Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Belajar Membaca Masa Depan oleh Kedung Darma Romansha

Posted on Ming, 16 Jun 2024

”Masa depanmu mau jadi apa kalau nilaimu begini? Opo yo iso masuk perguruan tinggi negeri. Mbok hidupmu itu sing semangat.”

Saya letakkan transkrip nilai itu di atas meja dan pergi meninggalkannya di ruang makan. Sebetulnya saya sedih bicara demikian pada Rama. Tapi, demi kebaikan masa depannya saya harus lebih keras padanya. Meski begitu, berkali-kali saya menerima kekecewaan yang sama. Ketika sekolah dasar nilainya selalu buruk, yang paling menonjol hanya pelajaran menggambar, itu pun tidak bagus-bagus amat jika melihat lukisan teman-temannya yang lain. Sebagai ibu tentu saya memikirkannya, mengamati perkembangannya, apakah ada bakat lain yang luput dari pengamatan saya. Tapi, lagi-lagi yang saya temukan hanya kekecewaan.

Untuk menyenangkan saya, ia pernah punya kemauan keras meraih nilai terbaik ketika kelas VIII SMP. Setiap malam ia belajar dibantu oleh kakak-kakaknya, tapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Saya sedih sekaligus senang dengan upayanya itu. Hampir setiap malam saya berdoa kepada Tuhan supaya Rama diberi masa depan yang terbaik, tapi belum juga ada perubahan. Sementara kedua kakaknya sejak sekolah dasar selalu mendapat ranking. Yunita, kakaknya yang pertama, kini mendapat beasiswa kuliah pascasarjana di Australia. Sementara Doni bekerja di Jakarta setelah enam bulan lalu cum laude di salah satu universitas terbaik di Jogja. Sedangkan Rama, saya sudah berada di ambang keputusasaan. Apa ini yang dinamakan kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi.1

SEJAK suami saya meninggal, mereka memang berjanji tidak akan merepotkan saya. Gaji uang pensiun TU sekolah menengah pertama tentu tak bakal cukup untuk menguliahkan mereka. Namun, saya bersyukur ketika mendengar kabar Doni dan Yunita memperoleh beasiswa, sesuai apa yang dulu pernah dikatakannya bahwa mereka tidak akan merepotkan saya. Mereka patut diandalkan dalam pelbagai kondisi. Mereka adalah pantulan doa-doa saya yang dikabulkan Tuhan. Kecuali tentu saja Rama, bahkan kuliah pun ia tidak tahu mau masuk jurusan apa. Katanya, ia tidak mempunyai bakat terpendam seperti teman-temannya yang lain. Ia sendiri merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa ia tidak ada minat apa pun yang ia senangi. Tapi, kemudian ia mengatakan bahwa ia senang jika berada di rumah. Benar-benar memusingkan.

Pada suatu malam yang entah kapan, saya memanggil Rama ke ruang makan. Saya katakan padanya, minggu depan ia harus berangkat ke Jogja untuk mendaftar kuliah. Alasannya tentu karena kedua kakaknya dulu kuliah di Jogja dan sukses. Sudah tentu ia tidak mau karena kesenangannya berada di rumah bakal terenggut. Padahal di rumah ia tidak melakukan apa pun. Semua pekerjaan rumah saya yang melakukan. Sekali dua kali memang pernah ia mencuci piring dan pakaian. Selebihnya ia akan berlama-lama di ruang makan, di sofa ruang tengah, sambil berkali-kali menanyakan kejadian-kejadian konyol masa kecilnya. Kemudian ia tersenyum, memeluk saya sambil mengatakan: ”Terima kasih, Bu. Maaf saya merepotkan Ibu.” Saya tidak ingin ia masuk terlalu dalam klangenan masa kecilnya.

”Air yang tidak mengalir akan berbau busuk. Kamu harus merantau. Daftar kuliah di Jogja.” Ia terdiam. Saya tahu ia sedih meninggalkan kesenangannya. Tapi, demi kebaikan masa depannya saya harus memaksanya.

”Pendaftaran tidak harus ke Jogja, Bu. Sekarang bisa online.”

”Kalau begitu kamu online di Jogja. Kamu daftar beberapa universitas, dari yang paling mustahil sampai yang mungkin. Semuanya harus dicoba.” Ia terdiam, cukup lama.

”Ibu sayang kamu. Ini demi kebaikan masa depanmu,” lanjut saya sambil kemudian memeluknya. Ia mengangguk.

Ketika Rama kelas XI SMA, saya pernah membawanya ke seorang kiai untuk meminta didoakan. Namanya Kiai Mukhlas. Saya tidak tahu persis berapa jarak rumah kami ke dusun tempat Kiai Mukhlas tinggal. Jika ditempuh perjalanan motor, sekira satu jam. Ketika sampai di rumah Kiai Mukhlas, kami disambut hangat oleh istrinya. Kami diminta untuk menunggu sebentar. Bu Nyai bilang sejak pagi Kiai Mukhlas berada di kebunnya. Saya dengar sayup-sayup Bu Nyai meminta anaknya untuk menjemput Kiai Mukhlas di kebunnya. Sebelum sempat anaknya menjemput, Kiai Mukhlas tiba-tiba muncul, kemudian berkata pada anaknya, ”Ada tamu, ya?” Kami di ruang tamu hanya mendengar lirih suaranya. ”Suruh tunggu sebentar, Bapak mau bersih-bersih dulu,” lanjutnya kemudian. Tidak berapa lama Bu Nyai datang menyuguhkan minuman, pisang, ubi rebus, dan beberapa stoples berisi makanan kering, lalu kembali masuk ke dalam.

Saya melihat ke sekeliling ruangan, rumahnya bersih dan menenangkan. Meskipun lantainya hanya diplester semen, temboknya putih dan tidak ada bangku, hanya tikar yang digelar lesehan. Pesantrennya kecil, barangkali hanya menampung lima puluh santri. Kabarnya pesantren ini gratis. Bahkan semua kebutuhan makan santri yang menanggung Pak Kiai. Konon sebagian penghasilan sawah dan kebunnya untuk menghidupi para santri. Menurut cerita ayah saya, juga beberapa orang di desa saya, dahulu dusun yang ditinggali Kiai Mukhlas ini terkenal dengan tempat berkumpulnya begal dan maling. Jarang sekali orang berani datang ke dusun ini, meski sekadar memancing di Kedung Iwak –sebuah danau yang kesohor dengan ikannya yang berlimpah. Kabarnya ikan-ikan di danau itu sengaja ditaruh warga untuk memancing orang datang memancing. Benar kata orang tua dahulu, untuk memancing memang butuh umpan.

Beberapa orang pernah terpancing datang, umpan disambar motor pun hilang. Jadi, bagi orang yang sudah tahu tabiat kampung ini, akan ciut nyali. Tapi, sejak ayahnya Kiai Mukhlas, yaitu Kiai Zamroni, menetap di dusun ini, banyak orang datang ke sini. Bukan sekadar memancing, tapi untuk menemui –lebih tepatnya meminta perlindungan– Kiai Zamroni. Tidak jarang para pemancing akan lebih dulu bertamu ke Kiai Zamroni dengan tujuan mencari selamat dari gerombolan bandit sebelum kemudian mereka melakukan kegiatan memancingnya. Sebab, santri pertama Kiai Zamroni adalah anak dari juragan para bandit. Hal ini tentu membuat nyali mereka kecut. Hingga kemudian banyak bandit yang beroperasi di luar dusun mereka dan kebanyakan dari mereka memilih memesantrenkan anak mereka ke Kiai Zamroni ketimbang ke sekolah umum. Alasan utamanya tentu karena pesantrennya gratis.

Tidak berapa lama Kiai Mukhlas datang menyapa kami. Ia mempersilakan kami untuk minum. Saya minum beberapa teguk. Sementara anak saya hanya diam. Sebetulnya saya tidak tega melihatnya murung begitu. Saya sempat mengurungkan niat, tapi segera saya menepisnya. Saya kembali memantapkan niat. Siapa tahu berkat wasilah Kiai Mukhlas, Rama akan berubah. Dengan memakai baju koko putih, sarung motif kotak-kotak, dan kopiah hitam, Kiai Mukhlas memandang kami berdua seperti menunggu maksud kedatangan kami.

”Namine sinten niki? Dari mana?”

”Siti Maslahah, dari Desa Kebon Agung, Pak Kiai.”

”Sebentar, sebentar…” Kiai Mukhlas seperti mengingat-ingat sesuatu. ”Siti Maslahah anaknya Pak Warjiman?”

Sejujurnya saya terkejut, sejak kapan ayah saya mengenal Kiai Mukhlas. Saya tahu mendiang ayah saya sering menceritakan Kiai Zamroni dan Kiai Mukhlas, tapi ayah saya tidak pernah bercerita kalau ia kenal dekat dengan Kiai Mukhlas. Setelah saya membenarkan pertanyaannya, Kiai Mukhlas makin bersemangat untuk menceritakan kedekatannya dengan ayah saya. Katanya ketika ia masih ingusan sering diemong ayah saya. Saya makin terkejut dan penasaran sebenarnya apa hubungan ayah saya dengan Kiai Mukhlas, atau jangan-jangan kami masih keluarga? Di tengah Kiai Mukhlas menceritakan masa lalunya, justru pertanyaan di kepala saya makin menumpuk. Saya hanya diam sambil terus mengikuti jalinan ceritanya, hingga kemudian simpul-simpul itu pun terurai ketika Kiai Mukhlas mengatakan, ”Ayahmu murid pertama bapak saya.” Barulah saya tahu juragan bandit yang diceritakan ayah saya adalah kakek saya sendiri. Dan ketika ayah saya dewasa, ia diperintah oleh Kiai Zamroni untuk tinggal di Desa Kebon Agung yang menurutnya dahulu tempat berkumpulnya ciblek.

”Sekarang masih jadi tempat kumpul ciblek?”

”Sudah tidak, Kiai.”

”Alhamdulillah. Berkat jasa ayahmu itu. Lah, terus sekarang Mbak Siti mau ada perlu apa?”

”Saya mau minta anak saya ini didoakan supaya masa depannya sukses, Pak Kiai.”

”Wah, doa ibu lebih manjur daripada doa kiai. Doa ibu buat anaknya itu tidak ada hijab. Langsung nyampai. Lagi pula dulu anak keturunan Pak Warjiman, termasuk njenengan dan anak-anak njenengan, sudah didoakan bapak. Kalau tidak jadi orang alim, jadi orang saleh.”

”Setiap malam saya mendoakan anak saya, tapi tidak ada perubahan, Pak Kiai.”

Kiai Mukhlas hanya tersenyum.

”Belum. Belum kelihatan. Mbak Siti saya kasih doa saja. Sebentar saya tuliskan doanya, yah.” Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Tidak berapa lama ia datang kembali dengan membawa kertas dan memberikannya kepada saya.

”Dibaca habis salat fardu. Sekali saja cukup. Syukur-syukur setelah salat Tahajud.”

Saya menerima kertas itu, kemudian kami pamit pulang.

Doa yang diberikan Kiai Zamroni saya baca terus, tidak pernah bolong sekali pun. Namun, belum juga ada efek yang kentara pada Rama sampai ia berangkat mendaftar kuliah di Jogja. Semula saya pikir keberangkatannya ke Jogja menjadi awal doa-doa saya dikabulkan, tapi sekian bulan kemudian ia kembali pulang ke rumah. Katanya tidak lolos seleksi. Melihat ia pulang ke rumah dengan wajah malas-malasan saya pun pasrah. Saya seperti hilang daya. Hingga kemudian ia mengatakan dengan semringah kalau ia mau melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota kami. Ada sedikit kegembiraan dalam hati saya. Paling tidak ia mempunyai semangat untuk kuliah.

Setahun kemudian setelah Rama masuk kuliah, saya terkena stroke. Yunita sempat pulang ke rumah lima hari, kemudian kembali ke Australia. Begitu pun dengan Doni, setelah cuti empat hari ia kembali ke Jakarta. Hari-hari saya ditemani oleh Rama. Semua kebutuhan saya ia yang mengurusnya. Dari memasak, mencuci, sampai bersih-bersih rumah. Ia juga yang menguatkan saya untuk bisa kembali pulih. Saya sempat diantarnya terapi saraf. Sampai kemudian saya bisa berjalan meskipun masih tertatih-tatih. Saya sangat senang, bukan karena saya mulai bisa berjalan, tapi karena anak terakhir saya, Rama, betul-betul membaktikan hidupnya untuk saya.

Dua hari lagi Lebaran Haji. Lebaran Idul Fitri lalu, Doni dan Yunita tidak bisa mudik. Doni dipindahtugaskan ke Singapura, sementara Yunita sedang fokus menyelesaikan tesisnya. Namun, mereka mengupayakan Lebaran Haji kali bisa mudik dan berkumpul bersama kami. Tentu saja saya merasa sangat senang berkumpul dengan anak-anak saya di tengah kondisi saya yang kurang baik.

Namun, pagi tadi Rama memberi tahu saya jika Yunita belum bisa mudik karena harus mengejar ujian tesisnya. Doni baru bisa pulang tiga hari setelah Lebaran. Jadi, pada dua Lebaran tahun ini saya hanya ditemani Rama, anak terakhir saya. Jawaban dari doa-doa saya yang baru saya pahami belakangan ini. (*)

—

Jogjakarta, 2024

1. Kehendak manusia tidak dapat mengubah garis tangan Tuhan.

Kedung Darma Romansha : Kelahiran Indramayu. Ia bersama kawan-kawan muda Indramayu mendirikan komunitas Jamaah Telembukiyah yang bergerak di bidang sastra dan sosial.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 16 Juni 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme