Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebelum Hari Itu oleh Darmawati Majid

Posted on Ming, 26 Mar 2023

”Lalu, dengan apa kau akan menghidupi anakku?” Haji Iwan bertanya kepadanya tanpa memalingkan wajah sama sekali dari layar televisi dengan volume yang jelas disetel untuk mengintimidasi kelelakian Kali.

LAKI-LAKI yang akhirnya menentukan Kali kelak bahagia atau nestapa itu duduk bersandar sambil sesekali membetulkan songkoknya. Sepanjang kehadiran Kali di rumahnya, mata Haji Iwan tak pernah lepas dari pertandingan renang paralimpiade di televisi. Sontak, Kali merasa para atlet yang sedang berlomba mencapai garis akhir itu jauh lebih beruntung. Mereka mendapatkan perhatian Haji Iwan sepenuhnya. Di tengah segala keterbatasan, mereka juga tahu benar apa yang mereka inginkan. Sementara dirinya?

Kali tentu tahu betul apa alasannya bertandang. Namun, laki-laki kekar itu ragu keinginannya bisa ia wujudkan. Nasibnya jauh lebih buruk daripada nelayan-nelayan kampungnya yang ingin melaut, tetapi bahan bakar subsidi jatah mereka diserobot perusahaan industri. Setidaknya, ketika solar kembali tersedia, mereka akan melaut lagi. Dirinya? Ia adalah perahu di tepi laut, teronggok kehabisan solar berbulan-bulan, lalu datang tsunami meluluhlantakkan.

Kali tak pernah menyesali keputusannya tidak menamatkan SMP. Orang-orang di kampungnya adalah contoh betapa kekayaan tak mensyaratkan gelar dari universitas. Selama kau punya otak –dan dari pengalaman sebagian besar kawannya, otot–yang berfungsi dengan baik, kau akan selamat. Itu prinsip hidup Kali. Prinsip yang teguh ia pegang sebagaimana ia yakin air sungai selalu mengalir ke laut. Sebelum hari itu.

”Bapak juga tidak tamat.”

Kali teringat apa yang ia jawabkan ke orang tuanya ketika diminta kembali ke bangku sekolah. Bapaknya baru saja menerima surat pemanggilan dari sekolah yang menyatakan ketidakhadiran Kali selama dua minggu berturut-turut tanpa keterangan.

”Tapi, Nak….”

Seolah membaca apa yang ada di pikiran bapaknya, Kali berkata lagi, ”Pegawai negeri pun tidak semuanya kaya, Pak. Malah mereka punya lebih banyak utang daripada kita. Mereka justru pinjam uang ke orang yang tidak sekolah. Lihat saja, rumah Haji Iwan selalu ramai mereka datangi.”

Di kampung mereka, Haji Iwan adalah rujukan sempurna kalau mencari sosok orang berada. Ia punya belasan kapal nelayan, rumah paling bagus, dan puluhan pekerja yang menggantungkan hidup kepadanya. Dan jangan lupa, dalam urusan dengan Kali, Haji Iwan adalah seorang penentu kebahagiaan.

Bapak Kali diam saja. Seandainya saja dia membujuk lebih keras, atau membalas setiap ucapan anaknya, atau menyuruh istrinya berpura-pura menangis setiap Kali menolak memenuhi keinginan mereka, mungkin hari itu akan berakhir berbeda. Tapi Bapak Kali tahu, bantahan anaknya benar belaka.

Kali bukannya tidak punya otak. Sejak duduk di sekolah dasar hingga kelas tiga SMP, namanya selalu bercokol di lima besar peringkat kelas. Hanya butuh satu tamparan guru untuk menghapus keinginan Kali tetap bersekolah. Guru itu teman baik bapaknya. Tak jarang ia diminta membawa ikan segar ke rumah laki-laki itu setiap bapaknya pulang melaut. Kali tak habis pikir, mengapa hanya karena salah menuliskan gelar kesarjanaan gurunya, dia mendapat kenang-kenangan di pipi. Toh, bukan salahnya kalau Pak Batola, gurunya itu, memilih kuliah di jurusan ekonomi dan memperoleh gelar SE1. Untuk remaja seusia Kali, terlebih di kampung tempat tinggalnya, tamparan seperti yang dialaminya itu bisa berakhir tidak baik-baik saja bagi si pelaku. Namun, alasan orang-bisa-kaya-meski-tak-bersekolah Kali pilih demi menjaga hubungan baik keluarga mereka.

***

”Kalau saya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, apakah Bapak mau menerima saya?”

”Buktikan saja dulu. Setelah itu, baru kita bicara lagi.”

Malam itu, Kali pulang ke rumahnya seperti nelayan yang tak membawa tangkapan apa-apa, selain kecemasan karena perongkosan yang semakin membengkak.

Di kamarnya, ia berbaring sambil memandangi foto Dana, anak bu ngsu Haji Iwan. Jantung Kali langsung bergetar serupa mesin kapal yang baru dinyalakan. Ia meyakinkan diri, bukan sepasang lesung pipi di foto itu yang membuatnya jatuh hati dengan gegabah. Kali ingat pertemuan pertama mereka di satu angkot pada suatu malam yang akan selalu diingat Kali sebagai kali pertama ia menyesal telah hengkang dari sekolah. Dana yang baru pulang dari kampusnya serius membaca tanpa peduli angkot yang terguncang-guncang menghindari ceruk-ceruk jalan. Kalau saja Kali anak kuliahan, ia pasti punya keberanian untuk sekadar berbasa-basi.

Dana barangkali tak akan pernah sadar akan kehadiran seorang Kali di kampung mereka jika saja pada malam itu angkot yang mereka tumpangi tidak dihadang dua pemuda tanggung.

Kali masih sibuk berdebat dengan nyalinya ketika sekonyong-konyong angkot berhenti. Dana yang duduk di kursi paling ujung terlempar menubruk Kali. Hanya ia dan Dana yang menjadi penumpang saat itu, dan sopir yang ia lihat sudah berkeringat dingin. Entah dari mana keberanian Kali datang. Ia segera turun, melangkah dengan penuh percaya diri mendekati remaja yang sedang berusaha tampak menyeramkan di hadapan mereka.

Dana memandangnya dengan pandangan apa-kamu-cari-mati? yang dijawab Kali dalam hati, demi-kamu-aku-siap-menyongsong-apa-pun.

Salah seorang remaja itu, Si Ceking, –ide membegal mustahil berasal dari dirinya–kaget melihat laki-laki bertubuh tiga kali lebih besar darinya melompat turun dari angkot. Dia melirik kawannya, menakar apakah Si Gempal siap sehidup semati dengannya. Namun, temannya itu tak kalah panik. Meski ia memegang parang, Kali bisa melihat kalau anak itu gemetar. Kali tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendekati motor yang terparkir dekat mereka, menendangnya dengan kekuatan penuh, yakin si gadis dalam angkot melihat semua kejadian itu.

”Ayo, sini, saya ajar cara pegang parang yang benar!”

Si Gempal rupanya cukup berani untuk maju. Ia mencoba menusuk Kali. Laki-laki itu berhasil mengelak. Parang Si Gempal menebas udara kosong, menyebabkannya terjerembap. Kali menggunakan kecerobohan itu untuk menginjak salah satu lengan Si Gempal, merebut dan mengacungkan parang itu ke arah Si Ceking. Melihat keadaan temannya, anak itu segera mendirikan dan menyalakan motornya, lalu menggeber gas secepat yang sanggup dilakukan tangan gemetarnya.

Kali menarik Si Gempal dari tanah dengan sekali entak, memaksanya naik ke angkot.

”Ayo ke kantor polisi,” perintah Kali kepada sopir yang masih duduk mematung di kursinya.

”Jangan, Kak, saya hanya disuruh.” Keberanian Si Gempal rupanya menguap terbawa angin malam.

”Dosamu hari ini, kau menghadang angkot yang salah,” damprat Kali sambil melirik si gadis di sampingnya.

Syahdan, semesta ternyata mengutus Si Gempal untuk mengangkat kelu dari lidah Kali, dan Dana mendapati dirinya telah terpikat pada lelaki yang telah menemaninya melewati malam yang bisa saja berakhir tragis itu.

Sejak itu, Kali rutin menunggui Dana di kampusnya. Dana sesekali menemaninya menagih uang hasil penjualan ikan teri kering di kampung-kampung sebelah. Pada pertemuan mereka yang kesebelas, cerita Kali menyelamatkan Dana dari begal dikisahkan ulang di ruang tamu keluarga Dana, yang ditanggapi Haji Iwan dengan, ”Oh, baguslah.”

***

Sebelum mengenal Dana, Kali merasa hidupnya baik-baik saja. Kali yang membantu bapaknya mengurus segala tetek bengek nelayan yang bekerja di kapal mereka (ia payah di laut): catatan utang dan total upah anggota per satu kali musim tarik, pengeluaran untuk solar, es balok, rokok, elpiji, dan air minum kemasan galon untuk anggota yang berminggu-minggu menginap di bagang, serta biaya-biaya perawatan perahu. Kali hafal jenis dan merek cat apa yang cocok untuk lunas kapal, geladak juga lambungnya. Kali bahkan mahir memperbaiki kerusakan mesin kapal berikut mengganti dan mengakali suku cadangnya. Ia pula yang mengenalkan bapaknya aplikasi yang mampu menunjukkan koordinat tempat ikan-ikan gemar berkumpul di waktu-waktu tertentu, tidak lagi sepenuhnya mengandalkan bintang yang sering kali malu-malu menghadapi mendung. Kali juga cekatan mengurus bisnis ikan teri kering bapaknya.

Meski sangat mungkin Kali telah berjasa menyelamatkan nyawa anaknya, di hadapan Haji Iwan hari itu, Kali merasa tak lebih berharga dari sekaleng cat antirayap.

***

Kali bangun dengan semangat. Ini hari pertama ia bekerja kantoran. Ia akan membuktikan bahwa ia adalah calon menantu yang pantas bagi Haji Iwan. Berbekal rasa bersalah guru yang pernah menamparnya dulu, ia diterima oleh satu perusahaan fainens di ibu kota kabupaten. Kata fainens, yang akhirnya ia ketahui sesungguhnya tertulis finance, membuatnya semakin riang menyambut hari.

Kali membayangkan dirinya duduk di belakang meja dengan hawa sejuk dari pendingin udara, punya bawahan yang bisa ia perintah, dan di akhir bulan ia bisa mentraktir seisi rumah Haji Iwan. Ia tahu perusahaan yang sedang membuka lowongan itu. Orang-orang yang keluar masuk dari sana selalu berpakaian rapi, bersih, dan berdasi. Beberapa teman sekolahnya malah ia tahu telah berhasil membeli sepeda motor dan mencicil rumah setelah bekerja di perusahaan itu. Ia bisa menebak wajah Haji Iwan saat tahu apa pekerjaannya. Kali segera merencanakan apa saja yang akan ia belikan untuk Dana.

Kali tertidur tatkala sedang menunggu giliran diwawancarai. Dalam tidurnya, ia bermimpi memboyong Dana ke rumah mereka berdua. Mobil mereka jauh lebih bagus dari milik ipar Dana. Sebelum sempat membukakan pintu dan memperlihatkan isi rumah itu kepada si gadis pujaan, tepukan keras mendarat di pundaknya. Namanya dipanggil.

Ia memasuki ruangan yang cat dindingnya mengingatkan Kali pada warna lunas perahu bapaknya. Laki-laki itu, Darpan, S.Pd. –begitu yang tertulis di atas meja berpelitur mengilap di depannya– sedang sibuk menelepon.

Kelar menelepon, Darpan memperkenalkan diri, lalu berbasa-basi bertanya kabar. Ia lalu menarik kertas dari rak besi kecil berwarna hitam di sudut kanan mejanya, menyerahkannya kepada Kali.

”Ini daftar nama-nama yang menunggak angsuran. Tugas Pak Kali mendatangi mereka satu-satu dan membuat mereka membayar tunggakan itu. Saya yakin –ia melirik badan laki-laki di hadapannya sambil tersenyum– Pak Kali mampu membuat mereka membayar. Pak Kali sudah bisa jalan hari ini. Punya motor kan?”

Kali mengangguk ragu sambil menerima kertas itu. Sebelum masuk ke ruangan Darpan, ia sungguh mengira akan duduk di ruangan bersekat-sekat tepat di depan ruangan laki-laki itu, bukan keliling kampung menjadi tukang tagih utang.

Tiga hari bekerja, Kali menerima pesan Dana. Perempuan itu akan dinikahkan sebulan lagi dengan seorang magister hukum anak sahabat Haji Iwan. (*)

Catatan:

1. Batulase: Buah pelir dalam bahasa Bugis.

—

DARMAWATI MAJID : Menulis cerpen dan esai. Saat ini menginap di Gorontalo.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 26 Maret 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme