ABDUL tersentak. Dan mendadak rona muka dosen mata kuliah cerita pendek ini jadi seperti batu bata dalam lio. Terlebih saat 67 mahasiswa menatapnya. Dan semua tatapan tampak sebagai mata pisau berkilau. Ia jadi merasa matanya mendadak buta. Ruang kelas mendadak gelap. Kerongkongannya penuh kerikil tajam. Dada dan kepalanya penuh asap.
Memang Abdul dosen senior. Sudah puluhan tahun keluar-masuk kelas. Sudah puluhan tahun bergaul dengan ribuan mahasiswa. Sudah kenal beragam kecenderungan mereka. Sudah hapal cara menyiasati perkara-perkara yang bertalian dengan mereka. Tapi, yang sekarang terjadi belum pernah dihadapinya. Yang terjadi benar-benar anyar.
Abdul merasa gudang pengalamannya yang luas dan penuh ternyata tak berguna untuk melepaskan dirinya dari perkara pelik dan buas yang tiba-tiba menelikungnya. Apalagi sejak Kamis pekan kemarin, diam-diam ia telah menyusun rencana untuk Kamis ini.
Ia akan melakukan lagi yang pernah dilakukannya. Begitu selesai perkuliahan, ia akan panggil Raisa. Ia akan ajak lagi mahasiswa semester lima ini ke kantornya. Dan ia telah membuat kolega-koleganya untuk tak mengganggu. Menyelesaikan disertasi ia sampaikan sebagai alasan. Alasan ini manjur. Mereka, dengan cara masing-masing, berjanji tak akan mengetuk pintu kantornya. Jadilah Abdul masuk ruang kuliah dengan langkah ringan dan muka sumringah. Ia masuk kelas seperti Mike Tyson di masa jaya naik ring.
Tapi, Raisa ternyata jauh dari rencana yang sudah disusun Abdul. Memang gadis asal Indramayu ini masuk kuliah. Bahkan ia maju sesuai kewajibannya. Tetapi, tiba-tiba ia sangat beda. Biasanya Raisa memakai rok panjang dan blus warna gelap. Kini Raisa yang berkulit margarin memakai kaos kerah dan celana panjang kanvas yang berwarna sama. Hijau daun muda. Sepatunya pun bukan pantofel hitam, tapi sepatu kets merah muda. Rambutnya lebih beda lagi. Semula panjang sampai menyentuh pinggul dan selalu tergerai. Kini dipotong model bop. Tengkuknya jadi terbuka.
Keruan semua kawan seangkatannya terkejut. Apalagi Raisa masuk kelas setelah semua kawannya duduk. Dan begitu masuk, Raisa langsung mengambil kursi meja paling pinggir di barisan belakang. Ia membawanya dan meletakkannya tepat di tengah depan papan tulis. Seketika kelas jadi ruang penuh gumam. Raisa tentu mendengarnya. Pun tahu gumaman dengung ribuan lebah itu tak lain karena kawan-kawannya baru pertama melihat dirinya yang sekarang. Tapi ia tak tampak kikuk. Bahkan pandangannya, yang selama ini nyaris selalu tampak lugu dan mengandung ragu, sekarang serupa mata elang ketika mengincar mangsa. Pandangannya ini pun jadi sorotan dan menyemburkan gumaman yang lain lagi, yang sebagian disertai geseran tubuh dan kursi sehingga dengung ribuan lebah jadi lebih nyaring.
Abdul pun sebenarnya kaget. Tapi, ia merasa harus menyembunyikan yang ia alami. Kecuali itu, di matanya Raisa kini jadi lebih mengundang. Tengkuknya serupa paha. Jika birahinya mulai mendidih, bulu-bulu halusnya akan serempak berdiri. Liang-liang reniknya akan mengembang meruapkan hawa panas yang kian menyulut gairah mencapai ledakan nikmat yang meruntuhkan ruang-waktu. Maka Abdul memulai dengan berpura-pura batuk.
Namun, gumaman tak lenyap. Tetap sebagai dengung ribuan lebah Tapi, bagi Abdul, ini justru seperti mobok manggih gorowong. Ia segera memulainya untuk melontar kata, “Baik, saudara-saudara. Raisa, sahabat terbaik kita, ternyata menyiapkan diri lebih daripada yang kita duga-duga. Lihatlah, saudara-saudara! Demi presentasinya pada Kamis siang ini, sahabat terbaik kita ini mengubah dirinya dari kepala sampai kaki. Dan dengan itu niscaya ia menjadi jauh lebih siap. Luar biasa! Sungguh luar biasa! Tapi cerita pendek apa gerangan yang mesti dibahas Raisa?”
Bukan Raisa yang menjawab, tapi Sadam dan Mardian. Keduanya menjawab serempak, “Jangan Main-main dengan Kelaminmu!”
“Apa? Apa?”
Ditambah beberapa mahasiswa lain, Sadam dan Mardian menyebut lagi judul cerita pendek karya Jenar Maesa Ayu itu. Tapi, setelah dari kursinya di dekat jendela melirik ke arah Raisa, Abdul kembali meminta judul cerita pendek itu disebut. “Masa anak muda suaranya lemah. Tidak kompak pula. Coba semua sebutkan judul yang mau dibahas Raisa.”
Serempaklah 67 mahasiswa memenuhi yang diminta Abdul.
“Sekali lagi!”
“Jangan Main-main dengan Kelaminmu!”
“Nah, begitu. Tapi saudara-saudara tahu, kenapa saudara-saudara dituntut begitu? Saudara-saudara harus menjawab. Bukan saling lirik seperti lagi nyontek atau nyolek. Kelamin! Itu, saudara-saudara. Kita semua punya kelamin. Ini berarti kelamin itu penting. Bahkan mahapenting. Tapi oleh karena itu, kita justru harus hati-hati. Jangan main-main dengan kelaminmu! Apa, saudara-saudara?”
“Jangan main-main dengan kelaminmu!”
“Nah, camkan itu. Jangan main-main dengan kelaminmu. Tapi, bagaimana gerangan dengan kelamin Jenar? Mari semua kita dengar bagaimana gerangan presentasi Raisa. Setelah presentasi sahabat terbaik kita selesai, kita masuk sesi diskusi. Kita masuk sesi seperti yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri, kuterjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu.”
Sebagian mahasiswa tertawa.
“Kenapa tertawa? Diskusi itu kan saling menerjemahkan kelamin. Kita jadi mesin kawin,” ucap Abdul serius. Tapi ia terus melanjutkan dengan menggoyang-goyangkan pantat dan suara-suara seperti orang tengah senggama, “Tiktaktiktaktiktak no no no no no no no no no no zzzzzz zzzzzz zzzzzz…”
Sebagian mahasiswa tadi tertawa lebih lantang.
“Ah, sudah. Sekarang saatnya kita mendengarkan presentasi sahabat terbaik kita. Silakan, Embak Raisa. Kami semua siap mendengarkan embak.”
Raisa, yang duduk sendiri di depan sejak tadi, bergeming. Ia sama sekali tidak terpancing oleh yang dilakukan Abdul dan reaksi kawan-kawannya. Ia duduk dengan punggung lurus. Hanya jemari tangan kanannya terus memainkan smartphone. Ketika mendengar Abdul menyilakannya, ia serentak mengangkat dagu hingga lehernya tegak. Matanya nanap memandangi kawan-kawannya. Tanpa memedulikan Abdul, Raisa mulai bersuara, “Selamat siang, teman-teman.”
Serempak kawan-kawannya menjawab, “Siaaaang!”
“Saya akan membongkar borok.”
“Borok?” cetus Mardian. “Ah, jorok.”
“Iye, Mar,” timpal Sadam. “Masa di kelas omong…”
“Jangan bicara bukan pada waktunya. Kalian tadi sudah banyak bicara. Sekarang kesempatan Raisa.”
Mardian dan Sadam saling lirik. Mereka kesal. Namun, keduanya hanya dapat memendamnya.
“Silakan, Raisa,” ucap Abdul sambil kembali ke kursinya, yang sejajar dengan kusri-meja Raisa, hanya saja berjarak empat meter.
“Baik, teman-teman,” kata Raisa dengan nada suara seperti sebelumnya. Datar namun jelas. “Sekali lagi, saya akan membongkar borok. Tapi borok apa? Borok siapa?”
Tak seorang pun paham. Tak seorang pun dapat menerka ke mana arah Raisa. Tapi ini justru membuat mereka penasaran. Mereka lihat Raisa agak menunduk. Tangannya yang kanan mengambil dua spiker dari ransel di samping kiri kursi-meja. Dua spiker sebesar teh kotak ukuran terkecil ini ditata di atas meja. Menghadap ke kawan-kawannya. Namun yang satu agak ke sudut kanan. Yang satu ke sudut kiri. Sebuah kabel menyambungkan keduanya dengan smartphone.
“Mau ngapain si die?” tanya Mardian setengah berbisik.
“Tau. Gua kagak ngerti,” jawab Hendi dengan volume sama.
“Iye. Ribet. Kapan ngomonging kelaminnye?” cetus Sadam.
“Kini saatnya kita mengetahui borok apa, borok siapa,” kata Raisa sambil lantas menyalakan rekaman.
Suara seorang lelaki terdengar jelas. Si lelaki melontarkan banyak kata yang memuji-muji perempuan. Mula-mula yang dipuji adalah suara yang merdu dan tutur kata yang santun. Lalu disiplinnya, kerajinannya. Lalu mata dan bibir yang sensual. Lalu terdengar seperti suara kursi bergeser. “Mau ke mana?” “Lepaskan! Lepaskan tangan saya!” Suara seperti kursi jatuh. Suara seperti pintu dibuka dan ditutup dengan bantingan.
“Nah, teman-teman. Itulah. Saya kira jelas sudah. Suara perempuan itu suara saya. Suara laki-laki itu suara dia!”
Semua mata 67 mahasiswa serempak mengikuti tangan Raisa yang tega menunjuk ke arah Abdul. Yang ditunjuk melihat mata 67 mahasiswa seperti mata pisau berkilauan. Ia jadi merasa matanya mendadak buta. Ruang kelas mendadak gelap. Kerongkongannya penuh kerikil tajam. Dada dan kepalanya penuh asap. Kumis tebal dan janggut lebatnya seperti terbakar.
“Kejadiannya hari…”
“Stop! Jangan asal ngomong! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! Kemarikan ponselnya!”
“Jangan, Raisa!” teriak Rita.
“Iya!” tegas Marni lantang. “Jangan diberikan!”
“Tidak. Lagian saya sudah menggandakan rekamannya. Saya akan…”
Abdul menggebrak meja. “Kalian berani melawan dosen! Rasakan akibatnya! Rasakan…”
“Apa?” potong Mudofar sambil bangkit. “Rasakan apa?”
“Eh, kamu nantang!”
Dari barisan kursi-meja paling belakang, Mudofar yang kekar dan tingginya 180 sentimeter maju. Beberapa temannya serempak berdiri. Abdul yang tingginya 156 sentimeter celingukan. Ia lantas menyambar tas dan setengah lari memburu pintu.
“Ha! Pengeut!” teriak Mardian.
“Cabul!” pekik Hendi.
“Sudah, Raisa,” lontar Sadam. “Tenang aje. Kagak usah takut. Kita kompak. Kita lawan. Gimane?”
“Iya, Raisa.” Timpal Hendi. “Dosen cabul kayak gitu mesti dikasi pelajaran. Bener nggak, temen-temen?”
Sebagian serempak menjawab, “Ya!”
“Tuh kan,” lontar Sadam lagi. “Semua akur. Sepakat. Kompak. Kita lawan. Gimane, Raisa?”
Raisa kehabisan kata. Hanya saja matanya basah. Berkaca-kaca. Mungkin itu jawaban Raisa.(*)
Hikmat Gumelar giat di Institut Nalar di Jatinangor, Sumedang.
sumber : Koran Tempo, 29 September 2013.