Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kayu Nisan Terakhir oleh Iggi H Achsien

Posted on Ming, 28 Jul 2024

Rasanya tidak ada yang mengharapkan kematian. Meski kematian adalah keniscayaan, bahwa semua makhluk yang hidup pasti akan mati. Karena kematian biasanya dianggap kemalangan yang membuat orang-orang yang ditinggalkan jadi berduka. Rumahnya pun disebut rumah duka. Bahkan bunga papan juga menyatakan ikut berdukacita. Ikut-ikutan seperti mereka yang takut ketinggalan. Dengan kata-kata yang hampir seragam, lalu berjajar berjejer di sekitar rumah tersebut.

Tapi, tidak sedikit yang mengais rezeki dari kematian seseorang. Mendapatkan uang terkait jenazah atau mayat seseorang. Sebutlah tukang gali kubur, penjual kain kafan, pengurus masjid yang memandikan dan mengafani jenazah, sopir ambulans mobil jenazah, penyedia tenda di rumah maupun di pemakaman, para penjual bunga dan air kembangnya. Bahkan belakangan ini lahan pemakaman atau memorial garden menjadi bisnis besar. Oh iya, jangan lupakan pembuat nisan kuburan.

Aku tidak tahu apakah mereka yang mengais rezeki dari kematian itu mengharapkan meninggalnya seseorang atau banyak orang. Memang secara logis, makin banyak yang meninggal tentu makin besar pula rezeki yang mereka bisa dapatkan. Tapi, di dunia ini tidak semuanya serba logis dan kongruen. Yang jelas, mereka bukan bergembira dari kemalangan orang-orang lain. Mereka bukan juga yang termasuk berbahagia di atas penderitaan orang lain. Seperti sebagian orang yang selalu merindukan adanya tahlilan untuk sekadar kebagian nasi bungkusan atau kotakan.

Ayahku seorang pembuat nisan kuburan. Setahuku pekerjaan membuat nisan itu sudah lama dan menjadi pekerjaan utama, bukan sampingan atau sekadar obyekan menambah penghasilan lainnya. Rasanya sejak aku kecil sebelum sekolah. Biaya hidup kami sehari-hari dan ongkos sekolahku didapatkan dari membuat nisan itu. Relatively, eh secara relatif, kami hidup berkecukupan. Mungkin karena ayahku selalu mengajarkan untuk bersyukur dan tidak suka mengeluh.

Ayahku membuat bermacam-macam nisan. Ayahku memahat nisan dari bermacam jenis batu, di antaranya batu granit, batu marmer, dan batu gunung. Ada juga nisan yang dibuat dari keramik. Tapi, yang menurutku menarik, ayahku mengukir nisan dari beberapa jenis kayu, seperti jati, ulin, ataupun merbau. Kayu yang sudah diukir ayahku dan menjadi nisan biasanya mengeluarkan bau harum yang mistis. Seperti bau oud atau gaharu bercampur wangi bunga melati, cempaka, dan cendana. Entah dari mana bau dan wangi itu berasal. Aku terbayang apakah wangi melatinya itu juga dari ”Setangkai Melati di Sayap Jibril”?

Setiap kali ayahku menyelesaikan satu nisan, selalu datang lagi pesanan untuk membuat nisan berikutnya. Selalu sambung-menyambung dan tidak berhenti. Seperti pintalan benang yang menggulung. Nisan buatan ayahku saat dipandang konon membuat haru, tapi sekaligus menenangkan. Sehingga memudahkan hadirnya syahdu dan khusyuk orang yang mendoakan di kuburan dengan nisan yang dibuat ayahku.

Dengan reputasi seperti itu, para pemesan nisan selalu bersedia membayar mahal walaupun ayahku tak pernah menetapkan tarif tertentu. Ayahku pernah bercerita dan merasa kebingungan karena seolah-olah melihat malaikat Roqib dan Atid beradu hitungan atas amal yang dibuat oleh nama yang dipahat atau diukir pada nisan itu. Karenanya ayahku tak berani menetapkan tarif, tidak pernah melakukan tawar-menawar, dan menyerahkan seikhlasnya kepada para pemesan nisan.

Dengan pesanan yang selalu datang seperti itu, ayahku tak pernah menawarkan nisannya di online market place, tak pernah juga mengunggah konten di media sosial populer semacam Instagram dan Tiktok. Ayahku juga tidak ikut proyek pengadaan nisan untuk pemakaman massal saat wabah Covid yang lalu. Padahal nilainya sudah tentu lumayan. Proyek besar dan rezeki nomplok untuk pembuat nisan. Tapi, ayahku tetap hanya mengerjakan pesanan yang sifatnya personal.

Para pemesan nisan itu datang dari berbagai golongan yang semuanya dilayani dengan baik tanpa pembedaan-pembedaan. Padahal para pemesan nisan itu, yang memesan untuk dirinya sendiri atau kerabatnya, tidak sedikit juga yang merupakan pesohor, pejabat atau petinggi negeri, bahkan pula anggota kerajaan dari negara jiran dan negeri seberang. Berarti reputasi ayahku tidak hanya nasional, bahkan regional, malah mungkin juga global.

Kalau mau, bisa saja ayahku meminta berfoto atau swafoto dengan mereka, lalu memasangnya di dinding tempat kerjanya atau di media sosialnya sebagaimana kedai-kedai, rumah-rumah makan, dan restoran-restoran melakukannya. Yang justru terjadi, beberapa pemesan nisan itu yang meminta untuk berfoto atau swafoto dengan ayahku. Meski demikian, aku juga tidak menemukan foto pemesan nisan dengan ayahku di media sosial itu. Ayahku yang dicari para pemesan nisan, bukan sebaliknya.

Pernah suatu hari, datang seorang pemesan dengan membawa batunya sendiri. Sebongkah batu marmer yang indah. Katanya itu batu marmer Thassos dari Yunani, yang dipakai di Masjidil Haram di Mekkah. Bongkahan itu adalah sisa batu yang tidak terpakai. Warnanya putih kristal. Aku melihatnya kadang seperti gulungan awan putih, kadang bagaikan gumpalan kapas. Di malam hari batu itu seperti bercahaya, glow in the dark. Bisa saja itu ejawantah dari cahaya surga di waktu malam. Ayahku sering bercerita bahwa cahaya surga itu selalu memesona walaupun baru hanya ada di alam pikiran. Surga adalah kenikmatan tertinggi dan terluas, yang sudah pasti menyenangkan. Tidak layak untuk diributkan dan terlalu luas untuk diperebutkan.

Batu itu sudah disimpan orang itu bertahun-tahun. Ia merasa sudah waktunya diserahkan kepada ayahku untuk dipahat agar siap pada waktunya nanti. Ayahku memahatnya, mencetakkan nama dan tanggal lahirnya. Aku pikir nisan itu masih menyisakan tanggal kematiannya. Tapi ternyata sudah tercetak lengkap, tanpa sisa, tanpa perlu modifikasi lagi.

Beliau memanggilku, lalu seperti bergumam, tapi aku bisa mendengarnya, ”Anakku, sebenarnya kematian bisa ditawar waktunya, asal tahu ilmunya.”

Tambahnya, ”Pemesan batu ini, sudah pernah menawar sekali.”

Beliau melanjutkan, ”Saat ayah pergi beberapa hari, anak pemesan nisan ini akan datang mengambilnya.”

Kadang kala, ayah bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Benar saja, beberapa hari kemudian, sesuai tanggal yang tercetak di nisan marmer itu, ada yang datang untuk mengambil nisan itu.

Ia bilang, ”Aku mau mengambil nisan papaku.” Disebutkan nama papanya.

Aku menyerahkan nisan yang sudah disiapkan rapi oleh ayahku. Ia memberikan amplop dan menyampaikan terima kasih dan salam keluarganya untuk ayahku.

Sepertinya, orang-orang semakin sadar untuk mempersiapkan kematian mereka. Tapi, masih yang bersifat materi dan duniawi. Ada yang beralasan, karena tidak mau merepotkan orang-orang yang masih hidup nantinya. Dari membeli asuransi, membayar lahan di TPU atau memorial park, memesan nisan, dan juga menyiapkan kain kafan. Buat orang-orang kaya, semua persiapan itu tetap terasosiasi dengan kemewahan, seperti memorial park yang mahal dan juga batu nisan dari marmer Italia yang indah. Suatu saat, bisa saja akan ada arsitek khusus untuk merancang desain pemakaman, termasuk penataan landscape-nya.

Untuk kain kafan, sekiranya Louis Vuitton, Hermes, atau Loro Piana menjualnya, pasti akan dibeli juga oleh orang orang kaya itu. Aku kira wajar saja, itu cara mereka mensyukuri rezeki yang didapatkannya. Atau masa iya sih mereka masih mempertahankan gengsi walaupun sudah mati? Mungkin itulah sejatinya makna mati-matian menjaga gengsi. Biarlah.

Ayahku kembali setelah beberapa hari. Beliau membawa sepotong kayu. Kata ayahku, kayu itu dari kapal bahtera Nabi Nuh. Aku terkadang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ayahku, tapi aku tak pernah, tepatnya tak berani, membantahnya. Kadang aku baru mengerti setelah apa yang dikatakan ayahku terjadi. Seperti halnya pemesan nisan marmer Thassos yang sudah aku ceritakan sebelumnya.

Ada yang menyebut kayu kapal Nabi Nuh itu adalah kayu gofir atau gopherwood. Belakangan ada pula peneliti yang mengatakan kalau kayu kapal Nabi Nuh itu adalah kayu jati yang berasal dari Nusantara, tepatnya di tanah Jawa. Mirip seperti dugaan kalau Atlantis itu sebenarnya ada di sekitaran Laut Jawa.

Sepotong kayu itu tampak antik, tapi kokoh, cukup untuk diukir menjadi sebuah nisan. Seperti kayu-kayu nisan yang sebelumnya diukir ayahku, bau harum mistis kembali tercium. Kali ini terasa lebih kuat, lebih tajam.

Esoknya datang lagi seseorang menemui ayahku. Tentu pemesan nisan sebagaimana orang-orang yang sebelumnya datang. Hanya saja, aku mencium semerbak harum mistis dari orang itu sama dengan yang keluar dari sepotong kayu yang dibawa ayah kemarin. Bahkan bau wangi itu sudah terasa beberapa saat sebelum orang itu datang. Jangan-jangan dia tau ayahku membawa sepotong kayu itu, yang cocok dengan dirinya, yang sama bau wanginya.

Ayahku menyambutnya lalu mempersilakan masuk ke ruang kerjanya. Mereka berbincang di dalam, tapi aku tak bisa mendengar apa isinya. Terkadang malah terasa senyap dan mencekam. Sekitar sembilan menit kemudian mereka keluar, bersalaman dan berpelukan. Aku melihat ayahku tersenyum saat orang itu pergi.

Ayahku memanggil. ”Yang tadi datang meminta ayah untuk menyelesaikan nisan kayu ini dalam tiga hari.”

Lanjutnya, ”Kamu tahu, ayah tidak suka menawar. Ayah akan menyelesaikannya.”

Aku bisa merasakan suaranya agak bergetar, tanpa membuat wibawanya jadi pudar. Ayahku juga berpesan untuk menyedekahkan separuh dari isi amplop yang aku terima sebelumnya. Aku malah belum sempat melaporkan perihal amplop itu kepada ayah.

”Tiga hari dari sekarang, ambillah, setelah subuh,” kata ayahku.

Waktunya sudah tiba. Sesuai pesan ayahku, setelah subuh aku ketuk ruang kerjanya. Tidak ada jawaban dari dalam. Aku masuk, melihat ayah seperti tertidur di atas sajadah biru kesayangannya. Aku berusaha membangunkannya, tapi ayah tak bergerak. Di sampingnya tergeletak kayu nisan yang sangat indah beserta harum mistis itu dan cahaya yang samar-samar terpencar dengan lembut. Terukir nama ayah sendiri, lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal hari ini di bawahnya.

Tak terasa air mataku meleleh, seperti lelehan lilin di bawah pijar api, dan membasahi pipi. Aku menyekanya. Aku mengerti, lalu tersenyum seperti wajah ayah yang terlihat tersenyum. Ayah tidak menawar waktunya. Sepertinya ayah mengatakan kalau ini sukacita, bukan dukacita.

Aku teringat orang yang datang itu. Ternyata bukan pemesan nisan seperti yang aku kira sebelumnya. Mungkinkah ia Izrail?

Madrid, 5 Juli 2024

Catatan:

Setangkai Melati di Sayap Jibril: Judul cerpen karya Danarto.

Iggi H Achsien, lahir di Indramayu, 3 Februari 1977. Penikmat karya sastra, tinggal di Tangerang Selatan. Saat ini menjadi anggota Tim Ahli Wakil Presiden RI dan Komisaris Independen PT Pertamina (Persero).

Yuswantoro Adi, perupa, tinggal di Yogyakarta, lahir 11 November 1966. Selain melukis, juga mengajar dan memberi pelatihan seni rupa, terutama untuk anak-anak. Meraih penghargaan Grand Prize Winner Philip Morris Asean Art Award 1997 di Manila, Filipina.

sumber : kompas.id, 28 Jul 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme