Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sapi Betina oleh Juan Rulfo

Posted on Ming, 06 Okt 2013

DI SINI segalanya berubah dari buruk ke makin buruk. Minggu lalu Bibi Jacinta meninggal. Lalu, pada hari Sabtu, setelah kami memakamkannya dan kami merasa tak lagi terlalu sedih, hujan mulai turun. Ayahku murka karena seluruh hasil panen gandum yang telah kering di bawah cahaya matahari menjadi basah kuyup. Badai datang begitu cepat sehingga kami tak sempat lagi menutupi gandum itu. Yang bisa kami lakukan hanyalah duduk-duduk berkerumun, menyaksikan hujan menghancurkan hasil panen kami.

Dan kemarin, saat adik perempuanku Techa berulang tahun kedua belas, banjir menghanyutkan sapi betina yang diberikan ayahku sebagai hadiah ulang tahunnya. Sungai mulai meluap sebelum subuh tiga malam lalu. Aku tertidur lelap, tapi banjir menyebabkan suara ribut di tepian sungai sehingga aku terjaga dan terlompat dari ranjang dengan selimut tercekal di tangan, seolah-olah aku bermimpi atap rumah kami runtuh. Setelahnya, aku kembali tidur karena aku tahu itu hanya suara arus sungai dan aku segera terlelap.

Saat aku bangun langit dipenuhi awan hitam dan suara bising sungai terdengar makin nyaring. Bunyi itu terdengar amat dekat dan mengandung bau busuk banjir yang seperti bau timbunan sampah.

Saat aku menengoknya, permukaan sungai sudah meluap melebihi tepi-tepinya. Air sungai naik sedikit demi sedikit sepanjang jalan dan masuk ke dalam rumah seorang perempuan berjuluk Genderang. Kau bisa mendengar percikan air mengaliri kandang ayam melewati pintunya. Genderang bergegas hilir-mudik, melemparkan ayam-ayam ke jalanan agar mereka bisa mencari tempat bersembunyi yang tak bisa dicapai aliran air.

Di sisi lain dekat kelokan sungai, arus banjir tampaknya telah menghanyutkan pohon asem di ujung bebatuan di rumah Bibi Jacinta karena pohon itu tak terlihat lagi. Itu satu-satunya pohon asem di desa kami, jadi semua orang tahu inilah banjir terbesar yang melanda sungai ini selama bertahun-tahun.

Aku dan adik perempuanku kembali pada siang hari untuk menonton banjir. Air sungai lebih keruh dan lebih kental dan meluap hingga ke batas jembatan semula berada. Kami bertahan di sana berjam-jam, hanya menonton, tanpa merasa letih. Lalu kami berjalan sepanjang tepi jurang untuk mendengar apa kata orang. Jauh di bawah, dekat sungai, arus air menghasilkan suara bising sehingga kita hanya bisa melihat mulut orang-orang yang terbuka dan mengatup tanpa dapat mendengar kata-kata mereka. Mereka juga melihat ke sungai di sepanjang tebing dan mencoba mengukur seberapa parah kerusakan yang disebabkan banjir. Di sanalah aku baru tahu bahwa banjir telah menghanyutkan La Serpentina, sapi betina yang dihadiahkan ayahku kepada Tacha sebagai hadiah ulang tahunnya. La Serpentina memiliki sebelah kuping berwarna putih dan sebelah lagi kemerahan, serta sepasang mata indah.

Aku tak tahu mengapa sapi itu memutuskan mencoba menyeberangi sungai walaupun dia pasti tahu itu bukan lagi sungai yang sama. La Serpentina tak sebodoh itu. Dia pasti berjalan dalam tidur dan terhanyut seperti itu tanpa alasan. Saat aku membuka pintu kandang pada pagi hari dia telah berdiri di sana sepanjang hari dengan mata terpejam, melenguh dengan cara sapi melenguh saat dia tertidur.

Maka, apa pun yang terjadi padanya, dia pasti tengah tertidur. Mungkin dia terbangun saat merasakan air menghantam iganya. Dia jadi ketakutan dan mencoba balik ke kandang, tapi terjangan arus air membuatnya terjengkang dan hanyut oleh banjir. Kuduga dia berupaya melenguh meminta tolong. Dia hanya bisa melenguh dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana semua itu terjadi.

Kami menemukan seorang lelaki yang melihat sapi betina itu ketika air sungai menyeretnya. Aku bertanya kepadanya apakah dia tak melihat seekor anak sapi bersama sapi betina itu. Dia bilang dia tak ingat. Dia hanya ingat melihat seekor sapi bertotol-totol yang melintas di depannya dalam arus air dengan kuku-kukunya teracung ke langit. Lalu, sapi itu tenggelam dan dia tak lagi bisa melihat kukunya, atau tanduknya, atau apa pun dari sapi itu. Dia begitu sibuk menarik cabang-cabang dan dahan-dahan pohon dari air untuk dibuat kayu bakar sehingga tak punya waktu untuk memperhatikan apakah sapi itu timbul lagi dari aliran air.

Jadi, kami tak tahu apakah anak sapi itu masih hidup atau dia mengikuti induknya hanyut di sungai. Semoga Tuhan menolong keduanya jika itu terjadi. Permasalahan rumah tangga kami bisa makin rumit karena Tacha kini tak punya apa-apa lagi. Maksudku, ayahku telah bekerja keras untuk membeli La Serpentina saat dia masih anak sapi mungil agar ayahku bisa menghadiahkannya kepada Tacha. Dengan begitu, Tacha akan memiliki sedikit modal dan tak akan tumbuh menjadi pelacur seperti kedua kakak perempuanku.

Menurut ayahku, kedua kakakku menjadi pelacur karena kami sangat miskin. Mereka tidak puas dan mulai menggerutu saat beranjak remaja. Begitu mereka dewasa, mereka mulai berkeliaran dengan lelaki-lelaki berandal, belajar segala hal buruk. Dan mereka belajar dengan cepat. Mereka mengerti siulan lirih ketika para lelaki berdiri di luar rumah kami dan memanggil mereka di tengah malam. Belakangan, mereka bahkan berani melakukannya saat siang hari. Mereka akan pergi ke sungai beberapa kali sehari dan terkadang kau akan mengagetkan mereka saat membuka pintu kandang dan tanpa sengaja menemukan mereka bergumul tanpa busana dengan tubuh si lelaki menindih di atas.

Akhirnya, ayahku mengusir mereka. Dia telah berusaha mengurus mereka sebisa-bisanya, tapi akhirnya dia tak tahan lagi dan menendang mereka ke jalanan. Mereka lalu pergi ke Ayutla atau ke suatu tempat, aku tak yakin ke mana. Tapi aku tahu mereka menjadi perempuan jalang.

Itu sebabnya ayahku sangat cemas soal Tacha. Dia tak ingin Tacha mengikuti jejak kedua kakaknya. Ayahku ingin Tacha tumbuh menjadi perempuan baik-baik dan menikahi lelaki yang baik. Dan La Serpentina akan menjadi tabungan baginya jika dia dewasa. Dengan sapi itu, Tacha tidak akan terus-menerus memikirkan betapa miskinnya kami. Tapi kini semuanya menjadi sulit. Padahal, bisa dibilang siapa pun akan berani menikahinya jika saja dia tetap memiliki sapi cantiknya itu.

Satu-satunya harapan kami adalah bahwa anak si sapi betina masih hidup. Semoga Tuhan tak membiarkan anak sapi mungil itu mengikuti jejak induknya masuk ke sungai. Sebab, jika itu yang terjadi, adikku Tacha akan terancam memilih jalan yang salah dan ibuku tak mau itu terjadi.

Ibuku bilang, dia tak tahu mengapa Tuhan menghukum kami begitu berat dengan memberinya anak-anak perempuan sejalang itu. Tak pernah ada wanita jalang di dalam keluarganya sebelumnya sejak neneknya hingga kini. Mereka semua dibesarkan untuk takut kepada Tuhan serta patuh dan penuh rasa hormat. Dia mencoba mengingat kesalahan apa yang pernah diperbuatnya sehingga dia sampai melahirkan pelacur demi pelacur dari rahimnya. Namun, dia tak bisa mengingat dosa atau kejahatan apakah yang pernah diperbuatnya. Setiap kali dia teringat kedua anak perempuannya itu, dia menangis dan berkata, “Semoga Tuhan memberikan kebaikan kepada mereka.”

Namun, ayahku bilang tak ada gunanya memikirkan mereka. Mereka memang jalang. Yang perlu dicemaskan adalah Tacha. Dia tumbuh begitu cepat dan dadanya mulai kelihatan ranum seperti kakak-kakak perempuannya, mencuat dan membusung sehingga membikin kami cemas.

“Ya,” ujar ayahku, “semua lelaki menatapnya penuh minat dan dia membalasnya. Tunggulah saatnya tiba dan dia pun akan berakhir menjadi jalang seperti kakak-kakaknya.” Maka, Tacha menjadi kecemasan terbesar ayahku.

Dan kini Tacha menangis karena dia tahu sungai telah membunuh La Serpentina. Dia berdiri di sampingku, berbaju merah, menatap sungai dan menangisi sapi betinanya. Air mata tak henti mengaliri wajahnya, membuat kita membayangkan dia memiliki sungai di dalam dirinya.

Aku melingkarkan sebelah tangan merangkulnya untuk menghibur hatinya, tapi dia tak mengerti. Dia menangis lebih nyaring dan suara isakannya bagaikan arus banjir yang memukul-mukul tepian sungai. Kini seluruh tubuh Tacha menggigil. Banjir terus meluap dan percikan air kotor dari sungai mengotori wajah adikku itu. Sepasang payudara mungilnya bergerak naik turun saat dia tersedu seakan-akan hendak meledak dan menghancurkannya.(*)

 

Juan Rulfo (1917-1986) adalah penulis Meksiko. Cerita pendek di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris George Schade.

sumber : Koran Tempo, 6 Oktober 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme