Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebab, Neraka Terlalu Lama

Posted on Ming, 24 Nov 2024

Orang yang takut dosa-dosa kecil mengkhawatirkan dirinya tak beruntung. Menjadikan lampu merah sebagai tanda orang yang beruntung atau tidak. Menjadikan hal-hal kecil lainnya sebagai beruntung atau tidak.

MENJADIKAN hal-hal yang lepas darinya sebagai kesialan dan sebagainya. Mereka tidak menghitung dosa yang besar. Dosa besar ya dosa saja. Akan dibakar di neraka. Mutlak. Begitulah wejangan itu terus-menerus disematkan ke telingaku.

’’Ada sebuah pembunuhan yang terjadi dan mayatnya disembunyikan dalam plafon rumahmu. Darahnya menetes kental. Garis line memenuhi ruangan itu …

’’Orang-orang lalu menyebut kita penyintas.” Aku berkata sambil menghela napas, ’’Ah rasanya mimpi itu berlebihan, kenapa aku justru bermimpi mengerikan begitu saat kau akan menjelang hari bahagiamu.”

’’Menurutmu, apa lebih baik aku membatalkan saja pernikahan kami?” Gadis itu memandangku dengan ketakutan yang kentara.

Aku tersenyum dan memegang tangannya. ’’Itu hanya sebuah mimpi. Kau tak perlu memikirkan.”

’’Te-tapi …” Dia menundukkan wajahnya. Ketakutannya semakin terlihat. Dia ingin mengusirku, tapi bibirnya kelu. Aku tersenyum sedih. Perlahan aku berdiri dan berbalik meninggalkannya.

Padahal aku hanya bercerita. Aku terlalu antusias karena dia satu-satunya orang yang masih menganggapku teman selama kami tinggal di panti.

Sejak kecil aku diberi tahu mimpi adalah bunga tidur yang tidak berarti. Bagi sebagian orang seperti kami artinya hanya kumpulan angka yang tercantum dalam buku 1001 mimpi.

’’Ibu, aku melihat orang yang mirip diriku. Dia memanggil namaku. Namanya Maya. Dia bilang dia saudaraku. Benarkah itu, Ibu?” Aku berlari menemui ibu yang ada di ruang tamu. ’’Kau hanya berkhayal,’’ tukas ibu.

’’Berhentilah bicara omong kosong.” Ibu tidak pernah mau mendengar aku. Mimpi itu terus terjadi. Kadang-kadang dia menemaniku bermain ayunan di belakang rumah atau mengajakku naik pohon rambutan kebun tetangga saat belum musim berbuah. Kalau sedang musim, tetangga itu biasanya memasang kawat duri agar kami tak bisa menaikinya. ’’Kau tak bisa naik?” Maya terlihat masgul

’’Bagaimana kau bisa naik tanpa terluka?” Aku malah bertanya balik.

’’Aku melompat,” jawabnya ringan. Aku cemberut, merasa sangat kesal, kenapa dia bisa naik pohon itu tanpa terluka, sementara aku merasa ketakutan melihat kawat berduri itu. Dia memang lebih suka naik pohon yang begitu, orang-orang tidak akan menemukannya. Maya tidak suka memperkenalkan dirinya pada orang lain, dia tidak ingin diriku dianggap aneh seperti ibu. Apalagi kami sedikit mirip, pasti membuat banyak pertanyaan.

’’Mereka tidak akan berhenti hanya kita telah menjawab mereka. Pertanyaan yang satu akan membuat pertanyaan yang lain, begitu terus-menerus sampai mereka merasa puas. Padahal mereka tidak punya kepentingan apa pun.” Maya mengumpat.

Begitu juga yang diajarkan padaku. Aku tahu. Ibu juga suka berkata begitu. Aku ingat waktu Bapak baru meninggal, para tetangga juga bertanya hal-hal yang aneh. Bagaimana bapakmu meninggal, bukannya bapakmu sehat-sehat saja? Kok bisa tiba-tiba meninggal? Mereka terus bertanya sampai Ibu mengusir mereka.

’’Orang-orang dewasa memang suka begitu.” Maya mencela. Gadis itu membuka tangannya. Aku terpekik girang. Terlihat beberapa buah seri sebesar biji kelereng berwarna merah. Aku melihat ujung jarinya berdarah lagi.

’’Apa kau sedang kesakitan?” tanyaku simpatik. Aku melihat kukunya, penuh darah.

Dulu saat Bapak ’’menyiksaku’’, aku juga melakukannya agar rasa sakit dari siksaan Bapak tidak lagi kurasakan, dengan begitu aku bisa terus memaafkannya.

Ibu memergoki penyiksaan itu. ’’Bajingan kau, aku seharian mencari uang bekerja keras. Kubiarkan saja kau memakan hasil keringatku. Ini yang kau lakukan pada anakmu sendiri!”

Ibu menatapku sambil terus meratap-ratap. ’’Kenapa kau tak bilang pada Ibu, Nak.” Ibu mencengkeram daguku. Benar kata Bapak, jika aku mengadu, Ibu akan menyiksaku juga. Aku diam saja sambil menggigit ujung jariku yang lain. Ibu baru berhenti saat melihat darah mengalir dari sela-sela kukuku. ’’Saat beliau tidak marah lagi, aku bilang, dengan begitu aku tidak akan merasa sakit.”

’’Mau kutunjukkan sesuatu yang indah.” Maya menarik tanganku, untuk membuang ingatan buruk itu.

’’Kenapa aku baru tahu ada padang rumput di sini.” Aku keheranan. Maya tersenyum. Aku tidak tahu di padang rumput itu ada kawat durinya juga.

’’Raya.” Maya menatapku, ’’Kau mau lepas dari semua siksaan itu?” Aku mengangguk ragu-ragu.

’’Katakan apa pun yang ingin kau katakan. Aku akan membantumu.” Maya tersenyum. Aku mengangguk.

Kami kemudian tertawa-tawa dan berlarian. Sepertinya seluruh dunia isinya adalah warna yang indah. Sebelum sosok Bapak menjelma monster yang berusaha membunuh kami berdua. ’’Kau sudah mati. Matilah kembali.” Aku mengutuk. Anehnya makhluk itu kemudian berubah menjadi wajah Ibu.

’’Kau hanya melindur.” Ibu menatapku lekat. Saat dia tanya bagaimana aku bisa terluka. Aku menceritakan padang rumput yang barusan aku datangi. Beliau mencengkeram daguku untuk melihat mulutku, mengambil kapas dan mengelapnya. Bibi Marni, tetangga yang mengantarkanku hanya melihat dengan prihatin.

’’Ibu, aku melihat ibu yang mati dalam padang rumput itu.” Aku membekukan mata. Ibu mengentakkan tangannya.

Beberapa hari kemudian Ibu benar-benar meninggal. Bibi Marni menjerit histeris sambil menunjuk-nunjukku. Aku diungsikan. Entah di mana. Berpindah-pindah.

**

’’Kalian tahu buah kemang? Atau pinjai?” Sebangsa mbacang dengan aroma lebih wangi dan rasa lebih asam. Biasanya digunakan oleh orang lokal jadi sambal. Bisa juga dimakan begitu saja, asal tahan dengan baunya. Aku suka menatap mata mereka yang melihatku takjub.

’’Ada satu riwayat, jika kau berdiri di bawah batang kemang itu pada hari hujan, kau akan hilang dibawa orang bunian. Siluman atau mak sumai.” Aku bersemangat sekali menceritakan pada mereka. Mereka baru tahu cerita-cerita begitu.

Salah satu teman kami tidak percaya pada mitos tersebut, dia tetap mencari buah kemang. Saat hujan berangin apalagi, biasanya buah kemang banyak berjatuhan. Bagi sebagian anak-anak malang itu, buah tersebut bisa dijadikan uang.

Pohon kemang itu tumbuh di pinggir sungai. Batangnya besar dan rindang. Meski bukan hari hujan saja, aku tidak pernah berani berteduh di bawahnya. Kami biasa membantu keuangan panti dengan menjadi kuli-kuli pelapak batu kali.

Lalu peristiwa itu terjadi, saat itu kami baru naik kelas enam SD, anak lelaki suku Jawa itu, dia termasuk bengal. Karena kepercayaan atau mitos pohon kemang dianggap hanya mitos orang kami, dia menantang mitos itu. Hujan turun dengan lebat. Kami yang masih di tengah sungai cepat naik ke darat. Takut sungai naik tiba-tiba. Anak Jawa itu dengan santai memungut kemang yang jatuh yang disebabkan angin. Kreseknya sudah penuh, tapi dia tidak juga berhenti.

Teman-teman lain menyuruhnya berhenti. Dia hanya tertawa dan mengatakan kami pengecut. Besoknya terdengar kabar anak itu hilang. Anak itu jadi bahan pembicaraan seluruh kampung. Mitos pohon kemang menghilangkan orang terbukti.

Dua hari kemudian, anak tersebut ditemukan dibawa arus sungai di kampung ketiga dari kampung itu. Beritanya sampai masuk koran. Semua orang menduga-duga bagaimana dia bisa terseret begitu jauh.

’’Itu gara-gara Raya.”

’’Lidahnya penuh kutukan.”

’’Pergilah, Raya. Jangan mendekat.”

’’Kau mengerikan!”

Mereka terus meneriakkan itu. Setiap aku cerita tentang mimpi-mimpi.

**

Beberapa orang melakukan apa pun untuk mengubah nasib. Dan nasibnya tetap buruk. Beberapa orang percaya apa yang terjadi padanya adalah takdir yang harus dilalui dengan tabah agar hidup ke depannya menjadi lebih baik, tapi orang itu tetap menangis dan bermimpi buruk. Lain waktu dia meninggal dalam harapannya yang entah.

’’Raya coba kau tengok aku, apa aku bisa menikahi pemuda keren di ujung jalan sana?”

’’Raya kemarilah, tolong periksa angka-angka ini. Yang mana yang bisa membuat kami kaya?” Aku sudah menggeleng beberapa kali. Tapi, mereka terus membujuk untuk mengatakan hal-hal yang mereka ingin.

Ada bibi-bibi tua memberi kami makanan yang enak kemudian bertanya dengan lembut, tanggal mana yang baik untuk pernikahan putrinya. Lain kali paman putus asa yang tinggal di pos ronda, dia juga membujukku sambil menangis meraung-raung, jalan mana yang akan membawanya pada keberuntungan. Karena kasihan, aku menunjuk arah sembarangan. Paman itu segera menghilang dari desa itu. Beberapa tahun kemudian dia kembali dengan gaya yang keren dan bercerita pada orang-orang kampung kalau aku adalah anak ajaib yang telah mengubah nasibnya.

Orang-orang berduyun-duyun melakukan sumbangan pada panti kami yang menyedihkan. Ibu panti sangat senang dan menyuruhku terus mengatakan ramalan-ramalan. Tak peduli benar atau tidak.

’’Kau sudah delapan belas tahun. Kau harusnya sudah tidak menjadi anak panti asuhan lagi. Keluarlah, katakan ramalanmu.” Ada dua orang kaya seperti pejabat. Mereka memintaku menunjukkan nomor urut berapa supaya mereka bisa memenangkan pilkada.

Saat sampai keluar aku hanya melihat mereka seperti mayat hidup.

’’Paman seperti hantu pocong. Pucat sekali.”

’’Bibi, rambut bibi penuh dengan darah.” Kata-kata mengerikan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa bisa aku cegah. Besoknya mereka kecelakaan dengan tragis. Suasana kampung jadi mencekam. Mereka kembali memandangku sebagai anak yang menakutkan.

’’Mereka benar-benar menakutkan, bukan.” Dia tersenyum. Sekarang juga dia tumbuh dewasa sama sepertiku. Wajah kami juga mirip. Aku heran kenapa kami begitu mirip.

’’Kau lama sekali menghilang, Maya. Kau pergi ke mana saja.”

’’Aku selalu di sini. Bersamamu.” Maya tersenyum. ’’Aku senang kau kembali mengatakan hal-hal mengerikan. Itu lebih mudah diwujudkan …”

Maya menyeringai.

Aku memandangnya. Juga tersenyum.

Dia benar. Aku juga lebih suka mengatakan hal-hal demikian. Manusia terlalu serakah.

’’Sebab, neraka terlalu lama.” (*)

2024

sumber : JAWAPOS, Minggu, 24 November 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme