Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Surat dari Ibu oleh Ni Luh Pradnya Wulandari

Posted on Jum, 14 Jun 2024

Langit sore ini lebih gelap daripada biasanya. Angin kecil yang terasa dingin menerpa rambutku pelan. Kulihat setitik air mulai jatuh dari langit, awalnya hanya beberapa, tapi lama-kelamaan semakin banyak dan deras. Aku yang semula duduk di teras bawah langsung beranjak, tapi niat itu kuurungkan setelah mendengar suara bel sepeda yang tak asing di telinga. Dengan cepat, aku membalikkan badanku, menangkap sosok lelaki yang menaiki sepedanya masuk ke halaman rumah.

Akhirnya! Orang yang kutunggu sejak pukul 6 tadi sudah pulang. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari kegirangan menghampirinya dan memeluk kemeja birunya yang lusuh dan basah akibat hujan itu.

”Bapak, Raya nungguin bapak dari tadi,” seruku bersemangat. Bapak langsung mencium dan menggendongku sebelum kita masuk ke rumah.

Di dalam rumah aku terus memperhatikan tas yang bapak bawa, berharap ada sesuatu di dalamnya. ”Raya nyari ini, kan?” tebak bapak sambil terkekeh pelan. Tangan bapak memperlihatkan sebuah kantong plastik berisi amplop berwarna coklat di dalamnya.

Saat itu senyumku langsung merekah dan mencoba meraih kantong plastik itu dari tangan bapakku meskipun tinggiku saat itu hanya selutut bapak. Dengan semangat aku langsung merobek bungkusan kantong plastik basah itu dan membuka amplopnya. Terlihat di sana secarik kertas berisi tulisan yang ditulis dengan pulpen hitam. Kubaca tulisan itu dengan bersuara agar bapak yang ada di samping juga bisa tahu isinya.

Taiwan, 19 April 1987

Hai, bapak dan Raya, dua kesayangannya ibu. Gimana keadaan rumah? Sekarang di sana pasti musim hujan, jaga kesehatan ya. Kalian di sana sudah makan? Ibu nulis ini sambil nungguin masakan ibu matang. Ibu kepikiran kalian, jadi kangen. Bapak sama Raya jangan lupa makan. Habis makan dan sebelum tidur inget gosok giginya, biar ga ompong. Raya masih suka jajan permen? Kurangin ya.

Kurangin juga kebiasaan begadang nonton TVnya. Mending dipakai buat belajar waktunya biar tambah pinter, biar nanti dapet pekerjaan yang bagus. Biar engga kayak ibu di sini kerja buat ngelayanin orang di restoran, biar engga disuruh-suruh. Tapi apa pun yang ibu sama bapak lakuin sekarang semuanya demi Raya. Tunggu ibu pulang ya, Raya sama Bapak.

Setelah membaca surat dari ibu, bapak langsung mengganti bajunya, lalu ke dapur untuk memasak telur goreng untuk lauk malam ini. Sementara itu, aku hanya duduk diam di meja makan sambil terus mengamati surat dari ibu. Aku selalu senang setiap kali membacanya meskipun surat itu hanya datang seminggu sekali, tepatnya di hari Jumat. Bapak akan selalu ke kantor pos mengambil surat itu dan berakhir di rumah di mana kita membaca surat dari ibu bersama-sama. Selalu begitu.

Sebelum aku berangkat ke sekolah, bapak akan memasakkanku nasi dan lauk sehari-hari. Bapak juga orang yang mengantarku ke sekolah dengan sepedanya. Selama perjalanan ke sekolah, di tengah percakapan dengan bapak, aku selalu sempat bertanya, ”Pak, Ibuk kira-kira lagi ngapain, ya? Kapan pulangnya?”

Bapak kemudian akan berkata bahwa ibu sedang bekerja untuk orang-orang luar itu dan akan segera pulang untuk membawakan aku oleh-oleh.

Mendengar hal itu, rasa rinduku terhadap ibu tertutupi oleh kebahagiaan karena akan mendapatkan oleh-oleh yang sepertinya enak. Rutinitas ini terus berulang dan berlanjut sampai aku ada di bangku SMA. Pertanyaan yang kutanyakan pada bapak sampai sekarang masih sama, begitu pula dengan jawaban bapak.

Surat dari ibu masih kuterima meskipun sekarang kedatangannya semakin jarang. Yang dulunya seminggu sekali, sekarang hanya tiga bulan sekali. Pernah waktu itu setengah tahun aku tak menerima kabar apa pun dari ibu. Yang aku tahu hanyalah ibu masih bekerja di sana, di Taiwan, sebagai seorang pekerja di restoran makanan lokal. Surat terakhir yang kuterima dari ibu seingatku hampir tujuh tahun yang lalu.

Taiwan, 23 Februari 1990

Bapak dan Raya, kalian apa kabar? Ibu di sini baik, restoran tempat ibu bekerja ramai pengunjung. Ibu jadi makin sibuk. Doain ibu ya, biar dapat banyak rezeki, biar ibu bisa pulang dan ketemu kalian.

Ibu sayang kalian.

Setelah surat itu, tak pernah kuterima lagi surat dari ibu. Kupikir sepertinya restoran ibu benar-benar ramai pengunjung sampai ibu tak sempat mengirimkan surat untuk kami. Jika ditanya apa aku merindukan ibu, tentu saja aku sangat merindukannya. Aku telah ditinggalkan bersama bapak sejak aku masih di taman kanak-kanak. Jika diibaratkan, aku merindukan pelukan ibu sama seperti pohon yang merindukan hujan di musim kemarau. Suara lembut ibu kini hanya seperti melodi jauh yang memeluk hatiku dengan kerinduan yang tak terucap.

Kerinduan yang selalu mengikuti langkahku seperti bayangan, ia berusaha mencari jawaban di setiap sudut hati yang merindu. Tiap hari selalu kupanjatkan doa dan menjelaskan kepada Tuhan bagaimana kerinduanku akan hadirnya ibu. Layaknya daun yang ditiup angin, pikiranku melayang-layang memikirkan apakah ibu juga merasakan sepi di tengah jarak yang memisahkan kita. Sering kali aku membayangkan betapa indahnya pertemuan kita nanti, mungkin di ruang keluarga di mana riuhnya tawa kita akan terdengar sejauh mata memandang.

Sewaktu kecil aku selalu merasa rumah sederhana yang mungil itu terlalu besar bagi dua orang. Satu-satunya yang menjadi secercah pelitaku adalah bapak yang pulang dari bekerja dengan surat ibu di tangannya. Namun, seiring berjalannya waktu, bapak semakin sibuk bekerja yang pada akhirnya membuat kami semakin jarang berinteraksi. Makan malam menjadi satu-satunya pertemuan kami setelah seharian sibuk berkutat dengan aktivitas masing-masing. Ini membuat rasa kesepian di lubuk hatiku semakin lama semakin dalam. Ruang hampa yang sebelumnya terisi sebagian oleh bapak kini mulai ditinggalkan.

Sesekali terlintas di benakku untuk pergi ke negara seberang dan menjemput ibu pulang. Namun, kendala uang memang tak bisa dipisahkan. Terlintas di kepalaku niat berjualan untuk menambah uang jajan. Namun, setiap kali aku menyodorkan calon barang atau masakan buatanku untuk dijual, bapak selalu menggelengkan kepalanya dan berkata, ”Raya fokus sekolah saja. Masalah uang bapak yang cari.”

Aku takut bapak marah, jadi aku tak berani membantah. Yang aku lakukan hanya berserah kepada Tuhan, berharap semoga ibu segera berada di rumah.

Hari ini jam istirahat di sekolah diramaikan dengan teman-teman yang sibuk membicarakan rencana kegiatan mereka sore nanti. Mendengar hal itu, aku hanya bisa menidurkan kepalaku di atas meja. Jendela yang berada di samping mejaku menampilkan betapa cerahnya cuaca siang ini. Sedikit silau, namun menghangatkan. Angin menerpa wajahku, sensasi nyaman itu membuatku menguap pelan. Sepersekian detik mataku terpejam, tiba-tiba saja aku merasakan punggungku di tepuk mendadak yang disertai teriakan di telingaku. ”Woi!”

”Astaga!” Aku yang terkejut langsung bangun dari tidurku. Aku melihat ke kanan dan kiri untuk mencari siapa pelakunya.

Perempuan berkerudung yang merupakan teman akrabku itu hanya bisa menyengir, menampilkan deretan giginya yang gingsul di bagian kanan. Aku memutar bola mataku malas. Gadis manis itu memang sering menjahiliku ketika dia bosan. Aku yang hendak melanjutkan tidurku menjadi terjeda karena dia melontarkan pertanyaan, ”Raya, nanti kamu ikut, kan?”

Dapat aku lihat dari matanya yang berbinar bagaimana antusiasnya dia yang seolah mengharapkanku hadir di acara itu.

Aku menggelengkan kepalaku lalu berkata, ”Maaf, Din. Aku enggak bisa ikut nanti.”

Temanku yang bernama Dinda itu mendesah pasrah. ”Yah…, kenapa? Apa karena bapak kamu lagi?” tanyanya menebak.

Dinda mengatakan itu tentunya bukan tanpa alasan, mungkin karena aku sudah sering tidak ikut acara kelas dengan alasan yang sama berulang kali. Bapak tidak mengizinkanku bermain di luar. Apa pun acaranya, sedekat apa pun lokasinya dengan rumah, seakrab apa pun aku dengan temanku, bapak tidak akan pernah mengizinkanku keluar. Bapak akan selalu berkata, ”Kamu mending di rumah saja. Belajar. Di luar banyak bahaya. Nanti kamu kenapa-kenapa.” Dan aku tidak akan pernah membantah bapak.

Raya fokus sekolah saja, masalah uang bapak yang cari.

”Enggak apa-apa, Din. Kalian main saja tanpa aku. Aku ada kerjaan di rumah soalnya,” ucapku kepada Dinda. Menenangkannya dengan menunjukkan raut wajah pura-pura bahagiaku meskipun di dalam benakku tidak merasakan yang sama.

Dinda yang tampaknya berusaha dan terbiasa mengerti akan keadaanku tersenyum simpul, menepuk bahuku pelan seraya berkata, ”Aku tunggu kamu di acara kita selanjutnya, ya.”

Kemudian percakapan kami berakhir dengan aku yang mengangguk dan Dinda yang mengunjungi bangku lain untuk membicarakan kegiatan mereka nanti, selalu begitu. Saat di rumah, aku memiliki banyak waktu senggang yang sebenarnya cukup untuk bermain, tapi aku memilih untuk belajar karena itu yang dititahkan. Belajar untuk membunuh waktuku sendiri, sebelum akhirnya bapak pulang dan kami makan malam seperti biasanya.

Makan malam hari ini berjalan seperti biasa, dengan bapak pasti akan menonton TV setelahnya. Namun, malam ini aku akan menyampaikan hal yang telah kupersiapkan sudah lama kepada bapak. Kupikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyakan terkait hal yang mengganggu pikiranku belakangan ini. Masalah masa depan, terkait cita-citaku.

Segera setelah mencuci piring, aku ke kamar untuk mengambil brosur yang ada di dalam tas. Aku menghampiri bapak dan duduk di sampingnya. ”Pak,” panggilku yang dibalas dengan deheman pelan dari Bapak yang matanya awalnya menatap ke arah TV kini beralih melihatku. Aku tersenyum kecil, kemudian memperlihatkan brosur tersebut kepada bapak.

”Pak, Raya, kan, sebentar lagi mau lulus. Nanti Raya mau sekolah di sini, boleh?” ucapku penuh harap.

Bapak mengambil brosur tersebut, lalu bertanya, ”Ini brosur apa?”

Bapak mengamati brosur itu dengan teliti diriingi dengan aku yang memberikan penjelasan kepadanya. ”Raya dapat pas sosialisasi di sekolah. Itu brosur sekolah penerbangan di Surabaya, Pak. Dari dulu Raya pengin banget jadi pramugari,” jelasku.

Di dalam brosur sudah dimuat penjelasan terkait jenis jurusan, keunggulan sekolah, proses pendaftaran, hingga biaya pendaftaran kampus.

”Pramugari?” tanya bapak dengan nada sedikit terkejut. Ada keraguan yang tersorot di mata bapak.

Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan semangat, lalu mengiyakannya. ”Iya, Raya pengin banget jadi pramugari. Raya juga sudah jaga kesehatan, mempersiapkan tes masuknya,” ucapku.

Memang seleksi masuknya tidak mudah, tapi demi mimpiku, aku sudah menyiapkan rencana ini sejak awal aku masuk SMA. Jadi pramugari adalah harapanku sejak kecil, termasuk cara agar aku bisa terbang ke banyak tempat sambil bekerja, dan mungkin aku bisa menemui ibuku.

Beberapa menit aku merasakan hening yang tak mengenakkan di antara aku dan bapak. Namun, bapak tiba-tiba berkata, ”Kamu bisa jadi apa pun asal engga bekerja di penerbangan,” kata bapak yang mengembalikan brosur itu diiringi dengan elusan di kepalaku.

Setelah itu, bapak langsung beranjak ke kamarnya dan menutup pintunya. Tak seperti biasanya, bapak yang biasanya tidur sekitar pukul 9 itu sekarang lampu kamarnya sudah mati bahkan ketika jarum jam belum menunjukkan angka 8.

Tubuhku masih terpaku di kursi dapur, menatap kembali brosur sekolah penerbangan itu. Mimpiku sejak kecil rasanya melayang ketika restu bapak tak berhasil aku kantongi. Bapak selalu seperti itu. Ketika bapak mengatakan tidak, itu artinya akan selalu tidak, tanpa penjelasan, hanya penolakan.

Pikiranku mencoba untuk mencari jalan keluarnya. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mimpi itu masih bisa kuwujudkan di saat yang bersamaan bapak yang pendiriannya teguh itu bisa dikatakan ”menghalangiku”.

Biasanya bapak akan bersikap demikian ketika membahas sesuatu yang sensitif, salah satunya adalah uang. Kupikir bapak tak mengizinkanku disebabkan kondisi ekonomi kami belum cukup baik untuk menunjang pendidikanku di sekolah penerbangan. Padahal, aku bisa mendaftar beasiswa nantinya untuk meringankan bapak, sayangnya hal itu terlewat ketika aku menjelaskan kepada bapak tadi.

Jika memang masalah ekonomi, apa itu berarti aku harus terjun langsung untuk mengusahakan mimpiku sendiri? Apa aku harus mencari uang untuk membuktikan kepada bapak bahwa aku bisa membiayai diriku sendiri untuk kuliah ini? Ya!

Itu yang harus dan akan aku lakukan. Meskipun selama ini aku terkurung dalam batasan bapak untuk tidak bekerja dan selalu di rumah saja, tapi kali ini akan aku terobos batas itu untuk pertama kalinya.

Keesokan harinya aku mencari teman-temanku, bertanya apakah mereka mengetahui tempat yang sekiranya aku bisa bekerja. Sebagian besar dari mereka menjawab tidak tahu, sisanya mencoba membantu, tapi sayangnya aku yang tidak cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan itu.

Sebut saja contohnya sebagai cleaning service di sebuah tempat minum milik keluarga temanku. Tentunya tempat dengan kegiatan malam itu akan ada banyak pemuda yang berdatangan lalu pulang dalam keadaan mabuk. Langsung saja aku beralih ke koran untuk mencari informasi pekerjaan lainnya. Susah sekali menemukan pekerjaan yang tepat, dekat, dan tawaran gaji yang cukup untuk sekolahku.

Berlembar-lembar koran telah aku cermati, sampai akhirnya ada satu lowongan pekerjaan yang menarik perhatianku. Di sana tertera bahwa sebuah butik yang ada di dekat daerahku tengah membuka lowongan penjaga toko perempuan. Syaratnya bisa aku penuhi, yaitu berusia 18-27 tahun, tekun, pandai berkomunikasi, dan baik dalam bekerja dengan rentang jam kerja dari pukul 3 siang sampai 9 malam.

Segeralah aku mencatat lokasi butik tersebut dan sepulang sekolah aku langsung pergi ke sana, menemui pemiliknya, dan mengutarakan keinginanku untuk bekerja. Ternyata saat itu juga aku langsung diterima menjadi pekerja di butik tersebut dan bisa bekerja mulai besok setelah pulang sekolah.

Aku sangat senang dan bersemangat, akhirnya aku bisa mencari uang sendiri, aku bisa mendiri dan bisa membuktikan kepada bapak bahwa keadaan ekonomi bukanlah penghalang bagiku untuk bermimpi.

Seminggu pertama bekerja di sana, aku selalu sampai di rumah pukul 10 malam. Bapak selalu bertanya aku dari mana, kemudian aku menjawab sehabis dari rumah teman untuk mempersiapkan materi ujian sekolah. Memang, tidak menenangkan rasanya membohongi bapak seperti ini.

Namun, akhirnya malam ini aku mendapatkan gaji mingguan pertamaku. Jumlahnya tidak terlalu besar memang, tapi sebagai orang yang baru pertama kali menghasilkan uang sendiri, aku merasa sangat bangga. Aku akan memberi tahu bapak mengenai pekerjaanku sembari menunjukkan hasilnya. Aku pulang dari bekerja dengan perasaan girang dan aku menyisihkan beberapa uang untuk bisa membelikan bapak martabak telur dengan penghasilan pertamaku.

Saat aku pulang, aku melihat bapak sedang berpangku tangan di bangku depan rumah. Tak seperti biasanya di mana bapak akan menunggu sambil menonton TV di dalam. Aku tersenyum lalu bertanya basa-basi, ”Pak, kenapa di luar?”

Bapak diam sebentar, seolah mengamati setiap gerak-gerikku. ”Bapak tadi ketemu sama Dinda,” ucapnya menggantung.

”Terus kenapa, Pak?” tanyaku seraya melepaskan sepatu yang telah kupakai sejak tadi pagi itu.

”Dia bilang kalian enggak ada ngebahas materi ujian selama ini dan katanya kamu sehabis jam sekolah langsung pergi keluar. Itu kamu ke mana sebenarnya?” tanya bapak.

Aku terdiam sejenak, lalu melihat bapak yang wajahnya campur aduk antara marah dan kebingungan. Aku menundukkan kepala, menatap tanganku yang saling berpautan. ”Maaf, Pak, Raya bohong. Sebenarnya selama ini Raya pulang malam itu habis dari kerja.”

”Jadi benar kata Dinda, kamu kerja di tempat pemabuk itu?” Bapak tiba-tiba berdiri, menghadap aku yang ada di depannya.

”Raya, bapak enggak pernah ngebesarin kamu buat kerja di tempat bahaya kayak gitu!” bapak tiba-tiba saja menyela ucapanku.

Suara bapak meninggi tanda bahwa emosinya sedang meningkat saat ini. Dinda pasti mengira aku benar-benar akan bekerja di tempat seperti itu.

Aku mengangkat kepalaku, memberanikan diri menatap bapak, memberanikan diri untuk membela diriku sendiri. ”Engga Pak, Raya kerja di butik seberang. Jadi penjaga toko,” ucapku.

Kemudian aku mengeluarkan beberapa uang dari dompet dan menunjukannya kepada bapak sekaligus dengan bingkisan plastik yang isinya martabak telur yang aromanya tercium hangat itu.

”Ini gaji pertama Raya, Pak. Sudah seminggu Raya kerja di sana, seminggu juga Raya bohong sama bapak kalau Raya belajar materi di rumah teman. Tapi Raya pengin ngasih kejutan sama bapak. Raya pengin nunjukin bahwa Raya bisa cari uang sendiri, uang buat masuk sekolah penerbangan Raya. Jadi, nanti bapak enggak perlu khawatir tentang uang masuknya,” ucapku memberikan penjelasan kepada bapak.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku. Bapak tiba-tiba mengambil bingkisan martabak itu, lalu melemparkannya kasar sampai isinya berhamburan ke tanah. ”Bapak!” teriakku, menatap bapak yang tega membuang hasil kerja kerasku.

Bapak beralih menatapku sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajahku. ”Raya, kamu sudah melakukan kesalahan fatal. Pertama, kamu berani bohong sama bapak buat kerja, pulang malam. Padahal, di luar itu bahaya, Raya! Gimana nanti kalau ada perampok yang mau malak kamu? Apalagi malam, banyak orang jahat dan bakalan susah nyari bantuan!”

”Lalu bapak, kan, sudah bilang jangan masuk ke sekolah penerbangan, tapi masih saja ngotot mau masuk sana! Kebiasaan kamu sekarang ngelawan bapak?” tanya bapak.

”Sudah bapak bilang, kamu bisa ambil kuliah apa pun, tapi bukan penerbangan!” seru bapak menegaskan.

Tanganku mengepal, mataku memanas, tak terasa setitik air jatuh dari pelupuk mataku.

”Tapi kenapa, Pak? Kenapa Raya enggak boleh ngejar mimpi Raya?” Aku menatap bapak nanar.

Tapi kenapa, Pak? Kenapa Raya enggak boleh ngejar mimpi Raya?

”Kenapa Raya enggak boleh sebebas teman-teman yang lain? Bapak tahu enggak selama ini Raya ngerasa selalu ada kungkungan bapak?” Aku melontarkan pertanyaan yang rasanya selama ini tak pernah kutemukan jawabannya.

Alisku tertekuk, air mata masih juga mengalir dari pelupuk. ”Raya pengin bebas, Pak. Raya juga pengin punya kehidupan Raya sendiri!”

Saat itu juga emosiku memuncak, tak menyadari bahwa suara yang aku keluarkan terlalu tinggi. Aku telah membentak bapak.

”Raya!” bentak bapakku saat itu juga.

Aku yang tak terbiasa membentak dan dibentak langsung terdiam. Aku mengusap wajahku dengan tangan, mencoba menutupi air mata yang mengalir deras di baliknya. Aku menangis sesenggukan, sesekali berkata, ”Padahal Raya sudah nyoba, Raya berusaha. Tapi kenapa?” Aku menggelengkan kepalaku, tak mengerti dengan situasi yang aku alami saat ini.

Selama beberapa menit terjadi keheningan di antara aku dan bapak, sebelum akhirnya aku merasakan punggungku dielus pelan oleh bapak dan akhirnya aku jatuh dalam dekapannya yang terasa hangat di tengah dinginnya suasana malam.

”Bapak cuma enggak mau kehilangan orang kesayangan untuk yang kedua kalinya, Raya,” ucap bapak tiba-tiba. Tangannya mengelus puncak kepalaku, lembut sekali rasanya.

Bapak kemudian melanjutkan kalimatnya, ”Dulu sampai sekarang, kamu selalu senang ngebaca surat dari ibu, selalu begitu. Itu ngebuat bapak senang. Meskipun kamu ternyata enggak merasakan kesenangan dan keamanan yang berusaha bapak kasih. Tapi, setidaknya yang merasakan kesedihan ini cuma bapak. Kesedihan karena pesawat ibu waktu mau pulang dari Taiwan jatuh dan mayatnya sampai sekarang belum ditemukan.”

Ni Luh Pradnya Wulandari

sumber : kompas.id, 14 Jun 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme