Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kaiju di Tokyo oleh Bagus Dwi Hananto

Posted on Ming, 09 Jun 2024

”A-chan! Bangun, A-chan!”

Kudapati ibu mengguncang-guncang bahuku.

”Ada apa, Bu? Aku harus tidur, kebagian jaga malam di minimarket nanti!”

Ibuku menampilkan wajah kaget bukan main, keringat membasahi pelipisnya. Meski sudah bangun, ibu masih mengguncang-guncang bahuku. Mungkin menunggu sampai aku bangkit dari futon.

”Lihat! Kaiju!”

Ibu menunjuk ruang tengah, di situ ada teve bobrok kami menampilkan sebuah berita ganjil.

Aku mengucek mata beberapa kali, menguap sebentar.

”Itu, lihat!” seru ibu, sekarang dia beringsut ke ruang tengah. Aku mengikutinya.

Aku berusaha secepat mungkin menghimpun kesadaran. Butuh waktu agak lama lantaran kemarin malam aku minum-minum dulu sehabis kerja.

Begitu klop lagi dengan realitas dunia dan pandanganku kembali tertata, kudapati teve menghadirkan berita yang sungguh di luar nalar. Sedemikian heboh sampai-sampai aku kembali mengucek mata sambil menggeleng. Aneh betul. Kamera merekam penampakan monster raksasa menjulang melampaui gedung-gedung pencakar langit.

”Kaiju muncul di sekitar taman raya Shinjuku. Pengamat memperkirakan tingginya lebih dari tiga ratus meter. Fenomena yang tak bisa dijabarkan dengan akal sehat. Pasukan Bela Diri Jepang sedang mengamankan lokasi. Sampai saat ini Kaiju masih belum bergerak. Orang-orang dalam radius tertentu tidak diperbolehkan mendekat.”

Kuamati dengan saksama memang ini sebuah berita, bukan tayangan film atau yang semacamnya. Di bawah berita ada rentetan informasi tambahan bergulir. Kaiju muncul di Tokyo diperkirakan pada pagi hari ini. Bentuk Kaiju seperti kadal dengan kulit bersisik kasar. Entah bagaimana ia muncul, tetapi sedari kemunculannya ia tidak bergerak sama sekali.

Berita menampilkan wawancara dengan warga setempat. Mereka heboh; ada yang panik, ada yang bersemangat ingin mendekat, tetapi terhalang pagar dan tentara yang menyuruh mereka menjauh.

”Kan, tak jadi soal kan aku membangunkanmu. Mungkin kau akan dapat libur hari ini karena ada Kaiju,” cetus ibu sembari melanjutkan kegiatan melipat baju. Dia mengutarakannya tanpa menengok ke arahku, pandangannya tetap lurus-lurus ke layar teve.

”Entahlah. Barangkali aku harus tetap masuk. Ada Kaiju atau tidak, kerja ya kerja, Bu,” sahutku. Aku lantas ke balkon, duduk memandangi kompleks dan memantik sebatang rokok.

Di sini sepertinya tidak seheboh di Shinjuku. Yah, bukan pusat keramaian, sih. Orang paling menonton kemunculan Kaiju dari teve seperti kami.

Namun bila dipikir lebih jauh, apa sebab mendadak Kaiju muncul pagi-pagi? Di Tokyo tidak pernah ada Kaiju. Atau di seantero Jepang tak ada yang namanya Kaiju. Ia sekadar makhluk rekaan. Mana bisa makhluk rekaan mendadak datang dan memberi salam tak langsung kepada manusia.

Kita yang menonton dari teve dibikin bingung, apalagi yang menyaksikan langsung. Mungkin antara senang bagi mereka yang menyaksikan Kaiju dalam cerita-cerita populer kini secara aktual muncul di depan mata, atau ngeri bagi mereka yang tersela rutinitas hidupnya mendapati kenyataan kalau ada monster hadir tiba-tiba.

Ujung-ujungnya kita tak tahu musabab Kaiju muncul di Tokyo. Huh, kalau dipikir lebih dalam bisa-bisa makin runyam. Persoalan hidup saja sudah rumit. Antara Kaiju yang muncul tanpa aba-aba dan kehidupan yang kujalani, tidak ada kaitan.

Setelah rokokku habis, aku kembali masuk rumah.

”Hari ini makan apa, Bu?”

Ibu tertawa. ”Masih berpikir mau makan? Ini ada Kaiju di depan mata.”

Aku sekadar tertawa remeh. ”Bu, Kaijunya di Shinjuku. Sedangkan kita puluhan kilometer dari sana. Kenapa pula harus dipikir.” Selang mengatakan demikian, aku hendak meralat omonganku. Toh, aku juga memikirkan persoalan Kaiju begitu mendapati beritanya di teve. Tapi aku urung. Kugaruk pinggulku dan menguap sejenak.

”Ibu memasak sup miso. Kalau ingin yang lain ada kari sisa kemarin di kulkas.”

”Aku makan kari saja.”

”Silakan.” Ibu berdiam sebentar, lalu kembali bicara. ”Bagaimana kalau kita lihat Kaiju?”

Aku terkejut. ”Ibu sudah tidak waras?”

”Lancang kau! Ibumu masih waras. Hanya penasaran. Kalau dipikir, melihat dari berita di teve rasanya kurang mantap. Lebih seru lagi kalau melihat langsung.”

Aku mendesah. ”Ibu ada-ada saja. Nanti malam aku harus kerja. Jangan aneh-aneh, Bu. Kita lihat dari berita di teve saja. Lebih aman. Nanti kalau Kaiju bergerak bagaimana?”

Ibu tertawa lepas.

”Kaijunya bergeming. Ini sudah sore. Sudah enam jam lebih ia tidak bergerak selangkah pun,” bantahnya.

”Ibu, belum tentu Kaijunya mati,” balasku.

Ibu berkilah, ”Kata siapa Kaiju itu mati? Aku bilang ia tidak bergerak.”

Aku tidak bisa mendebatnya setelah dia berucap demikian. Kuperiksa jam dinding. Masih tersisa waktu sedikit.

”Ibu sungguh-sungguh ingin melihat Kaiju? Tidak berbahaya?” tanyaku.

Ibu selesai melipat, lantas memasukkan baju-baju tadi ke lemari. Ibu beranjak ke kulkas dan segera memanaskan kari yang hendak kumakan. Selama itu aku mengamati pergerakan ibu sambil menunggu jawaban darinya.

”Kau tenang saja. Bukan cuma kita yang ke sana melihat Kaiju. Aku jamin ada banyak orang penasaran ingin menyaksikan Kaiju. Aku jamin pula pasti ada orang dari tempat pelosok memesan tiket kereta cepat walau harganya mahal demi bisa melihat Kaiju di Tokyo. Kau bisa yakin pada ibu soal ini.”

”Tidak perlu diyakinkan, aku juga yakin. Toh, sudah jadi berita menggemparkan. Setiap orang yang tertarik pasti akan mendekat ke tempat munculnya Kaiju.”

Ibu tersenyum lebar. ”Nah, kau sudah paham. Ayolah, sekali seumur hidup.”

”Kok ibu bisa yakin ini kesempatan sekali seumur hidup?”

”Ibu yakin. Kemunculan Kaiju yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah Jepang pasti kesempatan yang hanya terjadi sekali. Kalau kita tidak lihat langsung, lihat dari dekat, aku merasa kita bakal merugi. Tentu aku juga takut. Tapi tak bisa dimungkiri aku juga penasaran. Penasaran sampai tak sanggup kutahan-tahan.”

Aku menelan napas. Aku menggeleng berkali-kali.

”Ah, mau bagaimana lagi! Aku tak mau urus ya kalau ada apa-apa dengan kita!”

Ibu menepuk-nepuk pundakku.

”Tenang saja, A-chan. Tidak akan ada masalah, tenang. Ada tentara.”

 

***

 

Sehabis makan aku salin pakaian. Tahu-tahu ibu sudah menunggu di genkan. Tampak betul ibu semangat mau melihat Kaiju.

”Ibu sudah tidak sabar,” ujar ibu.

Aku lantas terpikir sesuatu. ”Tunggu sebentar, Bu.”

”Kali ini apa lagi?”

”Tunggu dulu. Sebentar.”

Ibu mengikuti langkahku dengan pandangannya. Aku masuk ke ruang dalam sejenak.

”Mau apa kau, A-chan?” tanyanya.

Sembari duduk dalam posisi khidmat, kuhidupkan dua batang dupa.

”Aku berdoa dulu di altar ayah,” jawabku.

”Memang harus, ya?” tanya ibu.

”Kalau-kalau kita terinjak Kaiju.”

Mendengar jawabanku ibu tertawa.

”Kau ini, tidak mungkin lah. Kaijunya tidak bergerak.”

”Tapi bukan berarti mati, kan, sebagaimana ibu omong tadi?”

”Iya, iya. Bukan berarti mati, kata siapa ia mati.”

”Nah, aku jaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada kita. Paling tidak aku sudah berdoa di altar ayah. Ibu tidak mau ikut berdoa?”

Kudengar langkah ibu mendekat.

”Duh, sampai berdoa segala untuk mau lihat Kaiju!” serunya. Namun ibu menurut, dia menyalakan dupa dan ikut berdoa bersamaku.

Sehabis berdoa kami lantas beranjak keluar rumah. Kebetulan sekali tetangga kami pasangan muda Sasaki bersama anak-anaknya juga memutuskan mau melihat Kaiju secara langsung. Maka bersama-sama kami naik kereta.

Di dalam kereta, nyaris kursi penumpang penuh. Biasanya sore hari sudah sedikit penumpang. Tujuan para penumpang sore hari ini sudah bisa ditebak tentu.

”Sasaki-san, mau lihat Kaiju bersama anak-anak?” cetusku membuka percakapan.

Sasaki suami mengangguk sambil tersenyum ramah. ”Anak-anak ingin melihat Kaiju dari dekat. Bahaya bukan, Akira-san?”

”Ibuku juga sudah kubilangi. Tapi tetap ngotot.”

”Saya kira Akira-san sengaja mengajak ibu untuk melihat. Tahunya ibu Anda yang ingin lihat Kaiju,” ucap Sasaki suami.

Aku tertawa. ”Mana mau aku melihat Kaiju, Sasaki-san. Ibu yang mengajakku. Aku sudah ingatkan bahaya. Walau dari berita Kaiju tidak bergerak. Tapi tetap saja itu Kaiju, makhluk raksasa yang sewaktu-waktu bisa mengancam.”

Sasaki menimpali omonganku sambil tertawa. ”Tapi kenyataan Kaiju mampir di Tokyo benar-benar menghebohkan. Di luar akal sehat, ya. Bisa-bisanya ada Kaiju, makhluk dalam cerita-cerita, muncul di sini, dalam bentuk kasat. Orang waras mana pun takkan sanggup menerima kenyataan yang terpampang utuh begini sekalipun kenyataan senyata-nyatanya.”

”Aku juga tidak habis pikir. Ah, kita akan pastikan setelah melihatnya. Apa betul ia Kaiju, sesuatu yang biasa kita baca serta bayangkan sewaktu masih bocah ingusan,” jawabku.

”Benar.”

Ibu tahu-tahu sudah mendekat. Dia mendengar obrolan kami.

”Nah, pada akhirnya A-chan juga penasaran, kan? Tak bisa tidak penasaran, bukan?”

Aku mengangguk. ”Ibu yang menang. Ya, aku juga ikut terseret dalam kehebohan ini.”

Ibu tertawa.

 

***

 

Kami sampai tujuan. Ternyata di muka stasiun sudah ada orang-orang memadati. Kami melangkah pelan-pelan, dari jauh kepala Kaiju sudah tampak.

Sasaki bocah pertama menunjuk langit sembari menggarit pipa celana ayahnya. Pandangan kami lantas mengikuti telunjuknya. ”Kepalanya terlihat ngeri!” jeritnya.

Sasaki bocah kedua ikut menjerit seperti kakaknya. Gadis kecil itu lantas bersembunyi di balik Sasaki istri.

”Wah, besar sekali!” seloroh ibu.

Aku sampai ikut takjub. Benar ada Kaiju di Tokyo.

Susah payah beranjak sedikit demi sedikit bagai semut dalam barisan, kami akhirnya mencapai titik terdekat tak jauh dari pagar pembatas, memandangi Kaiju secara langsung.

Wujudnya luar biasa. Memang raksasa, menjulang sampai tak bisa dikenali ujungnya. Banyak orang berseru kagum, tak habis-habis memotret wujud makhluk tersebut.

Saking luar biasanya, tahu-tahu aku ikut tertawa gembira bagaikan bocah-bocah Sasaki yang tak bisa ditenangkan orang tuanya.

Satu jam berlalu dan orang makin banyak berdatangan. Semakin ramai.

Kutepuk tangan ibu.

”Ibu sudah puas?”

Ibu menampilkan air muka gembira. Ibu memotret Kaiju menggunakan telepon genggam berkali-kali. ”Ah, sudah. Sudah cukup. Kita bisa pulang,” katanya.


***

Pada akhirnya kami selamat tidak kurang suatu apa sehabis menonton Kaiju. Malam sudah tiba dan tidak ada pemberitahuan dari manajer minimarket. Artinya tidak ada hari libur. Dipikir juga konyol, mana ada kerja diliburkan gara-gara Kaiju muncul.

Hingga hari kedelapan, Kaiju tetap bergeming. Berita masih menampilkan keadaan Kaiju seperti sediakala waktu ia muncul kali pertama. Lama-lama membosankan juga melihat Kaiju yang tidak bergerak, pikirku kemudian. Ibu juga sudah tidak begitu bergairah menonton berita soal Kaiju.

Sewaktu aku hendak berangkat kerja, aku berseloroh di hadapan ibu.

”Mungkin Kaijunya mati, ya, Bu.”

Kali ini ibu setuju denganku. Aku sampai dibikin kaget.

”Barangkali dari awal ia muncul, ia sudah mati. Mati berdiri dengan gaya. Keren, sih, tapi sudah mati,” ujar ibu.

Kali ini aku yang menepuk pundak ibu.

”Kapan-kapan kita cari Kaiju, Bu,” cetusku asal.

Ibu mendongak, dia menatapku lekat-lekat. Tanpa persiapan sama sekali, tiba-tiba mendaratkan jitakan ke kepalaku. Rasanya sakit.

”Kenapa memukulku, Bu?”

Ibu tertawa. ”Karena kau sudah lancang pada ibu. Mana mungkin mencari Kaiju. Ia cuma ada seekor di Tokyo dan sudah mati. Cukup!”

Kami lantas tertawa bersama. (*)

—

BAGUS DWI HANANTO : Lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Buku cerpennya berjudul Kakek dalam Kucing-Kucing Takamoto (Indonesia Tera, 2023).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 9 Juni 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme