Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gadis Minang dan Bunga Sakura di Kepalanya oleh Anugrah Ghani

Posted on Kam, 19 Okt 2023

Pernahkah kalian mendengar kelas Bahasa? Ya, kelas Bahasa yang ada pada jenjang SMA. Kelas yang dianggap kurang brand-nya. Tentu, karena kebanyakan di antara mereka akan memilih kelas IPA. Tetapi, gadis 16 tahun itu mempunyai mimpi yang tinggi untuk keputusannya berada pada kelas Bahasa.

Mimpi yang terasa tidak mungkin. Ia bisa membayangkan bahwa kelas itulah yang akan mengantarkan ke masa depan yang ia cita-citakan sejak kecil. Entah apa awal dulunya. Ia menjadi seorang penyuka bunga sakura. Ia menghiasi dinding kamarnya dengan tempelan gambar-gambar bunga sakura. Yang diambil dari internet.

Sungguh tak ada yang meragukan indahnya bunga sakura. Termasuk gadis Minang itu. Gadis itu tak pernah berhenti bermimpi berada di tengah bunga sakura. Ia memilih jurusan Bahasa setelah menentang opini dari kedua orangtuanya dan suara keras itu membuat rumah mereka seketika terguncang, ”Jurusan Bahasa tidak akan membuat kamu kelak bermasa depan yang cerah.”

Para anggota keluarga pun mulai mengumpat. Apakah jurusan Bahasa memperbaiki nasibnya, atau berujung dengan ijazah tamat SMA saja. Namun, ia tetap melanjutkan pilihannya seperti tak terjadi apa-apa. Ia berangkat sekolah berjalan kaki. Untung-untung kalau ada kawan yang lewat, bisa ia mendapatkan tumpangan. Ia akan pulang sebelum pukul empat. Sebelum Amak dan Abaknya pulang dari sawah; sekolah di salah satu SMA unggul yang ada di daerahnya sampai pukul tiga sore. Ia lanjutkan dengan privat bahasa Jepang dengan Sense Lin.

Jurusan Bahasa tidak akan membuat kamu kelak bermasa depan yang cerah.

Setiba di rumah, ia memberesi piring kotor bekas makan uni dan adik-adiknya. Tepat jam setengah tujuh senja, ia akan masuk ke kamar dan membuka sebuah catatan kecil. Catatan itu merupakan isi pembelajaran bahasa Jepang-nya dengan Sense Lin setiap harinya. Pada hari Minggu ia akan ikut Amak dan Abaknya ke ladang, tak layaknya gadis Minang sekarang pada umumnya. Lelah Abaknya mengumpat, akhirnya tak ada lagi pembahasan rumit itu di tengah kebersamaan mereka.

Sayangnya, semua tak berubah saat prestasi pertama didapatkannya. Sebuah sertifikat yang ia bawa pulang. Selembar sertifikat dari sebuah media digital karena tulisan cerpennya dimuat sebagai salah satu yang ditayangkan pada bulan itu.

Abaknya menatap kosong kertas itu. Seakan-akan yang dibawa anaknya tak ada artinya.

”Sekarang apa gunanya kau jadi penulis?”

”Hah.”

”Saya tak ada mendengar ada yang bisa menjadi hebat dengan menulis.”

Abaknya semakin tak terkendalikan.

Gadis itu makin terluka.

”Kau bawa selusin pun tak ada guna.”

”Abak salah, tentu sangat berguna.”

”Apa gunanya? Buat apa?”

”Mengantarkanku ke negeri Sakura, untuk apa lagi?”

Dengan sedih tak tertanggung, ia bergegas menuju kamar. Dipandangi bunga-bunga sakura. Dilihatnya setiap sudut kamar, seakan ada yang dicari. Gadis itu teringat sesuatu saat sedang belajar dengan Sense Lin; kalimat penuh harapan, ”Cita-cita kau yang tulus itu, suatu hari akan kau dapatkan.”

Gadis itu seketika sadar, ternyata cita-citanya masih mendapat dukungan. Baginya, Sense Lin tidak hanya sekadar guru privat, tetapi seperti ibunya. Awalnya ia tak yakin. Esok akan semakin tegar. Nanti Amak dan Abak pasti akan mendukungnya. Ia lihat bunga-bunga sakura itu bermekaran di dalam kamarnya. Novel Getar Asa Negeri Sakura ia kembali buka dan baca dengan rinci per lembarnya. Ia melirik dengan teliti, membaca dengan memahami bunga-bunga sakura bermekaran, lalu berjatuhan, berjatuhan lagi, terus-menerus. Bunga sakura bertebaran di kakinya, sampai ke sekelilingnya. Begitu ia larut dalam suasana yang ada di kepalanya.

Dalam hati ia bertanya, bunga sakura seindah itu, mana mungkin bisa ia tidak bahagia. Kebahagiaannya menembus awan seketika itu. Terlintas di otaknya untuk mengumpulkannya. Apa tidak rugi jika membiarkan saja bunga-bunga itu. Ia lupa pada senja yang beranjak. Buta pada keadaan yang hanya menembus ruang sadarnya.

Sekilas ia merasa berdebar cepat. Malam ini ia tak akan nyenyak jika belum membicarakan kepada Abak. Namun, ia sadar Abak bukannya selama ini tidak pernah berpihak kepadanya? Otak dan hatinya berperang seketika itu. Bersiap untuk terlempar untuk sekian kalinya. Ia pun tak peduli pagi, saat Abaknya menyimpulkan; sakura lebih mengganggu kewarasannya.

Abak menyuruhnya berpikir beribu kali. Tak lagi ada keinginannya untuk membahas itu lagi dengan Abak. Ia juga mulai mencopot satu-persatu gambar bunga sakura yang ada di dinding kamarnya agar tak ada lagi bayangannya tentang bunga sakura. Tak dipedulikannya sidik Amak setiap kali masuk ke kamarnya. Saat ditanya kenapa mencopot semua gambar di dinding, ia menjawab, ”Tidak akan mungkin orang seperti kita bisa ke negeri sakura.”

”Apa kau sudah menyerah?”

”Nanti aku bertentangan terus dengan Abak.”

”Jadi sekarang kau takut bermimpi?”

”Sudah terbit berapa tulisanmu bulan ini? Mungkin lebih dari lima. Aku bisa mendapatkan jalur prestasi. Dan juga sedang gencar belajar untuk mendapatkan beasiswa,” bisiknya sambil beranjak dari ranjang. Matanya kosong seketika itu.

Amak memilih pergi, diam seribu bahasa.

Jadi sekarang kau takut bermimpi?

Ia pun balik memperhatikan satu gambar sakura yang masih tersisa di dinding. Dikerahkan seluruh otaknya untuk kembali istikamah dengan cita-citanya itu. Ada tawa lepas yang melintas seketika, berada di bawah gugurannya bunga sakura. Sayang, semuanya telah dihancurkan lebih dulu. Di ujung hari keinginannya tak lagi ia suarakan.

Terlampau kesal, ia berjuang secara diam-diam. Tak peduli lagi, semakin digencarkan usahanya. Ia telah mengikuti semua saran dari Sense Lin. Kekuatan itu akhirnya kembali membawa energi positif untuknya. Melihat itu, Sense Lin memberikan pengetahuan lebih. Semakin fasih, semakin bersemangat. Aroma bunga sakura membekap kembali di udara. Ia menikmati dan kembali membayangkan.

”Kalau SMA itu biasa kuliah dulu, kalau kalian kuliah di Jepang, setelah kuliah kalian akan langsung dapat pekerjaaan dan gaji sama dengan UMR orang Jepang, tapi itu tergantung dari keinginan kalian masing-masing.”

Sense Lin kembali mengipaskan sebuah vitamin positif.

Setelah mendengar hal tersebut, keinginannya ke Jepang lebih kuat lagi.

”Apa tidak susah Sensei, kalau mau kuliah?”

”Kamu sudah dapat sertifikat F-5 (level dasar bahasa Jepang). Sebenarnya kamu sudah bisa ke Jepang, tapi magang, kalau mau kuliah minimal punya level bahasa Jepang F-4.”

Hari berlalu mendekati kelulusan, ia selalu tekun dalam belajar bahasa Jepang. Sampai terdengarlah kabar baik itu. Ia lolos F-2 yang di mana Sensei Lin malah gagal.

”Kamu bisa kuliah di Jepang dengan beasiswa, ada beasiswa paling bergengsi yang diadakan oleh Jepang. Pergi dibiayai, hidup di Jepang dibiayai, tanpa ikatan dinas dan yang lebih penting, akan dikuliahkan di Universitas of Tokyo. Universitas yang masuk kategori 10 besar dunia.”

Sen tampak bahagia dengan senyum menghiasi wajahnya sepanjang memberikan penjelasan itu. Meskipun begitu, tentu ia harus minta persetujuan Abak dan Amak dulu. Belum tentu juga berita bagus ini baik untuk kedua orangtuanya itu.

Ide untuk meminta bantuan kepada Datuk pun sekilas melintas setelah beberapa hari itu. Agaknya hanya Datuk yang bisa membantu. Ia memasuki rumah Datuk. Rumah yang terbuat dari kayu dan kelihatan sudah sangat lama. Namun, cukup terawat dan masih sangat kokoh. Ia bercengkerama dengan Datuk siang itu. Di tengah terik dan embusan angin yang berasal dari danau yang terlihat jelas dipandang dari rumah Datuk. Datuk yang merasa cucunya itu sangat berkeinginan keras tidak sekali pun mematahkan sepanjang ia menjelaskan tentang Jepang kepada Datuk.

Angin selalu tahu kapan ia harus berembus. Apalagi saat itu, saat di mana ia juga berusaha agar angin membawanya terbang jauh. Ia tidak membenci angin karena angin adalah karunia Tuhan dan karena angin juga yang akan membawa ke segala arah. Angin memasuki seisi ruang di rumah Datuk. Ia sedang memegang sebuah surat undangan ke Jepang dan angin seakan ingin merebutnya darinya. Sekumpulan angin kembali membawa aroma wanginya bunga sakura.

Akhirnya ia berhenti menerawang. Dilangkahkan kakinya dengan yakin pulang ke rumah. Makin banyak saja keraguan. Sengaja ia mempercepat langkah agar hatinya tak terlalu berdebar kencang. Mengusik dirinya sebelum bertemu dengan Abak. Langkahnya terhenti tepat di depan Abak. Ia memberikan selembar kertas undangan dan tanda diterima kuliah di Jepang.

Setelah Abak membaca beberapa lembar kertas itu. Dilemparkan ke meja di depannya. Seketika itu ia sudah dapatkan keputusan. Tidak akan Abak mengizinkan memenuhi undangan itu. Tak akan bisa ditawar. Tidak akan.

”Kau tidak akan pergi ke Jepang!”

”Kau itu seorang gadis dan tidak akan bisa menjaga diri!”

”Dan bagaimana jika nanti cuma nama kau saja yang pulang lagi?”

”Kau akan kuliah di sini saja. Tidak jauh dari kami.”

Diam. Tak satu pun kata yang ia ucapkan. Abak masih kokoh tidak akan mengizinkan. Agaknya Abak benar-benar terpengaruh dengan bisik-bisik tetangga yang mengatakan banyak yang pergi ke Jepang hanya pulang nama. Bahkan, ada yang tak tahu rimbanya. Apalagi budaya di negeri sakura itu sangat bertolak belakang dengan Minang. Meskipun ia mengatakan tidak akan mengubah budayanya. Pasti Abak tidak akan mau juga.

Kau itu seorang gadis dan tidak akan bisa menjaga diri!

Esok harinya, kompleks itu gempar. Tubuh seorang gadis ditemukan tak bernyawa. Digenggamannya begitu banyak potongan-potongan gambar sakura. Seketika penghuni rumah itu histeris. Tetangga pun berdatangan. Isak, tangis pecah. Tak sedikit tetangga yang ikut menangis di senja itu.

Wajah Abak pucat. Dalam hati ia menyesal. Andai waktu itu ia mendukung keinginan besar anak gadisnya itu. Andai ia tak mengerasinya. Andai sejak awal ia memahami anaknya yang ingin sekali ke negeri Sakura, andai ia biarkan saja.

Abak memeluk anak gadisnya terakhir kali. Mengambil potongan gambar sakura di genggamannya. Tak tertahan, isaknya menyayat. Saking terguncangnya, lelaki paruh baya itu tak menyadari tak ada seorang pun tampak di sekeliling gadis itu.

Amak yang tak terima berkali-kali kehilangan kesadarannya. Begitupun dengan uni dan adik-adiknya tampak berteriak histeris bersamaan.

Amak tak hentinya memeluk anak gadisnya itu setelah Abak melepaskannya.

Amak tak terkendalikan seketika itu. Ia mengumpat.

Senja jatuh dengan terluka. Senja mengantarkan pada malam kegelapan. Sunyi pekat, tak satu pun suara jangkrik menghiasi. Tubuh gadis Minang itu membeku dan tampak sengsara. Jiwa dan raganya mati bertepatan dengan hari jadwal keberangkatannya ke negeri Sakura. [*]

Anugrah Ghani

Catatan:

[1] Abak (bahasa Minang) = Orangtua laki-laki

[2] Amak (bahasa Minang) = Orangtua perempuan

sumber : kompas.id, 19 Okt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme