Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon Permintaan oleh Sudi Setiawan

Posted on Sab, 16 Des 2023

Manusia itu aneh. Aneh sekali. Bagaimana mereka yang diberi akal berharap pada sebuah pohon? Apalagi yang diharapkan adalah sebuah kehidupan duniawi. Sekali lagi kukatakan, manusia itu aneh. Aku yang sudah hidup ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya, hidup memperhatikan bagaimana sebuah peradaban manusia tumbuh dan perlahan mengalami kehancuran. Aku luput menyaksikannya. Yang pasti, semenjak aku menunggu pohon asem yang tersisa sendiri dari masa ke masa, manusia semakin menjadi-jadi. Entah sejak kapan pula, pohon asem yang kujaga ini menjadi ajang permintaan manusia yang fana yang mereka sebut sebagai Pohon Permintaan.

Pohon Permintaan bagaikan Tuhan kedua yang mereka pinta, apa pun itu. Kekayaan, jabatan, jodoh, dan kadang pula nomor togel. Kuingatkan kembali. Manusia itu juga bodoh. Kalo boleh jujur saja, aku ingin berkata dengan lantang ke telinga-telinga mereka, ”Kau salah meminta kepadaku, penunggu Pohon Permintaan yang kau anggap memberi segalanya. Tuhan yang seharusnya kau minta.” Itu saja. Yang lebih menyebalkan lagi, mereka tidak bisa mendengarkan perkataanku selama ini. Percuma saja aku berkata hingga mulutku berbusa sekalipun.

Hingga semua pandangan buruk tentang manusia itu berubah. Tentu, awalnya aku menolak semua kenyataan itu. Hingga pada suatu kesempatan dan takdir yang telah diputuskan. Aku bertemu dengannya, makhluk mungil bernama anak-anak. Aku masih ingat dengan jelas. Bagaimana anak kecil itu menodong pertanyaan yang membuatku sedih tak berkesudahan.

*

”Kau salah meminta kepadaku, penunggu Pohon Permintaan yang kau anggap memberi segalanya. Tuhan yang seharusnya kau minta.”

Hujan malam ini menjelma seperti sebuah tangisan tanpa henti, entah sejak kapan hujan ini terasa begitu sepi. Bahkan kesiur angin pun bertiup pelan. Hanya mampu menggoyangkan dahan-dahan kecil dari Pohon Permintaan. Apakah perasaanku saja yang merasakan ini? Atau semua makhluk semesta juga merasakan hal yang sama, sebuah kesepian. Sudahlah, bagaimana perasaanmu nanti, ketika mereka tahu si ”Paling Menyeramkan” seantero Bumi Utara ini merasa kesepian? Ini akan menjadi berita lucu untuk para penghuni gaib di kota ini.

Di tengah perasaan gundah gulana, aku kedatangan tamu yang tak terduga, makhluk mungil bernama anak-anak. Duduk termenung setelah ditinggal pria paruh baya dengan motor bersuara bising-sepuluh menit yang lalu. Anak laki-laki itu hanya duduk bergeming, bibir merengut ketakutan dan sepiring sajian di atas kedua tangannya yang kecil.

”Kasihan. Kau hanya menjadi korban dari keserakahan manusia bodoh.” Ucapku, sembari menggeleng-gelengkan kepalaku ke kanan dan kiri. Manusia itu lebih mengerikan daripada kami. Bisa-bisanya, dia meninggalkan makhluk mungil tak berdosa ini sendirian di tengah gelapnya malam.

”Siapa manusia bodoh itu paman?” jawabnya dengan nada kebingungan. Aku terbelangah mendengar jawabannya, kucondongkan badanku yang besar mendekati tubuhnya yang mungil. Mengendus baunya yang sewangi semanggi.

”Kasihan. Kau hanya menjadi korban dari keserakahan manusia bodoh.”

”Kamu bisa mendengarku? Anak cecak?” Tak percaya dengan apa yang baru saja kudengarkan.

”Siapa anak cecak paman?” Ia memutar badannya, mencari keberadaanku yang berdiri tegak di sebelah pohon asem yang berbalut kain motif kotak-kotak berwarna putih yang telah lusuh.

”Benar! Kamu bisa mendengarku.” Entah perasaan senang, atau karena sudah ribuan tahun kesepian. Rasanya, suara-suara kebisinganku selama ini tidaklah sia-sia. Akhirnya, ada manusia yang bisa mendengar celotehan sampahku.

”Anak manis, siapa namamu?” Tanyaku, hati merekah ruah seperti buah yang ranum dengan taring-taring gigi yang menyeringai keluar.

”Aku…” anak itu menggigit bibirnya. Apakah dia ragu? Atau takut karena aku adalah makhluk menyeramkan?

Belum sempat berpikir aneh-aneh yang lain ia menjawab dengan lugu. ”Danu”.

”Danu….” Lanjutku, mangut-mangut mencoba menghafal nama manusia mungil ini. Aku senang, untuk pertama kalinya aku memiliki seseorang yang bisa diajak bicara dari bangsa manusia, terlepas dia hanya anak kecil yang masih polos sekaligus. Perasaanku seperti sedang berbunga-bunga. Perasaan aneh apa ini?

”Kau mencari paman?” Tanyaku, gerak-gerik yang sedari tadi memutar-mutar seakan mencari keberadaanku. Rambut yang dipotong cepak, menambah kesan manis pada anak laki-laki itu.

”Aku hanya bisa mendengarmu paman, aku….”

Nada suaranya rendah, seperti anak burung kutilang yang kerap kali bersarang di pohon yang menangis kelaparan, kecil dan penuh kelemahan. ”Aku tidak bisa melihat.”

Dek! Ah, apa ini!

”Benarkah?” Mendengar itu, ada perasaan yang berkecamuk di hati. Runyam dan tak bisa kujelaskan bagaimana rasanya. Apakah ini rasa kasihan kepada manusia? Ah, aku tidak suka ini. Kenapa aku menjadi sedih!

Danu hanya mangut-mangut pelan, pertanda dia tidak berbohong. Ya, walaupun dia tak mangut-mangut pun, aku percaya kepadanya. Aku bisa melihat kedua matanya berwarna putih, aku tak bisa melihat lebih dalam tentangnya, bagaimana kehidupannya selama ini dan yang pasti bagaimana perasaannya selama ini menjadi buta.

Aku hendak mengelus rambutnya, tapi aku sadar. Tanganku bisa saja melukainya, kukuku terlalu tajam untuk kulitnya yang terlalu lembut. Aku hanya bisa menghela napas.

Kami terikat oleh sebuah percakapan layaknya seorang anak yang mengeluh kepada kakeknya. Tapi tak apalah dia memanggilku seorang paman, hitung-hitung aku lebih muda dari usia yang seharusnya. Walaupun begitu, aku harus berbicara dengan bahasa manusia yang paling sederhana-agar dia paham, suaraku menjadi lebih lembut dan tanpa sadar, aku selalu tersenyum menyeringai. Bahkan mbak-mbak Kunti, mas Poci dan para siluman di sekitar Pohon Permintaan tertawa melihat caraku berkomunikasi dengan makhluk mungil bernama anak-anak ini.

”Paman, kata bapak di sini ada setan mengerikan. Aku takut paman,” ucapnya, layaknya anak-anak yang perlu perlindungan dari orang yang dewasa.

Mendengar itu aku langsung memasang mode seram memastikan semua sosok mengerikan di sekeliling kita berdua untuk pergi jauh-jauh. ”Katanya, setan penunggu Pohon Permintaan ini suka menculik anak-anak sepertiku.”

Mendengar itu, aku seperti dibanting ke tanah setelah dilambungkan tinggi di udara. Bagaimana bisa, yang dibicarakan anak kecil ini adalah aku. Rasanya, ingin sekali aku menyumpah serapah kepada bapaknya malam ini juga. Pernyataan itu memantik amarah sosok penunggu yang paling menyeramkan di Bumi Utara. Sejak kapan aku menculik anak-anak? Bahkan permintaan mereka saja aku tidak pernah aku tanggapi. Apalagi menculik anak-anak seperti Danu? Aku makhluk yang punya hati nurani, layaknya manusia yang ada dunia ini.

”Setan itu tidak jahat. Dia baik sekali, tetapi dia tidak suka manusia yang meminta-minta kepadanya.” Jawabku, mencoba mencari pembelaan atas apa yang mereka katakan. Ini bukan soal pembenaran, tetapi ini adalah pernyataan resmi dariku si penunggu Pohon Permintaan.

”Seperti permintaan bapak ya paman?”

”Benar. Permintaan untuk kaya raya.”

Sudah kuduga dari awal, permintaan manusia itu sama saja. Tak jauh-jauh dari kenikmatan duniawi yang tidak pernah putus.

”Aku sudah bilang ke bapak. Tuhan marah kalau kita meminta kepada setan.” Danu memilih duduk di tanah yang kering dan dedaunan pohon yang jatuh sebagai alasnya. Ya, kalian harus tahu. Di sini hanya ada satu pohon besar yang dikelilingi dengan sajian permintaan manusia, sekali lagi mereka menyebutnya sebagai Pohon Permintaan.

”Danu benar.” Aku ikut duduk, pelan-pelan agar tidak menimbulkan kegaduhan.

”Paman, boleh Danu bertanya?” Kenapa dia suka bertanya? Pikirku.

Aku sebenarnya bukan makhluk sosial seperti apa yang biasanya manusia bilang, aku hanya makhluk halus yang menunggu Pohon Permintaan. Itu saja. Tapi melihatnya yang serba ingin tahu, aku jadi enggan jika melewatkan kesempatan berbicara kepadanya.

”Apa Danu anak pembawa sial? Karena tidak bisa melihat?”

Dek! Mendengar itu, hatiku perih. Sesuatu melukai hatinya yang suci. Bagaimana bisa, anak senaif ini memiliki pikiran yang begitu hina? Apakah bapaknya itu selalu berkata menjijikkan kepada anaknya sendiri? Sekali lagi rasanya aku ingin memberi bapaknya satu bogem mentah yang merontokkan tulang-tulangnya.

”Danu, anak yang baik. Di dunia ini tidak ada anak seperti itu. Semua anak sama saja, dia terlahir sempurna di mata Tuhan. Danu tidak harus berpikir demikian”. Kenapa? Aku ingin memeluk anak ini!

Apakah bapaknya itu selalu berkata menjijikkan kepada anaknya sendiri? Sekali lagi rasanya aku ingin memberi bapaknya satu bogem mentah yang merontokkan tulang-tulangnya.

”Danu sedih.” Ia menunduk. Ia seperti kehilangan jati diri. ”Tidak bisa pergi sekolah seperti teman-teman. Danu tidak beri waktu untuk bermain…. Danu hanya diminta mengantarkan makanan ke tempat-tempat gelap dan menyeramkan….” Anak kecil ini merengutkan bibirnya lagi, wajahnya redup bak malam tanpa rembulan. Ah, kenapa aku merasakan kesedihan manusia.

”Tidak apa-apa, nanti biar paman yang akan memberi tahu ke bapak Danu. Kalo Danu ingin sekolah….” Danu mendongak kepalanya ke atas, wajahnya yang penuh kegamangan seakan tahu bahwa aku berkata demikian untuk menenangkan hatinya yang terluka. Entah, senyumnya yang bermula manis kini terasa begitu pahit di mataku. Hingga, sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

”Paman, apa itu kematian?”

”Kenapa bapak selalu berkata pergi saja menyusul ibu yang mati?”

Aku terdiam seribu bahasa.

*

Bulan Juni akan segera berakhir setelah sepekan lebih hujan membasahi seluruh lapisan tanah yang ada di kota ini. Terpaan angin Muson itu juga merontokkan dedaunan Pohon Permintaan satu per satu. Aku mengingatnya sebagai bulan di mana, aku bertemu dengan makhluk mungil bernama Danu di kegelapan malam yang mengerikan.

Amat disayangkan, pertemuan singkat itu berakhir pada kerinduan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rindu itu memberatkan hatiku, dilepas tak bisa, dilupakan tak sanggup. Apakah manusia-manusia seperti ini. Bagaimana mereka bisa bertahan dengan kerinduan? Dulu, aku menganggap bahwa manusia itu aneh. Dan ternyata, perasaanku pada seorang manusia lebih aneh lagi.

Danu pulang dengan guratan senyum ramah kepadaku, terlihat kelu tetapi menenangkan perasaanku. Ia pulang bersama bapaknya yang gila harta dan kenikmatan duniawi. Sial. Bagaimana anak semanis itu memiliki orang tua sekejam itu! Tuhan apakah takdir malang itu harus jadi miliknya?

Di tengah rasa kesepian yang menggebu, Bakuda-Si Penunggu Bukit Sambung, mendatangiku dengan wajah yang seram penuh kerisauan.

”Seluruh penghuni Bumi Utara sudah mengetahuinya.”

”Apakah itu benar? Kau kesepian Sakti Muji?” Tanya Si Penunggu Bukit Sambung menghadapku, duduk di samping Pohon Permintaan bersamaku.

Aku mendongak ke arah bulan yang menelisik ke dalam kegelapan malam. Berharap benda angkasa itu memahami perasaanku saat ini.

”Apakah manusia bisa hidup dengan kerinduan?” Aku menolehnya-Bakuda, meminta sebuah penjelasan yang tak pernah kutemui jawabannya.

”Kerinduan?” Bakuda berpikir, wajahnya terlihat serius dengan pertanyaanku.

”Ya, perasaan yang sulit kujelaskan. Sekalipun dengan kata-kata, aku tidak tahu kalimat apa yang tepat untuk menggambarkannya.”

”Apakah ini soal Danu?”

”Anak kecil itu…,” suaraku tertahan di tenggorokan. Tertahan di sana dan tak ingin keluar dari mulutku.

”Dia sudah tahu tentang kematian…,” pekiknya. Bakuda ikut memandang bulan yang indah malam ini.

”Tuhan telah memintanya kembali. Dunia ini terlalu kejam untuknya, untuk anak semanis Danu. Kita tahu, Tuhan tidak akan pernah rela permatanya hanya akan menjadi permainan manusia-manusia yang hina. Demikianlah Tuhan berkehendak. Dia lebih menyayangi Danu di surganya.” Bakuda terlihat tenang, apakah dia tahu bagaimana rasanya menahan rindu.

Kita tahu, Tuhan tidak akan pernah rela permatanya hanya akan menjadi permainan manusia-manusia yang hina.

”Ya, kau benar. Dia akhirnya tahu tanpa perlu memintaku penjelasan lagi…,” jawabku sedikit getir memahami arti kematian. ”… Aku hanya sedih… rin….” Belum usai aku meneruskan perkataan ku, telinga mendengar suara yang sudah lama kunantikan, suara renyah kekanak-kanakan yang menggemaskan. Suara itu menumbuhkan gairah rindu yang langsung pecah seketika.

”Paman.”

Dek! Jantung berdebar.

”Aku bisa melihat paman sekarang. Kenapa paman begitu lucu.”

***

Sudi Setiawan, penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S-1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya ”Marthapram” (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Semangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) terbit di harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul ”Ketupat Gong di Bukit Nenek” (2023).

sumber : kompas.id, 16 Des 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme