Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Membeli Nasib oleh Ken Hanggara

Posted on Jum, 03 Jan 2025

”Kau gila, ya! Apa yang kau katakan semalam?” Seseorang yang tinggal tidak jauh dari tempatku, mendadak membuka pintu kamarku dengan kasar. Dengan wajah yang tak ramah, ia mencecarku.

”Apa maksudmu?”

”Semalam! Ketika kau mengira kau berbicara dengan Tuhan!” desaknya.

”Oh, itu pembicaraanku sendiri dengan-Nya. Maaf aku merasa tak wajib membahas itu dengan siapa pun.”

”Jangan sembarangan menghina Tuhan! Kau manusia yang tak kenal rasa syukur!” dengusnya. Semakin tajam matanya menatap mataku seolah-olah aku binatang jahanam yang patut untuk dihukum atas nama Tuhan.

”Aku tak menghina-Nya,” balasku, masih tenang. ”Lagi pula bukan urusanmu juga kalau memang aku menghina-Nya.”

”Kau menghina Tuhanku? Artinya kau harus berhadapan denganku!”

”Kau kira Tuhanku sebelum keputusanku terjadi, adalah Tuhan yang sama dengan yang kau sembah?”

Tetanggaku tak bisa berkata-kata lagi, karena ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, ia telah berkoar-koar, menyebarkan informasi ke seluruh penghuni gedung ini bahwa aku adalah seorang penista agama dan aku patut dihukum.

Kalau memang Kau berkuasa, kutantang Kau untuk mengubah nasibku! Jadikan mungkin bagiku mencapai apa-apa yang ingin kucapai!

Ya, baiklah. Tuduhan itu sempurna untuk mengakhiri hidupku. Aku siap ditangkap dan dihukum oleh orang-orang yang menjunjung tinggi Tuhan di atas batok kepala. Aku tak keberatan mati sesegera mungkin karena semua ini sudah tak berarti.

Hanya saja, berhari-hari, berminggu-minggu, orang tak pernah menghampiriku. Si tetangga hanya mengoceh sendiri tentang kekurangajaranku memprotes kekuasaan-Nya. Yah, memang malam itu aku agak kurang ajar dalam berkata-kata. Karena terlalu sering menelan kegagalan dalam hidup, kubilang pada-Nya, ”He, Tuhan! Kalau memang Kau berkuasa, kutantang Kau untuk mengubah nasibku! Jadikan mungkin bagiku mencapai apa-apa yang ingin kucapai!”

Ya, tentu, tak ada balasan atas tantanganku itu. Aku pun menganggap Tuhan tidak benar-benar berkuasa. Maka, demi keputusanku untuk berhenti memperjuangkan hidup, apa pun yang terjadi padaku, aku tak peduli lagi.

***

”Hei, bangunlah!”

”Eh?”

”Ayo, bangun dan pakai jaketmu!”

Aku membuka mataku dengan susah payah, mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer di alam mimpi. Ini masih tengah malam. Suasana langit kota yang terlihat dari jendelaku masih gelap dan dihiasi titik-titik lampu gedung-gedung pencakar langit.

”Siapa kamu?” kataku, mendapati perempuan itu duduk di tepi ranjangku.

”Ikut denganku!”

”Ke mana?”

”Nanti kamu akan tahu!”

Aku menurut saja saat perempuan itu memaksaku berdiri, lalu mengenakan jaketku ke badanku. Ia dengan telaten merapikan rambutku.

”Kita akan menemui seseorang. Dan kamu akan senang!” ujarnya sembari sedikit menjauhkan diri untuk menatapku beberapa saat dari ujung rambut hingga ujung kaki. ”Kau sudah rapi. Kau siap untuk pergi! Ayo!”

”Pergi ke mana? Aku tak pergi sebelum tahu ke mana. Dan, satu hal lagi,” kataku, menarik tanganku sendiri setelah perempuan itu menggandengku. ”Aku tidak tahu kamu siapa!”

”Baiklah. Namaku Tami. Aku diutus Tuhan kemari. Puas?” sahut si perempuan.

”Apa?!”

”Telingamu tidak tuli, Alex. Kamu dengar kata-kataku, bukan?”

”Kamu bilang kamu utusan Tuhan? Pasti orang-orang gedung yang menyuruhmu, ya? Kenapa tidak polisi saja yang meringkusku? Permainan apa yang kalian jalankan, heh?!” Aku mulai yakin kehadiran si perempuan ini tak lain adalah untuk menangkapku atas tuduhan penistaan agama.

”Aduh, kamu ini bicara apa, sih! Tidak ada yang terlibat selain kita berdua, Tuhan, dan seseorang yang akan kamu temui! Kalau kamu sepenuhnya pasrah akan apa pun yang menimpamu, harusnya kamu tak menolak ajakanku!”

”Dari mana kamu tahu kalau aku merasa pasrah akan apa pun yang menimpaku?!”

”Kan sudah kubilang! Tuhan yang mengutusku!”

Maka, tanpa mendebatnya lagi, aku setuju mengikutinya. Kami berjalan cukup jauh meninggalkan apartemenku. Setelah berjalan beberapa lama, kami mencapai batas kota.

”Jangan khawatir,” kata Tami, kembali dengan suara selembut sutra seperti ketika ia membangunkanku. ”Kamu tak akan menyesali perjalanan kita.”

”Kalau boleh tahu, siapa ’seseorang’ yang akan kutemui?”

”Nanti kamu akan tahu.”

Setiba di tempat tujuan, yang tak lain sebuah halte bus, ia mempersilakanku untuk duduk.

”Kita bertemu sampai di sini, Alex,” kata perempuan itu. ”Aku pergi dengan bus sejauh mungkin. Dan selagi busku menjauh, orang itu akan kemari. Jadi kamu tunggu saja.”

Aku mengangguk.

Hanya sebutir keberuntungan untuk setiap manusia malang terpilih.

Tami menaiki bus pertama yang berhenti sejak kami tiba. Cukup aneh juga. Sebab setahuku, di jam selarut ini, di pagi buta menjelang subuh begini, jadwal keberangkatan bus belum ada. Entahlah. Mungkin memang ada. Aku tak peduli. Aku hanya penasaran siapa ’seseorang’ yang dia maksud akan menemuiku?

Tak lama setelah Tami pergi, tibalah orang yang dimaksud. Aku kecewa melihat orang yang mendatangi halte tidak berpenampilan megah atau sarat unsur keagamaan seperti misal mengenakan jubah yang kedodoran dan berkilau atau mengenakan sorban dan semacamnya, karena Tami menyebut semua ini diatur oleh Tuhan. Sedangkan sosok yang menghampiriku hanya seorang pria paruh baya, berkaos lusuh, dengan membawa sebuah karung.

”Kau yang bernama Alex?” sapa orang itu.

”Ya. Anda siapa?”

”Perkenalkan, Ali Sabeni. Dan aku pedagang.”

”Apa yang Anda jual?”

”Hanya sebutir keberuntungan untuk setiap manusia malang terpilih,” pungkasnya. ”Jika kau tidak tertarik, aku bisa pergi ke halte lain. Jika kau tertarik, kita bisa bicarakan harga. Bagaimana?”

”Anda menjual keberuntungan? Maksudnya, jika seseorang membeli itu, maka ia akan beruntung?”

”Ya. Seumur hidupnya akan dilimpahi keberuntungan. Namun, ada harga yang harus dikorbankan.”

”Apa itu?”

”Alih-alih menanyakan ’berapa’, kau malah bertanya ’apa’. Kau tampaknya paham ini bukan tentang uang, ya, Nak?” Ali Sabeni terkekeh. ”Baiklah. Mari kita duduk dulu. Akan kutunjukkan terlebih dahulu sebutir keberuntungan yang kujual hanya satu untuk setiap jiwa yang merana.”

Ia pun duduk di sebelahku di kursi halte bus itu. Lantas ia keluarkan sebutir benda dari dalam karungnya yang besar. Benda itu ternyata cuma sebutir kelereng, tapi tampak terbuat dari bahan emas.

”Dengan benda ini, kau akan mendapati segala yang kau inginkan menjadi nyata. Selama sisa waktumu di bumi, kau akan merasa menjadi orang yang paling beruntung, Anak Muda.”

”Baiklah. Bisa tolong Anda sebutkan ’apa’ harganya? Saya ingin memiliki itu!”

”Kau hanya harus meneken kontrak denganku. Isinya adalah bahwa jika kelak kau mati, kau akan bekerja untukku,” jawab Ali Sabeni.

”Jadi memang benar orang-orang yang mati itu akan kembali dihidupkan?”

”Kurang lebih begitu.”

”Apa yang akan saya kerjakan untuk Anda kelak?” tanyaku.

”Pekerjaan seperti ini. Berkeliling, menawarkan keberuntungan kepada tiap orang yang selalu kalah dalam hidupnya. Sangat mudah. Bahkan terkadang pekerjaan seperti ini terasa seperti tamasya.”

”Begitu, ya.”

”Bagaimana? Kau tertarik?”

”Tentu saja.”

Maka kontrak kutandatangani saat itu juga. Dan Ali Sabeni memberikanku sebutir keberuntungan. Kusimpan itu dalam sakuku. Karena aku disuruh kembali lagi ke gedung di mana sebelumnya aku tinggal, maka aku berjalan pulang seperti biasa.

Sesampai di apartemen, aku terlelap karena kelelahan. Aku bangun siang hari saat kota sedang sibuk. Aku raba saku jaket. ’Kelereng’ itu masih ada. Dengan jantung yang berdebar tak keruan dahsyatnya, aku genggam ’kelereng’-ku sambil membatin, ”Semoga saja si rambut merah menjadi istriku.”

Rambut merah, adalah julukan yang kusematkan secara pribadi untuk seorang dari tempat kerjaku dahulu. Aku jatuh cinta padanya tapi tak pernah berani menyatakannya.

Sekejap kemudian, suara gadis itu terdengar merayapi tengkukku, ”Sarapan sudah kusiapkan, Sayang. Ayo, kita makan.”

Aku melompat kaget, mendapati si rambut merah berdiri di belakangku. Ia tampak cantik dengan rambut merahnya yang tergerai dan baju tidur yang agak transparan. Aku tak bisa menahan rasa gugup.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari ke kamar mandi. ”Wahai, Kelereng! Aku berharap bisa memiliki rumah semegah istana dan harta melimpah tanpa habis!”

Dan, seperti yang sudah kuduga, sekeluar dari kamar mandi, kamar apartemenku yang bobrok berubah menjadi kamar yang sangat luas dan indah selayaknya kamar para raja!

”Ini… terlalu indah untuk menjadi nyata!” kataku.

Dengan panik, aku berlari meninggalkan kamar. Dan, aku malah lebih panik lagi ketika kudapati bagian luar pintuku bukan lagi koridor apartemen kumuh. Aku berada di bangunan yang benar-benar berbeda, di sebuah istana yang tampaknya milikku sendiri!

”Sayang, kenapa kamu bertingkah aneh? Kemarilah. Temani aku sarapan,” ucap si rambut merah setengah berteriak dari dalam kamar.

Aku tak peduli. Aku berlari meninggalkan rumah ’istana’-ku itu. Aku melihat entah berapa banyak mobil mewah terparkir di garasi. Kuambil kunci salah satunya, lalu aku pacu mobil itu ke jalan raya.

”Ini pasti hanya permainan Tuhan! Tidak mungkin ini nyata!” pikirku. ”Mana bisa orang memiliki segala sesuatu hanya dengan ucapan singkat dan sebutir kelereng aneh!”

Kau terlalu meremehkan kuasa Tuhan, ya. Bahkan saat kau sudah dianugerahi keberuntungan yang sedahsyat itu, kau masih menyangkal-Nya.

Aku ketakutan karena semakin lama mobil itu kupacu, semakin tampak nyatalah segala hal yang tersaji; segala bangunan dan jalan yang detailnya begitu kuhafal. Semua itu tampak sama. Bahkan saat berhenti di lampu merah, kulihat orang-orang yang dulu pernah bekerja denganku, menyapaku dari dalam bus yang mereka tumpangi!

”Hei, Alex! Lama tak terlihat kau!”

”Wah, mobil siapa itu?!”

”Sekarang kau penuh gaya, Bung!”

Aku tak tahu apa semua ini layak atau tidak untuk dibuktikan, tapi aku merasa aku sedang dipermainkan. Maka, kupacu mobil itu dengan lebih kencang lagi. Aku berharap aku bisa mati saja secepatnya agar semua kegilaan ini berakhir!

Dan, begitulah.

Mobil yang kupacu menabrak sebuah tembok beton, menghancurkan tubuhku. Aku benar-benar mati. Tapi, mungkin aku akan terbangun lagi di apartemen bobrokku, bukan? Kejadian barusan, segala harap yang sekejap menjadi nyata itu, hanyalah mimpi, bukan?

”Sayangnya tidak, Nak,” ucap Ali Sabeni, menghampiri tubuhku yang hancur. Ia memikul karungnya, terkekeh pelan. ”Kau ikut denganku, sesuai perjanjian kita.”

”Tunggu, tunggu! Jadi semua ini….?!”

”Ya, memang nyata, Alex. Kau terlalu meremehkan kuasa Tuhan, ya. Bahkan saat kau sudah dianugerahi keberuntungan yang sedahsyat itu, kau masih menyangkal-Nya. Sekarang mari ikut denganku. Ada banyak tugas yang harus kau kerjakan!”

Dan aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyesali segalanya.

Ngoro, 9 Desember 2024

 

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario sejak 2012. Karyanya tersebar di berbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ dan IG @kenhanggara.

sumber : kompas.id, 03 Jan 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme