Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dialog Literal di Alla Caffe oleh Yuan Jonta

Posted on Kam, 14 Des 2023

Seorang pemuda, sebut saja X, menggulir layar telepon pintarnya terus-menerus. Dari gelagatnya, aku tahu ia sedang menunggu seseorang; di luar gerimis tipis-tipis, tampaknya orang yang ditunggu kelewat telat dari jam janjian. Aku memutar lagu sendu, untuk orang yang sedang menunggu. Gelas-gelas kucuci berdenting-denting untuk memancing seorang tamu yang tak kunjung membeli.

Ia semringah ketika terlihat dari arah perempatan sebuah vespa tua merah marun melaju ngebut. Seorang pengendara tanpa jas hujan, helm hitam tanpa kaca, jaket Levi’s berkibar-kibar, flanel merah-hitam menggelap kuyup. Ada-ada saja kelakuan orang.

Seorang tamu yang tidak kunjung memesan ini berdiri. Benar itu orang yang ditunggu, lelaki yang dari brewoknya menetes hujan: sebut saja dia Y. Y menaruh helmnya di meja bar sembarangan. ”Maaf,” katanya kepadaku ketika dengan kekuatan kedua bola mata kutatap helm itu dengan tatapan kasih sayang. Ia memindahkan helm itu ke bawah bangku. Bagus.

”Untuk apa, X? Seperti rekan bisnis saja. Kan bisa telepon atau ke rumah. Buang-buang uang,” belum juga duduk Y sudah mencecar. Sungguhlah sebuah ketidaksopanan berbicara demikian di depan barista. Buang-buang uang? Hellow …

X belum menjawab, Y merapikan rambut poninya sambil memandang ke arah kaca di belakangku, itu pasti akal-akalan saja, dari tadi ada gadis duduk seorang diri di sana. Aku barista Alla Caffe, Y bukan tipe wanita itu.

Ia semringah ketika terlihat dari arah perempatan sebuah vespa tua merah marun melaju ngebut.

”Minum apa, Bro?” kata X.

”V60.”

”Oke. Vietnam drip dan V60 satu,” ia mengangkat alis untukku. Nah, begitu.

Mereka duduk bersebelahan di depan meja bar. Kumasukkan beberapa miligram kopi. Takarannya takkan kusebutkan, itu rahasia barista terbaik di kota ini.

”Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” X berbicara tanpa tedeng aling-aling, tepung kopi tumpah nol koma sekian miligram di atas timbangan. Fakta baru kutemukan mereka pasangan homoseksual, bakal jadi mantan; telingaku curi-curi dengar, sebuah adegan menarik akan terjadi di depan meja barista.

”Maksudnya?” jawab X. Kutarik selembar filter dari bungkusnya dengan hati-hati. Suara plastik tidak boleh mengganggu nuansa sedih ini. Diam-diam kukecilkan volume musik yang dikontrol dari telepon genggamku. Aku butuh nuansa lebih sendu.

Air kutuang sekian mililiter ke dalam teko, menunduk sejajar dengan wadah tertuang, kuintip kedua wajah itu dari antara teko dan leher angsa. Tanda seru mencuat dari satu kepala, tanda tanya berbarisan di kepala yang lain.

”Aku merasa kita sudah tidak memiliki satu pandangan yang sama.” Oh, beda visi. Kutuang seimbang air di atas filter. Air di dalam gelas naik perlahan. Kertas melembek, suasana menegang.

”Saya tidak mengerti. Kita hanya berteman biasa,” X akhirnya menimpali. Kesimpulan keliru, mereka bukan pasangan kekasih.

”Itulah yang kumaksud, X. Aku sudah tidak merasakan ikatan emosional yang sama lagi denganmu. Kita sudah tidak memiliki satu pandangan yang sama, musuh yang sama, minat, dan pekerjaan yang sama.”

”Saya masih belum mengerti maksudnya?”

”Ikatan pertemanan seperti halnya orang pacaran. Bila hasrat pertemanan sudah tidak ada, maka hubungan itu sebaiknya tidak lagi berjalan.”

”Saya tidak mengerti. Tadi kau hanya mengajak saya untuk minum kopi di kafe ini. Tapi tiba-tiba kau berbicara seolah-olah kita ini adalah dua sejoli yang sudah lama berhubungan serius. Apa saya melakukan kesalahan belakang ini?”

Sebuah intermeso kecil untuk dialog ini: kudorong lembut dua gelas kopi. Mereka diam sejenak sampai kopi terbaik ini tersaji sempurna di atas meja. ”Terima kasih,” kata X.

Adegan terhenti sementara, seorang pembeli lain datang membayar. Seorang pelanggan setia. Kami bercakap sebentar, seperti biasa dia memberiku pujian. Ia bilang, simpan saja kembaliannya. Rezeki barista soleh.

Sebuah intermeso kecil untuk dialog ini: kudorong lembut dua gelas kopi. Mereka diam sejenak sampai kopi terbaik ini tersaji sempurna di atas meja.

”Minum dulu, X. Pikiranmu sedang tak beres. Wajahmu seperti kurang tidur,” kata Y, lalu mereka menyeruput kopinya masing-masing. Situasi agak tenang. Memang kopi ini ajaib, apalagi pembuatnya.

”Bilang saja terus terang kalau saya ada salah, X. Tidak apa-apa,” Y memulai percakapan lagi.

Diam agak lama. X menarik napas dalam. Dua kali. Yang kedua sambil menutup mata.

”Justru itu yang kumaksud. Sebelum ada salah seorang yang membuat kesalahan, sebaiknya kita perjelas lagi hubungan kita. Saya sudah tidak lagi mau berteman denganmu. Saya tidak mau berpura-pura merasa seperti teman, padahal di dalam hati, saya tidak merasakan adanya kebutuhan, atau sekadar keinginan untuk berteman denganmu. Biar kau tidak bingung mari kuperjelas: dengan hilangnya kebutuhan pertemanan denganmu, maka ada kemungkinan suatu saat aku mengkhianatimu, menjadi musuh dalam selimut, atau menjerumuskanmu pada persoalan-persoalan yang sudah kuketahui sebelumnya akan menyulitkanmu. Jadi, saya harap kau mengerti apa maksudku.”

Ini percakapan yang tidak biasa. Aku barista, ini pengalaman pertamaku.

”Baiklah, kalau begitu. Tapi kau tidak perlu mengajakku bertemu seperti ini. Kau bisa saja tidak menghubungiku dalam waktu yang lama, atau kau carilah teman lain untuk waktu yang lama dan tidak mengajakku ke mana-mana. Tapi ini aneh, semalam kita masih chat-chat-an.”

Ini memang aneh.

”Justru itu, saya sebenarnya tidak punya niat meladenimu semalam. Saya benar-benar meladenimu karena terpaksa. Makanya hari ini saya mau memperjelas batasan baru kita.”

”Oh baiklah, silakan blokir kontak saya. Kita bayar minuman kita masing-masing. Saya mau pergi. Dasar aneh, kau pikir pertemanan itu transaksional, dagang, bila tidak ada keperluan jual-beli maka hubungan itu harus selesai. Kau aneh. Dan pikiran-pikiranmu selalu aneh.”

Ini. Benar. Benar. Aneh.

Y menggeser bangku, hendak berdiri.

”Jangan pergi dulu. Inilah yang kumaksud. Aku mau hubungan pertemanan kita berakhir dengan baik-baik. Bukan karena pertengkaran yang seperti ini. Jangan pulang dulu sebelum kau memahami betul situasi yang aku inginkan.”

”Situasi, situasi. Situasi apa!?”

Sepertinya aku perlu mengganti musik. Barangkali ”The Time is Now” lebih cocok. Oh, tidak. Terlalu kentara. Sebaiknya kunaikan sedikit volume lagu yang sekarang. Perlahan-lahan….

”Seperti yang saya jelaskan tadi. Saya mau pertemanan ini berakhir dengan baik-baik. Kau kembalilah dengan kehidupanmu sendiri dan aku kembali dengan kehidupanku sendiri. Kita tidak berteman. Tapi bukan berarti hubungan pertemanan tidak pernah terjadi. Kita pernah berteman. Kita hanya menyepakati diri masing-masing untuk tidak lagi berteman. Bukan karena ada masalah. Bukan karena pengkhianatan. Murni karena kita sudah tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan hubungan pertemanan.”

Seperti yang saya jelaskan tadi. Saya mau pertemanan ini berakhir dengan baik-baik. Kau kembalilah dengan kehidupanmu sendiri dan aku kembali dengan kehidupanku sendiri.

”Dasar kurang ajar. Baiklah! Kita tidak usah berteman lagi. Ada-ada saja! Aku mau pulang! Tidak usah tahan-tahan lagi,” Y membungkuk, mengambil helmnya.

”Tunggu dulu…!”

”Apa lagi!!!” Helm sudah di tangan. Sudah ada alasan. Hanya butuh sedikit niat untuk membantingnya ke wajah X. Sekarang waktu paling tepat untuk ”The Time is Now”.

”Sabar… kita belum berjabat tangan. Tanda berakhirnya hubungan pertemanan kita.”

Y kembali meletakkan helmnya di meja secara sembarangan, kali ini dia abai dengan tatapan penuh kasih sayangku. X mengambil tangannya.

”Kau kelihatannya tidak ikhlas,” ucap X untuk genggaman yang tidak tegas.

Lalu Y menggenggam dengan benar.

”Dengan ini, maka kami berdua menyatakan bahwa kami sudah bukan sepasang teman lagi. Segala komunikasi, pertemuan, dan hubungan yang mungkin kami jalani dalam waktu-waktu ke depan bukanlah atas dasar hubungan pertemanan melainkan karena kami adalah pribadi yang saling kenal. Segala rahasia-rahasia yang sudah saling kami ketahui akan tetap kami tutup rapat- rapat; bukan karena kami berteman, melainkan karena kami adalah manusia yang beretika.”

Hmmm… X sepertinya notaris.

”Untuk minuman sore ini, saya yang bayar, karena saya adalah pihak yang berinisiatif melaksanakan pertemuan ini. Sekian,” tambanya. Bagus sekali. Ini baru benar. Beberapa kali pelanggan tidak membayar dengan oleh alasan pertengkaran. X memang beretika.

”Bodoh!!!” Sialan, aku kaget.

Y kemudian melemparkan uang untuk minumannya ke meja. Lebih untuk hitungan mereka berdua. Aku bingung. X kembali duduk memandangi Y yang sudah melaju dengan sepeda motor.

”Tidak bisakah pertemanan berakhir dengan baik-baik?” tanyanya kepadaku. Mana kutahu, Bro….

Aku mengambil uang dari laci lalu menyerahkan kembalian kepada X. Dia malah melotot dan kemudian memberi uang lagi dari sakunya; ia pergi tanpa berhasil kucegah, uangnya juga lebih.

Hari ini aku untung dan bingung. Ini sore yang ganjil. Hari apa ini? Aku menepuk-nepuk pipiku, ini bukan mimpi.

Seorang gadis keluar dari ruang dalam. Menenteng tas dan sebuah buku. Ia meletakkannya di atas meja. Aku tentu tidak marah untuk barang-barang seperti begini.

”Ini buku apa, Nona?”

”Ha-ha-ha, buku latihan menulis kreatif.”

Kubaca: ”Kiat Menjadi Penulis dalam Semalam”.

”Wah, boleh kubaca sebentar.”

”Simpan saja, Son. Nanti kuambil saat kau sudah selesai.”

Alla Caffe tutup lebih cepat. Aku ingin membaca. Ada cerita ganjil yang perlu kuwartakan.

Ruteng, 23 Februari 2023

Yuan Jonta, menetap di Ruteng, Manggarai, NTT. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Anggota Bincang Buku Petra Ruteng. Sedang menekuni dunia mengarang cerita pendek.

sumber : kompas.id, 14 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme