Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Panggung Teateral Inspektur Jenderal oleh Agus Dermawan T.

Posted on Ming, 10 Mar 2024

Ketika sedang duduk nyaman di kapal pesiar Sebastiantasya Line yang menuju Finlandia, gawai Dutasena menyapa. Kabar petir datang dari sahabatnya di Kota Langkapura. Dut, baru saja ada berita di televisi. Putra Inspektur Jenderal Agoes Dharma ditangkap. Ia menabrak temannya dengan motor gede. Yang ditabrak terpental jauh. Badannya menggelosor di aspal dan kepalanya membentur batu. Parah, sampai koma. Apa sekarang Agoes ada di dekatmu? Dia sudah tahu kasus itu?

DUTASENA, dalang skandal pemalsuan lukisan dan pemalsuan tanda tangan pesohor sepak bola, terperangah. Ia melirik Agoes Dharma –inspektur jenderal pembebas dirinya dari kasus itu– yang duduk bahagia di sebelahnya. Dutasena lalu menjawab: Beliau sekarang sedang asyik membalik-balik brosur Crystal Bohemian Ceko. Beliau tenang-tenang saja. Mungkin keluarganya masih merahasiakan berita buruk itu.

Dutasena lantas tercenung. Ini persoalan berat! Anak inspektur jenderal institusi keamanan negara menganiaya seseorang sampai sekarat. Ia lalu teringat cerita yang pernah disampaikan oleh sahabatnya di Kota Langkapura itu. Cerita yang mengingatkan agar dirinya janganlah terlampau berdekat-dekat dengan Agoes Dharma karena sang perwira tinggi ini menyimpan banyak persoalan semenjak masih muda belia.

Cerita itu pelan-pelan menjelma bagai film dalam kepala. Begini.

***

Syahdan, ketika duduk di bangku SMP kelas satu, Agoes Dharma punya seorang teman. Ayah si teman bekerja sebagai agen susu. Setiap hari ratusan botol susu keluar masuk di rumah temannya itu. Pada suatu kali, sepulang dari sekolah, Agoes melihat ada botol-botol yang pecah di situ. Agoes pun bertanya: apakah setiap hari ada botol yang pecah? Temannya menjawab: selalu ada, minimal dua. Namanya juga botol. Agoes bertanya lagi: akan diapakan botol-botol yang pecah itu? Si teman menjawab: kalau sudah banyak terbilang, tentu dibuang.

Agoes mulai berpikir.

Syahdan pula, Agoes mengenal seorang guru pencak silat. Berbagai jurus silat –dari jurus ular melipat kaca sampai cicak menotok buaya– bisa ia ajarkan. Muridnya ada belasan. Namun, karena muridnya adalah anak-anak miskin, tak ada yang mampu bayar sepeser jua. Sehingga, segiat apa pun berpraktik, pendekar ini selalu kesulitan uang. Untuk membiayai hidup ia pun bekerja sebagai pemulung beling.

Sang guru pencak silat ini pernah bercerita kepada Agoes bahwa beling yang berwarna putih, tak ada nilainya. Beling berwarna cokelat atau hijau, seperti beling botol obat batuk, murah harganya. Namun, beling tebal yang bening transparan seperti yang dipakai untuk mewadahi susu, lumayan nominalnya. Sehingga ia mau membeli apabila ada.

Mendengar itu, Agoes seperti mendapat peluang. Lalu kepada ayah temannya ia berkata: ingin membantu menyingkirkan dan membuang beling botol pecah yang teronggok di sudut ruang agen susu itu. Maka, pada suatu kali dengan karung goni tebal pecahan beling itu ditempatkan. Kemudian beling singkiran itu dijual kepada si guru pencak silat.

Setelah berkali-kali mendapat uang, akal bulus Agoes muncul. Sepulang dari sekolah, ketika di ruang agen susu tidak ada orang, ia memasukkan beberapa botol yang masih utuh ke dalam karung goni. Lalu botol itu dikepruk pelan sampai pecah. Setelah digabungkan dengan beling botol yang memang sudah remuk, sampah itu dibawa pergi. Dengan begitu, jumlah beling botol yang didapat Agoes bisa beberapa kali lipat lebih banyak. Kelihaian ”kepruk botol” itu ia praktikkan lebih dari 20 bulan. Pak guru pencak silat curiga dengan capaian Agoes ini. Tapi, ia berfilosofi: itu adalah bagian dari silat akal yang harus diapresiasi.

Selulus dari SMP, Agoes dan sahabatnya bersama-sama menempuh sekolah SMA di luar kota. Di kota yang baru ini, ia selalu punya uang sehingga sering mentraktir teman-temannya menonton film.

Ketika pada suatu hari ditanya: dari mana dia mendapat uang, sementara para temannya masih mengandalkan hidup dari kiriman orang tua? Sambil mengangkat selembar kertas, Agoes menjawab sambil tertawa. ”Dari ini…!” Agoes menunjukkan gambar cetak yang berisi ramalan angka-angka yang bakal keluar dari SDSB atau sumbangan dermawan sosial berhadiah. Lotre nasional yang diundi setiap minggu.

”Angka-angka mana yang akan keluar dalam lotre dan bagaimana posisi angka-angka itu, di kertas ramalan ini rahasianya! Lihat, dari sopir sampai pegawai kantor mempelajari ramalan yang aku bikin. Lembar ramalan ini aku cetak ribuan dan aku jual setiap minggu. Maka, sangat banyaklah uangku.”

Seseorang bertanya, ”Apakah ada orang yang memenangkan lotre setelah mempelajari ramalan itu?” Agoes menjawab lugas: ”Ya nggak lah. Gila apa?! Kan prediksi angka yang ada di situ aku pasang semauku saja.” Lalu segenap temannya menukas ramai: ”Itu ngakali orang namanya! Nipu masyarakat dan bikin rakyat melarat!” Agoes merespons dengan terbahak.

***

Gawai Dutasena bergetar lagi. Dut, berita baru, nih. Para wartawan mulai mempertanyakan harta Inspektur Jenderal Agoes Dharma yang ternyata bukan main banyaknya. Motor gede yang dikendarai putranya itu hanyalah satu dari tiga yang dia punya. Di rumahnya ada Ferrari dan Bugatti. Agaknya mulai dicurigai, Agoes korupsi. Apakah ia masih belum tahu perkara ini? Dia masih di dekatmu?

Dutasena menjawab: Beliau sekarang sedang tidur bahagia. Kalau dia tahu, entah apalah jadinya.

Jawaban itu berjawab lagi: Dia suruh bersiap saja. Di sela-sela kesukacitaan, sering mendadak menyelip kepedihan hati.

***

Lalu cerita ulah Agoes Dharma di masa lalu kembali menjelma dalam ingatan Dutasena.

Alkisah, sahabat Dutasena sakit dan berobat ke dokter Razak, yang terkenal sebagai pengobat tepat dengan tarif rakyat. Oleh karena itu, pasiennya selalu berderet-deret setiap senja. Mereka tertib mengantre dengan cara mengambil nomor yang sudah disediakan di ruang tunggu. Si sahabat melihat Agoes ada di ruang tunggu yang dipenuhi pasien itu.

”Hai Agoes, kau sakit apa kiranya?” si sahabat bertanya.

Agoes tersenyum dan lalu berbisik. ”Ssssst. Sesungguhnya aku cuma calo pasien. Hihihi. Pasien yang tidak mau lama-lama menunggu bisa membeli nomor antre yang ada di tanganku ini. Nomor-nomor kecil… Nah, si pasien yang beli nomor antrean dari aku tentu akan dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan dokter lebih dahulu. Kau mau?”

Si sahabat terbelalak.

”O ya, semakin darurat sakit pasiennya, semakin aku pasang tinggi tarifnya. Aku dapat uang banyak dari sini. Karena aku nyalo sambil pura-pura sakit, setiap senja hari…” Si sahabat menggeleng-gelengkan kepala.

Pada suatu hari, terjadi kehebohan di dekat pintu ruang tunggu dokter Razak. Dalam keributan itu tampak Agoes sedang diringkus oleh petugas keamanan. Agoes dianggap memeras dengan tarif amat tinggi kepada pasien yang berkursi roda. Pasien itu protes, emosional, berusaha memekik-mekik sampai akhirnya pingsan. Terjadilah keributan.

Waktu terus lewat, kadang pelan, kadang seperti berlari. Setelah lulus SMA, Agoes diketahui menempuh pendidikan di akademi keamanan negara. Setelah lulus dengan mulus, ia bekerja di institusi yang berkait dengan keahliannya. Kariernya terus dan terus menanjak dan bahkan melejit. Belum pula berusia 50, Agoes Dharma sudah menyandang pangkat inspektur jenderal!

***

Agoes Dharma bangun dari tidurnya. Dengan kalem ia membuka gawainya. Raut mukanya mendadak terperanjat, lalu memucat. Celaka. Celaka. Celaka! Benaknya berkata. Kapal pesiar Sebastiantasya Line terus melaju dengan tenangnya.

***

Sekembalinya di tanah air, Dutasena dan Agoes Dharma berpisah. Dutasena sengaja menjauh, menjaga jarak. Ia takut tersentuh nuansa perkara penganiayaan yang dilakukan oleh putra Agoes. Ia takut disangkutkan dengan harta Agoes. Bukankah kekayaan inspektur jenderal yang datang dari mana-mana itu sedang dipermasalahkan?

Namun, setelah enam bulan, kasus itu serta-merta menghilang. Bahkan Agoes Dharma tiba-tiba mendapat jabatan baru: Pangti (panglima tertinggi) Perkakasjudas (Pemberantasan Kaki Tangan Narkoba, Minuman Keras, Perjudian, dan Sejenisnya). Jabatan sangat penting dan tak sembarang perwira bisa mendapatkan. Agoes Dharma pun jadi pusat perhatian.

Pada suatu malam, Dutasena menonton televisi. Di situ Agoes Dharma, Pangti Perkakasjudas, diwawancarai. Petikan wawancara itu begini.

”Yang Mulia Bapak Inspektur Jenderal Agoes Dharma, adakah cerita tentang masa lalu yang menjadi landasan kesuksesan Anda hari ini?” tanya pewawancara.

”Begini. Sejak usia belia, saya selalu berbuat baik. Pasti tak ada yang menyangka bahwa saya pernah jadi pemulung beling. Berkarung-karung pecahan beling pulungan itu saya jual dan uangnya saya sumbangkan kepada sejumlah pemelihara tradisi di tempat kelahiran saya itu. Sejak dulu, saya tak ingin melihat tradisi kita yang luhur dilindas zaman. Perhatikan upacara tabuik, tari gandrung, pencak silat, bakar tongkang…” Raut Agoes kelihatan meradang.

”Saya juga pernah berbulan-bulan melakukan penyadaran kepada wong cilik di suatu kota agar mereka tidak terbius kepada judi yang dipicu oleh lotre dan semacamnya. Apalagi terbius oleh ramalan peruntungan yang menyebabkan mereka hanya mengunyah harapan. Ini berbahaya karena akan merusak mental dan ekonomi keluarga!”

”Tapi… ini yang paling saya ingat. Pada suatu kali, saya melihat orang-orang sakit sedang antre berobat ke klinik yang hanya ditangani oleh satu dokter. Antrean panjang yang berlangsung setiap hari itu menghadirkan pemandangan miris. Seperti kisah pesakitan di kamp Adolf Eichmann, begundal Nazi era Perang Dunia Kedua! Setelah melihat itu, saya usul kepada pemerintah: mbok jumlah dokter dan ruang dokter di situ ditambah agar antrean tidak menjadi panjang… Syukur usul saya akhirnya diterima. Bahkan perbaikan soal kesehatan itu berlanjut sampai sekarang. Saya rasa, munculnya Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan itu juga lantaran kontribusi saya.”

”Merujuk kasus baru-baru ini… Bapak dikenal berhasil dalam menyelesaikan perkara rumit yang menyangkut pemalsuan tanda tangan pesepak bola dunia dan pemalsuan lukisan di tanah air kita. Mohon izin, Bapak bisa beberkan caranya?”

”Saya menyelesaikan semua itu berdasar rumus yang terpetik dari pengalaman. Dan semua itu saya kerjakan berlandas keberanian. Saya selalu ingat ungkapan: Jika inginkan telur elang di sarang, jangan takut menginjak-injak semut rangrang yang menjagai batang…”

Pewawancara yang kelihatan girang lantas menutup acaranya.

”Bisa disimpulkan bahwa Bapak Inspektur Jenderal adalah orang yang hormat dan jujur kepada sejarah dan pengalaman masa lalunya. Seperti dikatakan sejarawan Amerika Claude Gernade Bowers, sejarah dan pengalaman adalah obor untuk menerangi masa depan. Saya yakin, obor Agoes akan menyala terus sampai kapan-kapan!”

Dutasena pun mematikan televisi dengan gembira karena telah mendapat hiburan yang kontennya persis seperti yang ia duga. Semenit kemudian, sahabatnya dari Kota Langkapura mengirim WhatsApp. Di kolom pesan tertulis kata singkat: Siaran semprul! (*)

—

AGUS DERMAWAN T. : Kritikus seni, penulis buku-buku budaya, dan sastrawan. Buku cerpennya, Odong-Odong Negeri Sulap, masuk lima besar buku terbaik versi Kemendikbudristek 2023.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 10 Maret 2024

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme