Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gadis Pendoa oleh Tata Febriana Khaerunnisa

Posted on Sab, 25 Nov 2023

Mila berdiri di sudut meja makan ketika yang lain duduk dan menikmati sajian makan siang; semur bebek dengan kuah kental, dimakan bersama roti yang tampak selebar piring saat disajikan. Ketukan jari telunjuk Mila di meja makan membuat ayahnya melotot. Mila tidak mendapat jatah makan siang bukan tanpa sebab. Dia sudah tiga minggu kabur, dan orangtuanya sudah berusaha mencarinya tapi tak dapat ditemukan; sampai-sampai orangtuanya menganggap Mila sudah mati dimakan serigala atau diculik lelaki durjana. Namun, dia kembali, dan mengatakan bahwa dia baru saja menyelesaikan kegiatannya sebagai anggota organisasi yang merawat warga di desa seberang.

”Aku tidak menyangka Ibu benar-benar membuang kursiku,” Mila berkata dengan suara bergetar karena terlampau takut dihajar ayahnya. Tidak ada jawaban; hanya bunyi garpu dan sendok besi yang beradu di atas piring keramik yang di beberapa bagian pinggirnya sudah tidak rata, dilanjutkan dengan suara kursi yang digeser ke belakang tanda Ayah telah menyelesaikan makan siang lalu berjalan keluar untuk mengisap cerutu. Mata Mila mengikuti gerak punggung ayahnya sampai sosoknya hilang di balik pintu utama.

”Bersiap-siaplah bersama kakakmu, kau harus pergi ke Kotak,” ucap Ibu mengembalikan kesadaran Mila. ”Kursimu ada di bawah tangga. Ibu hanya bergurau. Ibu tidak membuangnya. Naiklah, Sarah akan membantumu berpakaian,” tandasnya.

Mila masih berdiri di tempat yang sama, memperhatikan jari telunjuknya yang kembali mengetuk ujung meja. Pandangannya bergerak menuju kakaknya yang mengangguk ke arahnya, berdiri, dan mengajaknya untuk bersiap-siap naik. Wajah kakaknya, yang hampir tak pernah terlihat ceria atau memancarkan semburat merah muda, hari itu juga terlihat abu-abu dan kusam dengan bola mata hitam legam seperti bola mata ayahnya. Tahi lalat yang sangat banyak di wajahnya terlihat seperti taburan bintang-bintang di langit malam.

”Ayo naik, aku akan membantumu berpakaian.” Sarah berusaha tersenyum di akhir kalimatnya.

Wajah kakaknya, yang hampir tak pernah terlihat ceria atau memancarkan semburat merah muda, hari itu juga terlihat abu-abu dan kusam dengan bola mata hitam legam seperti bola mata ayahnya.

Mila mengikuti kakaknya ke bagian atas rumah; ruangan yang tak terlalu besar; bagian atap yang dipergunakan sebagai tempat menaruh pakaian, perlengkapan keagamaan, atau barang-barang yang sudah dilupakan. Mereka berjalan menaiki tangga yang seperti siap ambruk kapan saja dan mengubur siapa pun yang memijaknya bersama reruntuhan kayu yang usianya lebih tua dari orang-orang di rumah itu. Suara decitan yang memilukan membuat setiap langkah serupa doa agar tidak meluncur menuju kematian.

Sarah mulai melaksanakan tugasnya; mengambil dua pakaian yang biasanya digunakan untuk pergi ke Kotak. Pakaian lengan panjang nan lebar, menutupi dari leher sampai ujung kaki.

Ditambah topi yang hanya melingkupi pucuk kepala, berbentuk segitiga dengan rumbai berwarna putih yang menjuntai hingga menyentuh tanah, dikaitkan dengan jepitan pipih yang menyiksa karena mengakibatkan beberapa helai rambut tercabut paksa dan meninggalkan aroma besi yang menganggu. Mila mengaduh beberapa kali saat rambut ikalnya tercabut akibat jepitan itu.

Selesai berpakaian, Sarah membuka tirai penutup cermin, melihat pantulan dirinya, dan membiarkan adiknya melihat pantulannya untuk sesaat; cukup sekadar untuk melihat matanya, sebelum menutup tirai setinggi badan orang dewasa itu kembali seperti semula.

”Aku bahkan belum merapikan rambutku,” gerutu Mila.

”Kau terlihat cantik. Seperti gadis pendoa yang taat,” balas Sarah.

Mila menelisik kakaknya, yang mengenakan pakaian serba hitam tanpa motif atau corak apa pun. Sarah seperti memakai bayangan yang timbul di bawah sinar rembulan. Rambut lurus Sarah terlihat indah dengan topi segitiga dan rumbainya yang panjang itu.

”Aku selalu mengagumimu, kau terlihat sempurna,” ucap Mila dengan wajah berbinar.

Matanya yang bulat dengan pupil coklat muda memancarkan aura kekaguman yang menakjubkan.

”Puja pujian hanya untuk Tuhan. Berhentilah melontarkannya jika tidak untuk Tuhan.

Kau akan berdosa karenanya,” jawab Sarah datar. ”Ayo turun,” ajaknya sambil berjalan melewati Mila.

Mila mengikutinya dari belakang, melihat punggung kakaknya yang sedikit bungkuk. Di bawah, ibunya sedang memasangkan pakaian Yonas; putih dengan sulaman benang emas di tiap pinggirannya.

”Yonas sekarang menjadi pendoa juga?” tanya Mila dengan nada mengejek.

”Jangan bercanda. Adikmu sedang bersiap-siap membaca kitab di balai desa.”

”Tidak biasanya membaca kitab di balai desa,” Mila menyahut.

”Iya. Ada seorang taat kaya raya yang ingin mendengar bacaan kitab terbaik dari desa ini. Kudengar, dia membeli tanah para warga dan mendapatkan hasil tani lebih banyak dari biasanya, seperti nabi yang diutus untuk tanah berdosa ini. Sekarang kita bersama-sama mendoakan orang taat itu agar raganya selalu sehat dan kuat, serta jiwanya selalu dekat dengan Tuhan.”

Mereka menundukkan kepala. Mila bingung harus berdoa apa. Dia hanya menutup matanya, berpura-pura menjadi bagian dari mereka.

”Ibu, aku akan kembali bergabung dalam kegiatan merawat warga desa seberang bersama teman-teman di organisasiku. Ketuanya, guruku saat di sekolah dulu, bilang bahwa aku sangat berbakat merawat orang-orang. Aku sangat ingin jadi perawat,” ucap Mila setelah doa mereka selesai dan pandangannya bertemu dengan mata ibunya.

”Oh, Mila, sayangku, merpati surgaku. Manusia tidak bisa merawat manusia lain untuk sembuh. Hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan manusia. Kau tidak harus mengikuti kegiatan organisasi konyol itu lagi untuk merasa berguna. Jadilah gadis pendoa agar kau bisa menyembuhkan orang-orang.” Mata mereka yang berwarna serupa kembali beradu pandang untuk beberapa saat. Keteguhan terpancar dari wajah Ibu yang seperti sudah muak dengan Mila dan mimpi-mimpinya. Rambut ikalnya, warna matanya, bentuk hidung dan bibirnya, membuat Mila merasa sedang becermin. Hanya saja, yang tampak adalah Mila dua puluh tahun yang akan datang.

”Saat pelatihan aku berhasil merawat hingga sembuh anak-anak yang terkena kudis. Aku memiliki keahlian menyembuhkan orang-orang. Percayalah.”

Ibu berbalik, memunggungi Mila, dan kembali sibuk dengan pakaian Yonas yang tidak pernah sempurna itu.

”Kau hanya merasa bisa menyembuhkan anak-anak itu, tapi sebenarnya tidak. Apakah kau menyembuhkan mereka saat menyentuhnya?”

”Tidak, aku merawat mereka hingga sembuh.”

Helaan napas Ibu terdengar sangat berat setiap kali Mila menyelesaikan kalimatnya.

”Kau tidak menyembuhkannya. Waktu yang menyembuhkannya. Waktu adalah ciptaan Tuhan. Terimalah bahwa Tuhan menyembuhkan segalanya,” ucapnya. ”Berdoalah dengan baik hari ini. Keluarga Maria mempercantik taman rumahnya karena anak-anak mereka yang taat berdoa dengan sungguh-sungguh,” tambahnya.

Mila dan Sarah keluar dari rumah dan berjalan ke arah utara, melewati jalan dengan genangan lumpur yang rembesannya masuk hingga terasa di telapak kaki. Selama perjalanan, tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya bunyi sepatu kulit yang berusaha keluar dari lumpur dan erangan Mila yang terus menerus terdengar. Sementara Yonas, bersama Ayah dan Ibu, menaiki gerobak yang meluncur ke arah yang berlawanan; menuju balai desa.

Sarah dan Mila sampai di lapangan tempat para jemaah berkumpul, menunggu Kotak-kotak dibuka. Hari itu tidak banyak gadis pendoa yang datang, tapi jemaah hampir memenuhi seluruh tempat itu. Sarah menarik Mila ke Kotak keluarga mereka. Mila memasuki Kotak berwarna ungu tua dengan ukiran seadanya; terbuat dari kayu yang sudah keropos ujung- ujungnya; engsel pintunya berderit nyaring saat dibuka. Begitu juga Kotak milik Sarah. Ibu biasanya mengisi Kotak yang dimasuki Mila, saat Mila tak ada. Memang, kerap kali Mila tak datang ke Kotak, bukan hanya saat dia ikut dalam organisasi perawat, tapi juga sebelum- sebelumnya. Kalau saja Yonas bukan laki-laki, tentu ia, dan bukan Ibu, yang akan menggantikan Mila di Kotak.

Namun, sebelum mereka berangkat tadi, Ibu berkata bahwa memiliki anak laki-laki di keluarga mereka ialah sebuah anugerah dan mukjizat; bagai penggenap hamba Tuhan yang memiliki kelebihan untuk satu langkah dekat dengannya. Yonas adalah karunia; seperti bintang di pucuk pohon cemara untuk keluarga kecil mereka.

”Salam, terima kasih sudah selalu mengingat Tuhan dan meminta bantuannya,” ucap Mila. Itu kalimat pembuka yang selalu diucapkannya setiap saat matanya dan mata jemaah yang datang bertemu.

”Oh, gadis pendoa. Doakan kesehatanku yang sudah rapuh dan kekuatanku yang sudah memudar ini. Tanah kami tidak menghasilkan apa-apa pada panen bulan lalu karena air yang tak kunjung mengalir. Kami akan memulai menanam pada musim penghujan ini, berkahilah tanah yang tidak lagi kami miliki, tapi kami tetap bekerja penuh untuknya.”

Mila tahu perempuan tua itu; keluarga mereka mengelola sepetak ladang yang tidak terlalu luas tapi menghasilkan kentang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Mereka menukar kentang dengan bahan pangan lain dan tidak pernah mengeluh. Sayang sekali, panen mereka gagal bulan lalu.

”Oh, Tuhan yang baik dan memihak kami untuk kebajikan. Berkahilah ladang hambamu yang meminta kebaikan dan kemurahan hatimu, dan juga….”

Perempuan tua itu menyela doa Mila.

”Kutambahkan sedikit, semoga tanah yang kami jual kepada orang taat kaya raya itu bisa menghasilkan lebih banyak kentang untuk kami.”

Setiap Mila selesai berdoa, jemaah yang datang akan memasukkan uang ke kotak kecil di bawah kaki mereka. Ada sekitar sepuluh atau lebih jemaah yang masuk ke Kotak pada hari itu, dan hampir semua meminta hal yang serupa; panen yang baik dari ladang yang mereka jual ke orang taat kaya raya yang lebih pandai mengelola lahan. Semua orang bergantung pada orang itu.

Langit di luar sebentar lagi akan gelap ketika jemaah terakhir masuk ke Kotak Mila.

Jemaah itu membuka pintu kecil di antara mereka dengan gerakan kasar yang mengejutkan.

“Salam, terima ka….“

Doakan juga agar seluruh ladang yang diambil alih oleh orang taat kaya raya itu mengalami kegagalan panen karena memonopoli air. Doakan agar kemarau tahun ini lebih panas dan ganas, sehingga awan-awan enggan berkumpul di atas kepala kita.

”Kau harus mendoakan agar seluruh orang di desa ini terkena penyakit yang sama dengan istriku. Agar istriku tidak kesepian dan dokter mengupayakan obat yang tepat selain memintaku mengunjungi gadis pendoa setiap hari. Doakan juga agar seluruh ladang yang diambil alih oleh orang taat kaya raya itu mengalami kegagalan panen karena memonopoli air. Doakan agar kemarau tahun ini lebih panas dan ganas, sehingga awan-awan enggan berkumpul di atas kepala kita.”

Mila memejamkan mata, menundukkan kepala, dan mengulang seluruh doa yang diminta lelaki tadi. Setelah rampung, dia membuka mata, dan tertawa. Lelaki itu juga tertawa.

”Amin,” ucap mereka nyaris bersamaan.***

Tara Febriani Khaerunnisa, lahir di Ampenan, Lombok, 7 Februari 2001. Alumnus Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram. Beberapa cerpennya telah terbit di platform digital. Ikut terlibat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

sumber : kompas.id, 25 Nov 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme