Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Penghibur Acara Orang Mati oleh Bagus Dwi Hananto

Posted on Ming, 24 Sep 2023

Oleh BAGUS DWI HANANTO

—

Begitu tiba di acara pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Instruksi yang ditekankan kepada kami adalah bahwa siapa menangis paling baik dapat memperoleh bayaran yang menjanjikan. Indikator menangis yang baik dalam acara pemakaman yakni sejauh mana penghayatan yang kami tampilkan mampu merenggut perhatian pelayat lain.

SEBAGAI pelayat profesional, perkara menangis sudah bukan lagi tahap yang sulit dalam pekerjaan ini. Menangis sampai meraung-raung, sampai tangan kami menggapai-gapai ketiadaan supaya impresi yang kami hadirkan begitu mengena perasaan orang-orang sekitar. Begitulah tetek bengek yang mesti kami kuasai. Tangisan yang dibikin sealamiah mungkin mengafirmasi keberadaan si mati sebelum pada akhirnya menjelma abu.

Terhitung hari ini, aku sudah tujuh tahun menekuni profesi sebagai pelayat. Suatu hari, sehabis tak kuasa bekerja di perusahaan gelap yang manipulatif dan kerap menyiksa karyawannya secara keji, aku memilih menyerah dan meninggalkan Seoul. Begitu sampai kampung halaman, ibu sudah menyambutku dengan aneka makanan dan pelbagai acar. Sudah ada berbotol-botol minuman buat teman kami ngobrol.

”Ikut ibu saja. Tidak usah pikirkan masa lalumu di kota besar. Di sini juga tidak apa-apa,” buka ibu.

Aku langsung berpikir, berarti sudah ketok palu. Aku sadar tidak ada jalan selain melakoni pekerjaan yang ditawarkan ibu. Aku tidak perlu memikirkannya lebih lanjut ketika itu.

”Apa aku mampu, Bu?” tanyaku.

Ibuku mendecakkan lidah. ”Ketika ayahmu meninggal dulu, kau sering kubawa setiap kali aku bekerja. Kau tentu sudah hafal betul bagaimana kami bekerja. Aku rasa tidak perlu latihan dulu, tidakkah begitu?”

Aku menghela napas. Kuserobot sebotol minuman langsung menenggaknya begitu saja.

”Cobalah menangis,” kata ibu.

Aku memasang mimik sedih lantas tersedu.

Ibu mendesah. ”Kurang penghayatan. Perhatikan bagaimana ibumu melakukannya.”

Ibu mendadak menampilkan air muka sengsara. Kadar kesengsaraan yang sudah dilatihnya dan juga sudah dijalaninya lantaran hidup kami dari mula memang sengsara; berpadu membentuk ekspresi yang mengagumkan. Lantas dia tersedu-sedu sembari mengiba. Diumpamakan meja makan yang kami hadapi adalah meja yang memajang foto si mati lengkap dengan dupa dan ria-ria kedukaan. Ibu memang pelayat profesional, pertunjukannya memukauku tanpa makan waktu lama.

Pekerjaan pertama yang kujalani membutuhkan paling tidak tujuh orang pelayat profesional sebab si mati kurang punya banyak teman. Yang akan menangisi kepergian si mati boleh jadi bisa dihitung jari bilamana mengecualikan para pelayat yang dipesan jasanya oleh orang dekat si mati.

Kami berangkat pagi sekali dengan mengenakan selengkap pakaian serbahitam. Satu di antara kami memakai kacamata hitam. Awalnya, kukira dengan memakai kacamata begitu orang tidak bisa mengetahui apa dia benar-benar berduka atau tidak. Namun, tebakanku meleset. Paman satu ini masih bisa menampilkan duka yang menakjubkan kendati dia memakai kacamata hitam. Memang benar pengalaman membikin orang terbiasa dalam menjalani suatu pekerjaan.

Pekerjaan pertamaku waktu itu berjalan lancar. Meski aku bisa dibilang kurang begitu piawai dibanding para paman dan ibu-ibu dalam rombongan. Walau begitu, aku masih dilibatkan dalam pekerjaan di hari kedua dan hari terakhir. Lantas pekerjaan berikutnya juga kulakoni dengan serius. Sebab, semenjak dulu aku senantiasa serius melakoni pekerjaan.

Satu pekerjaan mewajibkan kami ikut sampai si mati dikremasi. Cuma tersisa segelintir tulang dan abu setelah si mati dikremasi. Keluarga kemudian akan membakar barang-barang berharga si mati. Dan semoga dia yang pergi meninggalkan kami lebih dulu tidak memiliki penyesalan tersisa di dunia.

”Dulu waktu ayahmu meninggal kami juga menangis,” tutur ibu. ”Namun, ibu tidak tahu pasti apa rombongan menangis secara tulus atau cuma pura-pura sebagaimana menjalani profesi pelayat. Makin ke sini makin dirimu tidak tahu apakah air mata dan air muka sedih yang kautampilkan ke orang-orang yang meninggal punya makna.”

”Kupikir akan sama saja, Bu. Cuma karena kita sudah terlatih. Menangis jadi kurang bermakna. Tapi, tentu saja ada sedikit-sedikit makna. Orang memesan jasa kita karena mereka takut kalau-kalau yang meninggalkan mereka tidak ada yang menangisi.”

***

Yang terbaik dari pekerjaan ini adalah tidak diperlukan hierarki seperti ketika aku bekerja di perusahaan di kota besar. Cukup bersedia atau tidak bersedia ikut. Dan mampukah dirimu berperan sebagai orang yang berduka. Meski, yang namanya duka sudah bukan hal baru bagi aku maupun ibu.

Dulu ibu harus sendirian membiayai kami yang masih kecil. Aku dan ketiga adikku. Bangun pagi hari, ikut mencari ikan bersama ibu-ibu kalau tidak ada orang yang butuh jasa pelayat profesional. Laut yang begitu dekat adalah berkah bagi keluarga kami yang miskin. Dan begitu aku mendapat secercah peruntungan bertahun-tahun kemudian dengan diterima kerja di Seoul, aku mesti kembali ke titik awal sehabis tak kuat bekerja di sana.

Ibu menerimaku. Ibu orang yang terlihat tegar dan tidak gampang menyerah. Adik-adikku masih kuliah saat itu. Begitu mendengar aku memilih pulang kampung gara-gara tak tahan bekerja di bawah tekanan perusahaan gelap, semangat yang mereka bangun pun berangsur luntur. Satu di antara mereka memutuskan menyudahi belajar di perguruan tinggi dan sekarang bekerja di minimarket tak jauh dari rumah. Ibu dan aku marah mulanya. Namun, kalau dipikir-pikir, begitu adikku satu ini memutuskan sesuatu tak ada yang sanggup menggeser keputusannya.

”Terserah kau saja. Asal jangan mengeluh di depanku kalau pekerjaanmu kurang enak,” ucap ibu.

Ucapannya sedikit melukaiku, tetapi aku berpikir lebih jauh: bahwa ibu sudah dikecewakan sekali dengan aku yang memilih pulang, barangkali. Maka kecewa untuk yang kedua kali tentu saja membuat dia tidak sanggup menahan omongan.

”Segini bayaranmu kali ini,” ucap ibu. Kumasukkan dalam kantong tanpa menghitungnya. Kunyalakan sebatang rokok dan menyeka keringat di sekitar pelipisku. Hari ini terasa panas.

Nama si mati Han Dong-woo. Usianya baru 28. Uh, sayang betul mampus di usia masih muda. Lebih-lebih mati karena kegagalan cinta. Orang tuanya sangat sayang anak ini padahal, kudengar dari ibu.

Pada pemakaman si pemuda Dong-woo, kami ikut berjaga untuk menyongsong hari duka berikutnya. Kami ikut minum-minum bersama keluarga, makan yukgaejang, dilanjut dengan main go-stop semalam suntuk.

Gara-gara sebab matinya si pemuda, aku jadi sedikit-sedikit teringat kisah cintaku selama menekuni pekerjaan di kota besar. Rasanya getir kalau teringat di saat menghadiri pemakaman orang begini.

Kami kenal semasa di bangku kuliah. Aku menyukai sifatnya yang ceria. Kami berkencan sekali sepekan atau kalau tidak ada jadwal kuliah. Lulus kami menyewa apartemen tak jauh dari tempat kerja. Aku mendapat kerja di perusahaan yang namanya mentereng, tapi dikenal suka menyusahkan karyawan. Dia pun berhasil diterima di perusahaan yang bagus. Begitu aku tidak tahan bekerja di perusahaanku, tanpa memberi tahu lebih dulu dia tiba-tiba menghilang dari tempat kami tinggal. Dia tidak bisa lagi dikabari. Baru sebulan kemudian aku diberi tahu kawanku kalau dia akan melangsungkan pernikahan. Dilihat dari luar, boleh dikatakan kalau kisah cinta yang kujalani memang biasa-biasa saja. Walau demikian, tetap saja terasa menyakitkan.

Baiklah. Kadar sakit akibat gagal cinta pada setiap individu memang berlainan. Tak bisa diukur secara tepat setepat termometer atau meteran gas. Meski begitu, apa harus mengakhiri hidup gara-gara putus cinta? Sungguh kerugian besar kalau harus mengakhiri hidup lantaran perkara cinta.

***

Kali ini si kaya yang meninggal dunia. Anak-anak si kaya meminta ibu membawa rombongan pelayat guna memeriahkan acara pemakaman di hari pertama. Dari gerbang jangryesik-jang megah yang disewa keluarga itu, berjejer pelbagai karangan bunga besar-besar. Orang kaya tak perlu mengkhawatirkan di mana mesti meletakkan bunga di rumah duka yang megah. Orang kaya cukup melempar segepok uang dan orang lain yang akan menjalankan segala hal soal pemakaman. Dan itu juga berlaku untuk urusan menghaturkan duka sedalam-dalamnya.

Anak-anak si kaya bersiap menampilkan duka dengan menyewa rombongan ibu yang gampang menampilkan duka ditinggal si mati. Sedangkan anak-anak si kaya tidak perlu repot-repot tampak sedemikian berduka. Biarlah itu diurus orang lain, pikir mereka mungkin.

Menggeluti profesi begini memang kadang menimbulkan perasaan bersalah. Di satu sisi seperti berlakon di atas panggung; pura-pura menitiskan air mata demi orang yang tidak kita kenal. Di sisi lain, agar bisa makan dan menabung demi hidup, pekerjaan begini mesti diambil. Toh, bila tidak, pasti ada orang lain yang juga memerankan pekerjaan demikian supaya menyambung hidup.

Karena minggu ini aku cuti libur dan meminta tiga hari tidak bekerja ke ibu, aku memilih pergi memancing. Ingatan terakhirku soal memancing adalah ikan besar yang berhasil ditangkap ayah bertahun-tahun lampau.

Hingga suatu sore aku bangun dari tidur. Telepon rumah berdering nyaring. Deringnya keras betul. Seperti tergesa-gesa ingin disambungkan ke telinga manusia untuk menyampaikan suatu kabar. Kuangkat telepon dan di ujung saluran terdengar suara paman dalam rombongan pelayat ibu.

Ibu masuk rumah sakit. Sebelum acara pemakaman hari kedua diadakan, dia jatuh dan tak sadarkan diri saat bersiap untuk menghaturkan duka.

Hari-hari tanpa ibu di rumah terasa ganjil. Aku pergi pulang dari rumah menuju rumah sakit. Adik-adikku yang lain juga pulang ke kampung kami.

***

Hari ini aku tidak bekerja. Juga untuk dua hari berikutnya. Aku memakai selengkap pakaian hitam untuk menampilkan bahwa diriku tengah berduka. Ibuku mengembuskan napas terakhir setelah dirawat tiga pekan. Aku menerima tamu, para tetangga dan juga teman kerja ibuku. Rombongan pelayat profesional. Seperti ibu, aku tak tahu apa mereka nanti bakal menangis secara tulus atau sekadar pura-pura sebagaimana selama ini berjalan. Biarlah hal itu tetap rahasia. Setidaknya tangis mereka dan juga tangisku bisa jadi penghibur bagi mendiang ibuku. Aku harap ibu tenang di sana. (*)

—

BAGUS DWI HANANTO : Lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Novelnya yang sudah terbit berjudul Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia (2019).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 24 September 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme