Seorang pemuda, sebut saja X, menggulir layar telepon pintarnya terus-menerus. Dari gelagatnya, aku tahu ia sedang menunggu seseorang; di luar gerimis tipis-tipis, tampaknya orang yang ditunggu kelewat telat dari jam janjian. Aku memutar lagu sendu, untuk orang yang sedang menunggu. Gelas-gelas kucuci berdenting-denting untuk memancing seorang tamu yang tak kunjung membeli.
Ia semringah ketika terlihat dari arah perempatan sebuah vespa tua merah marun melaju ngebut. Seorang pengendara tanpa jas hujan, helm hitam tanpa kaca, jaket Levi’s berkibar-kibar, flanel merah-hitam menggelap kuyup. Ada-ada saja kelakuan orang.
Seorang tamu yang tidak kunjung memesan ini berdiri. Benar itu orang yang ditunggu, lelaki yang dari brewoknya menetes hujan: sebut saja dia Y. Y menaruh helmnya di meja bar sembarangan. ”Maaf,” katanya kepadaku ketika dengan kekuatan kedua bola mata kutatap helm itu dengan tatapan kasih sayang. Ia memindahkan helm itu ke bawah bangku. Bagus.
”Untuk apa, X? Seperti rekan bisnis saja. Kan bisa telepon atau ke rumah. Buang-buang uang,” belum juga duduk Y sudah mencecar. Sungguhlah sebuah ketidaksopanan berbicara demikian di depan barista. Buang-buang uang? Hellow …
X belum menjawab, Y merapikan rambut poninya sambil memandang ke arah kaca di belakangku, itu pasti akal-akalan saja, dari tadi ada gadis duduk seorang diri di sana. Aku barista Alla Caffe, Y bukan tipe wanita itu.
Ia semringah ketika terlihat dari arah perempatan sebuah vespa tua merah marun melaju ngebut.
”Minum apa, Bro?” kata X.
”V60.”
”Oke. Vietnam drip dan V60 satu,” ia mengangkat alis untukku. Nah, begitu.
Mereka duduk bersebelahan di depan meja bar. Kumasukkan beberapa miligram kopi. Takarannya takkan kusebutkan, itu rahasia barista terbaik di kota ini.
”Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” X berbicara tanpa tedeng aling-aling, tepung kopi tumpah nol koma sekian miligram di atas timbangan. Fakta baru kutemukan mereka pasangan homoseksual, bakal jadi mantan; telingaku curi-curi dengar, sebuah adegan menarik akan terjadi di depan meja barista.
”Maksudnya?” jawab X. Kutarik selembar filter dari bungkusnya dengan hati-hati. Suara plastik tidak boleh mengganggu nuansa sedih ini. Diam-diam kukecilkan volume musik yang dikontrol dari telepon genggamku. Aku butuh nuansa lebih sendu.
Air kutuang sekian mililiter ke dalam teko, menunduk sejajar dengan wadah tertuang, kuintip kedua wajah itu dari antara teko dan leher angsa. Tanda seru mencuat dari satu kepala, tanda tanya berbarisan di kepala yang lain.
”Aku merasa kita sudah tidak memiliki satu pandangan yang sama.” Oh, beda visi. Kutuang seimbang air di atas filter. Air di dalam gelas naik perlahan. Kertas melembek, suasana menegang.
”Saya tidak mengerti. Kita hanya berteman biasa,” X akhirnya menimpali. Kesimpulan keliru, mereka bukan pasangan kekasih.
”Itulah yang kumaksud, X. Aku sudah tidak merasakan ikatan emosional yang sama lagi denganmu. Kita sudah tidak memiliki satu pandangan yang sama, musuh yang sama, minat, dan pekerjaan yang sama.”
”Saya masih belum mengerti maksudnya?”
”Ikatan pertemanan seperti halnya orang pacaran. Bila hasrat pertemanan sudah tidak ada, maka hubungan itu sebaiknya tidak lagi berjalan.”
”Saya tidak mengerti. Tadi kau hanya mengajak saya untuk minum kopi di kafe ini. Tapi tiba-tiba kau berbicara seolah-olah kita ini adalah dua sejoli yang sudah lama berhubungan serius. Apa saya melakukan kesalahan belakang ini?”
Sebuah intermeso kecil untuk dialog ini: kudorong lembut dua gelas kopi. Mereka diam sejenak sampai kopi terbaik ini tersaji sempurna di atas meja. ”Terima kasih,” kata X.
Adegan terhenti sementara, seorang pembeli lain datang membayar. Seorang pelanggan setia. Kami bercakap sebentar, seperti biasa dia memberiku pujian. Ia bilang, simpan saja kembaliannya. Rezeki barista soleh.
Sebuah intermeso kecil untuk dialog ini: kudorong lembut dua gelas kopi. Mereka diam sejenak sampai kopi terbaik ini tersaji sempurna di atas meja.
”Minum dulu, X. Pikiranmu sedang tak beres. Wajahmu seperti kurang tidur,” kata Y, lalu mereka menyeruput kopinya masing-masing. Situasi agak tenang. Memang kopi ini ajaib, apalagi pembuatnya.
”Bilang saja terus terang kalau saya ada salah, X. Tidak apa-apa,” Y memulai percakapan lagi.
Diam agak lama. X menarik napas dalam. Dua kali. Yang kedua sambil menutup mata.
”Justru itu yang kumaksud. Sebelum ada salah seorang yang membuat kesalahan, sebaiknya kita perjelas lagi hubungan kita. Saya sudah tidak lagi mau berteman denganmu. Saya tidak mau berpura-pura merasa seperti teman, padahal di dalam hati, saya tidak merasakan adanya kebutuhan, atau sekadar keinginan untuk berteman denganmu. Biar kau tidak bingung mari kuperjelas: dengan hilangnya kebutuhan pertemanan denganmu, maka ada kemungkinan suatu saat aku mengkhianatimu, menjadi musuh dalam selimut, atau menjerumuskanmu pada persoalan-persoalan yang sudah kuketahui sebelumnya akan menyulitkanmu. Jadi, saya harap kau mengerti apa maksudku.”
Ini percakapan yang tidak biasa. Aku barista, ini pengalaman pertamaku.
”Baiklah, kalau begitu. Tapi kau tidak perlu mengajakku bertemu seperti ini. Kau bisa saja tidak menghubungiku dalam waktu yang lama, atau kau carilah teman lain untuk waktu yang lama dan tidak mengajakku ke mana-mana. Tapi ini aneh, semalam kita masih chat-chat-an.”
Ini memang aneh.
”Justru itu, saya sebenarnya tidak punya niat meladenimu semalam. Saya benar-benar meladenimu karena terpaksa. Makanya hari ini saya mau memperjelas batasan baru kita.”
”Oh baiklah, silakan blokir kontak saya. Kita bayar minuman kita masing-masing. Saya mau pergi. Dasar aneh, kau pikir pertemanan itu transaksional, dagang, bila tidak ada keperluan jual-beli maka hubungan itu harus selesai. Kau aneh. Dan pikiran-pikiranmu selalu aneh.”
Ini. Benar. Benar. Aneh.
Y menggeser bangku, hendak berdiri.
”Jangan pergi dulu. Inilah yang kumaksud. Aku mau hubungan pertemanan kita berakhir dengan baik-baik. Bukan karena pertengkaran yang seperti ini. Jangan pulang dulu sebelum kau memahami betul situasi yang aku inginkan.”
”Situasi, situasi. Situasi apa!?”
Sepertinya aku perlu mengganti musik. Barangkali ”The Time is Now” lebih cocok. Oh, tidak. Terlalu kentara. Sebaiknya kunaikan sedikit volume lagu yang sekarang. Perlahan-lahan….
”Seperti yang saya jelaskan tadi. Saya mau pertemanan ini berakhir dengan baik-baik. Kau kembalilah dengan kehidupanmu sendiri dan aku kembali dengan kehidupanku sendiri. Kita tidak berteman. Tapi bukan berarti hubungan pertemanan tidak pernah terjadi. Kita pernah berteman. Kita hanya menyepakati diri masing-masing untuk tidak lagi berteman. Bukan karena ada masalah. Bukan karena pengkhianatan. Murni karena kita sudah tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan hubungan pertemanan.”
Seperti yang saya jelaskan tadi. Saya mau pertemanan ini berakhir dengan baik-baik. Kau kembalilah dengan kehidupanmu sendiri dan aku kembali dengan kehidupanku sendiri.
”Dasar kurang ajar. Baiklah! Kita tidak usah berteman lagi. Ada-ada saja! Aku mau pulang! Tidak usah tahan-tahan lagi,” Y membungkuk, mengambil helmnya.
”Tunggu dulu…!”
”Apa lagi!!!” Helm sudah di tangan. Sudah ada alasan. Hanya butuh sedikit niat untuk membantingnya ke wajah X. Sekarang waktu paling tepat untuk ”The Time is Now”.
”Sabar… kita belum berjabat tangan. Tanda berakhirnya hubungan pertemanan kita.”
Y kembali meletakkan helmnya di meja secara sembarangan, kali ini dia abai dengan tatapan penuh kasih sayangku. X mengambil tangannya.
”Kau kelihatannya tidak ikhlas,” ucap X untuk genggaman yang tidak tegas.
Lalu Y menggenggam dengan benar.
”Dengan ini, maka kami berdua menyatakan bahwa kami sudah bukan sepasang teman lagi. Segala komunikasi, pertemuan, dan hubungan yang mungkin kami jalani dalam waktu-waktu ke depan bukanlah atas dasar hubungan pertemanan melainkan karena kami adalah pribadi yang saling kenal. Segala rahasia-rahasia yang sudah saling kami ketahui akan tetap kami tutup rapat- rapat; bukan karena kami berteman, melainkan karena kami adalah manusia yang beretika.”
Hmmm… X sepertinya notaris.
”Untuk minuman sore ini, saya yang bayar, karena saya adalah pihak yang berinisiatif melaksanakan pertemuan ini. Sekian,” tambanya. Bagus sekali. Ini baru benar. Beberapa kali pelanggan tidak membayar dengan oleh alasan pertengkaran. X memang beretika.
”Bodoh!!!” Sialan, aku kaget.
Y kemudian melemparkan uang untuk minumannya ke meja. Lebih untuk hitungan mereka berdua. Aku bingung. X kembali duduk memandangi Y yang sudah melaju dengan sepeda motor.
”Tidak bisakah pertemanan berakhir dengan baik-baik?” tanyanya kepadaku. Mana kutahu, Bro….
Aku mengambil uang dari laci lalu menyerahkan kembalian kepada X. Dia malah melotot dan kemudian memberi uang lagi dari sakunya; ia pergi tanpa berhasil kucegah, uangnya juga lebih.
Hari ini aku untung dan bingung. Ini sore yang ganjil. Hari apa ini? Aku menepuk-nepuk pipiku, ini bukan mimpi.
Seorang gadis keluar dari ruang dalam. Menenteng tas dan sebuah buku. Ia meletakkannya di atas meja. Aku tentu tidak marah untuk barang-barang seperti begini.
”Ini buku apa, Nona?”
”Ha-ha-ha, buku latihan menulis kreatif.”
Kubaca: ”Kiat Menjadi Penulis dalam Semalam”.
”Wah, boleh kubaca sebentar.”
”Simpan saja, Son. Nanti kuambil saat kau sudah selesai.”
Alla Caffe tutup lebih cepat. Aku ingin membaca. Ada cerita ganjil yang perlu kuwartakan.
Ruteng, 23 Februari 2023
Yuan Jonta, menetap di Ruteng, Manggarai, NTT. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Anggota Bincang Buku Petra Ruteng. Sedang menekuni dunia mengarang cerita pendek.
sumber : kompas.id, 14 Des 2023.