Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sadovoe Koltso

Posted on Ming, 15 Agu 2021

PEPOHONAN oak kaku berdiri. Satu per satu dedaunannya perlahan melayang sebelum luruh ke tanah. Udara mencucuk tetulang lengan kanan yang sempat retak ini. Di ambang 6,8 fahrenheit, pesawat-pesawat saling ganti mendarat dan lepas landas.

Elgi Sarif, lelaki berdarah Sunda-Jepun, telah menunggu. Sebatang lisong menggantung di bibirnya. Mata menajam perhatikan setiap pesawat yang tetiba dari layar pengumuman. Dia datang lebih awal menepati janji. Menjemputku di Bandara Sheremetyevo.

Pesawat rute Jakarta-Moskow tiba sesuai dengan jadwal kedatangan, 15.45. Ini perjalanan panjang pertamaku melintasi benua. Ada rasa waswas di dada saat satu-dua guncangan keras menerjang di wuwungan angkasa. Syukurlah, semua selamat sampai tujuan.

Berkemeja dan berdasi necis. Bersepatu bot dan berjubah hitam panjang. Di tangan kiri, dia menenteng erat topi khas ala penyair Mayakovsky. Elgi tampak perlente dan penuh wibawa. Gayanya persis pelajar awal era 50-an saat dikirim Bung Karno belajar ke Uni Soviet.

“Hoi! Elgi? Kau mirip sekali Bung Hatta,” pekikku, berjarak delapan depa. Pemuda itu menatapku, sinis. Seakan jijik akan keriting rambut atau hitam kulit ini. Dia sejurus melangkah maju. Mengayunkan lengan dan saling jabat tangan.

“Hoi! Bung Mathew. Apa kabar?” balasnya sambil meremas tangan. “Kabar baik, Bung Elgi,” ujarku. “Bagaimana perjalananmu? Yang 28 jam atau 18 jam,” matanya sinis menatap. “Aku pilih 18 jam,” jawabku lagi, singkat. “Elite! Elite sekali,” ketus Elgi.

Para penumpang bergegas keluar bandara. Kami melangkah ke Stasiun Sheremetyevo-Belorusskaya. Aku tak paham apa maksud Elgi. Menanyakan lama penerbangan 28 jam dan 18 jam itu. Saat membeli tiket Jakarta-Moskow, aku tak begitu memperhatikan durasi.

Senja itu, kami duduk terpisah dua barisan kursi empuk. Aku pilih dekat jendela. “Selamat datang di Negeri Pushkin, Bung Mathew! Maaf, seharusnya saya ucapkan saat kau di bandara!” pekik Elgi, sembari merapikan lidah dasinya yang bengkok. “Terima kasih,” sambungku.

Barisan pepohonan separuh rontok dedaunannya. Sepanjang kereta melaju kencang, hanya kuning keemasan. Musim gugur pertamaku. Orang-orang sibuk ber-Instagram, sedangkan lainnya asyik narsis ber-Douyin ria.

“Hoi! Bung Mathew, ayo turun,” suara Elgi lantang. Aku kaget dibuatnya. Seorang gadis pirang yang duduk di sampingku juga ikut terkejut. Lamunan menengok gemerlap kota pun buyar seketika. “Jangan lupa jaket! Dingin di luar,” sambungnya, seraya buang muka.

Pada langit-langit kereta bawah tanah Belorusskaya, kutengok semua menakjubkan. Gaya arsitektur ala stalinis buat terkesima. Awalnya, berpikir tentang ibu kota bekas negara komunis Uni Soviet yang angker dan seram, akhirnya perlahan-lahan terpatahkan.

Hanya selang tiga pekan, salju pun rinai. Hati senang bukan mainnya. Kutengok sepatu di depan pintu mulai bolong. Setiap hari berjalan kaki dari apartemen menuju stasiun kereta ternyata mengikis bagian dasarnya.

“Hoi, Bung Mathew! Posisi di mana? Jumpa 30 menit lagi,” suara Elgi keras di ujung telepon. “Aku di Votney Stadium. Jumpa di Belorusskaya?” tanyaku. “Bukan, di Mayakovskaya. Bersua dekat patung memorial Mayakovsky,” timpalnya, sembari menutup pembicaraan.

Sudah sejam keluyuran. Hiruk-pikuk pasar senggol Asia tak terelakkan. Mayoritas pedagang bercampur aduk. Ada dari Asia Selatan sampai Asia Tengah. Para saudagar Asia Tengah bermayoritas muslim. Mereka sudah menempati kawasan itu sejak zaman Ratu Yekaterina II.

“Privet! Atkuda ti, bratan?” tanya seorang pedagang Turkmenistan berhidung lebar dan peot. Artinya, ‘Hi! Dari mana asalmu, Saudara?’. “Ya is Indonesia,” jawabku, singkat. Artinya, ‘Saya dari Indonesia’. “Obuv khochish?” tanya dia lagi. Artinya, ‘Butuh sepatu ya?’. “Da, khochy ochen,” timpalku. Artinya, ‘Ya, saya ingin sekali’.

Tawar-menawar seketika terjalin. Harga bisa turun sedikit asalkan pandai rayu-merayu sebab sesama bangsa Asia. Akhirnya, kupilih sepasang sepatu buatan Vietnam. Langsung ganti dan pakai di tempat. Sepatu lama kutinggalkan biar tak jadi sampah di apartemen.

Dua musim terlewati sudah. Aku dan Elgi tak saling bertemu walau tinggal sekota. Dia sibuk penelitian untuk tesisnya, sedangkan aku fokus belajar bahasa. Di akhir pekan, aku pun bekerja serabutan di sebuah galeri seni milik seorang seniman eksil.

Pagi itu, aku menerima kabar gembira. Elgi akhirnya menyelesaikan kuliah S-2 tepat waktu. Dia memang pandai dan serius. “Bung Mathew, nanti malam merapatlah ke rumah Om Hari! Ada syukuran kecil,” sebuah pesan singkat kuterima.

Sosok Bung Hatta langsung menyelinap seketika di benak. Nama itu selalu kusematkan baginya. Bukan karena Elgi adalah ideolog atau revolusioner. Tapi, hanya gaya berpakaian elegan saja. Mirip Bung Hatta semasa menjadi pelajar di Handels Hogeschool, Rotterdam.

“Bung Elgi, selamat ya,” sapaku seraya gegas turun taksi. “Makasih, Bung Mathew! Mari masuk. Om Hari, Nona Stevie, Ida Asaita, dan teman lain sedang menunggu,” jawab Elgi, sopan. “Kau sudah berhasil jadi seorang magister. Kian mirip Bung Hatta,” pujiku.

Elgi selalu ramah jika kusebut nama sang proklamator asal Bukittinggi itu. Semakin disama-samakan, bahasa tubuh dan intonasi bicara ala Rusia pun luntur seketika. Berganti lembut asli Sunda. “Bung Mathew, sok mangga atuh ngopi dulu,” Elgi menawarkan, ramah.

Lampu Kremlin masih menyala. Samar-samar terlihat dari kejauhan. Kami menikmati nasi bakar, tumis kangkung, dan opor ayam. Sesekali, mengobrol topik politik dan lingkungan. Esok pagi, Elgi segera meninggalkan Moskow. Dia ambil rute penerbangan 28 jam via Amsterdam-Singapura-Jakarta.

**

Empat musim berganti begitu cepat. Senja itu, aku bergegas menuju ke galeri seni milik Om Agong. Dia meneleponku agar segera berjumpa. Tak lain untuk urusan lukisan. Dia akan mengikuti sebuah pameran bersama di Praha.

Om Agong beristri seorang perempuan pirang. Pujaan satu kelasnya sewaktu kuliah seni dan desain awal 60-an. Di sudut-sudut ruangan, lukisan-lukisan tergeletak semrawut, sedangkan koleksi boneka tampak rapi di rak.

“Bagaimana kabar Elgi dan teman-teman pelajar?” tanya Om Agong. “Dia sudah pulang dan kini bekerja di Bandung,” jawabku. “Senang mendengarnya. Mari, Bung Mathew ikuti saya ke gudang. Ada lukisan mau saya perlihatkan,” jawabnya, sembari menyulut sebatang keretek.

Debu-debu beterbangan liar. Itu saat kusentuh satu-dua lukisan yang bertumpukan di gudang. Kuamati satu per satu. Perlahan-lahan meresapi. Semacam ada aroma magis. Mata ini tertuju pada sebuah lukisan deformasi abstrak. Sekilas, imajinasiku ikut memasuki zaman avant-garde. 

“Lukisan ini dulunya saya buat untuk Eyang,” ucap Om Agong, seraya meneguk sampanye. “Siapakah Eyang itu?” balasku, penasaran. “Ya, eyang kami…,” suaranya paruh dan hampir tak terdengar. “Eyang…, Eyang Karno. Sayang, saat dilengserkan, kami nggak pernah bertemu lagi.”

Sejak peristiwa 1965 meletus di Tanah Air, semua berubah. Mimpi sang seniman untuk pulang mendirikan sebuah galeri seni bernama Kultural Indonesia pun pupus sudah. Padahal, nama itu adalah pemberian Bung Karno saat berkunjung ke Moskow, 1959.

Sang Proklamator jadi tahanan rumah di rezim Orde Baru. Hubungan Moskow-Jakarta pun putus. Seribuan mahasiswa dan pengikut setia ‘Putra sang Fajar’ tak jelas nasib. Sebagian besar memilih pindah ke Paris, Amsterdam, dan Praha. Sisanya hanya pasrah. Tetap kuliah dengan suaka politik Uni Soviet.

“Era 50-an, Eyang Karno mengutus bapak saya. Ya, untuk ngajarin bahasa Indonesia di sini. Bapak nggak pernah pulang. Begitu pun saya dan dua saudari perempuan. Saya kangen kampung,” kisah Om Agong, tertunduk lesu di hadapan lukisan misteriusnya.

Sejurus, raut wajahnya berganti pucat masai. Matanya pun berkaca-kaca. Aku terdiam dan mulut seakan terkunci. Kulihat perlahan, Om Agong mengeluarkan sebuah sapu tangan biru dari dalam saku celana. Ada luka abadi seakan bersarang di epigastriumnya.

Lembut, dia menyeka sendiri kedua bola mata yang basah. Hidungnya memerah disentil angin nakal yang bertiup dari arah jendela. Tiba-tiba, suara isak tangisnya kian pecah. Dia coba sembunyikan kesedihan, tapi air matanya terus meluap. Seniman tua, hidup terbuang dan terasing dari angkatannya.

Perlahan-lahan, Om Agong menarik napas panjang. Sedikit tersendat-sendat. Kanvas kosong belum tergores di meja, ikut basah sedikit. Aku kembali tertunduk. Tak sanggup menatap wajah keriputnya. Ada rindu dan dendam bercampur aduk dalam sanubari.

“Om Agong, sudah larut malam. Saya pamit, ya, besok ada seminar,” ucapku, pelan-pelan. Dia menatapku kosong. Air matanya kering sudah di pipi. “Maaf, Bung Mathew, saya rindu Eyang dan Bapak. Dulu, jasad Bapak dikremasi. Tak dibawa pulang,” ungkapnya seraya menghabiskan sisa sampanye.

Taksi sudah parkir di depan galeri. Om Agong mengantarku ke depan. Melewati pintu utama ke arah tepi jalan. Udara basah dan kabut tipis turun. Menyenggol-nyenggol wajah dan ujung jemari. Ada raut beda di wajahnya seusai menunjukkan lukisan misterius.

Aku melambaikan tangan ke arah Om Agung. Cepat-cepat menaikkan kaca. Taksi melaju pelan. Kini, sopir menambah kecepatan tinggi. Melewati Sadovoe Koltso, sebuah jalan lingkar bersejarah. Dulunya, membentang luas kebun-kebun ceri milik kaum aristokrat.

Sejurus, aku merogoh kantong jaket. Kuambil telepon genggam. Ada pesan bertengger. Kali ini, dari sebuah nomor baru +62. Tak begitu kukenali. Kedua mata tak beranjak dari layar ponsel. Aku kian penasaran. Rasa hati ingin cepat-cepat membaca. Gerangan baik atau buruk sedang menghampiri.

“Hoi! Bung Mathew. Elgi kecelakaan saat tur motor di Bandung. Jenazah akan dibawa ke Tasik, ini malam. Salam, dari Ida Asaita.” Sebuah pesan kubaca. Tiba-tiba, semuanya hening sejenak. Aku kembali baca untuk ketiga kali. Seakan baru saja berjumpa Elgi di rumah Om Hari.

Malam kian kelam dan tambah angker. Dingin terus mencucuk sumsum lengan kananku. Di luar jendela, satu per satu gerimis luruh di Sadovoe Koltso. “Maaf tuan! Tak boleh merokok!” pintah sang sopir, tegas. “Maaf, force major!” aku acuhkan sementara dia.

Kutekan knop kaca dan setengah terbuka. Kepulan asap berarak-arak mengikuti perginya angin. Tapi, tak semuanya. Aku terus menyulut sebatang lisong. Sesekali, tangan kanan mengusap embun beku di balik kaca.

Sopir jengkel dan kesal lantaran asap cerutu ala Kuba bikin dia batuk-batuk dan sesak napas. Dia terpaksa menepi dan menurunkanku di Sadovoe Koltso, yang bukan tujuan akhir. Ada logam jadi garam. (M-2)

 

Cult, 2021 

 

Iwan Jaconiah, sastrawan Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada X International Literary Festival Chekhov Autumn di Yalta, Krimea, Rusia (2019) dan Diploma Award pada International Poetry Festival Taburetka di Monchegorsk, Murmansk, Rusia (2017). Kini tengah menyelesaikan pendidikan S-3 kulturologi di Russian State Social University.

sumber : Media Indonesia, Min, 15 Agu 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme