.

Seperti keharusan, setiap solusi yang kamu berikan padaku selalu saja memiliki dampak masalah yang hanya menambah masalah kembali. Hidup dengan menyandang miskin seperti ini bagai esa hilang dua terbilang. Seperti slogan Macan Koramil, katamu: ”Hilang satu masalah, tumbuh lagi seribu masalah.”

Kemudian kamu memberikan solusi—lebih tepatnya masalah lagi—layaknya seorang sahabat dengan bijak membantu keluar dari masalah dan keinginan hatiku ini dengan petuah peninggalan orangtuamu dulu. Tapi sayangnya, aku tidak menyadari sejak awal kalau sahabatku ini tidak lebih sepertiku; pemuda yang dirundung derita.

Heh, mau apa? Kamu diam saja di kursimu, minumlah kembali teh bruk-mu dan habiskan ubi rebus yang ada di mejamu! Aku datang ke sini hanya untuk menyampaikan penyesalanku pada kejadian itu. Sekaligus menuntut tanggung jawab atas segenap nama dan hidupku.

Kamu juga mungkin heran kenapa aku tiba-tiba datang ke rumahmu dengan keadaan seperti ini. Aku sudah kepalang tanggung hidup susah, Mblung, tapi kamu malah menambahinya dengan permasalahan seperti ini. Kamu pikir, dengan menyelamatkanku dari elmu gendengmu itu akan membuatku berterima kasih padamu? Tidak! Aku lebih baik mati daripada hidup dengan tuduhan banyak orang seperti ini lantaran Ratminah terbunuh karena perbuatan guna-gunaku.

Memang benar seperti apa yang almarhum bapakku sampaikan. Jika temannya, Kaslan, yang memilih untuk menekuni elmu batin itu, kelak hanya ada dua kemungkinan: jika tidak berhasil memikat hati semua orang, pasti elmu batin pengasihan itu akan mencelakakan orang lain. Sudah terbukti kamu sendiri tidak mau mewarisi elmu itu dari bapakmu seperti yang dikatakan Mang Daspan sore lalu. Selain tidak kuat tirakat seperti kakek buyutmu, tapi kamu juga hanya seorang pecundang yang mengobral omong kosong atas nama besar leluhurmu.

Lagi-lagi, memang semestinya aku tidak memercayai omong kosongmu. Aku seharusnya menyadari siapa kamu sebenarnya, orang yang tidak jauh lebih melarat dari hidupku sendiri sok-sokan memberikan bantuan dan jalan keluar. Aku memang memahami bantuan tidak hanya dengan uang, tapi setidaknya kamu tidak menambahkan masalah lain seperti ini.

Dengan berlagak memahami jagat kebatinan, kamu terus-terusan mendesak untuk meyakinkanku agar melakoni tirakat yang konon dari orangtuamu itu. Aku memang mengetahuimu lazimnya sahabatku semenjak kecil, kamu memang anak dari Mang Kaslan seorang abdi dalem Keraton, sama sepertiku. Tapi dulu yang masih menekuni itu adalah bapa tua-mu. Bapakmu memang masih memegang teguh keyakinan itu, tapi apakah sampai padamu masih mengamalkannya? Aku mengenalmu lebih dari orang lain, Mblung. Jika memang kamu ahli tirakat sakti mandraguna seperti bapa tua-mu, badanmu tidak akan tambun seperti itu!

Sebelumnya aku baik-baik saja, Mblung, setelah aku selamat dari tirakat gendengmu itu. Sebelumnya juga aku menerima, Mblung, jika harus kehilangan perempuan yang sangat aku cintai. Tapi pada akhirnya, keadaan semua berubah setelah aku mendengar semuanya dari Mang Daspan di Warung Wedang Bi Watem.

Di warung itu aku mengetahui, kalau ternyata orangtua kita memiliki elmu kebatinan dari tempat yang sama. Mang Kaslan bapakmu dan bapakku merupakan keturunan abdi dalem keraton, mereka datang satu minggu sekali ke keraton untuk sekadar menghaturkan sembah pada Sinuhun serta membantu dan bekerja sesuai tugasnya. Namun, ketika mereka satu per satu ketiban masalah, mereka meminta tolong serta petunjuk kepada Sinuhun untuk dibantunya. Dari situ aku mengetahui kalau bapakku memilih elmu batin Sahadat Alam lantaran menyadari dirinya seorang petani. Maka tak heran aku selalu dihindari hama sawah seperti tikus dan ular begitu mewarisinya. Sedangkan Mang Kaslan bapakmu mengambil elmu batin pengasihan. Pilihan itu dipilih lantaran nafsunya menjadi dukun kondang belum saja tercapai sampai padamu yang hanya sok-sokan.

Di warung itu pula aku mengetahui, kamu ini sangat mirip dengan bapakmu yang serakah, serta haus dipandang banyak orang sebagai orang yang baik dan berjasa. Dengan tabiatmu yang seperti itu, aku merasa kamu juga memperlakukanku demikian.

Saat itu, setelah Mbok Wangsi ibuku pulang melamar Ratminah dengan menadah air mata, sebenarnya secara perlahan aku telah menerima kenyataannya. Tapi ketika kamu menemuiku, aku telah banyak menerima khasiat yang menggiurkan dari elmu gendengmu itu. Kamu mengatakan: ”Pemuda yang dibuat malu harus membuatnya malu kembali, Din,” katamu penuh dendam membelaku. Kamu juga mengatakan kalau orang sombong seperti Ratminah dan bapaknya itu harus pula menanggung malu seperti kita. Dunia harus berputar.

”Sudah, Din, sudah… Ak….”

Diam! Kamu diamlah saja di tempatmu dan makanlah ubi rebusmu itu seperti dulu yang juga kamu berikan padaku.

Memangnya kamu mau bicara apalagi, Mblung? Aku belum menyampaikan semuanya padamu. Orang-orang kampung juga belum mengetahuimu yang sebenarnya. Selama ini mereka mengetahuimu sebagai seorang sahabat sejati yang selalu membantu ketika aku ditimpa masalah ”perkara anak muda”.

Ke mana dan apa saja yang telah kamu lakukan selama aku bertirakat dengan elmu gendengmu itu, Mblung, Hah? Ternyata dengan kamu bekerja menjadi penjaga empangnya membuatmu lebih leluasa menyusupi Bapak Dam agar dia tidak dapat mempertimbangkanku untuk dipilih menjadi menantunya.

Sebenarnya apa maksudmu mencegahku agar tak bisa mendapatkan Ratminah, Mblung? Bukankah seharusnya kamu senang ketika melihatku duduk bersanding dengan perempuan yang aku cintai. Bukankah kelak aku akan bisa hidup minimal lebih layak tidak seperti ini. Aku masih belum mengerti dengan maksudmu, Mblung. Apakah kamu masih saja menganggap kalau aku ini wong blesak, miskin, dan khawatir untuk tidak dapat mengimbangi kehidupan istriku kelak?

Mblung, asal kamu tahu, seperti yang sudah kusampaikan sewaktu aku baru dimabuk kepayang pada Ratminah permataku itu, ”Asmara tidak ada yang salah, selagi wajar sesama manusia.” Aku ini mencintai Ratminah tulus, tidak ada niat untuk berbuat yang lain, terlebih menguasai hartanya. Tidak sepertimu yang diam-diam menyusupi Bapak Dam agar tidak menerimaku lantaran kamu iri jika aku bisa bersanding dengan anaknya.

”Hentikan, Din, kamu sudah berlebihan!”

Aku mengerti Mblung, kamu memang memberikanku sebuah warisan doa milik kakek buyutmu, tapi semestinya aku juga sadar selama ini doa-doa bapakmu itu bukanlah doa yang dapat membuat mulia, melainkan hanya merusak jiwa. Tapi, kamu tetap meyakinkanku dengan berkata; ”Din, doa ini bukan sembarang doa,” katamu kupastikan hingga akhirnya kamu menjawab kalau doa itu adalah doa: ”Kemat Jaran Guyang”. Aku tidak mau menyebutkannya langsung, lantaran dengan doa yang kamu berikan itu aku jadi hidup jauh lebih sengsara seperti ini.

Katamu doa itu bukanlah doa biasa sehingga aku yang kala itu sedang rapuh terpikat dengan orasi pengetahuan leluhurmu. Kamu menjelaskan dengan mantap kalau doa itu adalah doa yang cocok untukku, ”Siapa pun yang merasa terhina oleh perempuan, dengan dibacakan doa ini, pasti ada buktinya!” katamu menyarankan.

Aku tidak menyangka hanya dengan mantra demikian dapat menghancurkan semuanya seperti ini. Rupanya bukan saja namamu yang Gemblung, tapi juga siasatmu untuk membuatku gagal meraih cinta Ratminah juga tak kalah gemblung! Aku tidak mau hidup hanya untuk meramaikan dunia ini saja, Mblung. Apalagi jika aku mati dengan keadaan seperti itu, kelak aku hanya jadi bahan hinaan anak cucuku lantaran kakek buyutnya mati konyol hanya karena perempuan dan perdaya siasat gemblungmu.

Pecundang sepertimu harusnya meminta maaf kepadaku dan warga kampung atas apa yang telah diperbuatnya dan segera mengasingkan diri seperti pandu ayah para pandawa yang memanah rusa jelmaan resi yang sedang bercinta sebagai tebusan dosanya. Aku harap kamu menyadari itu tanpa paksaan dari siapa pun, atau setidaknya kamu mengakui itu padaku.

Aku sudah muak melihat muka….

”Sudah, Din, cukup! Maafkan aku. Aku mengakui, ini semua kulakukan karena diam-diam aku juga menghendaki permatamu.”

”Ya! Aku mencintai Ratminah, sama sepertimu.”

Surabaya, 2023

Untuk tanah kelahiranku

**

Catatan:

– Elmu: sebutan ilmu di Cirebon, khususnya ilmu kebatinan

– Bapa tua: kakek

– Blesak: orang jelek

– Kemat Jaran Guyang: nama jenis ilmu pengasihan

A Djoyo Mulyono lahir di Cirebon, 1999. Tinggal di Surabaya, menulis fiksi dan nonfiksi, menjadi mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya dan pengajar di SMA Hang Tuah 4 Surabaya.

sumber : kompas.id, 17 Agt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme