Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jama’ Taksir oleh Muna Masyari

Posted on Sab, 08 Apr 2023

”Beliau menginginkan anak lelaki sebagai penerus.”

”Memangnya kenapa kalau perempuan?” kejarku.

Kau terdiam sejenak. ”Karena perempuan selalu menjadi isim maf’ul, bukan isim fa’il.”

Jawabanmu serasa menyuapiku dengan ”tahu-tempe”, istilah lain dari nahwu-sharaf ketika di pondok dan menjadi menu wajib para santri.

”Kita dinikahi, bukan menikahi. Diboyong, bukan memboyong. Jadi makmum, bukan imam,” tambahmu, membuatku terpaksa menelan pertanyaan sendiri.

KENYATAANNYA memang demikian. Bahkan sebelum janur melengkung di pintu halaman, dulu calon suamiku sudah menyampaikan bahwa seminggu setelah acara pernikahan aku akan dibawa pulang.

”Dan kau tahu sendiri, sepuluh anak yang kulahirkan semua perempuan.” Senyum lebarmu seolah tengah menertawakan diri sendiri.

”Tapi, bukankah…” kalimatku terhenti ragu seperti jarum mesin yang mendadak patah.

… bukankah kau pernah bercerita soal kesepakatan dengan suamimu bahwa tidak akan ada perempuan kedua, ketiga, apalagi keempat, dengan memberinya sepuluh keturunan? Menurutmu, alasan kuat seorang kiai berpoligami hanyalah ingin memperbanyak umat nabi.

Baca Juga: Monolog Ken Dedes

”Bukankah kita pernah belajar tentang isim maupun fi’il yang bisa mu’rab sesuai kedudukan dan amil-nya?”

Seperti memahami kalimatku yang terpenggal.

”Demikian juga dalam hidup. Manusia dan perilakunya bisa berubah sesuai keadaan. Kemungkinan berubah itu selalu ada,” lanjutmu, menjatuhkan punggung ke sandaran sofa.

”Termasuk mengubah janji yang sudah disepakati?” susulku cepat.

”Itu bisa saja terjadi.”

Ketakberdayaan yang berusaha kausembunyikan membuatku membatu sekian detik.

”Aku bukan menolak konsep poligami yang diperbolehkan dalam syariah. Itu bukan hal yang buruk selama memenuhi syarat, hak dan kewajiban. Hanya, aku sendiri yang tak sanggup menjalaninya. Hatiku tidak sesuci itu!” kembali menarik punggung, membukakan tutup stoples berisi kastengel dan nastar kurma, lalu mengangsurkannya padaku bergantian.

Baca Juga: Lisa Melawan di Pentas Monolog Chicago

Kuambil satu kastengel tanpa minat memakannya.

”Orang boleh minta apa pun dariku, asal jangan minta berbagi suami.” Kau masih bisa menjaga nada suaramu sedatar mungkin, seperti air sungai yang tampak diam tanpa gerak.

Kuakui kau memang pemurah hati. Terbiasa berbagi apa pun yang kaumiliki, walaupun itu sudah menjadi peraturan tak tertulis kalau di pondok. Setiap mendapat kiriman, berbagai macam makanan dan camilan yang dibawakan orang tuamu dibagi-bagikan, tanpa berpikir menyisakan untuk besok.

Bahkan hingga sekarang, ketika kau memintaku datang karena ingin menjahit pakaian, bagasi mobil yang mengantarku pulang hampir penuh dari berbagai macam pemberianmu. Entah itu pisang, beras, sayur, ubi, kacang tanah yang masih dengan kulitnya. Katamu, itu hasil oleh-oleh dari para tamu.

Jika petani sekitar selesai panen tanam, hasil terbaik yang dihaturkan padamu tak lupa kausisihkan sebagian untukku. Dua santrimu yang mengantarkannya ke rumah.

”Perlakuan adil mungkin bisa dilakukan, tapi kasih sayang tidak akan pernah terbagi rata, karena itu soal rasa.”

”Itukah sebabnya, ingin melahirkan anak lelaki meskipun harus hamil sampai sekian kali?”

Seharusnya aku bisa menahan tatapan dan menekan tinggi suaraku, sebab di sini para santri dan tamu-tamumu biasa menunduk dan bersuara kecil setengah berbisik.

Baca Juga: Monolog Angka

”Jika itu sanggup kulakukan, kenapa tidak?”

”Kalau nanti masih lahir perempuan?” kejarku menahan jengkel.

”Selama masih bisa hamil, bisa dicoba lagi.”

Ipeeeeeeh! Sampai kapan kau akan jadi mesin peternak? Itu konyol sekali! Memangnya melahirkan anak itu seperti kuis? Umpatan itu hanya merusuh dalam hati.

Andai Sanot ada di sini, aku yakin dia juga akan mengomelimu sebagaimana sering dilakukan ketika kau susah sekali dibangunkan. Dia pasti akan menceramahimu tentang risiko kehamilan di usia 40-an. Atau, mungkin saja memberi pandangan lain mengenai posisi perempuan yang tecermin dalam sejarah Islam.

Sesama teman seangkatan, seasrama, dan sekelas yang sama-sama belajar mandiri juga beradaptasi sejak hari-hari pertama menjadi santri di usia tak lebih dari 13 tahun, banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Mencuci dan memasak merupakan pekerjaan baru yang sama-sama kita lakukan dengan canggung dan serbakeliru. Ketiduran pada jam-jam kajian, terlambat bangun sebelum subuh, disuruh membersihkan toilet akibat tidak salat Tahajud, menjadi tali yang saling mengikat satu sama lain.

Kau ingat, gara-gara muntah saat membersihkan toilet itulah Sanot jera dan menjadi anak paling rajin bangun sebelum pukul 3 dan menjadi alarm kita berdua. Sanot juga yang sering membantu kita saat kesulitan memahami pelajaran dan menjadi penasihat ketika kita melanggar aturan kepesantrenan.

Tinggalkan ke-nyai-an dan ke-lora-an kalian di rumah. Jangan bawa ke sini! Dawuh kiai sepuh yang dijadikan pengumuman di atas pintu gerbang pondok dan menjadi pegangan para santri membuat kami terlambat menyadari status ke-nyai-anmu.

Meskipun berbeda status sosial, persahabatan kita terjalin begitu saja dan mulai terbiasa memanggil nama masing-masing dengan sekenanya.

Akan tetapi, sekarang kita sudah bukan santri yang sering antre di depan toilet setiap pagi dan terbiasa mendengar teriakan dan gedoran pintu; ”Woi, bawa toilet dari rumah kalau mau lama-lama!”. Kita sudah sama-sama membangun keluarga dan meniti jalan nasib yang berbeda-beda dengan ragam persoalan di dalamnya.

Waktu dan jarak sering jadi dinding yang kian pekat. Terbukti, sejak menikah, hanya dua kali kita bertemu dengan Sanot, pas acara pertemuan alumni. Kau masih ingat saat dia bilang bahwa suaminya tidak mengizinkan bepergian jauh jika dirinya sedang tidak di rumah? Itu sebabnya Sanot jarang menghadiri pertemuan alumni yang biasa diadakan pada bulan Syawal, merangkap halalbihalal. Padahal jarak tempuh dari rumahnya ke pondok tidak lebih dari 10 kilometer.

Baca Juga: Sebelum Hari Itu

Kadang kupikir, pernikahan memang menjadi penjara suci kedua bagi perempuan setelah pondok pesantren.

Sedangkan kini kau sudah menjadi Nyai Lathifah, istri seorang kiai penceramah sekaligus pewaris tunggal pondok pesantren asuhan orang tuanya. Bukan Ipeh yang dulu sering kesulitan mengenali jama’ taksir karena bentuknya yang tak beraturan dan tidak ada tanda khusus, hingga suara Sanot sering meninggi dengan sendirinya setiap kali memberi penjelasan yang sama. Kau sudah menjadi Nyai Lathifah yang sibuk mendidik santri, menerima tamu, dan menghadiri undangan. Sudah menjadi seorang ibu dari 10 putri yang kesemuanya tumbuh besar dalam asuhan santri abdi. Bukan Ipeh yang dulu sering berdiri selama hampir tiga jam gara-gara gagal menyetor hafalan.

Dengan posisimu saat ini, tentu aku harus menjaga sikap. Harus belajar menahan kesal.

”Sudah berapa bulan?” kulirik perutmu sekilas. Dengan lingkar dada mencapai 130 cm, lingkar pinggang 124 cm, dan panjang gamis kurang dari 125 cm, hamil atau tidak hampir tidak ada bedanya.

”Baru empat bulan,” setangkup senyum menggaris tipis di bibirmu, seolah ingin menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja. Sebagaimana saat akan menghadapi ujian menjelang haflatul imtihan padahal malam sebelumnya telah dikalahkan oleh kantuk hingga tidak semua materi ujian berhasil kaukuasai.

Kutarik napas dalam, lalu mengembuskannya diam-diam.

Bayi terakhir yang kaulahirkan mungkin baru menginjak 12 bulan. Seingatku, waktu itu baju Lebaran-mu yang kujahit belum sempat diambil ketika keburu melahirkan, menjelang malam 27 Ramadan, saat wali santri berbondong-bondong menghaturkan nasi ketan dan kolak pisang.

Kukira bayi itu akan menjadi putri bungsu. Ternyata….

***

Dengan saksama kuperhatikan gulungan kain yang berjajar di rak displai dan yang tersampir pada boneka, lalu memeriksa kualitas seratnya dengan sentuhan. Ada cotton combed, cotton silk, chambray, jersey, viscos, wol merino, chasmere, dengan aneka warna, baik yang polos maupun bermotif.

Sebulat tubuhmu memang harus dicarikan kain yang nyaman, berdaya serap tinggi, bahan jatuh, dan warna yang tidak terlalu terang. Motif besar-besar hanya akan membuat tubuhmu kelihatan semakin bulat mengembang. Apalagi dengan potongan daster.

Baru saja aku menimbang-nimbang pilihan pada kain yang tersampir di tubuh salah satu boneka dan hendak memanggil pelayan toko, ketika tanpa sengaja kulihat seseorang berdiri dekat meja pemotong. Wajah perempuan yang rasanya kukenal. Kuperhatikan lebih dekat agar semakin jelas.

Dengan baju kurung dan jilbab lebar menutupi separo badan, bentuk tubuhnya memang sulit kukenali. Apalagi kelihatannya sedang hamil tua. Akan tetapi, wajah itu tidak banyak berubah.

Belum sempat kudekati, dia sudah melangkah pergi setelah menerima bungkusan kainnya dari pelayan, tanpa sempat melihatku. Tatapanku terus mengikutinya hingga ke area parkir. Ada seorang lelaki berjubah putih dengan serban melilit kepala, menggendong bocah lelaki, berdiri dekat Avanza silver, tengah menunggu.

Hampir tak bisa kupercaya ketika mereka sama-sama masuk ke mobil.

Kabar terakhir yang pernah kuterima, suaminya meninggal di usia pernikahan mereka menginjak 6 tahun tanpa anak. Dan dia memilih hidup sendiri dengan menjadi hafizah sambil mengajar di sebuah pondok dengan panggilan Ustadah Uswatun Hasanah.

Haruskah kuberi tahu dirimu bahwa sahabat yang sering mengajari kita bagaimana cara memasak, mengunyah, dan menikmati ”tahu-tempe” telah membangun jama’ taksir bersama suamimu? Pertanyaan itu terus memburuku hingga ke rumah. (*)

Madura, Februari 2023

—

MUNA MASYARI : Penulis asal Pamekasan. Buku-bukunya pernah mendapatkan penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim dan Kemendikbudristek sebagai buku cerpen terbaik. Juga masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 untuk novelnya, Damar Kambang.

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 8 April 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme