Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti oleh Raisa kamila

Posted on Ming, 29 Okt 2023

Dalam surat-surat yang tidak aku kirim untukmu, aku merasa bisa bercerita tentang episode yang kusut ini. Segala sesuatu terasa seperti untaian benang lurus yang terus menjulur dari satu gulungan besar. Aku bisa terus menarik untaiannya hingga panjang dan tak terhingga, tapi kita paham bahwa itu tidak mungkin. Jadi untuk saat ini, aku harus memutus untaian itu sebelum ia menjadi terlalu panjang, melilit, dan membelit salah satu di antara kita.

Namun, anggap saja kamu sudah membaca surat-surat itu. Yang salah satu di antaranya, aku berusaha mengurai episode pemulihan diriku, yang pernah aku singgung secara sekilas saat kita pertama kali bertemu. Kamu tampak ingin tahu, tapi saat itu aku bingung harus memulai dari mana. Dan kita sama-sama tahu, kita tidak punya banyak waktu, juga tidak bisa mengira-ngira kapan akan bertemu lagi. Cerita berikut ini adalah kelanjutan dari isi surat itu, beberapa hal yang aku ingin kamu tahu, dan berharap suatu hari nanti, kamu akan mengerti.

***

Dalam pengandaian ini, kamu tahu ada tiga babak dari episode kusut yang aku sebut tadi: kekerasan pertama, kekerasan kedua, lalu caraku untuk bisa tetap hidup. Di antara ketiganya, ada banyak sekali hal yang terjadi dan membuat aku tampak baik-baik saja. Kamu juga tahu ada empat kepingan diriku, tiga berasal dari rentang usia yang sama: aku yang telanjang; aku yang menggigil; aku yang berseragam; lalu satu kepingan yang tersisa adalah, aku yang kamu kenali saat ini.

Mereka bertemu melalui sebuah jendela teralis besi yang muncul di dalam benakku, berdatangan setelah mendengar suara azan di hari Jumat siang. Tiga dari mereka berusaha untuk saling mengenali dan mengetahui asal usul satu sama lain, sementara satu dari mereka, aku yang kamu kenali saat ini, hanya diminta untuk menemani mereka pergi dari satu ruang-waktu ke ruang-waktu lainnya. Di akhir pertemuan mereka, aku yang telanjang menghabisi dua lainnya, yang menggigil dan yang berseragam, dengan sebilah pisau dari entah mana. Keduanya mati dan tidak pernah menghampiri lagi.

Aku yang kamu kenali saat ini membiarkan aku yang telanjang menangis hingga suaranya habis. Setelah itu kamu tahu kelanjutannya: kami pergi dengan sebuah perahu layar, meninggalkan dermaga hangus terbakar api. Kamu juga tahu bahwa aku berulang kali mengatakan pada diriku yang telanjang dan kini bisu,

Kita sudah tidak berada di sana lagi. Kita sudah pergi meninggalkan semua itu, menuju tempat lain yang lebih teduh, lebih damai—aku berjanji akan menemanimu hingga pulih dan moksa.

Awalnya pelayaran itu terasa begitu panjang dan menyiksa. Aku berusaha menahan diriku yang telanjang dan bisu untuk tidak melompat dari perahu, untuk tetap duduk bersamaku, dan terus meyakinkan dirinya bahwa akan ada dermaga lain di ujung sana, meskipun saat itu yang kami lihat hanya hamparan laut dan pantulan kilau matahari. Sesekali ia menuruti, namun seringkali ia menggeliat dari pelukanku.

Aku mengerti, aku mengerti, aku mengerti, ucapku setiap kali ia meronta-ronta ingin menceburkan diri ke laut.

Kita akan tiba di sana, sebentar lagi, bujukku agar ia tetap mau duduk bersama. Diriku yang telanjang dan bisu hanya bisa menangis tanpa henti. Aku minta maaf karena tidak banyak yang bisa aku lakukan—aku pun ketakutan, bisikku padanya.

Dalam pelayaran itu, kami bertemu sekoci-sekoci, dengan beberapa orang yang bersedia meminjamkan kompas dan peta navigasi. Mereka menghampiri dan menyampaikan,

Ada beberapa dermaga lain yang lebih dekat dan mudah dilalui, tapi apakah itu yang ingin kalian tuju?

Aku melihat diriku yang telanjang dan bisu, kami sama-sama menggeleng, tidak tahu.

Lalu kami meneruskan pelayaran, mengikuti terpa angin dan pasang surut lautan, terombang-ambing seraya memelihara keyakinan bahwa, akan ada dermaga teduh di ujung sana, yang bisa menerima kami tanpa banyak tanya.

Dan benar saja, pada suatu hari kami melihat sebuah dermaga kecil yang tampak teduh. Ada seseorang yang menanti di sana. Kami melempar sauh, turun dari perahu, berjalan pelan-pelan membelah riak pantai dan mendengar suara orang yang sepertinya telah lama menanti kami,

Selamat datang, silakan menepi!

Orang itu menggerakkan tangannya beberapa jengkal dari muka kami, lalu agak lama setelah itu, memeluk diriku yang telanjang dan bisu, hingga kemudian dia kembali menangis, yang terdengar seperti lolongan serigala—lama dan pilu. Tapi sehabis itu, aku yang kamu kenali saat ini, merasa bisa membaca arah angin, letak palung, permukaan rendah penuh terumbu karang dan arus bawah laut. Orang di dermaga kecil itu lantas memberi tahu,

Ini hanya persinggahan sementara, tapi boleh kalian hampiri lagi kapan saja.

Itu berarti, masih ada perjalanan lain lagi untuk akhirnya bisa benar-benar berlabuh.

Tapi kami tidak keberatan. Aku yang telanjang dan bisu akhirnya bisa duduk tanpa perlu selalu aku peluk. Ia bahkan bersandar di tiang layar perahu, menatap bentangan garis lurus yang selalu ada di ujung sana. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya, tapi sejak awal bertemu, aku tidak pernah melihat dia bisa duduk tenang seperti itu. Aku yang kamu kenali saat ini, akhirnya bisa sepenuhnya menjadi juru kemudi. Kali ini, untuk menemukan sekoci-sekoci lain, lalu meminta bantuan memeriksa pembacaan mata angin dan memetakan bersama arah ke dermaga yang ingin kami tuju.

Perjalanan itu terasa seperti dimulai kembali. Percik air laut terasa lebih segar, awan seperti selalu menyertai, dan meski terkatung-katung di tengah laut lepas, seperti ada yang menunggu kami di suatu tempat. Pada malam hari, kami bisa merebahkan badan dan menatap langit yang penuh titik-titik cahaya. Aku yang telanjang mulai bisa menyebutkan satu dua hal, meraba kulitnya yang mengering, dan merapikan helai-helai rambutnya yang menjuntai tak beraturan. Dia mengeja namanya, nama kami, suaranya pelan dan lirih, seperti meminta aku untuk mendengar benar-benar. Berkali-kali, setiap hari, hingga pada suatu pagi, ada sekoci berisi orang-orang yang kami cari.

Pertama, mereka memastikan bahwa kami sedang dalam keadaan yang baik dan sehat. Kedua, mereka menanyakan apa yang sudah terjadi dan apa yang bisa mereka bantu. Ketiga, kami menjelaskan dermaga yang ingin kami tuju, juga pembacaan mata angin yang kami perkirakan, lantas mereka memeriksa peta navigasi dan mengatakan,

Dermaga itu jauh sekali. Bukan tidak mungkin kita sampai ke sana, tapi apa kalian sudah benar-benar siap untuk melalui perjalanan yang lebih panjang lagi?

Aku yang kamu kenali saat ini dan aku yang telanjang namun tidak lagi bisu mengangguk bersamaan—iya, kami sudah siap.

Hari-hari setelahnya, kami mengarungi lautan ditemani orang-orang dari sekoci tadi. Beberapa kali kami melihat dermaga kecil yang ramai, di salah satunya, ada orang-orang yang memperbolehkan kami menepi. Di sana, kami duduk dan bercerita, seperti kawan semasa remaja yang bertemu kembali setelah sekian lama. Mereka mengelus-elus punggung aku yang telanjang, juga aku yang kamu kenali saat ini, menguatkan kami untuk menempuh perjalanan berikutnya. Mereka juga bertanya,

Apa kalian yakin? Kalian bisa berlabuh di sini juga, jangan sungkan.

Aku yang telanjang menggeleng lebih dulu, dia tampak lebih yakin dari aku yang kamu kenali saat ini. Sejujurnya aku ragu, juga mulai merasa penat dan tidak yakin dermaga yang ingin kami tuju itu benar-benar ada. Tapi karena aku sudah berjanji untuk menemani aku yang telanjang itu pulih, maka aku pun mengikuti apa yang ia mau.

Seperti beberapa orang yang pernah ada, kamu membuat aku dan nyaris setiap kepingan diriku merasa aman. Dan tidak seperti kebanyakan dari mereka yang sebelumnya, kamu tidak meminta imbalan apa-apa.

Lalu layar kembali terkembang. Kami duduk di perahu bersisian, memandang ke arah matahari yang memudar. Aku yang kamu kenali saat ini meraih pundak aku yang telanjang, dan ia membiarkan aku merangkulnya. Setelah itu, aku mendengar suaranya,

Apakah mati tenggelam terasa seperti melayang?

Aku menjawab,

Mungkin saja— di dalam laut semua memang terasa lebih ringan.

Aku melihat tetesan air mengalir perlahan dari pelupuk matanya.

Kamu ingin mati?

Iya, tapi mungkin tidak hari ini.

Kami saling bertatapan, lalu berpelukan, lalu menangis sesenggukan, lalu ketiduran, lalu kemudian terbangun lagi, hanya untuk mendapati bahwa perjalanan ini masih belum bisa kami akhiri.

***

Aku bisa mengingat beberapa orang yang tanpa sengaja membuatku perlu bercerita tentang episode yang kusut ini. Aku juga bisa mengingat sedikit di antaranya yang membuatku merasa bisa merinci episode pemulihan yang baru bermula setelah jeda yang sangat panjang. Tapi, aku sulit mengingat berapa dari mereka yang memungkinkan hal itu terjadi hanya dalam beberapa pertemuan saja.

Seperti beberapa orang yang pernah ada, kamu membuat aku dan nyaris setiap kepingan diriku merasa aman. Dan tidak seperti kebanyakan dari mereka yang sebelumnya, kamu tidak meminta imbalan apa-apa. Kamu justru membendung apa yang awalnya ingin aku beri begitu saja dalam salah satu pertemuan kita. Sejak itu, gumpalan benang di dalam kepala bisa aku tilik, tanpa percik api dan gunting besi berkarat; aku juga bisa menyentuh episode yang membuat berbagai kepingan diri beku dalam aku yang kamu kenali saat ini.

Aku ingin sekali meyakini bahwa, dengan maupun tanpa kamu mengerti, semua ini bisa aku lalui. Tapi, aku paham itu tidak mungkin dan tidak mudah. Jadi, demi segala hal yang telah aku dan kamu miliki jauh sebelum kita bertemu, aku memutuskan untuk menulis surat-surat yang aku bayangkan suatu hari nanti kamu baca, biarpun kita sama-sama tahu, bisa jadi hari itu tidak akan pernah ada.

Namun, untuk sekali ini, anggap saja hari itu akan ada, dan kamu pun membaca cerita tadi sebagai kelanjutan dari isi surat-surat itu. Dalam pengandaian ini, kamu kemudian tahu: jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku ingin bisa mendekapmu sedikit lebih lama, dan jika boleh, sedikit lebih mesra, tanpa perlu membicarakan apa-apa. *****

Raisa Kamilalahir dan besar di Banda Aceh. Selepas sekolah menengah atas, ia melanjutkan pendidikan di Yogyakarta dan Leiden untuk mendalami ilmu filsafat dan sejarah. Buku kumpulan cerita pendeknya, Bagaimana Cara Mengatakan ‘Tidak’? diterbitkan oleh Buku Mojok pada 2020.

I Made Somadita, lahir di Tabanan, Bali 1982. Lulusan ISI Denpasar ini tinggal dan bekerja di Denpasar, Bali. Sejak 2002 setidaknya sudah lima kali pameran tunggal, dan Pameran bersama di berbagi negara Asia, dan Eropa, aktif sampai sekarang. Pernah mengikuti program residensi seni dalam kurun waktu 2011-2015 di Thailand, Perancis, Belanda, India, dan Indonesia.

sumber : kompas.id, 29 Okt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme