Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gwangju 1980 oleh Arie Fajar Rofian

Posted on Sab, 14 Des 2024

Langit pada hari yang tak terlupakan itu merekah. Cahaya merah semburat dari ufuk timur, seolah darah terburai dari luka yang baru saja terbuka. Sungai di Gwangju mengalir lambat, mengendap di antara gedung-gedung dan bangunan-bangunan, berupaya mengabarkan sesuatu yang enggan disampaikan. Sementara, di jalan-jalan di pusat kota, ribuan kaki memukul aspal yang retak, satu demi satu membentuk denyut kehidupan yang akan dihancurkan oleh kekerasan.

Segala sesuatu terasa lebih lambat sekaligus berat. Bahkan, burung-burung yang biasanya berkicau di pepohonan sepanjang Geumnam-ro seakan dipaksa menahan napas. Suara yang paling lantang dan pertama kali memecah damai adalah langkah sepatu bot. Berat, teratur, dan berirama; ritmenya menyusup ke dalam dada setiap orang yang bersembunyi, bahkan di balik jendela rumah mereka yang jauh dari pusat keriuhan.

Asap dari ban-ban yang dibakar berbaur dengan debu jalanan yang menguar jalang, melukis langit dengan goresan hitam pekat dan merah yang buram. Suara-suara datang silih berganti, kadang berharmonisasi –teriakan, tangisan, jerit pukulan tongkat, dan desing peluru–mengiris udara yang dingin. Suara-suara yang terlalu sulit didengar tanpa melibatkan rasa cemas yang berlebihan, seolah bumi sedang mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa dipahami.

Orang-orang berkemeja lusuh –karena sempat terjatuh– berlarian, beberapa menyeret tubuh mereka sendiri yang terluka oleh hunjaman peluru. Yang lainnya memanggul beban yang lebih berat: entah saudara, entah kerabat, entah anak, entah kawan seperjuangan, atau seseorang yang baru saja mereka temui tetapi sudah dianggap sebagai saudara atas kesamaan pandangan. Bau darah dan keringat bercampur menjadi aroma yang tak ingin dikenang, tetapi tak pernah bisa dilupakan.

Geumnam-ro kini tak ubahnya ruang penuh tubuh. Di permukaan aspal yang keras, barisan tubuh tak berdaya tergeletak, sebagian telah kehilangan nyawa, beberapa masih bergerak dengan menyertakan keengganan yang tak terucap. Tidak ada perbedaan yang jelas di antara mereka, kecuali sekelompok orang berseragam yang berlindung di balik senjata dan terus bergerak bersama kepongahan.

”Akhiri kediktatoran!”

”Turunkan Chun Doohwan!”

Seruan lantang itu berbalas salak senjata dan lemparan gas air mata. Kerumunan para pengunjuk rasa berlari, tanpa arah, tak tahu harus pergi ke mana. Hanya ada satu tujuan di benak masing-masing dari mereka, berlari sejauh mungkin dari gapaian para tentara yang dilindungi tangan-tangan kekuasaan. Orang-orang berlarian dengan wajah kosong, tak menyisakan ruang untuk pertanyaan –yang mungkin juga tak memiliki jawaban.

Di tengah kerumunan yang hilang bentuk, seorang pria paro baya yang mengenakan ikat kepala berwarna putih berdiri tegak, matanya kosong, menelusuri setiap sudut yang menampilkan ketiadaan. Namun, di dalam tatapannya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kesedihan. Seperti ia menyaksikan seluruh dunia telah runtuh dan tak lagi percaya pada apa pun; pada siapa pun.

Detik berikutnya, tongkat berkelir hitam melesat, mengucapkan salam perkenalan yang tak pernah diinginkan, tepat di keningnya. Pria itu meraba-raba keningnya, mendapati sesuatu yang hangat sekaligus lengket. Ikat kepala berwarna putih itu perlahan berangsur merah, bercampur pekat darah, seperti tinta yang tumpah di atas kertas basah. Ia ambruk, bersamaan itu tongkat kembali menggerayang, bukan hanya di kening, tetapi di seluruh tubuh ringkihnya.

Di salah satu sudut lainnya di Kota Gwangju, Junghwan melajukan taksinya dengan hati dan rahang yang mengeras. Tangannya menggenggam roda setir dengan kaku, berkendara tanpa peduli terhadap rambu-rambu. Nyala lampu merah bukanlah perintah untuk berhenti, tetapi terlihat serupa panggilan untuk terus melaju. Setiap detik yang dilalui Junghwan adalah taruhan hidup-matinya seseorang yang sedang berjuang melawan kediktatoran.

Terhitung sejak tadi pagi, Junghwan telah membawa tiga orang keluar dari Geumnam-ro: seorang pria dengan luka akibat hantaman benda tumpul di mata kaki, seorang wanita yang tak berhenti menangis sambil memegangi perutnya yang terus mengucurkan darah akibat tertembus timah panas, dan kini, seorang mahasiswa yang seragamnya tampak lusuh serta penuh bercak darah yang nyaris kering.

Di kursi belakang, mahasiswa itu bernapas pendek-pendek, memeluk sebuah buku berlatar merah. Buku itu, entah jurnal harian, atau semacam manifesto yang mungkin terlalu sulit dipahami oleh orang awam sepertinya. Junghwan enggan bertanya. Ia hanya memandangi dengan ekspresi iba mahasiswa itu melalui kaca spion depan, mengamati bagaimana bibirnya bergerak seperti sedang berdoa atau merapal harapan yang nyaris musnah.

Junghwan tidak sendiri, di jalan-jalan utama Kota Gwangju, para sopir taksi lainnya bergerak dalam kesenyapan yang terkoordinasi, layaknya arus sungai yang mengalir menuju hamparan laut. Mereka tak saling mengenali, tetapi dalam gelap yang tak berwujud, mereka saling memahami. Mereka bergerak ke satu tujuan akhir yang sama: rumah sakit.

Tiba di rumah sakit, Junghwan segera menurunkan penumpangnya, memapahnya menuju ruang gawat darurat. Namun, ketika ia menyaksikan sekeliling, ia tahu bahwa ruangan itu tak lagi bisa menyembuhkan apa pun. Rumah sakit penuh sesak dengan orang-orang yang tergeletak tanpa daya, wajah mereka pucat pasi, dan tubuh mereka penuh luka. Tak ada cukup ruang, tak ada cukup tangan untuk merawat.

Mungkin, setelah ini, akan datang lebih banyak orang yang entah akan diletakkan di mana, simpul Junghwan dibersamai oleh perasaan khawatir. Dan benar saja, sepanjang hari itu seperti parade yang tak berkesudahan. Taksi demi taksi muncul, membawa tubuh-tubuh yang kelak –sebagian besar– diselimuti bendera berlatar belakang putih.

***

Di sebuah unit apartemen yang tak tertata sebagaimana mestinya hunian, Junghwan duduk bersila sambil menatap layar televisi yang menampilkan potongan gambar yang membuatnya mual dan dadanya seketika bergejolak. Siaran berita mengudara melalui suara yang lembut bercampur tegas, memuat laporan mengenai keadaan Kota Gwangju yang semakin membaik, dan segala bentuk perlawanan telah berhasil dipadamkan oleh pihak militer. Namun, Junghwan tahu betul, apa yang ditampilkan di televisi bukanlah kenyataan yang terjadi di lapangan.

Berita pertama yang Junghwan dengar pada pagi itu adalah mengenai warga Kota Gwangju yang melakukan kerusuhan dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Hanya saja, tidak ada satu pun dari potongan berita itu yang menyebutkan tentang serangan mendalam terhadap mereka yang meminta haknya, tidak ada suara yang memperlihatkan mengenai korban-korban yang bergelimpangan di tengah jalan, ditembak peluru tajam dan dipukuli menggunakan tongkat berkelir hitam. Tidak ada sama sekali. Narasi pada layar televisi hanya berpusat pada kata ’’kerusuhan”.

Masyarakat Kota Gwangju, yang didominasi para mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan protes dan perlawanan. Perlawanan yang didasari oleh rasa muak kepada rezim militer di bawah komando Jenderal Chun Doohwan, yang lahir melalui kudeta terhadap rezim militer lainnya. Rezim yang kemudian menerapkan keadaan darurat militer, menutup kampus-kampus, membatasi pers, melarang beragam aktivitas politik, serta menetapkan jam malam yang melibatkan para tentara.

Para demonstran hanya meneriakkan kebebasan, meneriakkan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Namun, kebebasan dan hak itu tidak hadir seperti aroma sup yang menyelinapdari dapur rumah, tetapi dipaksa keluar dengan gas air mata dan peluru tajam yang menghujani Geumnam-ro melalui tindakan represif para tentara yang tak memahami batas kemanusiaan.

Pihak militer bahkan tak segan mengadang dengan kekuatan penuh. Tank-tank meluncur perlahan di jalan yang sempit, menggilas apa pun yang berada di hadapan mereka; apa pun yang menghalangi mereka.

Kerusuhan Gwangju: Provokator Anti-Pemerintah Memicu Kerusuhan.

Kalimat itu tertulis tebal, persis di bagian bawah layar televisi yang saat ini ingin sekali Junghwan lempar dari jendela unit apartemennya, seolah itu adalah kesan utama yang ingin disampaikan kepada para pemirsa yang sedang duduk di rumah, atau di mana pun mereka berada. Kemudian, kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembawa berita terus mengalir serupa sketsa yang penuh kebohongan, tetapi dipoles dengan cukup baik untuk menutupi darah dan keringat yang menodai kenyataan.

Junghwan meraba dadanya, mencoba meresapi apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ketakutan dan kegelisahan seolah telah bersepakat, menyusup dalam-dalam hingga jantungnya berdebar keras. Ia tahu betul bahwa Gwangju sedang dihancurkan. Perlawanan yang belakangan meletus bukanlah sekadar ’’kerusuhan” seperti yang kerap digaungkan media-media yang menghamba pada penguasa. Itu adalah teriakan dari mereka yang tak sudi berdiam diri, yang kemudian dianggap sebagai komunis.

Di ruang sempit itu, Junghwan membuka kaca jendela, menghirup udara yang tak lagi mengenal kata segar, penuh debu dan puing mesiu. Langit tercabik oleh kabut yang kelabu, seperti meniti luka-luka yang tak kunjung sembuh. Di luar sana, para pelajar, mahasiswa, dan siapa pun yang memperjuangkan kebebasan hanya berusaha bertahan. Mereka, yang selama ini hanya menjadi bagian dari cerita yang tak pernah mereka pilih, kini terjebak dalam narasi yang diciptakan oleh para penguasa.

Junghwan tak pernah menjadi sosok yang mencolok, hanya seorang sopir taksi yang hidup dari sisa-sisa keramaian kota. Tapi, pada pagi itu, seperti beberapa hari sebelumnya, ia tahu ada sesuatu dari dirinya akan segera menyeretnya keluar. Bukan sekadar heroisme, tetapi pada rasa malu jika ia memutuskan tetap berada di sana, menjadi saksi diam atas rasa sakit yang tak berwujud yang dihasilkan oleh tirani.

Masih terngiang jelas di telinga Junghwan, kata-kata terakhir seorang mahasiswa yang kemarin diantarnya ke rumah sakit sebelum ajal benar-benar menjemput dalam sunyi di tengah keriuhan ruang gawat darurat. Kata-kata yang juga kerap dilontarkan oleh para pengunjuk rasa lainnya sambil menggantungkan kepalan tangan mereka di udara dengan urat leher yang menegang. Kata-kata yang lebih tajam dari butir peluru dan lebih perih dari gas air mata: ’’Kami, rakyat Gwangju, lebih suka mati berdiri daripada harus hidup berlutut.” (*)

—

ARIE FAJAR ROFIAN : penulis berdomisili di Karawang, Jawa Barat

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 14 Desember 2024

 

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme