Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tiga Kuburan Lain oleh T Agus Khaidir

Posted on Ming, 06 Okt 2024

Tok Jalal tak lagi riang. Biasanya, selepas Isya dia akan duduk berbincang bergurau-gurau di beranda masjid. Kadangkala sampai mendekati tengah malam, dan baru bergerak setelah Munawar Tawakal, atas perintah Nek Tok, datang menjemput. Tiga pekan belakangan lain sekali. Sejurus imam mengucap salam Tok Jalal segera bangkit dan bergegas pulang.

Tak kalah nyata perubahan di kedai kopi. Sesekali dia masih datang lantaran barangkali lidahnya sudah kelewat rindu mencecap pahit manis kopi racikan Tok Awang, karib sepermainannya sejak belia. Namun, datangnya memang sekadar belaka. Di kedai itu Tok Jalal duduk menyudut, sendirian berdiam-diam, tergesa menyeruput kopi lalu beranjak pergi. Tak ada tegur sapa. Tak ada cerita. Tak ada tawa.

Padahal sebutlah semua yang mungkin berkait dengan kegembiraan, dengan kebahagiaan, maka tiap-tiap percakapan itu, tiap ingatan itu, akan selalu sampai padanya. Iya, lah, siapa pula bisa melengos dari celoteh-celoteh Tok Jalal? Meski telah diriwayatkan berulang kali, tersebab pembawaan badannya, karena mimik wajahnya, juga caranya merangkai kata menyusun kalimat serta kepiawaian menunggu momentum kapan harus meninggikan atau menurunkan tempo dan nada bicara, membuat apa pun yang meluncur dari Tok Jalal seolah selalu baru. Tetap terasa mengejutkan dan lucu seperti waktu pertama didengar.

Paling mengundang gelak adalah celotehnya perihal teori kepunahan dinosaurus dan teka-teki perbedaan cara makan buaya di air dan buaya di darat.

Entah berpijak pada referensi mana, Tok Jalal menyebut dinosaurus punah bukan lantaran tumbukan asteroid raksasa ke bumi yang menyebabkan perubahan iklim ekstrem, tapi akibat terinjak-injak Nabi Adam yang berlari ke sana kemari mencari Hawa setelah keduanya diusir Tuhan dari surga. Mengenai perbedaan cara makan buaya, yang dijawab dengan gerakan mirip bertepuk tangan [menempelkan bagian ujung-ujung jari dan pangkal telapak dan menggerakkannya bersamaan secara bergantian] pernah membuat Mak Len, penjual lontong dan mi balap di ujung lorong, menjerit histeris sembari menutup wajahnya yang memerah.

”Kasar kali kelakar Atok. Tak sopan!” Seru Mak Len bersungut-sungut tapi tak ayal akhirnya tertawa juga.

Begitulah kehadiran Tok Jalal, di mana pun dan kapan pun, tak pernah tidak melejitkan rasa gembira dan bahagia, hingga segenap keriangannya lesap dan Munawar tahu apa yang jadi penyebab.

Sebulan lalu, Minggu siang sebelum Asar, Tok Awang, Wak Haji Sahabuddin, Abdul Majid, dan Anwar Sadat datang bertamu. Orang-orang tua dan yang dituakan di kampung ini. Nama terakhir Kepala Lingkungan, terpilih dalam musyawarah mufakat menggantikan Tok Jalal yang mengundurkan diri setelah menjabat lima periode.

Ada juga Marjili Samsuri. Usianya sekira enam-tujuh tahun di atas Munawar. Orang baru stok lama. Marjili belum sebulan kembali dari perantauan panjang: dia pernah di Kalimantan, Sulawesi, lama di Jawa, kemudian menyeberang ke Malaysia, Thailand, dan setahun terakhir, konon, mondar-mandir Pakistan-Bangladesh. Menurut orang-orang yang pernah mengenalnya lebih baik, ada perbedaan besar antara Marjili sebelum dan sesudah merantau. Bukan hanya pakaian dan penampilan fisik. Lebih jauh juga sikap dan cara pandang. Bicaranya pelan tapi menusuk. Tatap matanya tajam.

Munawar tentu saja tak ikut duduk satu ruangan. Ia hanya sebentar singgah mengantarkan teh dan kudapan. Namun percakapan sengit bernada tinggi menembus dinding kamarnya.

”Berapa lama lagi kita harus menunggu?”

”Ini soal yang harus dibicarakan hati-hati, harus dimusyawarahkan dengan cermat dan teliti. Tak bisa kita putuskan sendiri.”

”Tapi kita harus bergerak lebih cepat, Tok. Ini sudah sangat mendesak. Situasinya makin gawat. Makin banyak yang merasa terganggu.”

Setelah hening agak lama Munawar mendengar suara Tok Jalal. Berat dan sedikit bergetar. Munawar berdebar. Ia hafal gelagat ini.

Jauh sebelum ayahmu meninggal dan dikubur di sana. Setahuku tidak pernah ada yang merasa terdesak. Tidak pernah ada yang merasa gawat dan terganggu.

”Ah! Mendesak? Apa yang mendesak? Apa yang gawat? Kuburan-kuburan itu sudah ada di sana sejak lama. Sudah ada jauh sebelum kau lahir, Marjili. Jauh sebelum ayahmu meninggal dan dikubur di sana. Setahuku tidak pernah ada yang merasa terdesak. Tidak pernah ada yang merasa gawat dan terganggu. Kau pun dulu sering main bola di lapangan dekat kuburan-kuburan itu, kan? Kenapa sekarang kau merasa terdesak? Kenapa merasa gawat? Merasa terganggu?”

”Bukan saya saja, Tok.”

”Siapa lagi?”

”Warga.”

”Warga mana?”

”Warga sini. Sebagian besar. Hampir semua.”

”Jadi sekarang kau bicara mengatasnamakan warga?”

”Bukan saya saja. Kami yang datang ini bicara atas nama warga.”

”O, begitu? Setelah sekian lama? Kenapa dari dulu tidak ada yang bicara?”

”Barangkali dulu warga tidak tahu. Tidak paham. Sekarang mereka tahu dan paham, dan oleh sebab itu sadar bahwa ini tak elok. Sebenarnya terlambat, tapi saya kira, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.”

Ini memang percakapan tentang kuburan. Persisnya tiga kuburan yang terletak di kompleks pekuburan yang tanahnya merupakan wakaf keluarga Tok Jalal. Ayah Tok Jalal, buyut Munawar, sebelum meninggal di tahun 1932, lewat surat berstempel Pemerintah Kerajaan Belanda menyerahkan dua petak tanahnya untuk kemaslahatan umat. Tanah yang sepetak dijadikan alun-alun, yang di kemudian hari, selain dipasangkan tiang gawang di kedua sisinya, juga dimanfaatkan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai aktivitas seperti upacara bendera, pameran pembangunan, pasar malam, layar tancap, pertunjukan wayang, ronggeng, kuda kepang, kampanye-kampanye partai politik, konser musik, tabligh akbar dan lain sebagainya. Rhoma Irama dan Kyai Haji Zainuddin MZ pernah tampil di sini.

Petak yang satu lagi, yang berukuran hampir dua kali lebih luas dan letaknya persis bersisian, jadi pekuburan. Warga kampung yang meninggal dikebumikan di sini. Termasuk Ompung Saut, Ompung Luat, dan Ama Lien.

Dibanding kuburan-kuburan lain, kuburan ketiganya memang kelihatan berbeda. Bentuk maupun ukuran. Terutama kuburan Ama Lien. Namun perbedaan ini tak pernah jadi soal. Warga kampung paham betul tanah ini diwakafkan untuk pekuburan umum. Sampai Marjili pulang. Riak muncul dan dengan cepat membesar. Disebut-sebut atas dorongan Marjili, Kepala Lingkungan dan orang-orang tua dan yang dituakan menyambangi bupati. Mereka meminta bupati memerintahkan pembongkaran kuburan. Bupati menolak dan menganjurkan penyelesaian secara kekeluargaan.

Riwayat kampung ini belum panjang, tapi tak banyak lagi orang lama yang tersisa. Generasi pertama dan kedua sepenuhnya habis. Generasi ketiga bisa dihitung jari sebelah tangan. Di samping Tok Jalal dan Tok Awang, tinggal Haji Sayuti dan Nek Fatmah. Pun keduanya sudah kerap terbaring sakit. Makin jarang keluar rumah.

Ompung Luat dan Ompung Saut bagian dari generasi kedua. Boleh dibilang lichting akhir. Mereka meninggal di awal 1960-an. Dari sejumlah cerita yang didengar Munawar, usia Ompung Luat kala itu 83. Ompung Saut beberapa bulan saja lebih muda. Sekitar sepuluh tahun lalu, anak-anak keturunannya, generasi keempat dan kelima, memilih pindah ke kampung lain. Karena masih di kota yang sama [berjarak kurang lebih 10 kilometer ke arah Utara] keberadaannya tak sulit dilacak. Saban tahun menjelang Paskah mereka juga selalu datang berziarah.

”Aku sudah bicara pada keluarga Ompung Luat dan Ompung Saut. Mereka bilang, pemindahan kuburan bukan perkara sederhana. Ada tahapan-tahapan adat yang mesti dilakukan. Butuh persiapan matang dan sudah barang tentu biaya besar.”

”Jadi mereka menolak?” tanya Marjili.

”Tidak, cuma minta waktu kumpulkan uang. Mereka bukan orang senang.”

”Ama Lien bagaimana, Lal?” giliran Tok Awang melempar tanya.

Tok Jalal tidak segera menjawab. Ama Lien termasuk generasi ketiga. Lahir tahun 1906 meninggal 1973. Dua dekade berselang, persisnya 1998 pertengahan, situasi politik yang menyulut gejolak sosial memaksa keluarga Ama Lien angkat kaki. Lebih karena kecewa, sebenarnya. Berpuluh tahun hidup berdampingan seolah tak berbekas jejak pada hari-hari kelam itu. Para tetangga entah ke mana. Tak seorang pun datang menolong, atau paling tidak mencegah, menghalang-halangi, saat puluhan orang tak dikenal menyatroni rumah mereka dan dengan beringas memecahkan kaca-kaca jendela, mendobrak pintu, menjarah barang-barang. Hampir tidak ada yang tersisa. Termasuk kehormatan. Anak Ama Lien yang coba melawan dihajar sampai babak belur. Dua cucu perempuannya dilecehkan. Tak sampai diperkosa, tapi siapa yang tak sakit diperlakukan demikian? Siapa yang tak terluka? Siapa tak trauma?

”Ama Lien? Aku tidak tahu. Masih kucari.”

Munawar tahu Tok Jalal berbohong. Padanya, Tok Jalal berulangkali mengatakan betapa setelah peristiwa itu, sampai bertahun-tahun kemudian, ia dihantui rasa bersalah. Bilangnya, sebagai Kepala Lingkungan, seharusnya ia bisa lebih bertanggung jawab melindungi warga tanpa kecuali. Seharusnya ia lebih berani. Tok Jalal berupaya mencari mereka untuk meminta maaf.

Orang-orang ini pernah hidup berdampingan dengan orang-orang tua kita. Mereka baik-baik saja sampai masing-masing dijemput ajal.

Pencariannya baru berakhir kurang lebih setahun lepas. Keluarga Ama Lien telah hidup berpisah-pisah. Sebagian di Jakarta, ada yang di Kuala Lumpur, juga di Taipei. Dua cucu perempuan yang mengalami pelecehan itu sekarang sudah menikah, tinggal di di Boston dan Chicago, Amerika Serikat, sembari melanjutkan kuliah, dan masih rutin mengunjungi psikiater untuk menjaga agar liang luka mereka tak sampai terkuak lagi.

”Kalau tidak ada kabar langsung kita bongkar saja.”

Hening lagi. Satu menit atau mungkin dua menit, mungkin lebih. Lalu, suara Tok Jalal terdengar. Masih berat dan bergetar, tapi kali ini sedikit menggelegar.

”Orang-orang ini pernah hidup berdampingan dengan orang-orang tua kita. Mereka baik-baik saja sampai masing-masing dijemput ajal. Sekarang, di pekuburan itu, mereka juga berdampingan, dan rasa-rasanya tetap baik-baik saja. Lantas apa hak kita memisahkan mereka? Jadi begini saja, lah, Marjili. Kalau kau memang merasa terdesak, merasa terganggu, merasa tak elok, silakan bongkar kuburan ayahmu. Silakan dipindahkan. Juga yang lain-lain. Aku tidak akan membongkar ketiga kuburan itu.”

Medan, Mei 2024

T Agus Khaidir, lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 4 Februari 1977. Menulis beberapa puluh cerpen yang sebagian besar telah tersebar dan dimuat di berbagai media cetak, daring, maupun sejumlah buku antologi bersama. Cerpen ‘Rahasia Bubur Pedas’ termasuk dalam ‘Keluarga Kudus’, antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Sedangkan cerpen ‘Ihwal Nama Majid Pucuk’ muncul sebagai cerpen terbaik Kompas 2022. Tinggal di Medan dan hingga saat ini masih bekerja sebagai wartawan. Masih memotret, sesekali melukis, mengerjakan desain grafis, membuat sketsa dan ilustrasi. Juga masih bermusik, dan tentu saja bermain sepak bola.

Bambang Pramudiyanto, lahir di Klaten, 1965. Mulai masuk STSRI “ASRI” tahun 1984. Mengikuti Perfomance Art “Distructive Image” di Malioboro Yogyakarta, dan sejumlah pameran, antara lain pameran “Citra Realistik” di Galeri Nasional Jakarta, pameran Biennale “Jogja Janmming”, pameran Biennale X Jakarta, dan pameran ARTJOG I di Taman Budaya Yogyakarta.

sumber : harian Kompas edisi 06 Oktober 2024 di halaman 10 dengan judul “Tiga Kuburan Lain”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme