Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cara Bodoh Mengolok-olok Quentin Tarantino oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 29 Jun 2014

Naskah Konyol dari Rue Didot

APAKAH kau pernah melihat sutradara film Quentin Tarantino dipermainkan habis-habisan oleh penulis tidak terkenal dari Paris? Jika belum, kau wajib membaca kisah-kisah yang kuterjemahkan dari naskah yang diberikan Yves Coffin, penjaga perpustakaan di Rue Didot, kepadaku. Kau tidak perlu melacak tajuk asli teks satire ini. Di naskahnya tak tercantum judul dan nama pengarang.

Oya, terjemahan selalu lebih buruk dari karya asli. Akan tetapi percayalah, kalimat-kalimat yang kususun lebih baik karena pengalaman mengajarkan bahwa menerjemahkan karya buruk justru bisa menghasilkan cerita cemerlang.

Kini sebaiknya segera kau simak cerita-cerita itu.

Pulp Fiction

KAU harus mengingat namaku. Aku Mia Wallace. Aku putri porselin, suamiku bos narkoba paling kejam. Tentu saja aku cantik. Aku mirip Uma Thurman, sedangkan suamiku serupa Mike Tyson.

Sehari-hari—pada waktu yang kubayangkan antara 1993-1994—aku bisa melihat apa pun yang terjadi di seantero rumah hanya dengan melihat layar CCTV. Aku bisa melihat suamiku menghajar anak buah yang tak becus mengurusi geng-geng saingan atau kawan-kawan yang berkhianat. Aku bisa melihat suamiku memalu kepala, melemparkan orang dari balkon ke halaman, memutuskan jari tangan, atau menembakkan pistol ke lambung siapa pun.

Hari ini suamiku pergi, sedangkan aku menunggu Vincent Vega yang, kau tahu, adalah salah satu anak buah suamiku. Bertubuh tinggi. Tidak terlalu berotot. Agak sableng. Wajahnya mengingatkanku pada John Travolta.

Kuawasi Vincent Vega lewat layar CCTV. Dia tampak seperti orang udik yang baru kali pertama bertandang ke rumah orang kaya. Aneh juga. Bukankah dia baru saja datang dari Amsterdam? Bukankah dia bisa dengan fasih menceritakan rasa hamburger dari Paris.

Lewat interkom, aku meminta dia membuat minuman. Akan tetapi dasar sableng, dia justru menghirup heroin. Aku yakin, sebelum ke rumahku, dia juga sudah menghajar nadinya dengan beberapa suntikan.

“Kau tak boleh mati sia-sia, Vincent,” aku membatin, “kau masih harus menyelamatkan dan mengawalku ke mana pun.”

Vincent Vega tentu saja memang bukan juru selamat. Dia hanya laki-laki iseng yang ingin kuajak ke Jack Rabbit Slim’s, kelab penggemar Elvis Presley untuk mendengarkan musik rock ‘n roll sambil merasakan sensasi dilayani oleh para pelayan berdandan dengan gaya Marilyn Monroe.

“Kau menyukai Amsterdam?” aku bertanya asal-asalan setelah sampai di kelab.

Vincent menggeleng.

“Paris?”

Vincent menggeleng lagi.

“Milk shake?”

Vincent mengangguk.

“Kalau begitu minumlah milk shake-ku.”

Vincent menyeruput minuman itu dengan sedotan yang telah terkena lipstikku.

“Apalagi yang kau sukai? Kesunyian? Keriuhan? Angin? Pantai?” kataku sambil mengunyah buah anggur pelan-pelan. “Kau boleh tak menjawab pertanyaanku. Tetapi aku bisa menebak kau tak suka pada kesunyian. Seperti aku, kau suka anjing. Seperti aku, kau berisik saat bercinta. Seperti aku, kau menyukai tantangan. Aku tahu kau ingin sesekali berkelahi dengan suamiku. Dan itu hanya bisa kau lakukan dengan mengajakku kencan tanpa malu-malu….”

“Kau yakin aku akan berani berkelahi dengan Marsellus?”

Aku mengangguk.

“Kau yakin aku akan mencumbumu setelah makan malam?”

Aku mengangguk.

Vincent Vega tampak kaget. Dia tak menyangka betapa aku sangat tertarik kepadanya.

Akan tetapi rupa-rupanya Vincent Vega bukan tipe laki-laki rakus. Dia tidak menyentuhku sama sekali. Bahkan ketika kuajak menari di lantai dansa dan kupancing dengan gerakan-gerakan yang merangsang, dia cuek saja.

Ah, masih ada cara lain. Aku bisa menaklukkan Vincent Vega di rumah. Akan kuajak dia minum hingga teler, mendengarkan musik, dan….

Tidak! Tidak! Tentu saja aku akan mengajak dia menghirup heroin dan melayang bersama. Tetapi segalanya tak seperti yang kuharapkan. Kuhirup heroin, dan aku mengalami overdosis. Hidungku berdarah. Itu berarti Vinvent Vega belum menjamahku, tetapi dia harus berurusan dengan Marsellus. Marsellus tentu akan menghajar dan membunuh Vega dengan atau tanpa tangan sendiri.

“Sial! Kau tak boleh mati, Mia. Kalau kau mati, aku juga akan mati!” kata Vincent Vega sambil mengendarai mobil kesetanan.

Kudengar dia menelepon temannya. Dia berharap sang teman bisa menyelamatkan nyawaku. Dia ketakutan.

“Siapa dia?” kata seseorang yang kemudian kuketahui bernama Lance, setelah kami tiba di halaman sebuah rumah dan menabrak pagar.

Vincent Vega tak menyebut namaku.

“Rasanya seperti Uma Thurman?” kata Lance.

Vega tak menjawab. Dia meminta Lance membantu menggotongku ke dalam. Kudengar, setelah itu, mereka bercakap tentang suntikan adrenalin. Kedua bajingan tengik ini ternyata belum pernah menyuntikkan adrenalin ke tubuh siapa pun yang mengalami overdosis.

“Tak usah kau tolong aku, Vincent. Pergilah jauh-jauh dari Marsellus.”

Vincent tidak mendengarkan perintahku.

Bersama Lance dia berusaha menemukan jantungku. Agar nyawaku tertolong, suntikan itu harus tepat menembus jantungku.

“Aku takut salah,” kata Lance.

“Sial. Seharusnya kau kuliah di kedokteran sebelum jadi bandar narkoba,” hardik Vincent.

Aku ingin tertawa mendengarkan apa pun yang mereka percakapkan, tetapi segalanya kabur. Aku tak sanggup menolak apa pun yang bakal dilakukan kepadaku. Untunglah di tengah situasi yang kacau, Vincent Vega berhasil menghunjamkan suntikan adrenalin itu ke jantungku. Jleb! Aku pun sadar.

“Jangan sampai Marsellus tahu ya?” kata Vincet Vega.

“Akan kuceritakan semuanya kepada Marsellus,” kataku menggoda.

Vincent ketakutan.

AKU tahu kemudian Vincent Vega ditembak. Sebaliknya aku tak tahu apa pun tentang Butch Coolidge, petinju yang kemenangan dan kekalahannya diatur oleh suamiku. Tetapi yang kudengar sebelum itu, suamiku meminta Vincent Vega mencari Butch. Aku yakin Vega tak bisa meghadapi petinju mirip Bruce Willis itu. Belakangan kuketahui ternyata Butch-lah yang menghabisi Vincent Vega dengan senapan laras panjang. Senapan yang dibawa oleh Vincent Vega saat memburu Butch. Butch pula yang berusaha membunuh Marsellus.

AKU malas menceritakan kepadamu tentang Marsellus. Aku tahu dari Butch, raksasa pemangsa siapa pun itu diperkosa—maksudku, disodomi—oleh Zed, aparat predator.

“Dia tak jadi tuhanku lagi,” kata Butch lewat telepon. “Ia tak jadi tuhan Jules Winnfield atau Vincent Vega lagi.”

“Di mana Marsellus sekarang, Butch?”

“Marsellus bilang, ‘Aku dan dia sudah tak ada’.”

Tak ada? Semoga saja Butch hanya bercanda.

Kill Bill

KOMPOR, diktator, bayam, runyam, gerimis, iblis. Kompor, diktator, bayam, runyam, gerimis, ib… aku tak mau menghafal kata-kata itu. Aku tak mau jadi penyair. Karena itu, sejak kecil, aku belajar menembak, memukul orang, menusukkan pedang, dan mengucapkan kata-kata kotor. Aku lebih bangga bilang, “Kamu buaya busuk!” ketimbang “Ini hujan pertama seorang paderi. Ini cinta pertama seorang paderi.”

Aku tidak bernama. Tetapi aku tidak bisa menolak orang lain memberiku nama. Satu-satunya nama yang kuingat hanya Bill. Bill, lelaki yang seandainya melarikan diri ke neraka pun tetap akan kubunuh.

Membunuh Bill bukan pekerjaan mudah. Aku harus membunuh banyak orang dulu sebelum menghajar Bill. Pertama, aku harus membunuh bajingan-bajingan yang hendak memperkosaku saat aku tak berdaya di rumah sakit. Kedua, aku mesti menghabisi kawan-kawan yang pernah karib denganku dalam kelompok pembunuh yang dipimpon oleh kekasihku itu. Ya, ya, aku telah membunuh perempuan Afro-Amerika di depan putri manisnya yang masih berumur empat tahun; aku telah membunuh perempuan berambut pirang penggemar ular yang lebih dulu kuhajar di rumah-mobil; aku telah membunuh perempuan yang tak penting diingat siapa dia; aku telah membunuh perempuan berdarah Tiongkok-Amerika-Jepang dengan pedang samurai Hattori Hanzo.

Dia bersama puluhan anak buahnya bisa kubunuh karena mereka mengabaikan kekuatanku dan tak percaya bahwa seorang perempuan Amerika seperti aku bisa memainkan dan mendapatkan pedang samurai yang mematikan.

Aku sesungguhnya menyesal telah membunuh dia. Membunuhnya, aku seperti menusukkan pedang samurai ke tubuh bocah berusia sembilan tahun. Kau tentu ingat pada usia sembilan tahun dia menyaksikan orang tuanya dibantai oleh seorang bos Yakuza dengan pedang samurai juga.

Akan tetapi penyesalanku sungguh tidak berguna. Aku harus segera membunuh Bill.

Tak mudah membunuh Bill. Aku harus menghapus pesonanya terlebih dahulu. Pesona seorang pemimpin geng. Oya, apakah kau punya pengalaman membunuh seorang kekasih yang telah menanamkan bayi di perutmu? Apakah kau bisa membunuh lelaki yang mengasuh putri terkasihmu? Dikubur hidup-hidup oleh koboi tengik—yang juga kawan satu geng—saja aku bisa keluar dari makam mengerikan, masak sekarang aku tak bisa membunuh Bill?

Ternyata sangat gampang membunuh Bill. Aku hanya perlu menunggu dia mabuk dan mengajaknya bertempur dengan pedang samurai. Setelah itu aku menotok jalan darahnya dengan gerakan yang dulu kupelajari dari Sang Guru di Tiongkok, segalanya begitu cepat berakhir.

Meskipun demikian kurasa dia tak akan mati. Akan tetapi, sekali lagi, ternyata dia sangat rapuh. Dia mati karena mengabaikan kekuatanku, kekuatan perempuan terluka. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh perempuan yang diabaikan saat hamil. Kekuatan yang muncul karena seseorang tak diberi kesempatan untuk melepaskan diri dari geng para pembunuh dan kawin dengan pria biasa.

Tapi kukira di neraka Bill dan para musuhku tak akan tinggal diam. Mereka akan bersekongkol lagi membunuhku, hingga aku takluk, hingga aku tak berdaya.

Aku sebenarnya tak takut, tetapi Sang Guru—mungkin terbang dari surga—datang kepadaku pada saat salju turun di keheningan senja.

“Kau tak perlu melawan mereka lagi,” katanya. “Kau hanya perlu melawan dirimu sendiri.”

Aku tak tahu maksud Sang Guru. Aku diam saja.

“Kau harus takut pada dirimu sendiri.”

“Takut pada diri sendiri?”

“Ya,” kata Sang Guru lagi. “Jika tak hati-hati ia akan membunuhmu dengan berbagai cara.”

Aku tak terlalu paham pada kata-kata Sang Guru. Tetapi, aku bukan perempuan pemberontak lagi. Aku akan patuh pada kehendak Sang Guru. Aku akan berjuang melawan diriku sendiri. Melawan sesuatu yang sulit dirumuskan sebagai musuh sejati. Melawan rahasia….

Inglourious Basterds

ADA tiga kesalahan Adolf Hitler yang menyebabkan dia terbakar di gedung bioskop. Pertama, Sang Fuehrer terlalu percaya pada Kolonel Hans Landa, Pemburu Yahudi gegabah yang merasa pintar itu. Kedua, dia tidak melarang pemutaran film dalam acara Malam Jerman di Paris pada suatu hari 1944. Ketiga, dia tidak mengenal aku, Shosanna Dreyfus, yang bakal membunuh dia bersama ratusan warga Jerman yang pura-pura suka pada film Stolz der Nation karya Goebbles, Menteri Propaganda Nazi Jerman di Le Gamaar, gedung bioskopku.

Hans Landa seharusnya tak layak dipercaya. Sebagai serdadu, dia terlalu baik karena memberi kesempatan kepada Shosanna Dreyfus, perempuan (yang sangat mungkin membunuhnya) untuk melarikan diri dari keganasan senapan. Sebagai detektif, dia tak awas sehingga tak mampu mencari persamaan antara Shosanna Dreyfus, namaku yang asli, dan Emmanuelle Mimieux, aliasku. Dia terlalu yakin bakal tak ada perempuan yang mampu menyimpan amarah dan dendam.

Seharusnya saat menawariku susu dan rokok, Hans Landa bilang, “Aku mencium bau amarahmu. Kau tak perlu banyak tingkah jika tak ingin kucekik di toilet.” Akan tetapi, dia tak mengasah kecermatan, sehingga membuat aku bersama Marcel, kekasihku, leluasa merencanakan pembakaran terhadap makhluk-makhluk rapuh Jerman itu.

Adapun Hitler, menurutku, terlalu percaya pada manfaat film sebagai alat propaganda. Bagiku, film itu cuma candu yang memabukkan. Film memang bisa membangkitkan rasa kemenangan semu para serdadu yang berhasil membunuh ratusan musuh, tetapi tidak mampu mengobati jiwa yang sakit akibat ketidakmampuan menghargai liyan. Andaikata Hitler menganggap film sebagai pelembut hati—yang memungkinkan dia memberi kesempatan Yahudi tidak sebagai makhluk usiran dari dunia—dia tak akan gampang terbunuh. Setidak-tidaknya dia tak akan terbakar mirip babi panggang setelah tubuhnya ditembus puluhan peluru dari para pembenci Nazi.

Hitler juga terlalu gegabah meminta Goebbles membuat film berjudul Yahudi Terakhir di hadapanku. Permintaan itu melukaiku. Tak akan ada Yahudi terakhir. Yang ada Hitler yang akan habis dalam genggaman amarahku.

Apakah aku bahagia akan bisa membakar Hitler? Sama sekali tidak. Hans Landa-lah yang kuincar. Kematian Hitler tak penting. Kematian Hans Landa-lah yang kuharapkan.

Akan tetapi jujur saja aku tak tahu apakah Hans Landa masih berada di Le Gamaar saat gedung bioskop itu terbakar. Sebagai iblis, bisa saja dia keluar sesaat sebelum Marcel melakukan tindakan agung yang telah kami rancang bersama.

Hanya, jika saja dia tak terbakar, aku yakin akan ada Pemburu Nazi yang menguliti kepalanya dan menorehkan tanda swastika di dahi dengan belati. Di mana pun dan kapan pun.

Karena itu, pada detik-detik terakhir paling menentukan, aku tak terlalu memikirkan Hans Landa. Aku hanya berteriak lantang, “Ayo, Marcel, kita mulai sekarang! Kita bakar siapa pun yang menganggap Yahudi cuma anjing usiran!” dan tak akan ada lagi yang memburuku di padang rumput pedesaan atau pun jalanan Paris yang terang-benderang.

Django Unchained

PADA tahun 1858 (sebelum Perang Saudara) mereka bisa memperlakukan kami seperti anjing di jalan. Tidak hanya itu. Kami juga dijadikan sebagai santapan anjing. Kami bisa dijual kepada para pemburu budak. Kami juga bisa dibunuh jika mereka tak membutuhkan lagi daging kami. Daging? Ya, sejak dulu, mereka sudah membunuh jiwa kami. Jiwa kami lebih dulu mati ketimbang daging kami.

Aturan untuk kami memang tidak tertera di dinding-dinding rumah para tuan tanah dan juragan budak. Akan tetapi kami tahu: (1) harga kepala kami tak lebih bernilai dari hati kera, (2) kami tidak boleh menunggang kuda, (3) jika kami pria hanya menjadi satwa aduan atau semacam gladiator tengik, jika kami perempuan hanya jadi tukang masak atau, kalau kami sedikit cantik, kami bisa jadi pemuas syahwat majikan, (4) kadang-kadang kami bisa juga jadi tuan bagi negro lain, tetapi hanya penjilat busuk yang mau menjadi antek para juragan, (5) kami tidak boleh melarikan diri, (6) kami hanya boleh memilih mati jika tak sepakat lagi dengan apa pun yang diperintahkan sang majikan.

Jangan heran jika siapa pun menyebut namaku Broomhilda. Juga jangan tertawa jika ada yang memanggilku Broomhilda von Schaft. Aku memang negro, tetapi aku lahir di Jerman dan paham apa pun yang kau percakapkan dalam bahasa Jerman.

Efek Jerman—King Schultz, mantan dokter gigi yang menjadi pemburu buron berhadiah juga seorang Jerman—pada waktunya nanti akan menyelamatkan hidupku. Jika saja aku hanya negro Afrika, tak akan bisa kubayangan apakah aku masih bisa bercerita kepadamu atau tidak.

Oya, tetapi mereka—orang-orang Amerika itu—memanggilku Hildy. Mereka memperjualbelikan aku dan suamiku sesuka hati. Mungkin suamiku—kelak kau menyebutnya sebagai Django—dijual di Texas dan aku di Mississipi. Tentu sebelumnya mereka telah mencambuk punggung kami. Tentu sebelumnya mereka telah meludahi wajah kami.

Baiklah aku akan mulai dari akhir cerita: Semua yang berbuat jahat padaku akan mati di Candyland. Mereka tentu saja pantas mendapatkan hukuman itu. Alasannya? Pertama, mereka telah menghukumku direndam telanjang bulat lebih dari 10 hari di kolam panas. Kedua, mereka melarangku menatap Django dengan pandangan yang kasmaran dan penuh kerinduan. Ketiga, Steven (sesama negro yang mengabdi pada para Tuan Amerika itu) menginterogasi dan tak menginginkan aku hidup lebih bermartabat.

Ada juga alasan lain. Yang jelas, mereka mempermainkan perasaanku di depan kekasihku, melecehkanku seakan-akan hargaku hanya 12.000 dollar, dan yang tidak bisa kumaafkan Calvin Candie—kau menyebutnya sebagai Tuan Amerika—mengancam memalu kepalaku dengan pukul besi di depan Django dan Dokter Schultz.

“Apakah hargaku memang hanya 12.000 dolar, cintaku?” kataku kepada Django.

“Tidak ada yang bisa membelimu, Hilda. Tak ada. Tak juga Calvin Candie atau juragan sekaya apa pun.”

“Tapi kenyataannya Dokter Schultz membeliku.”

“Dia membelimu untukku, Hilda. Dia juru selamat kita.”

Hmm, Dokter Schultz bahkan lebih dari sekadar juru selamat. Dia malaikat pencabut nyawa bagi juragan tengik seganas Calvin Candie. Dialah yang menembak dada setan belang itu.

Tetapi tentu saja terima kasih terbesar kuucapkan kepada Django. Dia telah menembak dan membakar Steve untukku. Negro tengik, kau tahu, lebih berbahaya dari seribu Calvin Candie yang suka mengadu kaumku. Kaum yang mereka anggap lebih nista dari anjing atau aneka kotoran di toiletmu.

Aku dan Quentin Tarantino

BEBERAPA jam lalu aku bertemu dengan Quentin Tarantino di Le Claufotis Restaurant di Sunset Boulevard. Aku mendekat ke meja sutradara paling kocak sejagat yang sedang melahap escargot terenak di Los Angeles itu dan kuperkenalkan namaku.

“Aku Jimmy. Aku baru saja menerjemahkan teks-teks dari Prancis yang bakal merusak reputasimu, apakah kau bersedia membaca? Oya, aku sahabat Marsellus Wallace. Aku dekat dengan para bajingan di kota ini dan sanggup menulis kisah mereka untukmu.”

Quentin Tarantino terkejut. Melihat wajahku, dia seperti menatap hantu.

“Aku tak suka skenario orang lain. Itu selalu menipu.”

“Kau jangan menganggap remeh terjemahanku. Setelah kau baca kau baru akan tahu betapa film-filmmu tak seru dan tak lucu.”

Quentin Tarantino tampak ingin marah padaku. Matanya mendelik dan sejurus kemudian tangannya menjulur mencekikku.

“Hanya setan yang bisa bikin skenario film yang lucu dan seru. Jika kau sudah merasa termasuk golongan setan, kau boleh bergabung denganku.”

Kubiarkan dia mencekikku. Kubiarkan dia menjadi bintang utama yang berusaha membunuh seorang penulis yang tengah menawarkan skenario yang lebih busuk ketimbang berbagai skenarionya.

Arggggh, sungguh kuat cekikan itu… dan kurasa dia benar-benar berniat membunuhku. Membunuh seseorang yang telah susah-payah membawa naskah lucu dari Paris untuk sutradara gemblung itu.(*)

Semarang, 24 Mei 2014

 

Catatan
Uma Thurman adalah pemeran Mia Wallace dalam film Pulp Fiction. Demikian juga John Travolta (Vincent Vega) dan Bruce Willis (Butch Coolidge). Jimmy adalah tokoh yang diperankan oleh Quentin Tarantino dalam film yang sama.

 

Triyanto Triwikromo beroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa. Buku-bukunya, antara lain, Surga Sungsang (novel, 2014) dan Celeng Satu Celeng Semua (kumpulan cerita pendek, 2013)

sumber : Koran Tempo, 29 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme