Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pindah Rumah oleh Mashdar Zainal

Posted on Ming, 04 Feb 2024

Hari-hari padapekan pertama pindah ke rumah kontrakan barunya, Ali Ridho disibukkan oleh beraneka perkakas, baju-baju, serta buku-buku yang bertumpuk dan butuh dirapikan dalam rak. Istrinya sedang hamil tua dan tidak bisa membantu banyak. Ali Ridho mengurus semuanya sendirian di sela-sela waktunya bekerja. Dan itu sangat melelahkan.

Berkali-kali Ali Ridho memindahkan ranjang dan kursi dan lemari untuk mendapatkan hasil tata ruang terbaik. Dia selalu berpikir panjang dan penuh pertimbangan, bahkan untuk meletakkan atau memajang hal-hal remeh, macam lukisan ikan koi atau jam dinding atau di mana sapu dan kemoceng musti digantung, dan seterusnya.

Sungguh, tidak cukup satu hari mengurus hal-hal semacam itu. Ali Ridho kerap berandai-andai, betapa menyenangkan andai kata hal semacam itu bisa dilakukan dengan cara virtual. Klik dan klik seperti bermain game online. Ketika dia salah meletakkan sesuatu atau menata sesuatu atau memajang sesuatu, dia tinggal klik undo dan sebaliknya atau tinggal klik dan seret, dan seterusnya.

Saat Ali Ridho tergopoh-gopoh mengangkat kursi atau menyeret lemari, istrinya duduk di kursi dengan punggung tegap sebab tertahan oleh janin dalam perutnya. Saat istrinya berusaha bangkit dan ingin membantu, Ali Ridho mengomel dan menyuruh istrinya untuk tetap duduk. Lalu, dengan langkah khas orang hamil, istrinya pergi ke belakang, suara derit pintu kulkas dibuka, dan beberapa menit kemudian segelas minuman dingin telah diletakkan di atas meja.

”Kuakui, itu memang cara terbaik yang bisa kau lakukan untuk membantuku saat ini,” kata Ali Ridho dengan bangga, membuat istrinya tersipu-sipu.

Ketika malam tiba, Ali Ridho merasakan pegal-pegal di sekujur betis dan pundak dan punggung, namun dia tak pernah mengeluhkan itu pada istrinya. Justru istrinya yang selalu menggumam bahwa betis dan pinggangnya terasa kaku dari waktu ke waktu. Lantas Ali Ridho memijat betis istrinya, lalu pundaknya, dan lain-lainnya. Ali Ridho paham, pindah rumah jelas sangat menguras tenaga, namun menggotong bayi dalam perut selama berbulan-bulan pasti jauh lebih melelahkan. Ali Ridho selalu berpikir bahwa istrinya sejatinya jauh lebih kuat secara fisik ketimbang dirinya. Semua perempuan hamil di dunia ini jauh lebih kuat ketimbang laki-laki yang berkali-kali bisa menyebabkan perempuan hamil.

Semenjak istrinya hamil enam bulan, Ali Ridho kerap tertidur dengan tangan masih menumpang di atas bagian tubuh istrinya. Kadang di atas paha, kadang di atas perut, kadang di leher. Beberapa hari usai pindah rumah, Ali Ridho terbangun di pagi hari dengan rasa pegal di betis dan punggung menjadi-jadi. Dia merasa seperti terbangun dari sebuah mimpi di mana dia terus berlari sepanjang tidur hingga semangat dan tenaganya benar-benar terkuras. Namun, Ali Ridho tetap bangkit untuk mengambil handuk, mandi, sarapan dan berangkat kerja. Untuk sarapan, istrinya selalu suka memasak ala kadarnya di malam hari, dan tinggal menghangatkan di pagi hari. Menurut Ali Ridho, itu hal cerdas lainnya yang dimiliki istrinya.

Beberapa hari terakhir pikiran Ali Ridho tersita penuh untuk urusan pindah rumah hingga dia tak bisa jenak memikirkan apa pun selain pindah rumah. Segala kerumitan perkakas dan tata ruang itu akhirnya beres juga pada hari kedelapan. Bahkan pada hari kedelapan, sepulang kerja, Ali Ridho masih punya waktu untuk memangkas bonsai dan menyemai benih stroberi di teras depan.

Daftar panjang perihal perkakas dan tata ruang itu dia akhiri dengan membersihkan akuarium pukul enam sore, mengisinya dengan air dan dan tujuh ikan moli yang baru dia beli dari Aqua Zone. Itulah yang ditunggu-tunggu Ali Ridho, mendengar gemericik air dari akuaraium saat dia berangkat tidur. Entah mendapat teori dari mana, menurut Ali Ridho, mendengar gemericik air di dalam rumah saat berangkat tidur bisa mengurangi rasa capek hingga lima puluh persen.

Pada hari kesembilan usai pindah rumah, Ali Ridho baru bisa memikirkan banyak hal. Menyelesaikan tugas kantor yang telantar, menganalisis lingkungan baru, mencoba menerka karakter-karakter tetangga-tetangga baru, termasuk memikirkan dengan matang perihal sejarah rumah yang baru dia tinggali.

Saat Ali Ridho menemukan rumah itu dan memutuskan untuk menyewanya, dia telah mendengar banyak paparan dari pemilik rumah perihal kelebihan dan kekurangan, termasuk fakta yang tidak ditutup-tutupi, bahwa sepuluh tahun silam pernah terjadi peristiwa kebakaran di rumah itu—yang menewaskan seorang perempuan atau tepatnya seorang perempuan hamil delapan bulan. Rumah itu rata dengan tanah. Lantas pemilik rumah membangun ulang setelah sekitar tiga tahun dibiarkan terbengkalai ditumbuhi rumput dan belukar.

Setelah rumah dibangun, beberapa orang menyewanya. Ada yang betah sampai dua tahun, ada juga yang baru beberapa bulan lalu pindah, padahal sudah dibayar penuh. Beberapa penyewa mengatakan, ketika malam mereka seperti mendengar perempuan berteriak-teriak atau bayi menangis. Namun, beberapa penyewa lain tidak melaporkan keanehan apa pun. Rumah itu cukup nyaman dan harga sewanya terbilang murah. Alasan kedua itulah yang memantapkan Ali Ridho untuk teken kontrak.

Ali Ridho tak pernah peduli pada hal-hal mistis semacam itu. Istrinya juga demikian. Menurutnya, hal-hal semacam itu muncul dari pantulan diri dan sugesti-sugesti. Nyatanya, selama sepekan lebih tinggal di rumah itu semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja.

Pekan berlalu dan bulan melaju, hingga perut istri Ali Ridho menggunduk seperti balon yang terus menerus ditiup. Sungguh tidak mudah tinggal di perkotaan, pikir istri Ali Ridho. Para tetangga baru Ali Ridho bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Bahkan ketika istri Ali Ridho berteriak minta tolong karena ketubannya pecah, tak seorang pun mendengar dan mengetuk pintu.

Saat kejadian itu, Ali Ridho masih di kantor, sebab hari perkiraan lahir masih satu pekan lagi. Istri Ali Ridho lupa meletakkan telepon genggamnya. Semenjak hamil, perempuan itu jadi mudah linglung dan pelupa. Sambil berjalan tertatih-tatih, dia berputar-putar mencari telepon genggam, namun tak juga menemukannya. Perempuan itu menangis, tidak kuat lagi jalan, hanya bisa melolong meminta tolong. Selangkangnya ngilu luar biasa, seperti mau dibongkar. Pelipis dan batok kepalanya berdenyut-denyut. Sekujur kakinya lunglai gemetar. Pada saat itulah, lamat-lamat, sambil mengendalikan rasa sakit, istri Ali Ridho melihat seorang tetangga datang tergopoh-gopoh. Seorang perempuan paruh baya dengan daster warna kuning menyala. Beraroma bunga.

Perempuan itu memapah istri Ali Ridho ke ranjang. Membisikkan sesuatu ke teliganya. Memegangi tangannya. Memegangi keningnya. Memegangi perutnya. Memintanya mengambil napas. Memintanya mengejan. Berkali-kali. Sampai dia mendengar sendiri suara tangisan bayi. Sampai dia merasa lega seperti habis buang hajat. Lantas dia tertidur karena kelelahan dan rasa sakit.

Ketika dia membuka mata, Ali Ridho sudah berada di sampingnya. Ali Ridho menangis tersengguk-sengguk. Memegangi perut istrinya yang sudah kempis seperti balon bocor. Di sisi istrinya hanya ada lipatan selimut dan bantal guling. Tak ada bayi. Tak ada darah. Tak ada tanda-tanda orang habis melahirkan. Hanya ada basah di sekitar selangkangan.

”Di mana bayinya?” pekik istri Ali Ridho, panik dan ketakutan.

”Bayinya pindah rumah!” sahut perempuan beraroma bunga dengan daster kuning menyala yang berdiri di pojok kamar. Perempuan itu tertawa-tawa sambil mengusap-usap perutnya yang mengembung bagai hamil tua.

Ali Ridho memalingkan tatapannya ke pojok kamar. Tak ada apa-apa. Di sana, hanya baju-baju usai dipakai yang menggantung lunglai. Ada yang tidak tepat, pikir Ali Ridho. Seharusnya dia tidak meletakkan gantungan baju di situ.

”Jangan khawatir, aku akan memindah gantungan baju itu,” kata Ali Ridho dengan raut bersalah, seolah itu urusan hidup dan mati.***

Malang, 2023

Mashdar Zainal,lahir di Madiun dan bermukim di Malang, Jawa Timur. Penyuka puisi dan prosa. Peggemar film dan rempah. Buku terbarunya Musim di Rambut Ibu segera terbit . Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku Cerpen Pilihan Kompas.

Pupuk DP, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

sumber : kompas.id,04 Feb 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme