Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mata Celurit oleh Muna Masyari

Posted on Ming, 27 Okt 2024

Subuh telah menyusut, menggulung pergelaran pesta demokrasi di lapangan dekat balai, yang digelar sejak kemarin pagi. Puncak penghitungan suara di menit-menit pertengahan malam menyisakan sesak di dadamu seperti gerobak bertumpuk sampah yang biasa tergeletak di dekat pasar.

Perdagangan telah usai.

Tenda yang menudungi lapangan, panggung yang teronggok diam, lincak-lincak milik penjual minuman dan makanan ringan yang memagar, kibaran umbul-umbul dan bentangan spanduk, kertas dan botol plastik yang berserakan, hanyalah saksi bisu yang perlahan kau tinggalkan. Kakimu terhenti di titik pertigaan yang mengarah ke Langgar, ke pasar, dan tempat dari mana kau datang, setelah sekian langkah berjalan seolah menghitung jarak antara masa lalu dan masa depan.

Tanah itu harus mereka kosongkan segera!

Kau mematung. Kepalamu sedikit terangkat. Di depan sana, dengan sepat campur pedas, matamu masih mampu menangkap awan kelabu di atas Langgar, serupa lukisan simpuh perempuan, ditemani setitik bintang pucat yang redup tersapu kabut. Sedikit menukik, tatapanmu menyapu halaman yang suram. Daun-daun kersen bertaburan, kuning layu dan kering kecoklatan.

”Tanah itu harus mereka kosongkan segera!” seru ayah Dahlan tadi malam, di antara orang-orangnya yang tengah berpesta kemenangan.

”Betul! Beraninya melawan kita!” sambut Mat Tanjar, kaki-tangannya, seraya membanting bungkusrokok setelah meloloskan satu batang isinya.

”Selama ini mereka sudah dibiarkan menumpang di tanah percatonkalebun, tapi sekarang malah melonjak!” sambung ayah Dahlan, geram.

”Patompes sakale!” seru yang lain.

Bungkus-bungkus rokok dan korek api berserakan di atas karpet merah-usang yang penuh peta-peta hitam bekas tumpahan kopi dan teh. Asap memenuhi udara dengan bau menyengat. Puntung-puntung dan abu menumpuk di lapik cangkir. Stok gorengan di piring-piring semakin menipis. Cangkir-cangkir tidak dibiarkan kosong. Mereka tidak terusik pada sorak-sorai pemuda di sudut halaman.

Selain petaruh yang ikut merayakan kemenangannya, kau yakin, sebagian orang berwajah asing di bawah tenda itu adalah bajing yang sengaja disewa untuk mengawasi jalannya pemilihan kepala desa. Atau, mungkin juga sebagai pelaku tindak kecurangan.

Petasan dan kembang api yang membubung ke udara dan mengoyak sunyi malam baru saja reda menyisakan gulung-gulung asap yang mengaburkan mata. Dua sapi digiring ke sudut tanah lapang, tidak jauh dari halaman, diikuti orang-orang. Hewan ternak itu diikat, lalu dirobohkan. Mata pisau yang mengiris urat lehernya disambut sorak kemenangan, menenggelamkan serak-parau jeritan sapi.

Keunggulan 13 suara bagi kemenangan Dahlan sebenarnya terlalu tipis untuk dibanggakan. Apalagi tabur uang yang dilakukan ayahnya demi mendulang kemenangan bagai menurunkan lumbung di depan gerombolan ayam lapar.

”Katanya, kalau Dahlan terpilih, Langgar dan rumah Ke Ta’lab akan dirobohkan. Betulkah?” kau tanyakan kebenaran rumor itu kepada ayahmu suatu senja, kurang dari 48 jam setelah kau injakkan kaki kembali di kampung halaman.

Bayang-bayang masa kecil ketika belajar mengenali huruf-huruf hijaiyah bersama teman-teman berkelebat cepat di kepalamu.

Pemilihan kalebun tinggal menghitung jari dan rumor itu sempat kau kuping di kedai kopi dan di gardu pinggir jalan tempat ibu-ibu menghentikan pedagang sayuran.

”Katanya begitu,” Ayahmu menjawab datar. Tanpa riak kekhawatiran. Memperhatikan mulut sapi yang sedang menikmati rumput segar di depannya. Liur meleleh dari sela bibir hewan berbulu merah kecoklatan itu.

”Apa Langgar dan dhalemKe Ta’lab memang pemberian kalebun towa?”

Sapi melenguh sebentar seolah sedang sendawa.

”Aku juga tidak tahu dengan pasti. Tapi katanya, dulu MbahKe Ta’lab memang butuh tempat tinggal, dan kampung ini butuh guru ‘ngaji!” jelas ayahmu kemudian sambil menumpuk rumput ke depan sapi.

”Kalau begitu memang sama-sama membutuhkan.”

”Iya. Saudaranya banyak, beliau tidak punya rumah dan anaknya masih kecil, jadi diminta pindah ke kampung ini. Rumah dan Langgar itu dibangun oleh masyarakat.” Ayahmu mengangkat seember air bekas cucian beras yang berada di bawah dan meletakkannya di tempat pakan sapi. Si Sapi segera menyambut.

”Bukan pemberian kalebun towa?” kejarmu, mengingat cerita Dahlan dulu.

”Bukan seluruhnya. Banyak sumbangan masyarakat, mulai dari kayu, paku, genteng.”

”Pengerjaannya juga gotong royong?”

”Katanya begitu. Tapi kalebun towa yang menanggung makanannya. Bahkan sumur itu hampir sebulan penggaliannya.” Air keruh dalam ember diaduk hingga endapan di dasarnya kembali bercampur.

”Tanahnya?”

Tak lepas menatap Sapi yang sedang minum, ayahmu menjelaskan bahwa Langgar dan rumah itu berdiri di atas tanah percaton khusus kalebun. Semula tanah itu ditanami warga dan cukup produktif untuk ukuran tanah tandus, sebab dikelola dengan sungguh-sungguh.

Memang belum pernah ada yang menggugat keputusan kalebun towa, sebab jabatan kalebun bagai warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan sekarang, Langgar berlantai dan berdinding papan kayu itu tampak masih sekokoh dulu. Tidak banyak berubah. Pohon kersen yang rindang tetap menaungi halaman. Rumah adat di utara halaman juga tidak mengalami perubahan berarti, sekadar catnya yang berganti warna. Serambi beratap rendah seperti topi yang sengaja ditundukkan untuk menyembunyikan wajah pemakai. Hanya sumur di selatan langgar yang sudah dinaungi atap asbes, menyatu dengan kamar mandi. Sudah tanpa kerekan besi.

Bayang-bayang masa kecil ketika belajar mengenali huruf-huruf hijaiyah bersama teman-teman berkelebat cepat di kepalamu. Rasanya baru kemarin kecipak bunyi sandalmu berkejaran menjelang azan maghrib berkumandang demi menyelamatkan betis dari sabetan sapu lidi yang bisa meninggalkan memar.

Di Langgar itu juga kau pernah mengompol ketika pertama kali menginap dan esoknya tak henti diolok-olok teman-teman. Bermain petak umpet sehabis salat isya’di bawah cahaya bulan jadi malam yang paling dinantikan meskipun hal itu membuat kalian lupa menghafal ayat-ayat pendek sebelum tidur, untuk kemudian diharuskan mengisi bak mandi sebagai ganjaran. Canda tawa yang berbaur dengan bunyi kerek besi dan guyuran air ke bak mandi mengalahkan cericit burung dan kokok ayam.

”Siapa yang menggantikanku, besok kubawakan jagung sangrai!” lantang Dahlan, ketika tiba gilirannya mengerek tambang timba.

Hampir semua mengacung, berebut menggantikan posisi Dahlan, kecuali Samsul yang ditugas mengawasi yang lain. Ingatan Samsul memang kuat sehingga hafalannya selalu lancar, tidak mengecewakan. Dia juga yang rajin bersih-bersih di Langgar ketika yang lain bergayut di dahan-dahan pohon kersen memburu buahnya yang ranum.

Matahari mulai mengecup pucuk-pucuk kersen saat kalian pulang dengan sarung basah yang digulung hingga lutut dan saling memamerkan buah kersen sesama teman. Tentu saja daun-daun di halaman sudah disapu meskipun tidak sebersih sapuan ibu.

Si raja kecil Dahlan selalu mendapat sumbangan buah dari yang lain, sebab dia juga sering membawa gorengan atau jajanan kering ke Langgar untuk dibagi-bagikan.

”Apa kalian tahu,kata Eppa’, Langgar ini dan dhalemKeae itu, dulu dikasih Mbah Juju’?”tanya Dahlan suatu malam, ketika kalian sama-sama jongkok dengan posisi melingkar mengelilingi seplastik butir-butir jagung sangrai yang mengembang mirip melati mekar. Perkataannya lebih bernada pemberitahuan daripada pertanyaan.

”Sumur dan dapur itu juga?” tanya yang lain.

”Tentu saja!”

”Wah, Mbah Juju’-mu berarti kaya!” serumu setelah menelan kunyahan yang membuatmu hampir tersedak.

”Mbah Juju’ kan jadi kalebun, uangnya pasti banyak!” balas Dahlan bangga.

Sejak itu, kalian semakin mengagumi keluarga Dahlan sebagai orang hebat dan berjasa besar! Apalagi setiap ada acara, ayah-ibu Dahlan selalu diundang dan menduduki kursi baris depan. Entah itu pernikahan, pengajian, maupun selamatan Bhuju’ yang digelar setiap awal Muharram.

Rumahnya juga bagus, dan ketika diajak main ke sana, kau dan teman-temanmu selalu pulang dengan perut kenyang.

Baru menjelang pemilihan kalebun kemarin perkataan Dahlan di Langgar waktu itu menyengat ingatanmu. Sebuah kepulangan yang disambut rumor mengejutkan, setelah sekian tahun kau menganggap kampungmu baik-baik saja.

Sejak dulu, ternyata keluarga Ke Ta’lab sudah dijadikan mata celurit untuk membabat lawan, sebab masyarakat memercayakan suaranya pada dukungan kiai. Jika kali ini ayah Dahlan menjadikan kediaman Ke Ta’lab bagai taruhan, justru karena kiai itu terang-terangan mendukung Samsul untuk menjadi lawan kuat Dahlan di pemilihan, demi memutus rantai dinasti kekuasaan dan menghentikan pengaburan dana desa yang tak pernah jelas dialokasikan ke mana.

Akan tetapi, ayah Dahlan tak segan mengeluarkan dana ratusan juta untuk menghimpun suara. Bantuan pangan digelontorkan demi menarik simpati masyarakat dan melumpuhkan lawan.

Pesta kemenangan pun dirayakan setelah penghitungan suara usai.

Duduk berhadapan di sudut tenda setelah sekian tahun tidak berjumpa dengan Dahlan, mengingatkanmu pada si raja kecil yang ringkih, kesulitan menimba air, tidak mahir memanjat, tetapi memiliki jagung sangrai yang mengembang seperti kelopak melati mekar.

”Apa Langgar kita tetap akan dirobohkan?” tanyamu hati-hati, menjentik abu rokok ke lapik cangkir.

”Aku tidak tahu apakah Eppa’ akan benar-benar melakukan itu.” Dahlan menjawab datar, seperti patung tanah liat.

Kau baru meninggalkan pesta kemenangan itu menjelang subuh, ketika aroma sate menguar ke udara dan asap menyungkupi halaman. Lama kakimu tertahan di bibir lapangan, dekat balai, melihat sisa-sisa pesta demokrasi yang tak menyisakan apa pun kecuali saksi bisu dan sampah-sampah berserakan.

***

Cahaya matahari mulai mengecup pucuk-pucuk daun kersen saat kau melihat sosok Ke Ta’lab perlahan turun dari Langgar. Punggungnya semakin melengkung ketika beliau membungkuk mencari sebelah terompahnya yang hilang.

***

Madura, September, 2024

Catatan:

Percatonkalebun: aset desa yang pengelolaannya diberikan pada kepala desa.

Patompes sakale: bunuh sekalian.

Bajing: sebutan untuk orang sejenis bandit yang berada antara dunia hitam-putih.

Dhalem: rumah

Kalebun towa: kepala desa lama

Mbah Juju’: kakek buyut

Muna Masyari Buku-bukunya pernah mendapatkan penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim dan Kemendikbudristek sebagai buku cerpen terbaik. Juga masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 untuk novelnya, Damar Kambang. Buku yang baru terbit, Kembang Selir, diterbitkan oleh Divapress.

I Wayan Sujana Suklu Lahir di Klungkung, Februari 1967. Tinggal di Banjarangkan, Klungkung, Bali. Setidaknya lima pameran tunggal dan puluhan kali pameran bersama telah ia gelar. Beberapa kali mendapat penghargaan, antara lain The Best 10 Indonesian Competition of Philip Morris Asian Art Award 2003, CP Open Biennale 2003, serta The Winner of LIBAF Senggigi Lombok 2013.

sumber : harian Kompas edisi 27 Oktober 2024 di halaman 10 dengan judul “Mata Celurit”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme