Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Setan Murat oleh Ayu Utami

Posted on Ming, 10 Agu 2014

TAK lama setelah tiba di kota itu, ia mendengar tentang Setan Murat. Ia baru tamat SMA, berniat cari kerja, dan numpang di kota kerabatnya. Pada satu malam Jumat para penghuni pondokan itu bercerita tentang Setan Murat. Jika kau lapar di tengah malam, lalu kau mendengar di ujung lapangan ada gaung kentongan tukang bakso, berhati-hatilah. Jangan terkecoh nafsu makanmu.

Pernah terjadi pada seseorang di antara penghuni rumah kos sebelum kita. Ia sedang mengerjakan tugas kuliah dan terjangkit lapar selewat jam nol. Seolah menjawab jerit perutnya, terdengar toktok di kejauhan, dari seberang lapangan, dan ia mencium kuah bakso. Liurnya terbit, seolah lidahnya telah menjilat mangkok kaldu panas lumeran gajih. Ia melongok dan melihat seorang tukang bakso mangkal di kejauhan lahan terbuka. Tak mau mengganggu orang-orang yang tidur, ia tidak berteriak memanggil.

Ia mendatangi gerobak dan bertanya pada tukangnya yang memakai topi jerami, bakso apa saja yang tersedia, sambil membayangkan bola-bola daging berisi sumsum, urat, ataupun telur. Lelaki itu tidak menjawab. Sambil tetap menunduk sehingga wajahnya tertutup topi jerami, si tukang bakso membuka sungkup kuali dan mengaduk. Samar-samar, di singkap kepulan uap seperti kawah, ia merasa melihat mata, mulut, hidung, timbul-tenggelam dalam kuah.

Ia menetap jeri pada si tukang bakso. Saat itulah orang itu mengangkat wajahnya dan memperlihatkan mukanya yang rata. Tanpa mata, mulut, maupun hidung….

“Setan Murat. Itu adalah singkatan dari Muka Rata.”

“Itu bukan setan, tetapi hantu,” kata tokoh kita menanggapi cerita.

“Apa bedanya!”

“Setan adalah yang menghuni neraka. Hantu itu ada di dunia, menakut-nakuti kita. Setan tidak menakut-nakuti kita, tetapi menggoda agar kelak kita masuk neraka. Apa yang terjadi dengan anak yang melihat setan-hantu itu?”

“Ia pingsan. Ketika bangun ia jadi gila.”

“Bagaimana dia bisa cerita kalau dia gila?”

“Ya begitulah cerita yang kita dengar dari orang gila.”

TAK berapa lama berselang, krisis ekonomi melanda negeri itu. Semua penghuni koskosan kehilangan pekerjaan. Induk semang terjerat utang. Rumah yang ternyata digadaikan itu diambil alih bank dan semua pemondoknya diusir. Termasuk tokoh kita. Sepupunya pindah ke ujung negeri, untuk mata pencaharian baru. Tokoh kita bertahan di kota itu, menetap di sudut kumuh yang tak jauh. Bersama Mat Bakso.

Ia telah menjadi akrab dengan si tukang bakso sejak ia langganan jajan di gerobak yang mangkal di ujung jalan di belakang tangsi militer, sebelum krisis terjadi.

Lelaki itu sebaya ayahnya dan belum lama kehilangan putra tunggal oleh suatu sebab yang tak jelas. Anaknya hilang. Mungkin pergi, mungkin bunuh diri, sebuah rahasia keluarga—di zaman ini banyak anak muda bunuh diri karena tak bisa bayar uang sekolah dan ditolak kekasih hati. Tukang bakso dan tokoh kita saling menemukan pengganti ayah dan anak.

Ia ikut dengan Mat Bakso. Sebagai asisten. Tugasnya mengambil bahan-bahan dari pemasok langganan dan menggerusnya. Bawang putih, bawang bombay, lada, garam, telur, dan yang terutama adalah daging.

“Tapi harga daging sapi asli sekarang mahal sekali, Nak,” kata ayah angkatnya. “Kita terpaksa mencampur dengan daging KW.” Barangkali perlu dijelaskan bagi pembaca yang naif: itu adalah daging “kwalitas” rendah.

Pergilah ia ke jagal langganan, yang kini memberinya paket murah. Sambil mengedipkan mata, orang itu mengeluarkan suara grok dari dalam rongga hidungnya. Bunyi hewani itu membuat tengkuknya meremang seperti kuduk celeng. Ada sedikit rasa najis ketika ia menenteng buntalan itu pulang. Ia ingin bertanya, tapi bukankah jawaban tak akan mengubah hidupnya? Ia cacah daging paha merah itu seperti biasa. Tapi tak seperti biasa, setelah selesai ia mencuci tangannya tujuh kali. Lalu ayah angkatnya mengadon cincangan itu dengan bumbu-bumbu, mengaliskannya dengan kanji, menjadikannya bola-bola besar dan kecil. Ada yang berisi sumsum, ada yang telur. Di antara itu terdengar suara grok rongga hidung.

Kali berikut mengambil daging, ia mendapat paket lembar-lembar yang lebih tipis. Ketika hendak melirik curiga, ia seperti mendengar suara menggeram dasar leher. Itu membuatnya mundur selangkah. Ia ingin bertanya, tapi akankah jawaban mengubah hidupnya? Sesekali ayah angkatnya terciprat kuah panas saat memasak. Tapi, kali itu ia merasa mendengar suara terkaing. Tengah malam itu ia mendengar lolong anjing di dalam rumah.

Hari-hari berikutnya ia mendapat paket yang berbeda-beda. Potongan-potongan yang kecil setipis ikan asin. Yang warnanya kehitaman dan berbau busuk. Daging cincang seperti sisa makanan. Ia dihantui suara tikus, kucing, kelelawar. Ia digerayangi mulut ikan sapu-sapu dan bermimpi tentang bocah gendut yang memuntahkan daging cincang saking kekenyangan. Ia ingin bertanya tapi apakah jawaban mengubah nasib?

Gerobak ayah angkatnya yang mangkal di belakang tangsi tak kehilangan pelanggan. Orang-orang percaya bahwa masakan Mat Bakso tak turun mutu meski harga daging melonjak. Jaminannya, Bapak Komandan dari kompleks militer serta keluarganya terus menjadi pembeli tetap. Mana berani orang kecil menipu Pak Komandan! Bisa-bisa pistol meledakkan kepalanya. Tapi, sesungguhnya tukang bakso itu telah mengatur kualitas daging. Untuk Pak Komandan dan relasinya diberinya KW super. Untuk para perwira KW 1. Untuk para bintara KW 2. Para tamtama KW 3. Dan untuk pembeli umum, ah… sungguh tergantung pasokan daging yang ada.

Pelanggan bertambah banyak. Keduanya kini mendirikan kios semi permanen. Dengan tenda biru, meja-meja kayu bertaplak plastik, dan televisi 12 inci untuk menonton bola. Jika tak ada pertandingan, orang menonton sinetron dan berita. Suatu hari tokoh kita melihat di televisi, Menteri Urusan Kedagingan ditangkap karena korupsi daging sapi. Ia menggosok-gosok matanya, sebab Pak Menteri itu sungguh mirip dengan pemasok yang dari tenggorokannya terdengar suara geram dan grok. Sosok tambun dengan rambut-rambut hitam di kepala, dagu, dan barangkali di kuduknya. Lelaki itu menunjuk ke atas sambil berkata demi Allah. Jari-jarinya begitu gemuk, tak seperti milik manusia lagi: dua jari di depan, dua di telapak, mirip celeng….

TANGSI itu tampak seperti benteng. Warnanya hijau kelabu. Gerbang-gerbangnya dijaga serdadu. Jika matahari terbenam, warnanya jadi semu belerang. Menara-menaranya seperti tanduk hitam. Tokoh kita dan ayah angkatnya suka memandang ke sana sambil ngobrol manakala kios sepi. Konon di dalam benteng itu ada “sekolah” rahasia. Di sana “anak-anak nakal” dikursuskan. Yaitu anak-anak yang melawan pemerintah. Yang lulus pendidikan akan dapat pekerjaan. Tokoh kita membayangkan senangnya jadi pegawai: di badan intelijen, di partai politik, di organisasi massa. Yang tidak lulus akan dikirim ke Sukabumi. “Ada apa di Sukabumi?” ia bertanya sebab pertanyaan itu begitu sepele. Ia sekarang hanya bisa menanyakan perkara remeh.

Tapi… barangkali terpaksa dijelaskan bagi pembaca yang naif seperti tokoh kita. Tukang daging menyebut daging celeng, anjing, kucing, dan tikus sebagai “daging sapi KW”. Pun militer menyebut “di-Sukabumi-kan” untuk dikebumikan. Ya, Tuhan! Masa kau masih tak faham juga bahwa dikebumikan itu sama dengan dimakamkan? Apa yang dimakamkan, masa harus kuterangkan? Jadi, anak-anak yang lulus “sekolah” dalam benteng itu dikembalikan ke dunia, dan yang tidak lulus dikembalikan ke bumi!

Si ayah angkat termenung, teringat anak kandungnya yang hilang.

Pada saat itulah datang dua orang serdadu. Dari tanda pangkatnya kita tahu bahwa mereka adalah tamtama—artinya, yang selama ini mendapat bakso KW 3. Entah kenapa, kali ini cara mereka membusungkan dada dan mengembangkan lengan membuat ayah dan anak angkat itu menahan kencing.

“Kami tahu bahwa selama ini kamu memberi kami makan bakso sapi palsu. Apakah kau hendak mengikuti nasib anakmu, dikirim ke Sukabumi?”

Tak perlu diceritakan lagi bagaimana orang-orang kecil yang bersalah itu buang air seketika.

Mereka mencoba membela diri, mengatakan bahwa semua ini hanya ujung dari korupsi Pak Menteri Urusan Kedagingan. Lagipula daging itu bukan palsu, melainkan KW. Tapi sia-sia.

Yang terjadi kemudian terlalu mengerikan untuk dikisahkan dengan rinci. Dua serdadu itu membawa si ayah angkat ke dalam benteng. Tiga hari kemudian, mereka kembali kepada si anak angkat dengan pilihan sandi baru: “dikecualikan” atau “di-KW-kan”. Semuanya berhubungan dari bunyi “kuali” atau “kwali”. Dikecualikan artinya dikekualikan atau dikualikan. Di-KW-kan artinya di-“kwalitas”-kan atau dibuat sebagai KW. Mereka menepuk bahu si anak angkat dan menganjurkan ia meneruskan bisnis itu. Benteng akan menjual daging KW jika pasokan sedang tersedia seperti hari ini.

Seluruh tubuh si anak angkat gemetar. Tapi ia lakukan juga semua yang mereka biasa lakukan. Menggerusnya bersama bawang putih, bawang bombay, garam, merica; mengaliskannya dengan kanji dan telur, membuat kaldu. Rasa mual pertama memuntahkan hatinya ke dalam kuali. Tapi, separuh gemetar itu hilang ketika ia kehilangan hatinya. Ia mengaduk. Lalu satu per satu mata, hidung, dan mulutnya berjatuhan ke dalam kuali….

PADA satu malam Jumat para penghuni sebuah pondok bercerita tentang Setan Murat. Jika kau lapar di tengah malam, lalu kau mendengar di ujung lapangan ada gaung kentongan tukang bakso, berhati-hatilah. Kau memang membayangkan bola-bola daging berisi sumsum, urat, ataupun telur, dalam kuah gajih. Tapi jangan terkecoh oleh lelaki yang wajahnya tertutup topi jerami. Ia akan membuka sungkup kuali dan mengaduk: mata, mulut, hidung, dan hatinya sendiri. Ketika orang itu mengangkat wajahnya kau akan melihat mukanya yang rata.

Setan Murat. Itu adalah singkatan dari Setan Muka Rata.

Setan. Bukan hantu.(*)

 

Selasa Kliwon-Kamis Pahing, 15-17 Juli 2014

 

Ayu Utami tinggal di Jakarta. Novelnya yang mutakhir adalah Maya (2013).

sumber : Koran Tempo, 10 Agustus 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme