Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jawaban Raisa oleh Hikmat Gumelar

Posted on Ming, 29 Sep 2013

ABDUL tersentak. Dan mendadak rona muka dosen mata kuliah cerita pendek ini jadi seperti batu bata dalam lio. Terlebih saat 67 mahasiswa menatapnya. Dan semua tatapan tampak sebagai mata pisau berkilau. Ia jadi merasa matanya mendadak buta. Ruang kelas mendadak gelap. Kerongkongannya penuh kerikil tajam. Dada dan kepalanya penuh asap.

Memang Abdul dosen senior. Sudah puluhan tahun keluar-masuk kelas. Sudah puluhan tahun bergaul dengan ribuan mahasiswa. Sudah kenal beragam kecenderungan mereka. Sudah hapal cara menyiasati perkara-perkara yang bertalian dengan mereka. Tapi, yang sekarang terjadi belum pernah dihadapinya. Yang terjadi benar-benar anyar.

Abdul merasa gudang pengalamannya yang luas dan penuh ternyata tak berguna untuk melepaskan dirinya dari perkara pelik dan buas yang tiba-tiba menelikungnya. Apalagi sejak Kamis pekan kemarin, diam-diam ia telah menyusun rencana untuk Kamis ini.

Ia akan melakukan lagi yang pernah dilakukannya. Begitu selesai perkuliahan, ia akan panggil Raisa. Ia akan ajak lagi mahasiswa semester lima ini ke kantornya. Dan ia telah membuat kolega-koleganya untuk tak mengganggu. Menyelesaikan disertasi ia sampaikan sebagai alasan. Alasan ini manjur. Mereka, dengan cara masing-masing, berjanji tak akan mengetuk pintu kantornya. Jadilah Abdul masuk ruang kuliah dengan langkah ringan dan muka sumringah. Ia masuk kelas seperti Mike Tyson di masa jaya naik ring.

Tapi, Raisa ternyata jauh dari rencana yang sudah disusun Abdul. Memang gadis asal Indramayu ini masuk kuliah. Bahkan ia maju sesuai kewajibannya. Tetapi, tiba-tiba ia sangat beda. Biasanya Raisa memakai rok panjang dan blus warna gelap. Kini Raisa yang berkulit margarin memakai kaos kerah dan celana panjang kanvas yang berwarna sama. Hijau daun muda. Sepatunya pun bukan pantofel hitam, tapi sepatu kets merah muda. Rambutnya lebih beda lagi. Semula panjang sampai menyentuh pinggul dan selalu tergerai. Kini dipotong model bop. Tengkuknya jadi terbuka.

Keruan semua kawan seangkatannya terkejut. Apalagi Raisa masuk kelas setelah semua kawannya duduk. Dan begitu masuk, Raisa langsung mengambil kursi meja paling pinggir di barisan belakang. Ia membawanya dan meletakkannya tepat di tengah depan papan tulis. Seketika kelas jadi ruang penuh gumam. Raisa tentu mendengarnya. Pun tahu gumaman dengung ribuan lebah itu tak lain karena kawan-kawannya baru pertama melihat dirinya yang sekarang. Tapi ia tak tampak kikuk. Bahkan pandangannya, yang selama ini nyaris selalu tampak lugu dan mengandung ragu, sekarang serupa mata elang ketika mengincar mangsa. Pandangannya ini pun jadi sorotan dan menyemburkan gumaman yang lain lagi, yang sebagian disertai geseran tubuh dan kursi sehingga dengung ribuan lebah jadi lebih nyaring.

Abdul pun sebenarnya kaget. Tapi, ia merasa harus menyembunyikan yang ia alami. Kecuali itu, di matanya Raisa kini jadi lebih mengundang. Tengkuknya serupa paha. Jika birahinya mulai mendidih, bulu-bulu halusnya akan serempak berdiri. Liang-liang reniknya akan mengembang meruapkan hawa panas yang kian menyulut gairah mencapai ledakan nikmat yang meruntuhkan ruang-waktu. Maka Abdul memulai dengan berpura-pura batuk.

Namun, gumaman tak lenyap. Tetap sebagai dengung ribuan lebah Tapi, bagi Abdul, ini justru seperti mobok manggih gorowong. Ia segera memulainya untuk melontar kata, “Baik, saudara-saudara. Raisa, sahabat terbaik kita, ternyata menyiapkan diri lebih daripada yang kita duga-duga. Lihatlah, saudara-saudara! Demi presentasinya pada Kamis siang ini, sahabat terbaik kita ini mengubah dirinya dari kepala sampai kaki. Dan dengan itu niscaya ia menjadi jauh lebih siap. Luar biasa! Sungguh luar biasa! Tapi cerita pendek apa gerangan yang mesti dibahas Raisa?”

Bukan Raisa yang menjawab, tapi Sadam dan Mardian. Keduanya menjawab serempak, “Jangan Main-main dengan Kelaminmu!”

“Apa? Apa?”

Ditambah beberapa mahasiswa lain, Sadam dan Mardian menyebut lagi judul cerita pendek karya Jenar Maesa Ayu itu. Tapi, setelah dari kursinya di dekat jendela melirik ke arah Raisa, Abdul kembali meminta judul cerita pendek itu disebut. “Masa anak muda suaranya lemah. Tidak kompak pula. Coba semua sebutkan judul yang mau dibahas Raisa.”

Serempaklah 67 mahasiswa memenuhi yang diminta Abdul.

“Sekali lagi!”

“Jangan Main-main dengan Kelaminmu!”

“Nah, begitu. Tapi saudara-saudara tahu, kenapa saudara-saudara dituntut begitu? Saudara-saudara harus menjawab. Bukan saling lirik seperti lagi nyontek atau nyolek. Kelamin! Itu, saudara-saudara. Kita semua punya kelamin. Ini berarti kelamin itu penting. Bahkan mahapenting. Tapi oleh karena itu, kita justru harus hati-hati. Jangan main-main dengan kelaminmu! Apa, saudara-saudara?”

“Jangan main-main dengan kelaminmu!”

“Nah, camkan itu. Jangan main-main dengan kelaminmu. Tapi, bagaimana gerangan dengan kelamin Jenar? Mari semua kita dengar bagaimana gerangan presentasi Raisa. Setelah presentasi sahabat terbaik kita selesai, kita masuk sesi diskusi. Kita masuk sesi seperti yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri, kuterjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu.”

Sebagian mahasiswa tertawa.

“Kenapa tertawa? Diskusi itu kan saling menerjemahkan kelamin. Kita jadi mesin kawin,” ucap Abdul serius. Tapi ia terus melanjutkan dengan menggoyang-goyangkan pantat dan suara-suara seperti orang tengah senggama, “Tiktaktiktaktiktak no no no no no no no no no no zzzzzz zzzzzz zzzzzz…”

Sebagian mahasiswa tadi tertawa lebih lantang.

“Ah, sudah. Sekarang saatnya kita mendengarkan presentasi sahabat terbaik kita. Silakan, Embak Raisa. Kami semua siap mendengarkan embak.”

Raisa, yang duduk sendiri di depan sejak tadi, bergeming. Ia sama sekali tidak terpancing oleh yang dilakukan Abdul dan reaksi kawan-kawannya. Ia duduk dengan punggung lurus. Hanya jemari tangan kanannya terus memainkan smartphone. Ketika mendengar Abdul menyilakannya, ia serentak mengangkat dagu hingga lehernya tegak. Matanya nanap memandangi kawan-kawannya. Tanpa memedulikan Abdul, Raisa mulai bersuara, “Selamat siang, teman-teman.”

Serempak kawan-kawannya menjawab, “Siaaaang!”

“Saya akan membongkar borok.”

“Borok?” cetus Mardian. “Ah, jorok.”

“Iye, Mar,” timpal Sadam. “Masa di kelas omong…”

“Jangan bicara bukan pada waktunya. Kalian tadi sudah banyak bicara. Sekarang kesempatan Raisa.”

Mardian dan Sadam saling lirik. Mereka kesal. Namun, keduanya hanya dapat memendamnya.

“Silakan, Raisa,” ucap Abdul sambil kembali ke kursinya, yang sejajar dengan kusri-meja Raisa, hanya saja berjarak empat meter.

“Baik, teman-teman,” kata Raisa dengan nada suara seperti sebelumnya. Datar namun jelas. “Sekali lagi, saya akan membongkar borok. Tapi borok apa? Borok siapa?”

Tak seorang pun paham. Tak seorang pun dapat menerka ke mana arah Raisa. Tapi ini justru membuat mereka penasaran. Mereka lihat Raisa agak menunduk. Tangannya yang kanan mengambil dua spiker dari ransel di samping kiri kursi-meja. Dua spiker sebesar teh kotak ukuran terkecil ini ditata di atas meja. Menghadap ke kawan-kawannya. Namun yang satu agak ke sudut kanan. Yang satu ke sudut kiri. Sebuah kabel menyambungkan keduanya dengan smartphone.

“Mau ngapain si die?” tanya Mardian setengah berbisik.

“Tau. Gua kagak ngerti,” jawab Hendi dengan volume sama.

“Iye. Ribet. Kapan ngomonging kelaminnye?” cetus Sadam.

“Kini saatnya kita mengetahui borok apa, borok siapa,” kata Raisa sambil lantas menyalakan rekaman.

Suara seorang lelaki terdengar jelas. Si lelaki melontarkan banyak kata yang memuji-muji perempuan. Mula-mula yang dipuji adalah suara yang merdu dan tutur kata yang santun. Lalu disiplinnya, kerajinannya. Lalu mata dan bibir yang sensual. Lalu terdengar seperti suara kursi bergeser. “Mau ke mana?” “Lepaskan! Lepaskan tangan saya!” Suara seperti kursi jatuh. Suara seperti pintu dibuka dan ditutup dengan bantingan.

“Nah, teman-teman. Itulah. Saya kira jelas sudah. Suara perempuan itu suara saya. Suara laki-laki itu suara dia!”

Semua mata 67 mahasiswa serempak mengikuti tangan Raisa yang tega menunjuk ke arah Abdul. Yang ditunjuk melihat mata 67 mahasiswa seperti mata pisau berkilauan. Ia jadi merasa matanya mendadak buta. Ruang kelas mendadak gelap. Kerongkongannya penuh kerikil tajam. Dada dan kepalanya penuh asap. Kumis tebal dan janggut lebatnya seperti terbakar.

“Kejadiannya hari…”

“Stop! Jangan asal ngomong! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! Kemarikan ponselnya!”

“Jangan, Raisa!” teriak Rita.

“Iya!” tegas Marni lantang. “Jangan diberikan!”

“Tidak. Lagian saya sudah menggandakan rekamannya. Saya akan…”

Abdul menggebrak meja. “Kalian berani melawan dosen! Rasakan akibatnya! Rasakan…”

“Apa?” potong Mudofar sambil bangkit. “Rasakan apa?”

“Eh, kamu nantang!”

Dari barisan kursi-meja paling belakang, Mudofar yang kekar dan tingginya 180 sentimeter maju. Beberapa temannya serempak berdiri. Abdul yang tingginya 156 sentimeter celingukan. Ia lantas menyambar tas dan setengah lari memburu pintu.

“Ha! Pengeut!” teriak Mardian.

“Cabul!” pekik Hendi.

“Sudah, Raisa,” lontar Sadam. “Tenang aje. Kagak usah takut. Kita kompak. Kita lawan. Gimane?”

“Iya, Raisa.” Timpal Hendi. “Dosen cabul kayak gitu mesti dikasi pelajaran. Bener nggak, temen-temen?”

Sebagian serempak menjawab, “Ya!”

“Tuh kan,” lontar Sadam lagi. “Semua akur. Sepakat. Kompak. Kita lawan. Gimane, Raisa?”

Raisa kehabisan kata. Hanya saja matanya basah. Berkaca-kaca. Mungkin itu jawaban Raisa.(*)

 

Hikmat Gumelar giat di Institut Nalar di Jatinangor, Sumedang.

sumber : Koran Tempo, 29 September 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme